Percakapan Pagi #4: Parkir

Kalau anda pengguna commuter line rute Tangerang – Duri dan pengendara motor, anda pasti tahu bahwa anda punya tiga opsi tempat penitipan motor: 1) stasiun, 2) masjid seberang stasiun, 3) parkir swasta samping stasiun. Biaya titip sehari di dua tempat terakhir lebih murah dibanding di dalam stasiun. Jika diakumulasikan dalam sebulan, selisih biaya akan sangat terasa. Karena itu banyak orang yang memilih parkir di dua tempat terakhir. Lain itu, ada dua alasan orang memilih parkir di dalam stasiun: 1) ingin praktis, 2) faktor keamanan. Meski sebetulnya, alasan kedua hampir dijamin di tiga area parkir tersebut.

Pengelola parkir stasiun nampaknya enggan berbagi kue parkir dengan pihak lain. Mereka menutup total pagar pembatas yang biasanya menjadi akses ‘ilegal’ orang-orang yang parkir di masjid dan parkir swasta. Walaupun sebetulnya akses itu sudah dipagari sejak lama, namun orang-orang masih membandel dengan memanjatnya. Aku salah satu yang membandel itu. Pernah ditempeli kawat berduri seadanya, tapi para ‘ilegalis’ ini masih ngeyel. Akhirnya, pagar itu kini dipasangi kawat besar. Tahu kawat barikade yang biasa dipakai saat demonstrasi? Nah, kawat macam itu yang dipasang di atas pagar. Hanya saja ukurannya lebih kecil, meski tetap menjamin orang-orang tidak akan mampu lagi memanjat.

Ada beberapa alasan kenapa orang-orang, termasuk diriku, lebih memilih parkir di luar stasiun: 1) lebih murah, seperti yang ku bilang tadi, 2) motor terurus karena posisi parkir dibenahi setiap saat, 3) antrian keluar seringkali menumpuk (bayangkan puluhan, bisa juga ratusan motor, keluar serentak hanya melalui dua pintu), dan 4) ini tebakanku saja, mereka yang memilih parkir di masjid merasa lebih baik uang parkirnya menjadi infak pembangunan masjid. Dan berdasar pengalamanku, area parkir swadaya justru lebih terjamin keamanannya karena pengelolanya seringkali orang yang kenal baik dan punya kuasa atas kawasannya. Siapa berani jahil?

“Kerasa banget bedanya,” keluh bapak penjaga parkir masjid. “Hari ini aja belom sampe lima ratus ribu.”

Ku lihat jumlah motor di situ memang jauh berkurang.

“Jadi nemuin orang KAI, pak?” tanyaku. Tempo hari, saat pemasangan kawat masih berlangsung, saya sempat bertanya padanya soal bagaimana respons pengurus masjid. Mereka berencana untuk menemui pengurus stasiun.

“Belum,” jawabnya singkat.

Aku belum tahu bagaimana kondisi di area parkir samping stasiun. Tapi dugaanku sama sepinya dengan di masjid. Lagipula, parkir di sana, lokasinya tidak lebih baik dibandingkan area masjid. Dulu, orang baru akan menitipkan motornya di sana hanya bila area masjid sudah penuh.

Aku tidak menemukan alasan kuat penutupan akses-akses ke area parkir alternatif kecuali keinginan untuk memonopoli. Padahal infrastruktur kawasan parkir stasiun tidak lebih baik. Boleh ku bilang, berantakan. Pekerja pengatur parkirnya pun seperti enggan mengurus. Nampak beda dengan penjaga parkir masjid yang setiap saat saya dapati sedang mengatur motor agar rapi dan mudah dikeluarkan.

 

 

 

Advertisements

Percakapan Pagi #3: Kecerdasan Buatan

Perkembangan teknologi memang menjanjikan. Saking menjanjikannya, buatku, ia semakin nampak mengerikan.

Bayangkan, teknologi semacam layar sentuh, yang pada ’90an terimajinasikan dalam film Star Trek, sudah mewujud dua dekade kemudian. Mobil mandiri seperti di film Knight Rider, yang kita kagumi semasa kecil sudah hampir rampung pengujiannya. Di Eropa sudah beberapa kali dilakukan pengujian truk (semi)otomatis. Dalam satu kesempatan ujicoba, enam truk berhasil menempuh jarak 2000 kilometer, melintasi Jerman dan Swedia.

Ada banyak lagi teknologi yang hanya bisa diimajinasikan pada ’90an, kini menjadi kenyataan, bahkan cenderung masif.

Tadi pagi, aku dan seorang kawan berbincang asik di komuter tenang AI. Artificial intelijen atau kecerdasan buatan. Awalnya kami membicarakan tentang big data yang kini sedang menjadi bahasan primadona seiring dengan pesatnya perkembangan industri teknologi informasi. Misalnya, bagaimana perusaahan seperti Gojek menghimpun data konsumennya dan menggunakan data-data tersebut untuk kepentingan yang bisa jadi di luar urusan kamu memesan ojek atau fast food.

Aku kemudian teringat sebuah serial tivi, Person of Interest. Serial itu berkisah tentang bagaimana sebuah AI yang dikembangkan pasca-9/11 dan menjadi andalan pemerintah AS untuk mencegah tindak terorisme. Namun ternyata AI itu bekerja melampaui yang diharapkan. Ia, dengan mata cctv yang ada di segala penjuru kota New York, mampu memprediksi kejahatan yang akan terjadi. Dengan membaca pola dan kecenderungan satu subyek, ia kemudian mengalkulasi segala pola aksi dan mobilisasinya hingga kemudian si subyek dideteksi sebagai calon korban atau predator.

Bagi pemerintah, atau pihak berwenang, mencegah aksi di luar batas hukum adalah kepentingan. Namun bagi warga yang diawasi, hal ini bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi bisa jadi ia diuntungkan, karena dalam serial itu, beberapa kali calon korban diselamatkan oleh prediksi AI. Tapi di sisi lain, ia tak akan membiarkan manusia melakukan hal yang dianggap melanggar aturan. Ini ancaman bagi sekelompok anarkis, misalnya.

Prasarana yang dibutuhkan AI untuk menguasai hajat hidup manusia satu per satu dibuat. Mulai dari retinal scan, finger print, hingga face id yang mulai diadopsi iPhone teranyar. Setiap orang akan teridentifikasi dengan jelas, tanpa terkecuali, bahka jika kamu pakai masker dan kupluk ala black bloc. Lagipula, kalau kamu sudah pernah datang ke kantor kecamatan untuk keperluan KTP elektronik, tak usah repot-repot menutup muka saat demo. Negara sudah punya datamu. Tapi kita di Indonesia sedikit bernapas lega, sebab kecaggihan teknologi belum bisa diimbangi oleh kcepatan evolusi otak para pejabat di kementerian dalam negeri, apalagi pegawai kecamatan. Jadi, berharap saja semoga kasus korupsi KTP elektronik terusut tuntas dan seluruh proyeknya dianulir, termasuk penyimpanan data kita.

Banyak orang merasa kecanggihan teknologi adalah sebuah anugerah. Entah kenapa aku berpikir sebaliknya. Semakin canggih, semakin ia memudahkan segala urusan manusia, semakin ia membuat kita tergantung. Ketika ketergantungan itu sudah mapan, maka hilanglah semua kemampuan survival kita. Kok bisa? Seperti seorang anak, jika ia sejak kecil dididik manja dan tidak pernah dibiarkan untuk melakukan banyak hal sendiri, hingga dewasa ia akan menjadi sosok yang bergantung pada pertolongan pihak lain, entah itu orang atau teknologi.

Mungkin kita tak perlu kuatir dengan adanya AI. Toh bagaimanapun, AI tetap dibuat oleh manusia. Jadi jika kita berpikir bahwa di masa depan akan terjadi pertarungan antara robot dan manusia, sebagaimana kita mengandaikan duel antara ras kera dan manusia, tak usah kuatir, kita masih punya sekutu manusia pembuat AI. Tapi masalahnya, perilaku memangsa manusia lain adalah inheren pada manusia itu sendiri. Karena kehendak berkuasa atas yang lain itulah yang membuat manusia menciptakan AI. Apakah ini perang kelas? Entahlah. Aku mulai bingung mendefinisikan apa itu kelas, ketika mereka-mereka yang berambisi menciptakan AI adalah ilmuwan kere yang kebetulan bertemu investor yang mau membayar mahal dirinya untuk itu.

Demi kemajuan, mari kita songsong kehadiran AI.

Sentimental Idol

Kau punya idola? Boleh kupastikan, kau pasti punya. Kalau tidak, ya, hampir pasti. Aku pun demikian. Aku punya idola, sejak kecil, sejak aku bisa mengenali mana yang baik dan mana yang buruk–tepatnya mana yang menarik dan tidak menarik.

Waktu kecil aku mengidolakan beberapa nama, misalnya Batistuta, Ronaldo, Recoba, dan hampir seluruh personil Class of ’92 Manchester United. Aku mengidolakan Inter Milan–berkat pamanku. Aku mengidolakan Backstreet Boys, dan tidak suka N’sync. Oh, saya pernah suka Eno Lerian dan sebal dengan Meisy.

Aku tergila-gila dengan Ksatria Baja Hitam hingga menirukan aksi-aksinya saat sedang bermain dengan kawna-kawan. Power Rangers, Winspector, Jiban, Ninja Jiraya, Kungfu Komang, dan Dragon Ball–yang terakhir ini bahkan sampai sekarang, semua menemani masa-masaku di SD.

Menginjak SMP, kesukaanku berganti. Aku mulai mengenal Blink-182–dan mencari kaset bajaknnya di kaki lima. Juga Max Biaggi–aku begitu benci Valentino Rossi. Saat SMA, aku kepincut dengan kisah-kisah Che Guevara. Dan Valentino Rossi, menggantikan Biaggi yang mulai menyebalkan, hingga kini.

Siapa yang betul-betul ku idolakan sekarang? Jawaban spontanku mungkin: entahlah. Mungkin ada, tapi tidak ada yang begitu berarti.

Mengidolakan seseorang atau sesuatu memang menyenangkan. Rasanya, kau tahu? Seperti jatuh cinta pada seseorang yang kau lirik dari kejauhan; berdebar saat ia melintas di depanmu. Tapi, sama seperti sosok yang kau rindukan dalam diam dan kian lama kian memudar, idola juga datang dan pergi, silih berganti.

Belakangan banyak di lingkaran pertemanan mayaku yang tetiba membangkitkan idola-idola masa lalunya. Mengungkit kembali masa lalunya yang terperam, tak diketahui oleh siapapun. Terutama sejak kematian Chris Cornell dan yang terbaru, Chester Bennington.

Sebetulnya ‘tradisi’ membuat obituari idola sudah berlangsung sejak facebook dan media sosial lainnya jadi alat interaksi–atau unjuk–utama orang-orang hari ini. Di situ, tetiba semua hal harus dirayakan, diperingati, atau sekadar dikomentari. Termasuk kematian orang-orang yang pernah mereka idolakan.

Aku pernah bertengkar dengan partnerku gegara hal sepele; aku mengejeknya yang tak bisa menonton konser perdana Morrissey di Jakarta. Motifku becanda belaka. Tapi siapa sangka ia membuat ejekan itu menjadi begitu sentimentil. Ia dengan emosional menyampaikan alasan kemarahannya. Aku dianggap tidak mengerti bagaimana Morrissey begitu memengaruhinya, membantunya keluar dari masa-masa kelam. Morrissey menyelamatkannya. Dan kesalahanku adalah tidak mampu berempati pada pengalamannya.

Saat itu aku hanya diam karena tidak ingin memperpanjang perdebatan. Meski nalarku belum bisa menerima alasan kemarahannya.

Aku belajar. Sejak saat itu aku coba memahami bahwa ada–dan banyak–orang-orang yang menghubungkan dirinya dengan sang idola melampaui apapun yang ada di dunia ini. Mereka bisa begitu sangat sentimentil begitu idolanya wafat, misalnya.

Ketika Chris Cornell meninggal–atau jauh sejak Bowie, Cohen, dan deretan idola lainnya–para penggemarnya berbondong-bondong menulis obituari tentang sang idola. Begitupun saat Chester dikabarkan mati gantung diri. Kenangan-kenangan ‘bersama’ sang idola dikisahkan di media sosial. Aku menyukai kenangan-kenangan itu, terlebih jika penulisnya pandai merangkai kata dan mampu membangkitkan sentimen yang sama pada para pembacanya. Adapula yang menuliskannya dengan biasa saja, tapi tetap menarik buatku. Bagiku pengalaman pribadi seseorang sangat menarik; aku bisa mengetahui masa lalu mereka yang boleh jadi belum pernah diceritakan pada sahabat terbaiknya sekalipun.

Chester pernah ‘berarti’ pula buatku. Ia mengisi masa transisiku dari seorang anak ingusan menjadi remaja. Semasa SMP, aku punya seorang teman yang fisik dan gayanya mirip Chester. Bersamanya, di kelas, saat jam pelajaran kosong, kami berbagi earphone mendengarkan Hybrid Theory. Album terbaik Linkin Park, menurutku. Namun sial, meski punya banyak cerita tentang Chester, aku tak sampai menuliskan obituari untuknya. Sama halnya ketika idola-idola masa kecilku yang tak lagi tayang di televisi, tak berjaya lagi di liga, atau mati, atau bahkan menjadi pecundang. Tak ada satupun yang membuatku sentimentil.

Ada yang aneh pada diriku–mungkin saja. Aku tidak peka terhadap kenangan. Aku tidak peduli terhadap hal-hal kecil yang memengaruhi hidupku. Tapi aku tidak kuatir.

Justru aku kuatir melihat seliweran obituari setiap kali ada figur teras yang mati. Kini setiap orang merasa dituntut untuk memiliki idola, dan menunjukkan betapa pentingnya idola-idola itu bagi mereka. Aku kuatir yang mereka tunjukkan bukan kenangan ‘bersama’ idola. Tapi berharap pengakuan khalayak, bahwa mereka adalah bagian dari budaya besar. Bahwa, aku adalah di antara kalian. Atau yang lebih mengerikan, ingin menunjukkan bahwa aku adalah yang paling edgy di antara kalian.

*

Belum lama aku menonton satu episode serial Black Mirror. Suatu kisah seorang perempuan tinggal di masyarakat yang status sosialnya diukur berdasar skor di media sosial. Awalnya ia hanya perempuan tulus–atau naif–yang tidak peduli dengan berapa skor yang ia miliki. Ada dua peristiwa yang mengubah perilakunya kemudian. Pertama, ketika ia memberi skor baik pada seorang pesuruh yang terancam ‘didepak’ dari masyarakat karena skornya rendah, kedua, ketika ia mengejar diskon kredit apartemen yang mensyaratkan ia memiliki skor minimal 4,5 dari 5.

Sejak saat itu, ia selalu berpikir dua kali jika ingin memberikan nilai bagus pada mereka yang berstatus (sosial) rendah. Seorang konsultan menganjurkannya untuk masuk ke lingkaran dengan status sosial lebih tinggi, yang artinya ia harus memuja orang-orang berstatus sosial tinggi agar mereka mau memberikannya skor baik. Singkatnya ia harus menjilat orang-orang ‘besar’ agar bisa menjadi bagian dari masyarakat 4,5. Masyarakat cum laude.

Sialnya dalam proses panjat sosial itu ia tersandung berbagai tragedi, terutama karena ‘perilaku buruk’ yang ia perbuat, yang membuat skornya terus merosot hingga menyisakan 1,8. Obsesinya membuat keadaan kian memburuk hingga akhirnya ia ‘didepak’ dari masyarakat dan dipenjara.

Di penjara ia bertemu seorang tahanan pria yang kira-kira mengalami kasus serupa. Di sana mereka, yang tidak mengenal satu sama lain, saling mencaci, saling mengejek. Sesuatu yang terlarang di masyarakat karena dianggap sebagai perilaku tak patut, tidak bermoral. Tapi di situ ia, dan rekan barunya, nampak bahagia lantaran bisa melepas segala amarahnya tanpa peduli berapa skor yang akan diterima.

Apa moral story dari film itu? Entahlah, mungkin tidak ada. Aku hanya tetiba kepikiran jalan cerita serial itu saat hendak menutup tulisan ini.

Tentang Adab

Di suatu kota, di ujung utara pulau berbentuk K, seorang ibu berkacamata hitam lebar menampar seorang perempuan berseragam. Kabarnya, si ibu marah lantaran tidak terima si perempuan, yang merupakan seorang petugas di bandara, memintanya melepas jam tangan saat melewati pintu sinar x.

Di kota lain, di ujung hampir barat sebuah pulau di barat daya nusantara, seorang pria yang mungkin tak pernah diajarkan etika, tak mau bergiliran menggunakan mesin uang. Ia tahu, antrian di belakangnya mengular. Tapi ia dengan santai bilang, “agak lama ya, mau transfer”. Ia memegang uang yang jumlahnya mungkin belasan juta. Seorang petugas keamanan yang dimintai tolong oleh seorang pengantri untuk menegur si pria tak berkutik. Ia hanya menganjurkan untuk tetap antri.

Di ibukota, sebuah ritual mengantar jenazah sedang berlangsung. Sebuah mobil pikap membuka jalan di depan dengan suara klakson panjang. Kemudian disusul segerombolan pria bermotor, sebagiannya anak muda. Seperti tak cukup dengan klakson yang pekak, pemuda-pemuda itu berteriak mengancam sambil menghunuskan bambu berbendera kuning kepada pengendara lain seolah hendak berperang. Seolah jalan itu hanya miliknya, dan orang mati yang sedang diiring.

Mungkin kita sudah lupa bagaimana caranya ber-adab–atau memang tidak pernah tahu?

Melepas Masa Lampau

Sejak aplikasi pesan instan marak digunakan—sms dan telepon mulai ditinggalkan, ada satu persoalan yang kian menambah beban sosial para penggunanya: grup keluarga/kerabat/pertemanan.

Sebagian besar dari mereka mengeluhkan keberadaan grup-grup yang tidak mereka kehendaki dan berujung di media sosial. Mereka berkisah tentang ketidaknyamanannya di grup-grup itu. Ada yang merasa pakewuh untuk keluar karena ada sesepuh di grup keluarga. Ada juga yang tidak berani mendebat pesan broadcast yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Lagi-lagi, karena alasan tidak enak.

Aku sendiri belum pernah merasa se-hopeless itu. Tapi bulan lalu, aku memutuskan untuk keluar dari beberapa grup whatsapp. Bukan, bukan karena alasan yang kusebut di atas, melainkan karena alasan lain.

Sebagian besar grup yang kutinggalkan berisi kawan-kawan lama. Sebagian lain adalah grup-grup yang tidak jelas juntrungannya—entah sejak kapan aku berada di situ, atau grup yang sudah lama tidak aktif. Yang kedua lebih mudah dijelaskan; tak ada gunanya aku berada di situ. Yang pertama, sedikit lebih melibatkan emosi.

Sebelumnya tak terpikir olehku untuk keluar dari grup-grup itu. Kalaupun grup itu jarang aktif, aku berpikir mungkin suatu saat aku akan membutuhkannya. Entah, mungkin, ada informasi penting yang bisa ku dapat, atau ada kebutuhan mendesak yang bisa kusampaikan di situ. Tapi memang, sejauh ini, tidak ada.

Selain alasan itu, ada hal lain yang jadi pertimbanganku: mereka adalah kawan-kawan lamaku. Kami pernah dekat, bahkan sangat dekat. Berada di situ membuatku merasa tetap ‘berkumpul’ dengan mereka. Sebetulnya aku orang yang sangat senang berteman. Ibuku bahkan kerap menyindirku, bahwa aku lebih mengutamakan teman ketimbang keluarga. Di hari-hari kumpul keluarga seperti lebaran, aku kadang lebih memilih berkumpul dengan kawan-kawanku ketimbang dengan keluarga besar. Alasanku sederhana, karena aku lebih bisa menikmati waktuku dengan mereka. Tapi itu dulu, sebelum kami memulai fase hidup baru: berkeluarga dan merintis hidup mandiri secara total.

Sejak dulu aku selalu menolak anggapan bahwa pertemanan akan usai—setidaknya berkurang—saat kita menikah. Dulu seorang kawan pernah dengan sinis berkata, “udah bukan waktunya nongkrong-nongkrong, buang-buang waktu aja.” Tentu saja aku menolak pendapatnya. Karena buatku, nongkrong bukan sekadar membuang waktu. Nongkrong dengan teman adalah perkara sosial. Berkumpul dengan teman, meski sebentar, buatku adalah usaha untuk menjaga silaturahmi. Klise? Bagiku tidak.

Seiring waktu, perubahan terjadi dalam hidup kami. Satu per satu dari kami menikah, punya anak, atau berkarir jauh dari tempat kelahiran. Kehidupan baru menyibukkan kami. Ada yang terseok membangun perekonomian keluarga, ada juga yang tertatih menunggu jodoh yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Masing-masing menyimpan prasangka. Mereka yang belum menikah menjaga jarak dengan yang sudah menikah karena merasa “mereka sudah punya kehidupan baru”. Mereka yang berkeluarga merasa seperti kawan yang sinis tadi. Akhirnya, nongkrong menjadi kegiatan yang langka. Tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya, seperti grup whatsapp.

Obrolan di grup mulai kaku. Kering dari candaan. Orang-orang terlalu serius. Aku sendiri berusaha untuk biasa saja, seolah tak ada yang berubah. Satu-dua orang—termasuk aku—mencoba melempar canda atau topik yang bisa menjadi bahan obrolan, tapi tak ada respons—kadang ada satu-dua orang menanggapi. Mungkin aku terlalu naif. Nyatanya, perubahan adalah keniscayaan, termasuk perkara pertemanan.

Karena itu aku memutuskan untuk keluar dari grup; meninggalkan serta memori yang menempel di tiap-tiap orang yang ada di dalamnya. Bukan karena kecewa atau marah pada mereka, bukan. Aku hanya mulai merasa mereka ada benarnya; sekarang saatnya untuk memulai fase baru.

Kami berada di rentang usia tanggung. Seperti kubilang tadi, di usia kami, orang-orang sedang sibuk membangun hidupnya. Di usia ini, kami sibuk mengurus diri masing-masing. Tak ada urusan dengan orang lain. Tak peduli mereka karibmu selama belasan/puluhan tahun. Era pendewasaan kami sudah usai, namun belum tiba masa untuk bisa menikmati nostalgia.

Fase ini adalah jilid baru yang mesti ditulis lepas dari memori-memori masa lalu. Hingga nanti akan tiba jilid berikutnya yang berisi rangkuman memori di setiap fase kehidupan. Saat itulah, mungkin, kami bisa bernostalgia; mengenang masa-masa menyenangkan sebagai ‘manusia bebas’—sembari merenungi rentetan keterpurukan yang tak pernah kami ceritakan sebelumnya. Sebelum akhirnya kami semua melepas seluruh atribut kehidupan.

Peradaban Telepon Pintar

Ia terlihat begitu asik dengan ponsel di genggamannya. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Bukan urusanku juga. Tapi, karena ruang tolehku terbatas oleh penuh sesak orang di dalam bis itu, mau tak mau aku jadi mengamatinya, dengan cukup seksama.

Ia seorang pria paruh baya. Tebakanku, sekitar limapuluhan awal. Tampilannya tidak seperti pekerja Jakarta kebanyakan yang necis. Pria itu lebih lusuh dengan tas yang berlubang di sana sini. Pakaiannya pun, sederhana.

Awalnya aku mencoba abai. Aku berusaha asik dengan bacaan-bacaan di ponselku yang ku tandai sejak kemarin, namuan belum sempat ku baca. Ponselku menjerit kehabisaan daya. Aku berdiri tanpa melakukan apapun, di tengah impitan manusia-manusia seusai bekerja delapan jam–mungkin juga lebih.

Pria itu terus asik dengan ponsel genggamnya. Sebuah telepon pintar, nampaknya. Huawei, sekilas tulisan di bagian atas ponselnya. Ia menekan acak tuts di layarnya, mengetik nomor *#9900655, kemudian dihapusnya. Lagi, *88840009#77, dihapus. *#0099, dihapus. Ia melakukannya beberapa kali dan kemudian menutup aplikasi telepon.

Ia mencoba membuka beberapa aplikasi lainnya. Tapi tak lama, ia tutup lagi. Menggeser muka layar hingga muncul daftar aplikasi lain. Terus berulang, namun tak jelas juntrungannya.

Aku hanya membenak, apa yang pria itu pikirkan? Apa yang sedang ia lakukan?

Hanya iseng belaka? Menjajal ponsel layaknya sebuah mainan baru yang perlu dicoba fitur-fiturnya. Ataukah ia hanya ingin seperti penumpang lainnya, menyibukkan dan menghibur diri dengan ponsel di tengah kelelahan dan kejenuhan paripurna–karena mengulangnya sepanjang hari, bulan, tahun, bahkan seumur hidup mereka.

Aku sendiri tidak pernah tahu apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku itu.

Ia mulai terlihat tak tahan dengan kebosanan lantaran tak ada hal berarti yang bisa ia lakukan dengan telepon pintarnya, dan akhirnya memilih memasukkannya ke dalam saku. Sama sepertiku.

Di sisiku yang lain, seorang pria muda berpakaian necis dengan earphone menempel di telinganya, asik menonton sebuah film yang, masa bodoh apapun judulnya.

Balada Supir Angkot

Saya berjalan menjauh dari persimpangan. Menjauh dari kerumunan mobil yang berderet menghimpun penumpang. Saya memang lebih memilih berjalan agak jauh. Berharap akan menemukan angkutan yang siap jalan tanpa perlu membuang banyak waktu.

Cape sedikit. Ya sudahlah.

Belum jauh saya berjalan, tetiba saya berhenti. Cuma ada seorang perempuan di dalam. Saya menyusul naik setelah pria di balik kemudi menyebut arah yang saya tuju. Entah kenapa saya memilih mobil itu. Padahal, sangat mungkin ia menunggu sangat lama hingga orang-orang memenuhi kursi-kursinya. Sesuatu yang saya hindari, oleh karenanya saya memilih berjalan sedikit jauh.

Sempat bertahan cukup lama. Si pria terus melirik ke kaca spion di kanan-kirinya, berharap muncul sesosok lagi manusia yang akan menggunakan jasanya. Tapi nihil.

Ada korek, bang, katanya.

Tidak ada, jawab saya. Karena saya memang tidak merokok.

Sebenarnya, saya tidak tahu pertanyaan itu ia tujukan kepada siapa. Tapi tak ada lagi selain saya yang layak dipanggil ‘bang’. Jadi seketika saya menganggap pertanyaan itu untuk saya.

Ia kemudian turun sebentar dari kursi kemudi. Mencari pemantik api, tentu saja.

Setelah ia kembali, mobil langsung melaju. Dengan hanya dua penumpang.

Sepi betul, pikir saya.

Sekira satu kilometer, si perempuan turun. Mutlak hanya saya yang tersisa. Sempat kuatir si supir akan berubah pikiran dan mencari peluang yang lebih baik—begitu biasanya kelakuan para supir angkot, menelantarkan penumpangnya. Di sebuah pertigaan, ia sempat melirik jauh ke depan. Dugaan saya, ia mencoba berjudi dengan melihat penampakan manusia-manusia di pinggir jalan, di depan sebuah mal, yang mungkin menjadi rejekinya. Tapi beruntung, ia urung berubah pikiran. Bukan apa-apa, sejauh saya melihat, memang tak ada orang di depan sana. Ia berbelok dan melanjutkan perjalanan sesuai tujuan awal.

Di sebuah pintu keluar kompleks pertokoan, ia berhenti dan mengobrol sejenak dengan koleganya, sesama supir—tentu saja sembari mencoba peruntungan, berharap ada penumpang. Ia bercerita, tepatnya berkeluh pada koleganya, soal sepinya sewa pada malam itu. Artinya, seret pula setorannya.

Ia kembali memacu, dengan lambat, mobilnya. Sambil mengoceh sendiri.

Abang turun di mana? ia bertanya.

Dengan cepat saya menjawab tujuan saya. Jujur, saat pertanyaan itu terlontar darinya, saya kembali kuatir.

Bensin lima puluh ribu berapa rit, bang? tanya saya balik. Selain sebetulnya, itu intrik biar ia tidak jenuh dan berpikir untuk mengubah haluan.

Ini sudah habis empat kotak aja. Ia merujuk pada indikator bahan bakar. Ia tak menjawab pertanyaan saya. Sepertinya masih mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri: kenapa bensin cepat sekali habis.

Jangan-jangan tukang bensinnya ngisinya kurang kali, bang. Sergah saya, asal.

Bukan, ini mobilnya aja boros. Jalannya cuma gigi satu-dua aja. Makanya boros, timpalnya coba menganalisis.

Usia mobil itu memang nampak tua. Mungkin keluaran ‘90an. Persoalan persneling, mungkin salah satu penyakit tua mobil itu. Suara baut kendor dan bising mesin, adalah masalah lainnya yang nampak. Mobil itu tidak terawat dengan baik, meski masih bisa berjalan cukup lancar.

Ini mobil sendiri? saya melanjutkan obrolan.

Iya, mobil sendiri. Tapi walaupun mobil sendiri kan setoran harus jalan. Mobil kredit ini, bang. Kalau engga dibayar, bisa ditarik leasing nanti.

Jawabannya nampak mengerti maksud pertanyaan saya. Awalnya saya mengira itu mobil punya seorang bos, dan ia hanya wajib menyetorkan uang sejumlah yang ditargetkan—seperti kebanyakan supir angkot. Jika setoran harian melebihi angka yang ditarget si bos, maka sisanya akan menjadi pendapatan si supir hari itu. Uang bensin diambil dari pendapatannya, tentu saja. Setoran yang diterima si bos bersih, sesuai target.

Jika itu mobilnya, maka setoran tidak menjadi wajib. Asal menutup kebutuhan bensin, persoalan beres, pikir saya. Tapi ternyata tidak.

Saya kaget juga, mobil renta seperti itu masih diperjualbelikan, dan lewat kredit.

Saya merogoh uang untuk ongkos. Saya hampir sampai di tujuan.

Memang setoran sehari berapa, bang?

Seratus enam puluh ribu. Ini baru dapet seratus tiga puluh ribu. Udah malem gini pula. Bukannya untung, malah nombok.

Ia memberi klu, bahwa peluangnya untuk menutup setoran sudah tipis.

Mobil berhenti. Saya kemudian turun dan membayarkan ongkos lewat pintu samping. Dengan obrolan masih menggantung, saya memberikan uang itu padanya. Ia masih mengoceh—tidak terdengar jelas. Saya menyelipkan sedikit uang lebih, yang mungkin tidak akan banyak membantu, apalagi menyelesaikan persoalannya malam itu. Tapi setidaknya, bisa mengurangi beban tombokannya.