Sentimental Idol

Kau punya idola? Boleh kupastikan, kau pasti punya. Kalau tidak, ya, hampir pasti. Aku pun demikian. Aku punya idola, sejak kecil, sejak aku bisa mengenali mana yang baik dan mana yang buruk–tepatnya mana yang menarik dan tidak menarik.

Waktu kecil aku mengidolakan beberapa nama, misalnya Batistuta, Ronaldo, Recoba, dan hampir seluruh personil Class of ’92 Manchester United. Aku mengidolakan Inter Milan–berkat pamanku. Aku mengidolakan Backstreet Boys, dan tidak suka N’sync. Oh, saya pernah suka Eno Lerian dan sebal dengan Meisy.

Aku tergila-gila dengan Ksatria Baja Hitam hingga menirukan aksi-aksinya saat sedang bermain dengan kawna-kawan. Power Rangers, Winspector, Jiban, Ninja Jiraya, Kungfu Komang, dan Dragon Ball–yang terakhir ini bahkan sampai sekarang, semua menemani masa-masaku di SD.

Menginjak SMP, kesukaanku berganti. Aku mulai mengenal Blink-182–dan mencari kaset bajaknnya di kaki lima. Juga Max Biaggi–aku begitu benci Valentino Rossi. Saat SMA, aku kepincut dengan kisah-kisah Che Guevara. Dan Valentino Rossi, menggantikan Biaggi yang mulai menyebalkan, hingga kini.

Siapa yang betul-betul ku idolakan sekarang? Jawaban spontanku mungkin: entahlah. Mungkin ada, tapi tidak ada yang begitu berarti.

Mengidolakan seseorang atau sesuatu memang menyenangkan. Rasanya, kau tahu? Seperti jatuh cinta pada seseorang yang kau lirik dari kejauhan; berdebar saat ia melintas di depanmu. Tapi, sama seperti sosok yang kau rindukan dalam diam dan kian lama kian memudar, idola juga datang dan pergi, silih berganti.

Belakangan banyak di lingkaran pertemanan mayaku yang tetiba membangkitkan idola-idola masa lalunya. Mengungkit kembali masa lalunya yang terperam, tak diketahui oleh siapapun. Terutama sejak kematian Chris Cornell dan yang terbaru, Chester Bennington.

Sebetulnya ‘tradisi’ membuat obituari idola sudah berlangsung sejak facebook dan media sosial lainnya jadi alat interaksi–atau unjuk–utama orang-orang hari ini. Di situ, tetiba semua hal harus dirayakan, diperingati, atau sekadar dikomentari. Termasuk kematian orang-orang yang pernah mereka idolakan.

Aku pernah bertengkar dengan partnerku gegara hal sepele; aku mengejeknya yang tak bisa menonton konser perdana Morrissey di Jakarta. Motifku becanda belaka. Tapi siapa sangka ia membuat ejekan itu menjadi begitu sentimentil. Ia dengan emosional menyampaikan alasan kemarahannya. Aku dianggap tidak mengerti bagaimana Morrissey begitu memengaruhinya, membantunya keluar dari masa-masa kelam. Morrissey menyelamatkannya. Dan kesalahanku adalah tidak mampu berempati pada pengalamannya.

Saat itu aku hanya diam karena tidak ingin memperpanjang perdebatan. Meski nalarku belum bisa menerima alasan kemarahannya.

Aku belajar. Sejak saat itu aku coba memahami bahwa ada–dan banyak–orang-orang yang menghubungkan dirinya dengan sang idola melampaui apapun yang ada di dunia ini. Mereka bisa begitu sangat sentimentil begitu idolanya wafat, misalnya.

Ketika Chris Cornell meninggal–atau jauh sejak Bowie, Cohen, dan deretan idola lainnya–para penggemarnya berbondong-bondong menulis obituari tentang sang idola. Begitupun saat Chester dikabarkan mati gantung diri. Kenangan-kenangan ‘bersama’ sang idola dikisahkan di media sosial. Aku menyukai kenangan-kenangan itu, terlebih jika penulisnya pandai merangkai kata dan mampu membangkitkan sentimen yang sama pada para pembacanya. Adapula yang menuliskannya dengan biasa saja, tapi tetap menarik buatku. Bagiku pengalaman pribadi seseorang sangat menarik; aku bisa mengetahui masa lalu mereka yang boleh jadi belum pernah diceritakan pada sahabat terbaiknya sekalipun.

Chester pernah ‘berarti’ pula buatku. Ia mengisi masa transisiku dari seorang anak ingusan menjadi remaja. Semasa SMP, aku punya seorang teman yang fisik dan gayanya mirip Chester. Bersamanya, di kelas, saat jam pelajaran kosong, kami berbagi earphone mendengarkan Hybrid Theory. Album terbaik Linkin Park, menurutku. Namun sial, meski punya banyak cerita tentang Chester, aku tak sampai menuliskan obituari untuknya. Sama halnya ketika idola-idola masa kecilku yang tak lagi tayang di televisi, tak berjaya lagi di liga, atau mati, atau bahkan menjadi pecundang. Tak ada satupun yang membuatku sentimentil.

Ada yang aneh pada diriku–mungkin saja. Aku tidak peka terhadap kenangan. Aku tidak peduli terhadap hal-hal kecil yang memengaruhi hidupku. Tapi aku tidak kuatir.

Justru aku kuatir melihat seliweran obituari setiap kali ada figur teras yang mati. Kini setiap orang merasa dituntut untuk memiliki idola, dan menunjukkan betapa pentingnya idola-idola itu bagi mereka. Aku kuatir yang mereka tunjukkan bukan kenangan ‘bersama’ idola. Tapi berharap pengakuan khalayak, bahwa mereka adalah bagian dari budaya besar. Bahwa, aku adalah di antara kalian. Atau yang lebih mengerikan, ingin menunjukkan bahwa aku adalah yang paling edgy di antara kalian.

*

Belum lama aku menonton satu episode serial Black Mirror. Suatu kisah seorang perempuan tinggal di masyarakat yang status sosialnya diukur berdasar skor di media sosial. Awalnya ia hanya perempuan tulus–atau naif–yang tidak peduli dengan berapa skor yang ia miliki. Ada dua peristiwa yang mengubah perilakunya kemudian. Pertama, ketika ia memberi skor baik pada seorang pesuruh yang terancam ‘didepak’ dari masyarakat karena skornya rendah, kedua, ketika ia mengejar diskon kredit apartemen yang mensyaratkan ia memiliki skor minimal 4,5 dari 5.

Sejak saat itu, ia selalu berpikir dua kali jika ingin memberikan nilai bagus pada mereka yang berstatus (sosial) rendah. Seorang konsultan menganjurkannya untuk masuk ke lingkaran dengan status sosial lebih tinggi, yang artinya ia harus memuja orang-orang berstatus sosial tinggi agar mereka mau memberikannya skor baik. Singkatnya ia harus menjilat orang-orang ‘besar’ agar bisa menjadi bagian dari masyarakat 4,5. Masyarakat cum laude.

Sialnya dalam proses panjat sosial itu ia tersandung berbagai tragedi, terutama karena ‘perilaku buruk’ yang ia perbuat, yang membuat skornya terus merosot hingga menyisakan 1,8. Obsesinya membuat keadaan kian memburuk hingga akhirnya ia ‘didepak’ dari masyarakat dan dipenjara.

Di penjara ia bertemu seorang tahanan pria yang kira-kira mengalami kasus serupa. Di sana mereka, yang tidak mengenal satu sama lain, saling mencaci, saling mengejek. Sesuatu yang terlarang di masyarakat karena dianggap sebagai perilaku tak patut, tidak bermoral. Tapi di situ ia, dan rekan barunya, nampak bahagia lantaran bisa melepas segala amarahnya tanpa peduli berapa skor yang akan diterima.

Apa moral story dari film itu? Entahlah, mungkin tidak ada. Aku hanya tetiba kepikiran jalan cerita serial itu saat hendak menutup tulisan ini.

Tentang Adab

Di suatu kota, di ujung utara pulau berbentuk K, seorang ibu berkacamata hitam lebar menampar seorang perempuan berseragam. Kabarnya, si ibu marah lantaran tidak terima si perempuan, yang merupakan seorang petugas di bandara, memintanya melepas jam tangan saat melewati pintu sinar x.

Di kota lain, di ujung hampir barat sebuah pulau di barat daya nusantara, seorang pria yang mungkin tak pernah diajarkan etika, tak mau bergiliran menggunakan mesin uang. Ia tahu, antrian di belakangnya mengular. Tapi ia dengan santai bilang, “agak lama ya, mau transfer”. Ia memegang uang yang jumlahnya mungkin belasan juta. Seorang petugas keamanan yang dimintai tolong oleh seorang pengantri untuk menegur si pria tak berkutik. Ia hanya menganjurkan untuk tetap antri.

Di ibukota, sebuah ritual mengantar jenazah sedang berlangsung. Sebuah mobil pikap membuka jalan di depan dengan suara klakson panjang. Kemudian disusul segerombolan pria bermotor, sebagiannya anak muda. Seperti tak cukup dengan klakson yang pekak, pemuda-pemuda itu berteriak mengancam sambil menghunuskan bambu berbendera kuning kepada pengendara lain seolah hendak berperang. Seolah jalan itu hanya miliknya, dan orang mati yang sedang diiring.

Mungkin kita sudah lupa bagaimana caranya ber-adab–atau memang tidak pernah tahu?

Melepas Masa Lampau

Sejak aplikasi pesan instan marak digunakan—sms dan telepon mulai ditinggalkan, ada satu persoalan yang kian menambah beban sosial para penggunanya: grup keluarga/kerabat/pertemanan.

Sebagian besar dari mereka mengeluhkan keberadaan grup-grup yang tidak mereka kehendaki dan berujung di media sosial. Mereka berkisah tentang ketidaknyamanannya di grup-grup itu. Ada yang merasa pakewuh untuk keluar karena ada sesepuh di grup keluarga. Ada juga yang tidak berani mendebat pesan broadcast yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Lagi-lagi, karena alasan tidak enak.

Aku sendiri belum pernah merasa se-hopeless itu. Tapi bulan lalu, aku memutuskan untuk keluar dari beberapa grup whatsapp. Bukan, bukan karena alasan yang kusebut di atas, melainkan karena alasan lain.

Sebagian besar grup yang kutinggalkan berisi kawan-kawan lama. Sebagian lain adalah grup-grup yang tidak jelas juntrungannya—entah sejak kapan aku berada di situ, atau grup yang sudah lama tidak aktif. Yang kedua lebih mudah dijelaskan; tak ada gunanya aku berada di situ. Yang pertama, sedikit lebih melibatkan emosi.

Sebelumnya tak terpikir olehku untuk keluar dari grup-grup itu. Kalaupun grup itu jarang aktif, aku berpikir mungkin suatu saat aku akan membutuhkannya. Entah, mungkin, ada informasi penting yang bisa ku dapat, atau ada kebutuhan mendesak yang bisa kusampaikan di situ. Tapi memang, sejauh ini, tidak ada.

Selain alasan itu, ada hal lain yang jadi pertimbanganku: mereka adalah kawan-kawan lamaku. Kami pernah dekat, bahkan sangat dekat. Berada di situ membuatku merasa tetap ‘berkumpul’ dengan mereka. Sebetulnya aku orang yang sangat senang berteman. Ibuku bahkan kerap menyindirku, bahwa aku lebih mengutamakan teman ketimbang keluarga. Di hari-hari kumpul keluarga seperti lebaran, aku kadang lebih memilih berkumpul dengan kawan-kawanku ketimbang dengan keluarga besar. Alasanku sederhana, karena aku lebih bisa menikmati waktuku dengan mereka. Tapi itu dulu, sebelum kami memulai fase hidup baru: berkeluarga dan merintis hidup mandiri secara total.

Sejak dulu aku selalu menolak anggapan bahwa pertemanan akan usai—setidaknya berkurang—saat kita menikah. Dulu seorang kawan pernah dengan sinis berkata, “udah bukan waktunya nongkrong-nongkrong, buang-buang waktu aja.” Tentu saja aku menolak pendapatnya. Karena buatku, nongkrong bukan sekadar membuang waktu. Nongkrong dengan teman adalah perkara sosial. Berkumpul dengan teman, meski sebentar, buatku adalah usaha untuk menjaga silaturahmi. Klise? Bagiku tidak.

Seiring waktu, perubahan terjadi dalam hidup kami. Satu per satu dari kami menikah, punya anak, atau berkarir jauh dari tempat kelahiran. Kehidupan baru menyibukkan kami. Ada yang terseok membangun perekonomian keluarga, ada juga yang tertatih menunggu jodoh yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Masing-masing menyimpan prasangka. Mereka yang belum menikah menjaga jarak dengan yang sudah menikah karena merasa “mereka sudah punya kehidupan baru”. Mereka yang berkeluarga merasa seperti kawan yang sinis tadi. Akhirnya, nongkrong menjadi kegiatan yang langka. Tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya, seperti grup whatsapp.

Obrolan di grup mulai kaku. Kering dari candaan. Orang-orang terlalu serius. Aku sendiri berusaha untuk biasa saja, seolah tak ada yang berubah. Satu-dua orang—termasuk aku—mencoba melempar canda atau topik yang bisa menjadi bahan obrolan, tapi tak ada respons—kadang ada satu-dua orang menanggapi. Mungkin aku terlalu naif. Nyatanya, perubahan adalah keniscayaan, termasuk perkara pertemanan.

Karena itu aku memutuskan untuk keluar dari grup; meninggalkan serta memori yang menempel di tiap-tiap orang yang ada di dalamnya. Bukan karena kecewa atau marah pada mereka, bukan. Aku hanya mulai merasa mereka ada benarnya; sekarang saatnya untuk memulai fase baru.

Kami berada di rentang usia tanggung. Seperti kubilang tadi, di usia kami, orang-orang sedang sibuk membangun hidupnya. Di usia ini, kami sibuk mengurus diri masing-masing. Tak ada urusan dengan orang lain. Tak peduli mereka karibmu selama belasan/puluhan tahun. Era pendewasaan kami sudah usai, namun belum tiba masa untuk bisa menikmati nostalgia.

Fase ini adalah jilid baru yang mesti ditulis lepas dari memori-memori masa lalu. Hingga nanti akan tiba jilid berikutnya yang berisi rangkuman memori di setiap fase kehidupan. Saat itulah, mungkin, kami bisa bernostalgia; mengenang masa-masa menyenangkan sebagai ‘manusia bebas’—sembari merenungi rentetan keterpurukan yang tak pernah kami ceritakan sebelumnya. Sebelum akhirnya kami semua melepas seluruh atribut kehidupan.

Peradaban Telepon Pintar

Ia terlihat begitu asik dengan ponsel di genggamannya. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Bukan urusanku juga. Tapi, karena ruang tolehku terbatas oleh penuh sesak orang di dalam bis itu, mau tak mau aku jadi mengamatinya, dengan cukup seksama.

Ia seorang pria paruh baya. Tebakanku, sekitar limapuluhan awal. Tampilannya tidak seperti pekerja Jakarta kebanyakan yang necis. Pria itu lebih lusuh dengan tas yang berlubang di sana sini. Pakaiannya pun, sederhana.

Awalnya aku mencoba abai. Aku berusaha asik dengan bacaan-bacaan di ponselku yang ku tandai sejak kemarin, namuan belum sempat ku baca. Ponselku menjerit kehabisaan daya. Aku berdiri tanpa melakukan apapun, di tengah impitan manusia-manusia seusai bekerja delapan jam–mungkin juga lebih.

Pria itu terus asik dengan ponsel genggamnya. Sebuah telepon pintar, nampaknya. Huawei, sekilas tulisan di bagian atas ponselnya. Ia menekan acak tuts di layarnya, mengetik nomor *#9900655, kemudian dihapusnya. Lagi, *88840009#77, dihapus. *#0099, dihapus. Ia melakukannya beberapa kali dan kemudian menutup aplikasi telepon.

Ia mencoba membuka beberapa aplikasi lainnya. Tapi tak lama, ia tutup lagi. Menggeser muka layar hingga muncul daftar aplikasi lain. Terus berulang, namun tak jelas juntrungannya.

Aku hanya membenak, apa yang pria itu pikirkan? Apa yang sedang ia lakukan?

Hanya iseng belaka? Menjajal ponsel layaknya sebuah mainan baru yang perlu dicoba fitur-fiturnya. Ataukah ia hanya ingin seperti penumpang lainnya, menyibukkan dan menghibur diri dengan ponsel di tengah kelelahan dan kejenuhan paripurna–karena mengulangnya sepanjang hari, bulan, tahun, bahkan seumur hidup mereka.

Aku sendiri tidak pernah tahu apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku itu.

Ia mulai terlihat tak tahan dengan kebosanan lantaran tak ada hal berarti yang bisa ia lakukan dengan telepon pintarnya, dan akhirnya memilih memasukkannya ke dalam saku. Sama sepertiku.

Di sisiku yang lain, seorang pria muda berpakaian necis dengan earphone menempel di telinganya, asik menonton sebuah film yang, masa bodoh apapun judulnya.

Balada Supir Angkot

Saya berjalan menjauh dari persimpangan. Menjauh dari kerumunan mobil yang berderet menghimpun penumpang. Saya memang lebih memilih berjalan agak jauh. Berharap akan menemukan angkutan yang siap jalan tanpa perlu membuang banyak waktu.

Cape sedikit. Ya sudahlah.

Belum jauh saya berjalan, tetiba saya berhenti. Cuma ada seorang perempuan di dalam. Saya menyusul naik setelah pria di balik kemudi menyebut arah yang saya tuju. Entah kenapa saya memilih mobil itu. Padahal, sangat mungkin ia menunggu sangat lama hingga orang-orang memenuhi kursi-kursinya. Sesuatu yang saya hindari, oleh karenanya saya memilih berjalan sedikit jauh.

Sempat bertahan cukup lama. Si pria terus melirik ke kaca spion di kanan-kirinya, berharap muncul sesosok lagi manusia yang akan menggunakan jasanya. Tapi nihil.

Ada korek, bang, katanya.

Tidak ada, jawab saya. Karena saya memang tidak merokok.

Sebenarnya, saya tidak tahu pertanyaan itu ia tujukan kepada siapa. Tapi tak ada lagi selain saya yang layak dipanggil ‘bang’. Jadi seketika saya menganggap pertanyaan itu untuk saya.

Ia kemudian turun sebentar dari kursi kemudi. Mencari pemantik api, tentu saja.

Setelah ia kembali, mobil langsung melaju. Dengan hanya dua penumpang.

Sepi betul, pikir saya.

Sekira satu kilometer, si perempuan turun. Mutlak hanya saya yang tersisa. Sempat kuatir si supir akan berubah pikiran dan mencari peluang yang lebih baik—begitu biasanya kelakuan para supir angkot, menelantarkan penumpangnya. Di sebuah pertigaan, ia sempat melirik jauh ke depan. Dugaan saya, ia mencoba berjudi dengan melihat penampakan manusia-manusia di pinggir jalan, di depan sebuah mal, yang mungkin menjadi rejekinya. Tapi beruntung, ia urung berubah pikiran. Bukan apa-apa, sejauh saya melihat, memang tak ada orang di depan sana. Ia berbelok dan melanjutkan perjalanan sesuai tujuan awal.

Di sebuah pintu keluar kompleks pertokoan, ia berhenti dan mengobrol sejenak dengan koleganya, sesama supir—tentu saja sembari mencoba peruntungan, berharap ada penumpang. Ia bercerita, tepatnya berkeluh pada koleganya, soal sepinya sewa pada malam itu. Artinya, seret pula setorannya.

Ia kembali memacu, dengan lambat, mobilnya. Sambil mengoceh sendiri.

Abang turun di mana? ia bertanya.

Dengan cepat saya menjawab tujuan saya. Jujur, saat pertanyaan itu terlontar darinya, saya kembali kuatir.

Bensin lima puluh ribu berapa rit, bang? tanya saya balik. Selain sebetulnya, itu intrik biar ia tidak jenuh dan berpikir untuk mengubah haluan.

Ini sudah habis empat kotak aja. Ia merujuk pada indikator bahan bakar. Ia tak menjawab pertanyaan saya. Sepertinya masih mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri: kenapa bensin cepat sekali habis.

Jangan-jangan tukang bensinnya ngisinya kurang kali, bang. Sergah saya, asal.

Bukan, ini mobilnya aja boros. Jalannya cuma gigi satu-dua aja. Makanya boros, timpalnya coba menganalisis.

Usia mobil itu memang nampak tua. Mungkin keluaran ‘90an. Persoalan persneling, mungkin salah satu penyakit tua mobil itu. Suara baut kendor dan bising mesin, adalah masalah lainnya yang nampak. Mobil itu tidak terawat dengan baik, meski masih bisa berjalan cukup lancar.

Ini mobil sendiri? saya melanjutkan obrolan.

Iya, mobil sendiri. Tapi walaupun mobil sendiri kan setoran harus jalan. Mobil kredit ini, bang. Kalau engga dibayar, bisa ditarik leasing nanti.

Jawabannya nampak mengerti maksud pertanyaan saya. Awalnya saya mengira itu mobil punya seorang bos, dan ia hanya wajib menyetorkan uang sejumlah yang ditargetkan—seperti kebanyakan supir angkot. Jika setoran harian melebihi angka yang ditarget si bos, maka sisanya akan menjadi pendapatan si supir hari itu. Uang bensin diambil dari pendapatannya, tentu saja. Setoran yang diterima si bos bersih, sesuai target.

Jika itu mobilnya, maka setoran tidak menjadi wajib. Asal menutup kebutuhan bensin, persoalan beres, pikir saya. Tapi ternyata tidak.

Saya kaget juga, mobil renta seperti itu masih diperjualbelikan, dan lewat kredit.

Saya merogoh uang untuk ongkos. Saya hampir sampai di tujuan.

Memang setoran sehari berapa, bang?

Seratus enam puluh ribu. Ini baru dapet seratus tiga puluh ribu. Udah malem gini pula. Bukannya untung, malah nombok.

Ia memberi klu, bahwa peluangnya untuk menutup setoran sudah tipis.

Mobil berhenti. Saya kemudian turun dan membayarkan ongkos lewat pintu samping. Dengan obrolan masih menggantung, saya memberikan uang itu padanya. Ia masih mengoceh—tidak terdengar jelas. Saya menyelipkan sedikit uang lebih, yang mungkin tidak akan banyak membantu, apalagi menyelesaikan persoalannya malam itu. Tapi setidaknya, bisa mengurangi beban tombokannya.

Yang Bukan Kehendak Bebas

Sejak awal mengenal perdebatan soal kehendak bebas, saya tidak pernah benar-benar meyakini salah satunya. Ada, sih. Waktu itu saya yakin betul bahwa kehendak bebas itu ada; waktu saya tengah gandrung dengan istilah ‘kebebasan’. Tapi saya keliru. Sampai saat ini, saya tidak pernah melihat kebebasan, apa pun bentuknya. Yang ada cuma soal selo atau tidak selo. Itu saja. Kita terlalu muluk mengartikan kebebasan, padahal yang diinginkan orang-orang cuma bagaimana cara agar hidup ini bisa lebih santai. Sering-sering main daripada bekerja, dst. Akhirnya, saya mengubah persepsi.

Adalah sepenggal lirik, “we are all free to choose”, yang membuat saya terdorong untuk menulis ini—tindakan yang betul-betul tidak mencerminkan kehendak bebas. Penggalan lirik itu melantun saat saya sedang berada di bus transjakarta dalam perjalanan pulang dari kantor. Sesaat mendengar lirik itu, pikiran saya menerawang soal banyak hal. Soal apa yang sudah saya lakukan dan lalui sejauh ini. Wabil khusus soal keputusan saya pindah ke Jakarta.

Dalam banyak kesempatan, sampai hari ini, saya kadang masih sering menyesali keputusan untuk hengkang ke kota ini. Saat mandi, saat perjalanan menuju kantor, saat mau tidur, dan saat-saat lainnya. Betul-betul menghantui. Kehidupan yang tidak menyenangkan, bukan?

Masalahnya adalah, pindah ke kota ini cuma salah satu dari sekian opsi yang mungkin lebih baik kala itu. Malah kota ini saya tempatkan pada pilihan terakhir. Andai kota ini satu-satunya dalam daftar, mungkin saya tidak akan berpikir begitu rupa. Mungkin lebih rela.

Sungguh, tinggal di kota ini betul-betul teror.

Soal kehendak bebas, tidak, saya tidak ingin mengulang perdebatan usang soal itu. Saya cuma berangkat dari apa yang saya lihat di sekeliling, atau yang saya alami sendiri. Siapa sih manusia di bumi ini yang benar-benar hidup berdasarkan kehendak bebas mereka? Sejak orok hingga dewasa dan kemudian menikah, lalu mati, semua ditentukan oleh faktor-faktor yang telah memengaruhi cara berpikir kita. Semua dibentuk oleh pengetahuan yang kita pelajari. Artinya, semua pilihan-pilihan itu datangnya dari luar diri kita. Tidak ada yang murni. Termasuk pikiran soal ‘aku mau bebas’ itu sendiri. Pertimbangan ini-itu, baik-buruk—untung-rugi—telah memengaruhi keputusan-keputusan kita.

Begitu pun dengan kepindahan saya ke Jakarta. Tapi celakanya, tak ada satu pun keuntungan pindah ke kota ini. Jika suatu keputusan ditentukan karena membawa maslahat, maka tidak dengan keputusan ini. Menjadi manusia Jakarta adalah kekalahan paling dramatis saya selama hidup.

Kadang kala, saat berada di angkutan umum, melihat raut muka manusia-manusia itu, saya bertanya-tanya: Apakah orang-orang ini memang memilih tinggal di kota ini? Saya sangsi. Sebab kalau tidak, mereka tak perlu repot-repot merencanakan liburan setiap akhir pekan. Jika hidup mereka sudah menyenangkan, buat apa mereka mencari kesenangan lagi?

‘Kan cari suasana baru?!

Ah, klise.

Satu-satunya alasan yang paling masuk akal buat saya sejauh ini adalah lantaran Jakarta menyediakan banyak uang.

Apa hubungannya? Dengan uang itu kita bisa membeli kesenangan di tiap akhir pekan. Walaupun akhir pekan itu juga kadang tidak menyenangkan-menyenangkan amat. Lihatlah orang-orang Jakarta yang terjebak macet di Jagorawi atau Puncak pada sabtu-minggu.

Kebalikannya, saya jarang mendengar orang-orang pedesaan, di lereng Merapi atau Merbabu, misalnya, yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk kota–dan jauh dari pengaruh tivi, sibuk menyusun rencana liburan. Satu-satunya hal yang mendorong mereka untuk meninggalkan sejenak desanya atau rumahnya adalah karena rasa penasaran dengan tempat baru. Bukan untuk menuntaskan dahaga mata, apalagi menghilangkan penat akibat beban kerja berlebihan dan jalanan yang tidak pernah mengasyikan barang satu hari pun. Apalagi untuk sekadar menambah status atau foto di media sosial. Sejak facebook, path dan instagram menjadi konsumsi harian–bahkan jam–bertambah pula alasan kita untuk menyusun bucket list setiap bulan.

Sekali lagi kebebasan kita diringkus, oleh kebutuhan untuk menunjukkan bahwa kita tidak kekurangan piknik.

Tidak, tidak. Saya tidak sedang menuding siapa pun. Saya cuma menuding diri.

*

Saya sudah follow up. Tapi sampai jam lima mereka belum menyerahkan berkas juga.

Pria itu berbicara agak tegang dengan orang di seberang ponselnya.

Saya tahu loyalitas saya, bu. Tapi mau pulang jam berapa saya dari kantor? Jam 12 malam?

Ia kemudian terdiam cukup lama. Sepertinya ia mendapatkan ceramah panjang lebar dari lawan bicaranya. Raut muka pria itu semakin tidak menyenangkan.

Nanti saya lanjut lagi, bu. Saya masih di busway.

Andai saya temannya, saya akan mengoreksi stetmennya: kau di transjakarta, bukan di busway. Yah, Sekadar untuk menghiburnya.

Ponselnya ditutup.

Tak lama saya turun. Ia kemudian duduk di kursi yang saya tinggalkan.

Begitulah cara kota ini hidup.

Saat Semua Mulai Beranjak

Lagi saja saya tersadar: saya bukan lagi satu-satunya manusia dewasa di keluarga setelah generasi orang tua saya. Dua adik saya sudah tak lagi layak dianggap anak bawang. Mereka sudah mulai menjajaki fase di mana mereka akan menentukan ke mana hidup mereka akan dibawa. Tapi persoalannya bukan sekadar urusan pilihan kuliah atau bekerja; tinggal di rumah atau merantau. Lebih dari itu, mereka sudah mulai politis. Nampaknya itu menjadi konsekuensi mutlak seorang dewasa–tak perlulah mendebat bahwa sejak orok kita semua politis.

Saya tersadar ketika dalam obrolan-obrolan ringan kami terselip istilah-istilah ‘berat’ yang sebelumnya sama sekali tak pernah tercetus dalam perbincangan keluarga. Yang saya ingat, saat seusia mereka, saya belum mengenal ide-ide yang sekarang lebih banyak membuat gereget.

Adik lelaki saya yang terakhir, usia setara kelas satu menengah atas, tetiba berceletuk soal Tan Malaka, soal madilog, ketika kami ngobrol tentang hal-hal berbau gaib. Pada usianya, saya pun memang telah berkenalan dengan sosialisme, komunisme, dengan merujuk pada dua orang lebih sering muncul pada kaos atau poster; Che Guevara dan Fidel Castro. Tidak lebih. Tan Malaka, apalagi Madilog, adalah sebuah kemewahan bila bisa dipahami di usia itu. Bahkan pada kala awal kuliah, madilog bagi saya masih terlalu rumit. Sebuah kalimat perlu dibaca berulang supaya memahami maksudnya. Saya memang bukan tipikal orang yang gampang mengingat sesuatu.

Remaja-remaja sekarang mungkin lebih cepat belajar. Dua buku ‘politik’ pertama saya cuma buku populer yang mudah dicerna, Marx: Nabi Kaum Proletar dan Kiri Itu Seksi. Jikapun saat itu saya sudah mengenal madilog, rasa-rasanya saya tak akan sanggup menuntaskannya.

Adik perempuan saya, lebih tua dari yang terakhir–ia baru menyelesaikan tiga tahun sekolah atasnya, cenderung tertarik membicarakan hal-hal yang berbau politik praktis. Kami lebih banyak ngobrol soal politik elektoral, bagaimana partai dan politisi bekerja, bagaimana kondisi saat ini sangat dipengaruhi oleh sistem politik sejak era kolonial, dll. Topik pembicaraan kami meluas dari sekadar urusan siapa pemimpin yang lebih baik hingga teori nilai lebih.

Ketertarikannya pada isu ini tentu sudah bisa ditebak. Media sosial. Di era ‘keterbukaan’ seperti saat ini, politik sudah menjadi konsumsi semua golongan. Tak ada yang salah. Menurut saya, sudah semestinya setiap orang memahami bagaimana politik bekerja. Entah ia profesor atau supir angkot sekalipun. Ketabuan membicarakan politik warisan orde baru memang seharusnya tidak dilestarikan. Tapi sialnya, adik saya menjadi salah satu korban gosip politik yang lebih banyak didominasi oleh kebohongan dan fitnah remeh temeh ketimbang analisis dengan dasar keilmuan yang benderang.

Hingga saya tersadar semua telah berubah, saya hanya manusia dewasa pada umumnya yang seringkali mengecilkan kemampuan berpikir remaja-remaja itu. Celaka, memang.

Tapi waktu itu akhirnya datang. Mereka sudah beranjak. Meskipun saya tak pernah membayangkan bahwa mereka akan mengambil minat yang sama, saya mestinya senang karena pada akhirnya punya teman ngobrol yang nyambung di keluarga kecil kami.