Peradaban Telepon Pintar

Ia terlihat begitu asik dengan ponsel di genggamannya. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Bukan urusanku juga. Tapi, karena ruang tolehku terbatas oleh penuh sesak orang di dalam bis itu, mau tak mau aku jadi mengamatinya, dengan cukup seksama.

Ia seorang pria paruh baya. Tebakanku, sekitar limapuluhan awal. Tampilannya tidak seperti pekerja Jakarta kebanyakan yang necis. Pria itu lebih lusuh dengan tas yang berlubang di sana sini. Pakaiannya pun, sederhana.

Awalnya aku mencoba abai. Aku berusaha asik dengan bacaan-bacaan di ponselku yang ku tandai sejak kemarin, namuan belum sempat ku baca. Ponselku menjerit kehabisaan daya. Aku berdiri tanpa melakukan apapun, di tengah impitan manusia-manusia seusai bekerja delapan jam–mungkin juga lebih.

Pria itu terus asik dengan ponsel genggamnya. Sebuah telepon pintar, nampaknya. Huawei, sekilas tulisan di bagian atas ponselnya. Ia menekan acak tuts di layarnya, mengetik nomor *#9900655, kemudian dihapusnya. Lagi, *88840009#77, dihapus. *#0099, dihapus. Ia melakukannya beberapa kali dan kemudian menutup aplikasi telepon.

Ia mencoba membuka beberapa aplikasi lainnya. Tapi tak lama, ia tutup lagi. Menggeser muka layar hingga muncul daftar aplikasi lain. Terus berulang, namun tak jelas juntrungannya.

Aku hanya membenak, apa yang pria itu pikirkan? Apa yang sedang ia lakukan?

Hanya iseng belaka? Menjajal ponsel layaknya sebuah mainan baru yang perlu dicoba fitur-fiturnya. Ataukah ia hanya ingin seperti penumpang lainnya, menyibukkan dan menghibur diri dengan ponsel di tengah kelelahan dan kejenuhan paripurna–karena mengulangnya sepanjang hari, bulan, tahun, bahkan seumur hidup mereka.

Aku sendiri tidak pernah tahu apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku itu.

Ia mulai terlihat tak tahan dengan kebosanan lantaran tak ada hal berarti yang bisa ia lakukan dengan telepon pintarnya, dan akhirnya memilih memasukkannya ke dalam saku. Sama sepertiku.

Di sisiku yang lain, seorang pria muda berpakaian necis dengan earphone menempel di telinganya, asik menonton sebuah film yang, masa bodoh apapun judulnya.

Balada Supir Angkot

Saya berjalan menjauh dari persimpangan. Menjauh dari kerumunan mobil yang berderet menghimpun penumpang. Saya memang lebih memilih berjalan agak jauh. Berharap akan menemukan angkutan yang siap jalan tanpa perlu membuang banyak waktu.

Cape sedikit. Ya sudahlah.

Belum jauh saya berjalan, tetiba saya berhenti. Cuma ada seorang perempuan di dalam. Saya menyusul naik setelah pria di balik kemudi menyebut arah yang saya tuju. Entah kenapa saya memilih mobil itu. Padahal, sangat mungkin ia menunggu sangat lama hingga orang-orang memenuhi kursi-kursinya. Sesuatu yang saya hindari, oleh karenanya saya memilih berjalan sedikit jauh.

Sempat bertahan cukup lama. Si pria terus melirik ke kaca spion di kanan-kirinya, berharap muncul sesosok lagi manusia yang akan menggunakan jasanya. Tapi nihil.

Ada korek, bang, katanya.

Tidak ada, jawab saya. Karena saya memang tidak merokok.

Sebenarnya, saya tidak tahu pertanyaan itu ia tujukan kepada siapa. Tapi tak ada lagi selain saya yang layak dipanggil ‘bang’. Jadi seketika saya menganggap pertanyaan itu untuk saya.

Ia kemudian turun sebentar dari kursi kemudi. Mencari pemantik api, tentu saja.

Setelah ia kembali, mobil langsung melaju. Dengan hanya dua penumpang.

Sepi betul, pikir saya.

Sekira satu kilometer, si perempuan turun. Mutlak hanya saya yang tersisa. Sempat kuatir si supir akan berubah pikiran dan mencari peluang yang lebih baik—begitu biasanya kelakuan para supir angkot, menelantarkan penumpangnya. Di sebuah pertigaan, ia sempat melirik jauh ke depan. Dugaan saya, ia mencoba berjudi dengan melihat penampakan manusia-manusia di pinggir jalan, di depan sebuah mal, yang mungkin menjadi rejekinya. Tapi beruntung, ia urung berubah pikiran. Bukan apa-apa, sejauh saya melihat, memang tak ada orang di depan sana. Ia berbelok dan melanjutkan perjalanan sesuai tujuan awal.

Di sebuah pintu keluar kompleks pertokoan, ia berhenti dan mengobrol sejenak dengan koleganya, sesama supir—tentu saja sembari mencoba peruntungan, berharap ada penumpang. Ia bercerita, tepatnya berkeluh pada koleganya, soal sepinya sewa pada malam itu. Artinya, seret pula setorannya.

Ia kembali memacu, dengan lambat, mobilnya. Sambil mengoceh sendiri.

Abang turun di mana? ia bertanya.

Dengan cepat saya menjawab tujuan saya. Jujur, saat pertanyaan itu terlontar darinya, saya kembali kuatir.

Bensin lima puluh ribu berapa rit, bang? tanya saya balik. Selain sebetulnya, itu intrik biar ia tidak jenuh dan berpikir untuk mengubah haluan.

Ini sudah habis empat kotak aja. Ia merujuk pada indikator bahan bakar. Ia tak menjawab pertanyaan saya. Sepertinya masih mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri: kenapa bensin cepat sekali habis.

Jangan-jangan tukang bensinnya ngisinya kurang kali, bang. Sergah saya, asal.

Bukan, ini mobilnya aja boros. Jalannya cuma gigi satu-dua aja. Makanya boros, timpalnya coba menganalisis.

Usia mobil itu memang nampak tua. Mungkin keluaran ‘90an. Persoalan persneling, mungkin salah satu penyakit tua mobil itu. Suara baut kendor dan bising mesin, adalah masalah lainnya yang nampak. Mobil itu tidak terawat dengan baik, meski masih bisa berjalan cukup lancar.

Ini mobil sendiri? saya melanjutkan obrolan.

Iya, mobil sendiri. Tapi walaupun mobil sendiri kan setoran harus jalan. Mobil kredit ini, bang. Kalau engga dibayar, bisa ditarik leasing nanti.

Jawabannya nampak mengerti maksud pertanyaan saya. Awalnya saya mengira itu mobil punya seorang bos, dan ia hanya wajib menyetorkan uang sejumlah yang ditargetkan—seperti kebanyakan supir angkot. Jika setoran harian melebihi angka yang ditarget si bos, maka sisanya akan menjadi pendapatan si supir hari itu. Uang bensin diambil dari pendapatannya, tentu saja. Setoran yang diterima si bos bersih, sesuai target.

Jika itu mobilnya, maka setoran tidak menjadi wajib. Asal menutup kebutuhan bensin, persoalan beres, pikir saya. Tapi ternyata tidak.

Saya kaget juga, mobil renta seperti itu masih diperjualbelikan, dan lewat kredit.

Saya merogoh uang untuk ongkos. Saya hampir sampai di tujuan.

Memang setoran sehari berapa, bang?

Seratus enam puluh ribu. Ini baru dapet seratus tiga puluh ribu. Udah malem gini pula. Bukannya untung, malah nombok.

Ia memberi klu, bahwa peluangnya untuk menutup setoran sudah tipis.

Mobil berhenti. Saya kemudian turun dan membayarkan ongkos lewat pintu samping. Dengan obrolan masih menggantung, saya memberikan uang itu padanya. Ia masih mengoceh—tidak terdengar jelas. Saya menyelipkan sedikit uang lebih, yang mungkin tidak akan banyak membantu, apalagi menyelesaikan persoalannya malam itu. Tapi setidaknya, bisa mengurangi beban tombokannya.

Yang Bukan Kehendak Bebas

Sejak awal mengenal perdebatan soal kehendak bebas, saya tidak pernah benar-benar meyakini salah satunya. Ada, sih. Waktu itu saya yakin betul bahwa kehendak bebas itu ada; waktu saya tengah gandrung dengan istilah ‘kebebasan’. Tapi saya keliru. Sampai saat ini, saya tidak pernah melihat kebebasan, apa pun bentuknya. Yang ada cuma soal selo atau tidak selo. Itu saja. Kita terlalu muluk mengartikan kebebasan, padahal yang diinginkan orang-orang cuma bagaimana cara agar hidup ini bisa lebih santai. Sering-sering main daripada bekerja, dst. Akhirnya, saya mengubah persepsi.

Adalah sepenggal lirik, “we are all free to choose”, yang membuat saya terdorong untuk menulis ini—tindakan yang betul-betul tidak mencerminkan kehendak bebas. Penggalan lirik itu melantun saat saya sedang berada di bus transjakarta dalam perjalanan pulang dari kantor. Sesaat mendengar lirik itu, pikiran saya menerawang soal banyak hal. Soal apa yang sudah saya lakukan dan lalui sejauh ini. Wabil khusus soal keputusan saya pindah ke Jakarta.

Dalam banyak kesempatan, sampai hari ini, saya kadang masih sering menyesali keputusan untuk hengkang ke kota ini. Saat mandi, saat perjalanan menuju kantor, saat mau tidur, dan saat-saat lainnya. Betul-betul menghantui. Kehidupan yang tidak menyenangkan, bukan?

Masalahnya adalah, pindah ke kota ini cuma salah satu dari sekian opsi yang mungkin lebih baik kala itu. Malah kota ini saya tempatkan pada pilihan terakhir. Andai kota ini satu-satunya dalam daftar, mungkin saya tidak akan berpikir begitu rupa. Mungkin lebih rela.

Sungguh, tinggal di kota ini betul-betul teror.

Soal kehendak bebas, tidak, saya tidak ingin mengulang perdebatan usang soal itu. Saya cuma berangkat dari apa yang saya lihat di sekeliling, atau yang saya alami sendiri. Siapa sih manusia di bumi ini yang benar-benar hidup berdasarkan kehendak bebas mereka? Sejak orok hingga dewasa dan kemudian menikah, lalu mati, semua ditentukan oleh faktor-faktor yang telah memengaruhi cara berpikir kita. Semua dibentuk oleh pengetahuan yang kita pelajari. Artinya, semua pilihan-pilihan itu datangnya dari luar diri kita. Tidak ada yang murni. Termasuk pikiran soal ‘aku mau bebas’ itu sendiri. Pertimbangan ini-itu, baik-buruk—untung-rugi—telah memengaruhi keputusan-keputusan kita.

Begitu pun dengan kepindahan saya ke Jakarta. Tapi celakanya, tak ada satu pun keuntungan pindah ke kota ini. Jika suatu keputusan ditentukan karena membawa maslahat, maka tidak dengan keputusan ini. Menjadi manusia Jakarta adalah kekalahan paling dramatis saya selama hidup.

Kadang kala, saat berada di angkutan umum, melihat raut muka manusia-manusia itu, saya bertanya-tanya: Apakah orang-orang ini memang memilih tinggal di kota ini? Saya sangsi. Sebab kalau tidak, mereka tak perlu repot-repot merencanakan liburan setiap akhir pekan. Jika hidup mereka sudah menyenangkan, buat apa mereka mencari kesenangan lagi?

‘Kan cari suasana baru?!

Ah, klise.

Satu-satunya alasan yang paling masuk akal buat saya sejauh ini adalah lantaran Jakarta menyediakan banyak uang.

Apa hubungannya? Dengan uang itu kita bisa membeli kesenangan di tiap akhir pekan. Walaupun akhir pekan itu juga kadang tidak menyenangkan-menyenangkan amat. Lihatlah orang-orang Jakarta yang terjebak macet di Jagorawi atau Puncak pada sabtu-minggu.

Kebalikannya, saya jarang mendengar orang-orang pedesaan, di lereng Merapi atau Merbabu, misalnya, yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk kota–dan jauh dari pengaruh tivi, sibuk menyusun rencana liburan. Satu-satunya hal yang mendorong mereka untuk meninggalkan sejenak desanya atau rumahnya adalah karena rasa penasaran dengan tempat baru. Bukan untuk menuntaskan dahaga mata, apalagi menghilangkan penat akibat beban kerja berlebihan dan jalanan yang tidak pernah mengasyikan barang satu hari pun. Apalagi untuk sekadar menambah status atau foto di media sosial. Sejak facebook, path dan instagram menjadi konsumsi harian–bahkan jam–bertambah pula alasan kita untuk menyusun bucket list setiap bulan.

Sekali lagi kebebasan kita diringkus, oleh kebutuhan untuk menunjukkan bahwa kita tidak kekurangan piknik.

Tidak, tidak. Saya tidak sedang menuding siapa pun. Saya cuma menuding diri.

*

Saya sudah follow up. Tapi sampai jam lima mereka belum menyerahkan berkas juga.

Pria itu berbicara agak tegang dengan orang di seberang ponselnya.

Saya tahu loyalitas saya, bu. Tapi mau pulang jam berapa saya dari kantor? Jam 12 malam?

Ia kemudian terdiam cukup lama. Sepertinya ia mendapatkan ceramah panjang lebar dari lawan bicaranya. Raut muka pria itu semakin tidak menyenangkan.

Nanti saya lanjut lagi, bu. Saya masih di busway.

Andai saya temannya, saya akan mengoreksi stetmennya: kau di transjakarta, bukan di busway. Yah, Sekadar untuk menghiburnya.

Ponselnya ditutup.

Tak lama saya turun. Ia kemudian duduk di kursi yang saya tinggalkan.

Begitulah cara kota ini hidup.

Saat Semua Mulai Beranjak

Lagi saja saya tersadar: saya bukan lagi satu-satunya manusia dewasa di keluarga setelah generasi orang tua saya. Dua adik saya sudah tak lagi layak dianggap anak bawang. Mereka sudah mulai menjajaki fase di mana mereka akan menentukan ke mana hidup mereka akan dibawa. Tapi persoalannya bukan sekadar urusan pilihan kuliah atau bekerja; tinggal di rumah atau merantau. Lebih dari itu, mereka sudah mulai politis. Nampaknya itu menjadi konsekuensi mutlak seorang dewasa–tak perlulah mendebat bahwa sejak orok kita semua politis.

Saya tersadar ketika dalam obrolan-obrolan ringan kami terselip istilah-istilah ‘berat’ yang sebelumnya sama sekali tak pernah tercetus dalam perbincangan keluarga. Yang saya ingat, saat seusia mereka, saya belum mengenal ide-ide yang sekarang lebih banyak membuat gereget.

Adik lelaki saya yang terakhir, usia setara kelas satu menengah atas, tetiba berceletuk soal Tan Malaka, soal madilog, ketika kami ngobrol tentang hal-hal berbau gaib. Pada usianya, saya pun memang telah berkenalan dengan sosialisme, komunisme, dengan merujuk pada dua orang lebih sering muncul pada kaos atau poster; Che Guevara dan Fidel Castro. Tidak lebih. Tan Malaka, apalagi Madilog, adalah sebuah kemewahan bila bisa dipahami di usia itu. Bahkan pada kala awal kuliah, madilog bagi saya masih terlalu rumit. Sebuah kalimat perlu dibaca berulang supaya memahami maksudnya. Saya memang bukan tipikal orang yang gampang mengingat sesuatu.

Remaja-remaja sekarang mungkin lebih cepat belajar. Dua buku ‘politik’ pertama saya cuma buku populer yang mudah dicerna, Marx: Nabi Kaum Proletar dan Kiri Itu Seksi. Jikapun saat itu saya sudah mengenal madilog, rasa-rasanya saya tak akan sanggup menuntaskannya.

Adik perempuan saya, lebih tua dari yang terakhir–ia baru menyelesaikan tiga tahun sekolah atasnya, cenderung tertarik membicarakan hal-hal yang berbau politik praktis. Kami lebih banyak ngobrol soal politik elektoral, bagaimana partai dan politisi bekerja, bagaimana kondisi saat ini sangat dipengaruhi oleh sistem politik sejak era kolonial, dll. Topik pembicaraan kami meluas dari sekadar urusan siapa pemimpin yang lebih baik hingga teori nilai lebih.

Ketertarikannya pada isu ini tentu sudah bisa ditebak. Media sosial. Di era ‘keterbukaan’ seperti saat ini, politik sudah menjadi konsumsi semua golongan. Tak ada yang salah. Menurut saya, sudah semestinya setiap orang memahami bagaimana politik bekerja. Entah ia profesor atau supir angkot sekalipun. Ketabuan membicarakan politik warisan orde baru memang seharusnya tidak dilestarikan. Tapi sialnya, adik saya menjadi salah satu korban gosip politik yang lebih banyak didominasi oleh kebohongan dan fitnah remeh temeh ketimbang analisis dengan dasar keilmuan yang benderang.

Hingga saya tersadar semua telah berubah, saya hanya manusia dewasa pada umumnya yang seringkali mengecilkan kemampuan berpikir remaja-remaja itu. Celaka, memang.

Tapi waktu itu akhirnya datang. Mereka sudah beranjak. Meskipun saya tak pernah membayangkan bahwa mereka akan mengambil minat yang sama, saya mestinya senang karena pada akhirnya punya teman ngobrol yang nyambung di keluarga kecil kami.

Mempertahankan Air

Laporan mendalam Tirto soal konflik sumber air di Cadasari (Pandeglang) dan Baros (Serang), membuat saya teringat pada kasus serupa yang dialami tetangga mereka, warga Padarincang. Warga Cadasari-Baros melawan Le Minerale-Mayora, di Padarincang warga berhadapan dengan Aqua-Danone. Jarak antara dua lokasi itu, kalau saya tidak salah mengira, hanya sekitar 10 kilometer.

Kasus di Padarincang meledak pada 2010, dengan aksi monumental hampir serupa: pembakaran dan penghancuran fasilitas pabrik.

Membaca kronologis konflik di Cadasari-Baros, saya bisa pastikan mirip dengan yang terjadi di Padarincang. Sangat mirip bahkan. Misalnya, penipuan pengalihfungsian lahan. Di Cadasari-Baros, lahan yang kemudian digunakan oleh Mayora, pada awalnya diembuskan untuk pembangunan perumahan. Di Padarincang, warga mau menjual sebagian lahannya karena katanya lahan itu akan dibangun sekolah. Di sana, memang hanya ada sedikit sekolah, sehingga warga sangat antusias jika ada pembangunan fasilitas yang mereka anggap bermanfaat. Selanjutnya, segala upaya penyelesaian masalah. Berbagai proses–seperti audiensi, mengadu (pemerintah) sana mengadu (dewan) sini, surat sana surat sini–ditempuh, warga akhirnya memilih jalannya sendiri. Mereka memilih menyelesaikan persoalannya dengan cara mereka, karena pemerintah kabupaten/provinsi kadung bebal dan tak bisa diharapkan.

Saat peristiwa penghancuran terjadi, 5 Desember 2010, ribuan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, terlibat. Sebetulnya tujuan awal warga hanya menggelar istighosah di tapak pabrik, tapi entah bagaimana mulanya, warga tetiba marah dan seketika benda-benda di sekitar pabrik tandas. Polisi yang berjaga pun tak kuasa melawan, mobil dinas mereka bahkan ikut jadi sasaran. Mereka pun cari aman. Timbang mati konyol, lebih baik merelakan mobil milik negara yang mereka pakai. Urusan laporan, cukup sebut force majeur.

Lima hari kemudian, 10 Desember 2010, pada tengah malam, sekelompok orang yang dipastikan aparat menyisir warga yang diduga menjadi provokator. Lima orang ditangkap. Seharusnya lebih. Tapi kabar penangkapan itu cepat menyebar dan mereka yang disasar segera dievakuasi warga lainnya. Kelima warga yang ditangkap kabarnya dibawa ke polsek setempat.

Penangkapan itu bikin warga makin marah. Subuh belum tiba, warga sudah berkumpul di sepanjang jalan Serang-Ciomas untuk menjemput kelima warga. Kerumunan warga malam itu bak arak-arakan menjelang lebaran; bejubel dan banyak obor. Dua tempat mereka datangi: rumah camat dan Polsek Padarincang.

Ada cerita sedikit menggelitik saat mereka mendatangi rumah camat. Tengah malam adalah waktu pulas-pulasnya tidur. Pak camat pun demikian. Dengan pakaian tidur alias seadanya, warga memaksa pejabat pemerintah itu bangun dan keluar. Siapa yang tak gentar rumahnya digeruduk massa pada tengah malam?

“Pas didatengin, pak camat masih pake sarung. Terus ditarik-tarik sama warga. Sampe-sampe “itunya” yang ditarik,” kata salah seroang warga.

“Itunya” merujuk pada you-know-what-yang-ditutupin-sarung.

Tanpa perlawanan, camat menuruti mau warga.

Massa lalu bergerak ke polsek. Namun sayang, kelima warga tak ada. Malam itu kebetulan, wakapolres (iya, wakapolres, anda tidak salah baca), sedang ada di situ. Mungkin karena ada situasi, wakapolres sampai perlu menengok anak buahnya. Tapi sial baginya, warga melakukan pembalasan malam itu juga. Warga yang sangat marah sempat hampir membakar polsek dengan obor-obor di tangan, tapi diredakan warga lainnya. Akhirnya, senasib dengan camat, wakapolres dibawa warga ke desa. Warga menahan dua orang perwakilan aparat pemerintah di malam yang sama.

Warga memaksa polisi bernegosiasi: lepas lima warga kami, maka kami lepas camat dan wakapolres. Negosiasi, kalau saya tidak salah ingat, berlangsung di sebuah musola desa. Pertukaran tawanan disepakati. Hanya pertukaran tawanan. Soal pabrik air, warga keukeuh menolak.

Sejak kejadian itu, pemerintah dan Aqua mundur teratur. Aset korporasi yang ada di tapak pabrik mulai diangkut. Pemerintah kabupaten pun berjanji akan meninjau kembali pembangunan pabrik. Pengawalan kasus terus dilakukan warga sampai benar-benar tuntas. Sampai Aqua hengkang dari Padarincang. Meski SK Bupati, yang digugat warga untuk dicabut, tidak diketahui nasibnya. Mungkin juga saya yang kurang update.

Kasus Padarincang membuka mata saya tentang banyak hal. (Kau boleh anggap ini klise, tapi ini terjadi). Tentang pengorganisiran swakelola warga. Tentang gerak spontan yang efektif. Tentang peran agama dalam gerakan sosial, utamanya peran ulama dalam membangkitkan semangat perlawanan warga. (Di Banten, ulama biasanya juga menyandang gelar jawara. Ia menjadi sosok yang disegani oleh kawan maupun lawan). Tentang peran perempuan dalam mengantisipasi penculikan warga yang lebih banyak; menjadi rantai komunikasi yang efektif di tengah situasi genting. Tentang bagaimana pertarungan antara “jawara hitam” dan “jawara putih” ikut membuat suasana di akar rumput menegang. Tentang hal-hal lain yang mulai meredup dalam ingatan saya, karena terlalu banyak hal yang ingin diingat dari pengalaman warga di sana. Pengalaman yang sangat berharga.

Tapi, konflik di Cadasari-Baros nampaknya belum akan selesai dalam waktu dekat. Tiga orang warga dijadikan tersangka pengrusakan aset pabrik. Di sini perbedaan antara Cadasari-Baros dengan Padarincang dalam merespons situasi. Namun, tak ada yang bisa memaksa dan tak ada yang bisa menentukan. Warga akan menemukan caranya sendiri, dengan mengalami berbagai situasi.

aqua

Mereka yang Disingkirkan dan Dihapus dari Sejarah

Negara berusaha mati-matian agar tidak dikatakan sebagai ‘the largest example of organized crime
– Charles Tilly

Kriminal adalah kriminal. Penjahat adalah penjahat. Tak ada toleransi. Begitulah kekuasaan mendefinsikan dan memperlakukan musuhnya. Mereka yang berseberangan—dan mengancam—sudah pasti disemati: the evil.

Robohnya gedung kembar di New York pada 2001 masih lekat diingatan, meski ia sudah melewati 16 tahun pengembaraan. Tepat pasca-itu pemerintah Amerika Serikat mendeklarasikan war on terror. Perang terhadap teror. George W. Bush, presiden AS pada saat itu, tidak memberi opsi kepada warganya selain masuk dalam barisan pemerintah memerangi terorisme, yang sebetulnya belum benar-benar terdefinisikan dengan pasti, siapa dalang di balik penghancuran gedung WTC. Warga ‘terpaksa’ sepakat bahwa yang melakukan aksi itu adalah ‘teroris’. Siapa teroris? Konon, orang ber-ras arab, beragama Islam. Sejak saat itu, hingga hampir dua dekade kemudian, definisi terorisme hampir identik dengan arab, dan meluas menjadi Islam—yang tidak melulu arab.

Kusni Kasdut bukan nama besar. Tapi bukan juga receh yang bisa dilewatkan begitu saja. Pada suatu masa, mendengar kiprahnya membuat saya begitu penasaran dengan sosok satu itu. Sampai sekarang saya belum betul-betul tahu tentang nama itu, kecuali dari serpihan-serpihan informasi yang saya dapat dari berbagai sumber. Kusni Kasdut, kata mereka, penjahat. Ia perampok besar yang kemudian di hukum mati oleh negara orde baru.

Kusni Kasdut adalah penjahat lintas orde. Di zaman perang kemerdekaan, ia adalah bagian dari laskar rakyat yang turut dalam peperangan melawan tentara kolonial. Dalam barisan Tentara Keamanan Rakyat, ia menjadi Staf Pertempuran Ekonomi yang bertugas untuk merampok, membunuh, mencuri. Hasilnya kemudian digunakan untuk membiayai peperangan rakyat.

Menjadi patriot di masa lalu tidak membuatnya menjadi pahlawan kemudian. Situasi pascakemerdekaan memaksa Kasdut dan banyak laskar rakyat berbalik berontak. Dulu mereka membela Indonesia, lalu menantangnya. Kontestasi politik di tingkat elit dan angkatan bersenjata menyingkirkan orang-orang ‘ilegal’ seperti Kasdut. Kebijakan Hatta untuk me-reorganisasi dan rasionalisasi angkatan bersenjata, memicu amarah para laskar rakyat, pejuang kemerdekaan. Mereka merasa dibuang hanya karena dianggap tidak profesional. Bukan tentara yang dilatih KNIL, PETA atau TNI. Kasdut satu di antaranya.

Kasdut berontak, lagi. Kali ini kepada negara yang dulu dibelanya. Keputusannya untuk menjadi oposisi lantaran kecewa. Ia merasa dikhianati oleh negara, sebab telah semena-mena meruntuhkan patriotismenya. Ketimbang digerus zaman tanpa kuasa, ia memilih menjadi penjahat dan meneruskan kebiasaan lamanya di Batalion Rampal—unit tempat Kasdut bernaung selama perang kemerdekaan: menjadi perampok.

Aksinya yang fenomenal, yang kemudian membawanya pada tiang tembak, adalah perampokan intan berlian di museum negara pada 1963, dua tahun sebelum orde Sukarno kehilangan cengkraman kuasanya. Sebelumnya, pada 1950, ia pernah membunuh seorang hartawan arab, yang membuatnya juga divonis mati. Artinya, ia telah mendapatkan dua vonis mati. Kasdut baru benar-benar mati pada 1980, setelah Suharto menolak permohonan grasinya. Dalam novel biografis Kusni Kasdut, Parakitri Simbolon menulis—berdasar hasil wawancara dengan Kasdut di penjara: “Revolusilah yang mengajarinya merampok. Apa bedanya merampok berlian di Gorang Gareng, Madiun, dengan berlian di museum negara? Apakah bedanya merampok keluarga Tionghoa, keluarga Indonesia, dan merampok museum milik rakyat Indonesia… tidak ada bedanya! Berlian adalah berlian. Merampok adalah merampok.”

Tapi Kasdut tidak sendirian. Saya menemukan nama lain yang tindak tanduknya mirip. Mereka adalah Muksin Tamnge dan Henky Tupanwael. Mereka bandit sosial yang hampir dilupakan sejarah.

Dulu sekali, saya pernah mendengan keangkeran Pasar Senen. Bukan lantaran dedemit atau gentayangan arwah korban kerusuhan, tapi karena ada sekelompok manusia anonim yang populer dengan nama preman Pasar Senen. Yang khalayak ketahui dari kelompok itu hanya kekerasan dan kejahatan. Di situlah Muksin menempa dirinya hingga menjadi penjahat yang disegani.

Lalu ia bermetamorfosa menjadi penjahat teras. Ia memimpin kelompok preman multietnis bonafit pada 1970an. Di masa jayanya, ia dan 63 orang bawahannya, konon telah melakukan 397 perampokan di sepanjang Jakarta, Bandung hingga Surabaya. Sebuah rekor menurut media massa kala itu. Melihat rekornya, saya membayangkan betapa beringasnya kelompok ini, sekaligus menerawang sosok seperti apa Muksin Tamnge ini. Bagaimana ia bisa menjadi godfather di dunia kriminal. Meski faktanya tidak segelap itu.

Ia hanya beringas pada orang kaya yang memperkaya dirinya secara tidak wajar dan aparat negara yang memperkaya diri dengan memakai fasilitas negara. Dua kelompok masyarakat yang memaksanya terjun ke dunia kriminal. Ia mengatakan, “Dari setiap hasil operasi saya mendapat sepertiga bagian. Tapi di sekitar saya banyak orang susah yang memerlukan bantuan. Mereka turut menikmati bagian saya itu. Saya tidak bisa melihat jika ada orang yang untuk suatu saat harus menahan haus dan lapar. Orang seperti ini harus saya bantu. Dengan merampok dan menodong, saya memang melakukan kesalahan. Tetapi di balik kesalahan ini saya ingin melahirkan manfaat bagi orang lain yang membutuhkan bantuan.” Terdengar sangat robinhoodesque?

Sepotong kalimat lain yang membuat saya berpikir “orang ini bangsat betul” adalah, “Kalau harta dapat memberi kepuasan, yang saya alami itu bukan lagi sanggup memuaskan. Siapa orang lain yang punya pengalaman membagi-bagikan berlian seperti itu?… hal yang yang dapat membuat saya puas, hanya keberhasilan saya melahirkan senyum pada orang lain.” Ia pernah memberikan puluhan butir berlian hasil rampasannya kepada orang lain. Mungkin ia satu-satunya penjahat yang pantas jumawa. Ia tak membanggakan aksinya ataupun jarahannya. Ia bangga karena bisa membantu orang miskin makan. Tindakan kriminalnya didorong kehendak untuk menolong orang lain yang disingkirkan oleh orang kaya, negara dan aparatusnya; ia ingin memberi hidup sedikit lebih baik pada orang-orang yang senasib dirinya di masa lampau; ia bersolider.

Pernyataan dan tindakannya itu mungkin hasil permenungannya pada masa lalunya. Kemarahannya pada negara dimulai ketika seorang pejabat Departemen Luar Negeri memintanya uang sogok agar bisa meloloskannya ke Yugoslavia untuk mencari talenta pelatih dalam persiapan gelaran olahraga Ganefo. Ia berbakat di bidang kesehatan jasmani. Sebelum menjadi preman, Muksin atau Temmy Tamnge atau Taufik, adalah seorang Wakil Kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani di Denpasar. Ia tak bisa memberikan uang itu dan karenanya tak pernah berangkat ke Yugoslavia. Ia kecewa, dan marah.

Namun, kemarahan membuatnya menjadi legenda di dunia gelap.

Henky Tupanwael mungkin tidak seheroik Muksin. Tak ada rekaman otentik yang menyebut ia pernah berandil megurangi kesengsaraan kaum marjinal. Henky keluar-masuk penjara—dengan cara ilegal, tentunya—lantaran berulang kali membobol bank-bank besar pada tahun ‘50an – ‘60an. Tak pernah ada catatan bagaimana ia mendistribusikan hasil rampokannya.

Sosok satu ini agak berbeda dengan Kasdut maupun Muksin yang realis, yang berontak lantaran memendam bara amarah. Henky layaknya spiritualis. Ia melihat segala bentuk kematian dan pengorbanan sebagai sesuatu yang romantis. Termasuk ketika ketika ia divonis mati. Ia meminta kepada hakim, “Apakah yang Mulia bisa memperkenankan agar saya disalib?”. Baginya salib adalah simbol kepahlawanan. Yesus, sosok yang diyakininya sebagai The Lord, mati sebagai pahlawan.

Relijiusitasnya kemungkinan besar menurun dari keluarganya. Terutama ayahnya yang seorang pendeta. Sebelum ia menjadi perampok kelas kakap, ia adalah calon pendeta di benak ayahnya, dan hampir menjadi seorang sarjana ilmu peternakan. Rekam jejak kriminal membawanya ke dunia yang berbeda dari yang dibayangkan masa lalunya. Di usia dua belas tahun, sekira kelas enam sd, ia sudah melakukan aksi kriminal besar dengan menembak mati seorang polisi-militer pada tahun 1944. Saya bertanya-tanya, PM mana yang ia tembak mati, bahka saat itu Indonesia belum ada. Tak ada catatan apa motifnya, tapi karena aksinya itu ia dipenjara. Membunuh PM adalah sebuah lompatan besar mengingat aksi kriminal pertamanya adalah mencuri sepotong celana.

Negara menyebut mereka penjahat. Masyarakat dan media pun demikian. Mereka dipandang sebagai orang-orang yang telah mengganggu ketertiban umum, dan utamanya stabilitas negara. Secara moril, mereka tak pantas dihargai karena telah mengkhianati ‘kemanusiaan’. Para moralis memandang mereka sebagai cacat karena menentang hakikat manusia.

Namun, kita tidak bisa juga melepaskan definisi moral dari konstruksi sosial di baliknya. Moral tidak objektif, ia adalah subjektif, yang dibangun oleh tata nilai tertentu dengan kecenderungan positivistik; agama, adat istiadat, undang-undang. Hukum yang positivistik tidak akan bisa melihat kompleksitas di balik suatu tindakan. Agama mengenal white lie, konsep yang sinonim dengan berbuat salah untuk kebaikan. Namun, negara tidak pernah membenarkan setiap tindak kejahatan meski tujuannya untuk melahirkan kebaikan. Kenapa? Karena negara akan selalu menolak menjadi tersangka penyingkiran jutaan manusia papa.

Pada akhirnya, moralitas ditentukan oleh pada siapa kita berpihak. Suharto, pernah berpledoi untuk penembakan misterius: “…tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas peri kemanusiaan itu.” Bukankan ini pernyataan yang menggelikan? Membicarakan peri kemanusiaan sembari merenggut kemanusiaan dari banyak orang yang dituding sebagai preman. Peri kemanusiaan macam apa yang dianut orde yang telah merampas ratusan ribu nyawa manusia yang dituding komunis? Satu-satunya realitas di balik pembunuhan-pembunuhan itu adalah kepentingan politik, dan tentu saja, ekonomi. Tidak ada peri kemanusiaan di sini. Negara selalu merasa berhak mendefinisikan baik-jahat, dengan mereka selalu berada di sisi yang baik dan warga adalah yang jahat.

Dalam dunia akademis, orang-orang seperti Kasdut, Muksin dan Henky disebut sebagai bandit sosial. Mengapa? Ada peran lain selain kejahatan yang dilakukan seorang bandit sosial. Ia melakukan perampokan bukan semata-mata untuk keuntungan sendiri, namun ada urusan lain. Membantu orang lain dengan hasil rampokan, misalnya. Eric Hobsbawm, sarjana yang melahirkan terma ini, menyebut bandit sosial sebagai gerakan sosial pra-sejarah. Ia adalah bentuk aksi langsung perjuangan melawan ketidakadilan, sebelum akhirnya perjuangan-perjuangan tersebut diorganisir dan menjadi masif. Para bandit sosial dipandang sebagai penjahat oleh penguasa, namun menjadi pahlawan bagi orang-orang yang disingkirkan kekuasaan. Di luar, kita mengenal bandit sosial macam Robin Hood. Di dalam, karakter bandit sosial kita temukan pada legenda Pitung.

Bandit sosial mungkin tidak pernah ada dalam kamus kekuasaan. Bandit sosial adalah paradoks. Ia tak pernah menjadi penjahat sekaligus pahlawan. Ia hanya menyandang satu gelar pada satu waktu, penjahat atau pahlawan. Selebihnya, mereka hanya manusia biasa yang menolak tunduk pada zaman… dan pengasingan.

Tentang Para Raja dan Revolusi

Entah kapan tepatnya saya mulai kepincut dengan tulisan-tulisan Linda Christanty. Linda salah satu penulis yang membuat saya semakin tertarik pada jurnalisme sastrawi.

Oh, mungkin itu. Buku Jurnalisme Sastrawi-lah yang memperkenalkan saya padanya. Buku itu adalah kumpulan reportase jurnalistik yang dikemas dengan cara bercerita. Jurnalisme yang dipadukan dengan keindahan gaya bertutur novel atau sejenisnya. Saya berhutang pada kawan yang merekomendasikan buku itu. Entah siapa, saya lupa.

Sejak saat itu saya menjadi pemburu tulisan-tulisan Linda. Bukan juga penggemar garis keras. Saya hanya merasa reportase-reportasenya yang banyak mengulas tentang konflik menarik untuk disimak, terlebih dikemas dengan gaya yang menyenangkan. Saya merasa tak pernah kepayahan melahapnya.

Linda memang dikenal sebagai wartawan. Selain reportase, ia juga telah menelurkan cukup banyak cerpen. Saya mengoleksi keduanya, kumpulan reportase dan cerpennya. Seekor Burung Kecil di Naha, saya ingat, adalah salah satu buku esainya yang saya tunggu kala menjelang terbit. Itu tepat setelah saya membaca tuntas kumpulan reportasenya yang lain, Dari Jawa Menuju Aceh. Buku terakhir itu yang membuncahkan minat saya pada karya-karya Linda. Setelah itu, saya pun memburu karya-karya lainnya yang telah lebih dulu terbit (dan sudah tak beredar di toko buku), sementara saya telat mengenalnya. Beruntung, saya masih berkesempatan membaca salah satu yang (mungkin) menjadi masterpiece miliknya: Jangan Tulis Kami Teroris.

Akhir tahun lalu, Linda menerbitkan kumpulan tulisan (esai) terbarunya. Tidak baru-baru amat sebenarnya. Seperti kumpulan tulisan lainnya, apa yang kemudian dibukukan sebetulnya sudah pernah terbit lebih dulu di berbagai kanal. Format buku hanya membantunya mendokumentasikan karya lebih baik. Dan tentu saja, membantu pembaca untuk bisa menikmati tulisan-tulisannya tanpa perlu repot membuka arsip yang bertebaran di jagat maya.

Buku barunya, Para Raja dan Revolusi, entah kenapa tak membuat saya begitu antusias. Meski sempat menunggu-nunggu, ada sesuatu yang membuat saya tak terlalu ngebet untuk mendapatkannya sesegera mungkin, seperti saat saya menunggu Seekor Burung dari Naha. Salah satu faktorya mungkin karena sampul bukunya yang sangat tidak menarik. Saya kian sadar bahwa sampulnya buruk saat telah memilikinya. Betul, saya tak suka dengan konsep sampulnya. Insting saya di awal benar. Ketidakantusiasan saya berlanjut saat mulai membaca satu per satu tulisan yang ada di dalamnya.

Saya merasa, “ini bukan Linda banget”. Mungkin saya salah—jika dibandingkan dengan pengalaman orang lain yang membaca buku ini. Tapi sejauh pengalaman membaca tulisan-tulisannya, saya boleh bilang bahwa kumpulan esai ini yang paling tidak menarik, jika tidak dibilang paling buruk di antara karya-karyanya yang lain. Di sini gaya bertuturnya terlalu kaku. Ada banyak data, namun tidak mudah dicerna karena setiap paragraf terlalu pepat dengan ‘fakta-fakta’ laiknya buku sejarah sekolah. Meski sepertinya ia sedang berusaha menuliskannya dengan gaya sastrawi, saya merasa tidak mengalaminya seperti saat membaca karya-karyanya yang lain.

Di Para Raja dan Revolusi, Linda sepertinya tidak melakukan banyak reportase. Ia hanya merangkai kembali ingatan-ingatannya dalam momen-momen personal, menuliskannya dan mengkontekstualisasikan dengan situasi saat buku ini terbit. Sekadar kilasan pengalaman hidupnya.

Linda menawarkan banyak data, namun tidak semuanya baru. Kebanyakan—saya menduga—bisa ditemukan pada buku-buku sejarah atau catatan-catatan lepas yang beredar di internet. Esai berjudul Bangsa Nusantara dan Peradaban Manusia adalah salah satunya. Hanya beberapa esai yang memang berangkat dari pengalaman personalnya, seperti esai Sejarah Keluarga adalah Sejarah Politik. Di situ ia berkisah tentang orang-orang yang menjadi serpihan kecil dari sebuah sejarah besar. Ia mendapatkan cerita langsung dari orang-orang yang kebetulan memiliki garis historis yang linear dengan peristiwa di masa lampau. Selebihnya, ia hanya mengaitkan cerita personalnya dengan hal-hal yang dapat dengan mudah kita dapati di sumber-sumber lain.

Bandingkan dengan cerita-ceritanya tentang Gerakan Aceh Merdeka, atau saat bertemu dengan sekelompok fundamentalis agama, yang membuat posisinya sebagai liyan membuat kita membayangkan berada di situasnya. Atau saat ia ikut dalam operasi tentara nasional yang mampu mengajak pembacanya melihat lebih jauh ke dalam sosok daripada sebatas tampilan seragam mereka. Posisinya sebagai penerima pesan atau pengalam pertama yang membuat tulisan-tulisan Linda sangat menarik. Ada cerita menarik baru yang tidak semua orang berkesempatan mengalaminya. Jangan Tulis Kami Teroris, judul esai yang juga menjadi judul buku kumpulan esainya, ia dapatkan dari pengalamannya dihardik oleh seseorang di Aceh saat ia sedang melakukan melakukan investigasi.

Meski begitu, saya masih bisa menikmati beberapa esainya. Saya menemukan karakter Linda di beberapa esai terakhirnya di buku itu, Membunuh Atas Nama Tuhan dan Percakapan yang Hilang di Pagi Hari. Di buku ini juga Linda menawarkan banyak hal berbau mistis yang dia afirmasi sebagai sebuah peristiwa nyata. Beberapa kali ia mengaburkan batasan fakta dan mitos, reportase dan imajinasinya sebagai seorang cerpenis, yang akan sulit kita konfirmasi. Kita bisa temukan salah satunya dalam esai Syarifah Maryam Alkaf dan Si Buntung yang berkisah tentang persaudaraa manusia dan buaya. Membaca kisah itu, mengingatkan pada masa kecil saya. Waktu kecil, saya tinggal tidak jauh dari sebuah aliran sungai besar di daerah Tangerang. Buaya buntung juga menjadi legenda di sana. Meski saya tak pernah menyaksikannya langsung. Seperti yang Linda tuturkan, “Agama dan ilmu pengetahuan ternyata sama-sama memiliki  keterbatasan, belum mampu menjelaskan sebagian besar rahasia alam.”

Singkat cerita, Para Raja dan Revolusi jauh dari ekspektasi. Namun saya masih tetap menunggu karya-karya Linda yang lain.[]

P.s: Tidak ada yang lebih menyebalkan dari sebuah buku kecuali kesalahan fatal dalam mengurutkan halaman. Saya menemukannya di buku ini.