Kekerasan yang Nisbi

Apa reaksimu ketika tahu beberapa orang polisi disandera oleh para narapidana terorisme? Aku bersikap biasa saja. Wajar, mereka punya dendam kesumat dengan aparat-aparat itu.

Apa reaksimu ketika tahu tiga bom meledak di tiga gereja dan mengakibatkan sejumlah orang tewas dan puluhan lainnya luka parah? Aku penasaran. Ada rasa ingin tahu yang begitu besar tentang siapa saja korbannya, siapa pelakunya, apa motifnya–walaupun yang terkahir sudah hampir bisa ditebak.

Mengapa responsku berbeda terhadap dua peristiwa yang sebetulnya tidak jauh berbeda? Karena aku punya pengalaman yang berbeda terhadap dua kelompok yang disasar.

“Kekerasan atas nama apapun tidak dapat dibenarkan,” kata seorang kawan, mantan jurnalis dan mengaku sebagai garda terdepan kemanusiaan.

Kubilang padanya bahwa kita tidak bisa melihat kekerasan semata kekerasan. Ia tak menerima alasanku.

Aku meyakini ada alasan-alasan yang melatarbelakangi tindakan mereka. Mengapa mereka marah hanya karena makanannya tidak diantar? Mereka yang membela aparat–berdasar keterangan aparat–berdalih bahwa petugas jaga sudah berganti dan makanan itu dititipkan kepada petugas sebelumnya. Mendengar itu aku antara percaya dan tidak. Percaya karena, ya, bisa jadi ada miskomunikasi di situ. Sebaliknya, aku tidak percaya karena sejauh pengalamanku, petugas penjara memang kerap abai–lebih sering menyepelekan–hal-hal yang berkaitan dengan narapidana. Humiliating yang dilakukan petugas penjara kukira sudah jadi rahasia umum.

Dulu, beberapa kali ketika menengok kawan di penjara, makanan dan rokok yang dititipkan sudah pasti disikat lebih dulu oleh aparat. Maka, agar jatah si kawan tidak berkurang, kami akhirnya terpaksa membeli makanan atau rokok lebih banyak. Jika kamu bawa buah-buahan satu kilo, niscaya hanya setengah kilo yang sampai ke dalam. Jadi, ketika mendengar pemicu kasus pemberontakan di penjara adalah karena makanan titipan yang tidak diantarkan, aku tidak heran–terlepas ada motif lain dari aksi tersebut. Aku berani bertaruh, mereka yang muak dengan perilaku petugas penjara jumlahnya lebih banyak daripada yang tidak.

Kembali ke soal aksi kekerasannya. Kekerasan sudah ada bahkan sebelum peradaban itu lahir. Di dunia fauna, kekerasan adalah soal bertahan hidup. Mungkin para penganut antroposentrisme akan berdalih bahwa manusia lebih tinggi derajatnya dari flora fauna karena memiliki akal untuk tidak melakukan kekerasan. Tapi sejak otak homo bipedal berevolusi dari 750 cc menjadi 1450 cc, kekerasan tetap menjadi cara yang dianggap bisa menyelesaikan masalah. Menafikan fenomena kekerasan sama saja seperti menafikan bahwa manusia adalah makhluk hidup, bisa berpikir dan punya emosi. Aku menerima kekerasan dengan derajat tertentu–yang tentunya berbeda dengan derajat yang dapat diterima oleh orang lain.

Aksi balasan terhadap aparat lebih bisa kuterima daripada penyerangan terhadap kelompok yang tidak seagama. Aparat bak algojo bagi mereka. Dengan demikian menjadi masuk akal bila mereka punya motivasi besar untuk menghabisi balik–meski aku sendiri ikut berbelasungkawa ketika mengetahui bahwa mereka juga memiliki keluarga yang menunggu di rumah. Sementara mereka yang berbeda agama, sejauh yang kutahu, bahkan tidak boleh dilukai sedikitpun kecuali mereka memerangimu. Ada etika perang dalam agama yang mengutamakan prinsip bertahan, alih-alih menyerang.

“Apa pendapatmu tentang tentara yang menenteng-nenteng kepala orang dan membunuh bayi di Timor Leste?” tanyanya mendesak.

Biadab, kataku.

Aku dituding mewajarkan penyerangan terhadap aparat di Mako Brimob tanpa menjelaskan pewajaranku selain karena aku menggunakan kata ‘wajar’–ya, wajar dalam petik, ia tahu itu. Mengakui bahwa kekerasan adalah sebuah fenomena dan memiliki pembenarannya masing-masing, kukira berbeda dengan mengakui aksi kekerasannya itu sendiri. Aku tidak sepaham dengan para jihadis itu dan tidak mengamini setiap aksinya–termasuk penyerangan itu, karena aku berseberangan paham dengan mereka, tapi aku bisa memahami mengapa aksi-aksi itu mereka lakukan.

“Ok sudah cukup. Kalau kujelaskan akan panjang. Intinya titik berangkat kita sudah berbeda,” tutupnya. Aku pun tak menggubris ‘penutup’ itu, karena obrolan itu sudah menjadi debat kusir.

Ia cuma ingin aku dan yang lain–orang-orang di sekitarnya–ikut mengutuk peristiwa itu, mencela pelaku dan mengabaikan faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab membuncahnya amarah para napi terorisme. Dan aku pun yakin, ia mengerti bahwa kutukan itu tidak menawarkan solusi apapun.

Obrolan itu akhirnya hanya menyisakan pertanyaan buatku: apa beda reaksi otak orang yang marah–semata-mata marah–terhadap terorisme dengan jihadis yang marah kepada aparat karena makanannya tak diantar? Kesimpulanku sementara ini: tidak ada.

Advertisements

Berpikir Adil itu Muskil

Suatu hari mereka membicarakan soal aman tidak menyelenggarakan diskusi  dengan tema yang agak sensitif, seperti komunisme dan perampasan lahan yang sedang marak. Saat mengurus perizinan, aparat sudah mewanti-wanti bahwa tidak boleh ada diskusi yang berbau politik.

“Bukan kita tidak mendukung gerakan, tapi kita mesti pahami situasinya. Kita bisa tetap mendukung mereka dengan elegan, ” katanya.

“Sepakat. Situasinya memang tidak memungkinkan,” timpal yang lain.

Di hari lain, mereka membahas formulir sebuah festival literasi yang menyatakan tidak boleh memajang buku yang bertemakan komunisme dan sara.

“Berarti semua buku bertema agama tidak boleh. Buku-buku sosiologi dan antropologi juga tidak boleh,” katanya.

“Mereka yang bikin acara itu, kan?” katanya menuding sebuah komunitas yang ia yakini tunduk pada aparat.

Aku kemudian paham, diskusi dengan mereka sudah tidak lagi menarik.

Dreaming My Dreams: Mengenang Suara yang Tak Lekang

Selama kurang lebih tiga dekade ini, aku mengalami, setidaknya, tiga kali gegar musik. Kejadian pertama ku alami di masa transisi dari anak-anak menjadi remaja. Sejak kecil hingga penghujung sekolah dasar, aku menggemari musik anak-anak. Aku masih bisa mengingat dengan jelas di tingkat akhir sekolah dasar, aku masih berburu satu album milik Enno Lerian yang dirilis sekitar tahun 1999 di sebuah toserba dekat sekolah.  Kaset itu kutebus dengan enam ribu rupiah hasil sisihan uang jajanku.

Begitu memasuki jenjang menengah pertama, selera musikku bergeser. Di sekolah baru aku bertemu orang-orang baru dengan selera musik yang beragam. Bagaimanapun, seleraku–dan kukira banyak orang lainnya–akan sangat terpengaruh lingkungan. Misalnya, aku bertemu dengan seseorang yang sejak sd mendengarkan Metallica, Slipknot, dan System Of A Down. Seleranya tertular dari kakak lelakinya. Di usianya waktu itu, ia menguasai gitar dengan baik. Lagi-lagi, karena pengaruh kakaknya. Sementara aku, mengerti kunci pun tidak. Ialah salah satu yang memicu perubahan selera musikku. Kami mendengarkan Toxicity dari walkman yang hampir setiap hari ia bawa ke sekolah. Kami berbagi earphone ketika istirahat atau saat jam pelajaran  tak ada guru. Kadang ia juga membawa majalah musik–aku masih ingat ia membawa sebuah majalah yang berisikan profil lengkap personil Slipknot.

Tapi di tahun-tahun itu, yang kusukai belum segahar nama-nama band yang kusebutkan tadi. Entah bagaimana awalnya, tapi aku mulai menyukai blink-182, yang kukira sebagai representasi punk pada waktu itu. Aku mengubah persepsiku ini bertahun-tahun kemudian. Tapi apapun pandangan khalayak terhadap band ini, aku tidak bisa membohongi diri bahwa musik merekalah yang menjadi milestone gegar musik pertamaku. Melanjutkan tradisi membeli kaset, aku berburu album Take Off Your Pants and Jacket. Sialnya, aku tak punya cukup uang untuk membeli album internasional–di beberapa toko kaset, terutama yang kecil, rak untuk album artis mancanegara, apapun genrenya, dilabeli internasional. Akhirnya, dengan bermodalkan enam ribu rupiah, aku membeli kaset bajakannya di lapak kaki lima dekat sekolah lamaku, tidak jauh dari toserba tempat aku membeli kaset Enno Lerian. Kualitasnya? Jangan ditanya. Kendati aku cukup bungah.

Di masa-masa itu, aku dan beberapa kawan membentuk band–untuk senang-senang tentunya–yang mengkaver lagu-lagu blink-182, Green Day, atau band pop-punk lainnya. Kebetulan sekali, seorang kawan memiliki selera musik yang mirip dan ia mengoleksi banyak album band-band pop-punk. Kerapkali, sepulang sekolah, aku mampir ke rumahnya untuk sekadar mendengarkan tumpukan kaset-kaset itu.

Gegar musik kedua terjadi di masa awal kuliah. Apa yang kualami masa sebelumnya terjadi lagi. Di awal-awal kuliah, aku mulai berkenalan dengan musik metal. Aku menjelajahi berbagai varian metal dan mengoleksi mp3 ilegal yang kuunduh dari internet. Jika ada pertanyaan, apa yang mengubah seleraku saat itu? Aku bisa menyodorkan dua nama band yang menjadi pintu masuk bagiku ke dunia yang berbeda ini: Cranial Incisored dan Death Vomit. Keduanya dari Yogyakarta, kota di mana aku menghabiskan hidup belasan tahun terakhir.

Lalu gegar musik terakhir terjadi sekira enam tahun yang lalu, ketika aku sudah cukup matang secara usia. Saat itu aku tengah menjalin relasi dengan seorang perempuan yang memiliki selera musik yang juga berbeda. Darinyalah aku mengenal musik-musik era ’60-’70an hingga britpop. Bisa saban hari aku mendengar musik dari laptopnya, dan ia akan selalu berkomentar bila aku memainkan playlist-ku. Ada banyak daftar laguku yang tak sesuai dengan seleranya. Waktu itu kupikir-pikir, aku ternyata orang yang cukup toleran untuk soalan musik. Aku bisa mendengarkan musik apapun, tanpa perlu mengomentarinya sebagai musik yang buruk atau kitsch.

Dari sekian rangkaian gegar musik itu, ada satu musik, satu band, yang nampaknya tak lekang oleh semua peristiwa itu.

Suatu hari, aku menyetel The Cranberries.

“Aku nggak terlalu suka Cranberries,” selanya saat aku menyetel lagu pertama dari album No Need To Argue. Aku tak tahu, apakah itu semacam kode agar aku mengganti lagu? Tapi aku tak peduli, aku terus memutarnya sembari melanjutkan pekerjaan.

“Aku suka. Aku suka suara Dolores,” timpalku.

Seketika ingatanku terlempar ke beberapa tahun lalu. Aku hanya punya satu album The Cranberries, No Need To Argue. Kali ini aku tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk memilikinya. Kaset itu milik seorang kawan sma-ku. Aku tidak ingat betul bagaimana proses barter itu terjadi. Ada dua kemungkinan: pertama, kami bertukar secara tidak sengaja. Kau tau? Zaman itu–aku tak tahu sekarang–bertukar-pinjam kaset adalah hal yang lumrah. Aku meminjam album itu, dan ia meminjam kasetku, kalau tidak salah, Ini Bukan Album Metal punya Sendal Jepit. Kami bertukar-pinjam untuk sementara, namun kemudian kami tak pernah saling mengingatkan untuk mengembalikannya. Kedua, kami secara sadar bertukar kepemilikan kaset tersebut. Tapi, aku sangsi dengan kemungkinan yang kedua.

Peristiwa ini tentu bukan penanda pertemuan awalku dengan band ini, namun samar juga memastikan kapan aku mengenalnya. Yang kuingat, ketika porsi terbesar musikku masih seputar Bondan Prakoso cilik, aku sudah mendengarkan Zombie, Salvation, atau Animal Instinct di kanal musik seperti MTV. Baru bertahun-tahun setelahnya aku tahu siapa orang-orang di balik karya-karya itu, hingga akhirnya aku bertemu dengan No Need To Argue, seperti yang kuceritakan tadi.

Oktober lalu, ketika aku membereskan buku, kaset dan koleksi cd-ku, sejenak aku berhenti saat memegang kaset itu. Aku terlempar lagi ke momen saat aku membawanya pulang dari rumah kawanku. Aku memastikannya tersimpan baik di dalam kardus kaset-kaset yang kutinggalkan di rumah orang tuaku.

Di awal kehidupanku di kota yang menghidupiku belakangan, yang berkalang kesepian, No Need To Argue adalah salah satu yang menemani. Tanpa bekal musik yang mumpuni, bermodalkan walkman bekas dan speaker komputer dengan suara seadanya, album itu kusetel hampir setiap hari, setiap pagi dan malam. Kadang bergantian dengan Modern Artillery, The Living End.

Album itu adalah album sejuta umat, terfavorit dari band bernama awal The Cranberry Saw Us ini. Penjualannya di medio 1990an, adalah salah satu yang tertinggi. Copy yang terjual konon mencapai angka 17 juta. Dua lagu jagoan dari album ini, Zombie dan Ode To My Family, menjadi langganan kaver di acara pensi sekolah di zamanku. Tapi favoritku bukan keduanya, meski tetap menjadi lagu yang menyenangkan untuk didengar.

Dreaming My Dreams favoritku, lagu terakhir yang dijadikan single dari album ini. Itupun hanya dirilis di Britania, setahun lebih setelah album dirilis.

Aku tak punya alasan mendalam mengapa menyukai lagu ini–tak perlu juga pikirku. Tidak juga aku mencari tahu cerita di balik lagu itu, sebagaimana Zombie dan Bosnia. Terkadang, bagi kebanyakan orang, sebuah lagu favorit perlu punya makna lebih dari sekadar urusan enak didengar, bahkan kalau bisa lagu itu mengemban visi dan misi, cita-cita pendengarnya. Ia dipaksa mengemban ideologi.

Masa bodoh. Yang kutahu, aku mendapatkan ketenangan saat mendengarkannya. Damai.

Lagu ini, seperti sedikit lagu lainnya, bisa membawa pikiranku melayang entah. Bahkan, ketika aku hanya mendengarnya tanpa memerhatikan, lantunan suara si vokalis bisa membuat bulu di tangan dan belakang leherku merespons, seolah tahu pesan yang ingin disampaikan lagu itu. Seketika sekelilingku membeku, hanya aku seorang yang ada di dunia ini, menuju kedamaian absolut.

Setiap memutar lagu ini, aku membayangkan berada di sebuah tanah lapang dengan balutan rumput hijau dan kontur berbukit. Berbaring, atau sekadar duduk dan menerawang kosong, menatap angkasa. Pikiranku bisa menjelema menjadi ruang hampa di antara Bumi dan Bulan, atau keheningan di palung terdalam. Sebuah tempat sepi dengan kesunyian yang mutlak, “… there’s no other place, that I’d lay down my face.”

It’s out there, Dolores, It’s out there…

Musik Indie Tidak Bisa jadi Pahlawan

[Dimuat di Jurnal Ruang, 20 Oktober 2017]

 

Akhir dekade 1990-an adalah momen krusial bagi Indonesia. Suharto tumbang setelah 32 tahun bercokol sebagai penguasa tunggal, dan Indonesia memasuki fase transisi menuju demokrasi. Dalam banyak narasi sejarah mengenai periode tersebut, anak muda – terutama mahasiswa – kerap disebut sebagai biangnya. Sebagaimana periode 1965-66, mahasiswa angkatan 1998 juga memainkan peranan penting dalam proses peralihan kekuasaan. Bedanya, pada ‘98, ada kelompok anak muda lain yang dianggap turut berperan melengserkan Suharto. Mereka adalah para penikmat musik underground.

Esai etnomusikolog asal Amerika Serikat, Jeremy Wallach yang berjudul Underground Rock Music: And Democratization in Indonesia (2005) menyuratkan itu. Secara sederhana, Wallach mengajukan bahwa scene musik underground turut berperan dalam perubahan sosial pada tahun-tahun tersebut. Sebagai gerakan kebudayaan, musik populer — termasuk musik underground atau independen — memainkan peranan lain di luar Politik (dengan ‘P’ besar) selama kurun waktu krisis.

Scene inilah yang turut mempengaruhi perspektif anak muda, terutama yang bergiat dalam scene, agar mau ikut ambil pusing dalam urusan politik (dengan ‘p’ kecil). Bangkitnya kesadaran politik anak muda ini, tulis Wallach, terhitung penting setelah bertahun-tahun lamanya anak muda dijauhkan dari politik melalui berbagai kebijakan Orde Baru – mulai dari NKK/BKK hingga pelarangan rambut gondrong.

 Membaca selintas sejarah scene underground — termasuk punk — di Indonesia, kita akan menemukan banyak kisah mengenai bagaimana scene ini berdinamika pada senjakala hingga pasca kejatuhan Orde Baru. Di Bandung, misalnya komunitas-komunitas punk membentuk Front Anti Fasis (FAF) dan berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD), organisasi yang radikal pada masanya. Tidak hanya mengorganisir komunitas, ‘anak-anak punk’ ini terlibat dalam aksi politik kelompok lain, seperti aksi solidaritas pada Hari Buruh Internasional tahun 1997.

Pola serupa terjadi di Jakarta. Dalam tesisnya, Fathun Karib mencatat bahwa komunitas punk Jakarta terlibat dalam aktivitas politik seiring dengan memanasnya situasi nasional kala itu. Seperti di Bandung, komunitas punk Jakarta juga bergabung dengan PRD. Masih menurut Karib, pada masa itu PRD memang sengaja merekrut anak muda dari kelompok-kelompok punk di seluruh Indonesia. Meski sebetulnya, kecuali kasus Jakarta dan Bandung, saya belum menemukan literatur yang memperkuat kesimpulan itu.

Artinya, selain melalui gerakan kebudayaan seperti musik, konser, dan zine, sebagian anak punk atau scenester underground juga terlibat dalam gerakan politik. Hanya saja, tak banyak literatur yang menyorot keterlibatan punk dalam politik. Beberapa penelitian justru memberi panggung pada estetika musik underground semata, alih-alih politik. (Wallach 2003 & 2005, Martin-Iverson 2007 & 2014).

****

Dari sekian banyak produk budaya musik underground, lirik lagu-lagu underground memang kerap jadi favorit bagi para peneliti untuk membuktikan keberpihakan suatu subyek terhadap isu tertentu. Singkatnya, ia mudah diteliti. Wallach (2005), misalnya, mengambil contoh lirik band Death Metal bernama Slowdeath yang dianggapnya sangat tajam: “There’s no difference between Dutch Colonialism and the New Order! (Tak ada bedanya kolonialisme Belanda dan Orde Baru)”.

Bukan sekadar liriknya yang bikin Wallach terkesima. Lirik tersebut, yang diambil dari lagu berjudul The Pain Remains the Same, ditulis dan dinyanyikan di masa ketika Suharto masih berjaya. Tak banyak musisi – kalaupun ada – yang berani seterang-terangan itu mengkritik Orba ketika ia masih berkuasa.

Tapi, pertanyaannya: apakah analisis terhadap liri lagu – atau elemen kultural lainnya – sudah cukup representatif? Apakah dengan melihat 1-2 lirik lagu, kita bisa menyimpulkan bahwa ini adalah cikal bakal perubahan sosio-politik yang akan terjadi kelak?

Salah satu eksponen gerakan ‘98 yang juga saksi hidup musik underground dan gerakan sosial di Bandung, Herry ‘Ucok’ Sutresna, meyakini bahwa musik tidak seperkasa itu. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial,” kata Ucok ketika diwawancarai Jurnal Ruang. “Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

Pun pada kenyataannya, di Indonesia, lagu-lagu dengan lirik politis tidak serta merta menumbuhkan kesadaran politik para scenester underground. Salah satu buktinya, lirik-lirik bernada pembangkangan milik Sex Pistols, Crass, Black Flag atau Dead Kennedys, tidak berpengaruh apapun bagi Generasi Pertama Punk Jakarta. Kesadaran politik mereka baru tumbuh melalui zine seperti Profane Existence dan Maximum Rock N Roll, dan – ini kuncinya – infiltrasi organisasi politik seperti PRD (Karib, 2007).

Itulah mengapa meski hampir setiap produk lirik dari musik underground berisi nada-nada perlawanan nan politis, tidak semua scenester memiliki keinginan untuk berpolitik.

Yang Politis dan Apolitis

Sejatinya, perbedaan pilihan politik adalah kenyataan sosial yang tidak hanya terjadi di ranah underground. Ia terjadi di hampir setiap lapisan masyarakat. Tentu kita tidak membayangkan bahwa scene underground memiliki suara politik yang seragam – toh mereka bukan Orba. Tapi dalam konteks ini, pilihan politik sangat berimplikasi pada bagaimana kita melihat scene underground dan perannya dalam perubahan sosial.

Perbedaan pilihan politik ini, hemat saya, mestinya menjadi aspek yang penting digarisbawahi bila ingin melihat seberapa besar pengaruh scene underground terhadap perubahan sosial-politik. Sebab, di Jakarta dan Bandung misalnya, keberadaan punk politis diimbangi oleh keberadaan punk yang secara terang-terangan menolak politik.

Dalam risetnya, Fransiska Titiwening (2001; dalam Karib 2007) menemukan, perseteruan antara punk politis (anarcho-punk) dengan punk apolitis (street-punk) begitu mewarnai perjalanan komunitas punk Jakarta. Meski tidak ada konfrontasi fisik antara keduanya — beritahu saya jika ada — garis demarkasi ‘ideologis’-nya cukup jelas. Punk politis melihat bahwa keterlibatan dalam politik (bukan ‘P’ besar, artinya politik di sini dimaknai secara lebih luas) adalah sesuatu yang penting. Di masa-masa bergejolak, tidak sedikit scenester yang ikut mengorganisir massa, beradu batu dan molotov dengan aparat di jalanan, mengokupasi gedung radio milik pemerintah — laiknya Cakrabirawa pada 1 Oktober ‘65, hingga diculik dan disiksa oleh aparat (Yunus, 2004).

Sementara di sisi lain, punk apolitis melihat bahwa politik adalah omong kosong belaka. Tentu mereka tidak mempersetankan politik. Tapi, mereka cenderung enggan menyangkutpautkan politik dengan laku produksi dan konsumsi budaya mereka.

Di Bandung, Resmi Setia (2001; dalam Martin-Iverson, 2014) dalam studinya menemukan pola yang hampir serupa. Ada perbedaan yang cukup besar di salah satu tongkrongan punk di Bandung; antara scenester lawas dari kelas menengah yang punya komitmen kuat terhadap musik dan politik, dengan kelompok baru yang terdiri dari anak-anak jalanan kelas bawah yang hanya tertarik pada fashion dan gaya hidup ala punk.

Ini persoalan nyata yang masih bertahan sejak era awal punk di Indonesia hingga Pemilihan Presiden 2014 — dan mungkin pemilu-pemilu selanjutnya. Ada dua esai menarik dari Herry Sutresna yang berjudul Making Punk A Threat Again dan Rosemary, Punk Rock dan Endorsment Polisi: Garis Tipis antara Naif dan Moron. Keduanya ditulis berdasarkan peristiwa di lapangan, yang menurut saya mampu memperlihatkan anomali punk di Indonesia; bagaimana pilihan untuk menjadi politis atau apolitis akan sangat berdampak pada situasi kultural dan politik, bahkan dalam scene itu sendiri. Ini tidak hanya terjadi di scene punk, tapi juga di scene underground lain seperti metal, Hip Hop, dan alternatif — omong-omong, ini klasifikasi underground menurut Wallach.

Sejarah yang Berulang

Apa yang terjadi pada anak muda di senjakala kekuasaan Suharto, menurut saya, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di penghujung kekuasaan Sukarno. Pada tahun 1965, 1998, serta fase setelah ’65 dan ’98, anak muda – terutama yang menyukai musik non-mainstream – hanya sedang merayakan kebebasannya tanpa memiliki kecenderungan politik apapun.

Seperti yang Wallach kutip dari pernyataan Yukie (Pas Band), “underground rock movement di Indonesia adalah bukti bahwa pemuda Indonesia sedang menentukan pilihannya sendiri,” (Wallach, 2005). Atau simak kesaksian Munif Bahasuan ketika diminta menggambarkan masa-masa pasca kejatuhan Sukarno: “Jujur saja, setelah Pak Harto berkuasa, semuanya jadi lebih terbuka. Kami merasakan masa-masa penuh kebebasan.”

Tentu saja kita bisa memaknai kedua pernyataan tersebut sebagai pilihan politik — toh saya meyakini kebebasan individual adalah tindakan politik. Tapi, apakah ini berdampak pada Politik (huruf ‘P’ besar) pada skala yang lebih besar? Belum tentu.

Ketika Orba membuka diri terhadap pengaruh Barat, termasuk budaya, para ‘pemuda’ berbondong-bondong mengadopsi gaya hidup ala Barat, lebih spesifik lagi budaya hippies. Jika di Amerika Serikat hippies melakukan pembangkangan budaya sekaligus politik, tidak demikian di Indonesia. Aria Wiratma dalam Dilarang Gondrong menyebut kelompok hippies di Indonesia sebagai hippies abal-abal (plastic hippies), karena hanya mengimitasi laku dipermukaan saja seperti berambut gondrong, mabuk-mabukan, seks bebas, dan mengkonsumsi musik rock.

Sejarah membuktikan, meruaknya kebebasan di setiap transisi tidak melulu bermakna politis. Ini hanya gejala industri budaya, yang membuat semangat perlawanan dalam hippies maupun gerakan underground beralihrupa menjadi komoditas belaka. Tak ada yang politis, kecuali kecenderungan untuk bebas mengonsumsi segala tetek bengek dari ‘budaya perlawanan’, tanpa peduli dengan perlawanan itu sendiri.

Dalam Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Dominic Strinati menyebut bahwa, “industri budaya telah membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan atas kebutuhan-kebutuhan palsu.” Boleh dikatakan, kebutuhan akan perubahan sistemik kondisi sosial-politik, disederhanakan menjadi perkara kebebasan berekspresi/menentukan pilihan sendiri belaka; menjadi perkara kebebasan memilih benda-benda atau gaya hidup ‘pembangkang’ yang sebetulnya sama sekali tidak menyentuh bagian yang substansial. Atau dalam bahasa Strinati, “mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan riil, konsep-konsep alternatif dan radikal, serta cara-cara berpikir dan bertindak oposisional politis.”

****

Apa yang kemudian terjadi pasca-Orba tumbang? Dalam wawancara dengan Jurnal Ruang, Wallach memberikan pandangan yang lebih jelas: “Mungkin, anak-anak kelas menengah ini (para scenester underground) lelah. Setelah politis selama beberapa tahun, mereka mulai berpikir, ‘Kita sudah terlalu banyak bikin lagu anti-Suharto.’ Buat apa? Toh dia sudah lengser. Biarin aja, tinggal kita sekarang mau apa? Lantas, musik independen bergeser. Band yang sangat politis seperti Burgerkill dan Puppen disusul oleh band yang lebih eksperimental dan ‘nyeni’ seperti The Upstairs, White Shoes & The Couples Company, dan Mocca.”

Sebetulnya tidak berhenti di situ. Pergeseran yang terjadi bukan cuma dari politis menjadi ‘nyeni’, tetapi juga dari segi komersil. Demokrasi pasar pasca-Orba telah mengakibatkan disorientasi wacana dan gerakan scene underground, menyamarkan musuh, dan yang paling penting, membuka peluang bagi setiap individu untuk semakin terlibat di sistem. Industri budaya memastikan kelompok-kelompok ini turut serta dalam sistem (Strinati, 2016).

Penelitian Martin-Iverson (2012) menemukan bahwa pada dekade 2000-an di Bandung, scene underground terus mengalami depolitisasi dan malah berorientasi pada urusan gaya hidup semata. Ada pergeseran motif dari politik menjadi ekonomi yang pada akhirnya menghilangkan identitas mereka sebagai kelompok ‘lawan’. Distro adalah salah satu manifestasinya: ia bermula sebagai ruang alternatif, kemudian beralih menjadi ruang transaksional dan menjadi mata rantai ekonomi neo-liberalisme.

“Para pengikutnya aman secara finansial,” tulis Strinati. “bisa membeli banyak barang yang mereka inginkan; atau yang mereka pikir mereka inginkan, dan tak lagi memiliki alasan-alasan sadar untuk menghendaki tumbangnya kapitalisme dan menggantikannya dengan sebuah masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara.” Pada akhirnya semua pelaku di scene underground — yang politis maupun apolitis — menjadi betul-betul apolitis.

****

Dalam kesempatan diskusi di Jakarta beberapa waktu silam, ada satu pertanyaan menarik dari partisipan diskusi untuk Jeremy Wallach. Orang itu kira-kira bertanya: “Seberapa signifikan pengaruh musik populer bagi perubahan sosial, terutama pada periode ’98?”

Wallach kemudian menjawab, “Kalau tidak ada pengaruhnya, Orba (mungkin) masih bertahan sampai sekarang.”

Ada raut kekecewaan dari si penanya. Ia tidak puas. Demikian dengan saya. Selama beberapa waktu, pertanyaan orang itu juga membenak di kepala saya. Dan menurut saya, jawaban Wallach saat itu terlalu menyederhanakan. Entah memang itu jawaban yang ada di kepalanya, atau ia cuma sedang malas menjawab saja.

Kita bisa bersepakat bahwa setiap budaya tanding punya daya ubah. Tapi seberapa besar pengaruhnya? Bagaimana ia bekerja? Hingga level mana? Cukupkah lagu-lagu itu ‘menginspirasi’ massa — bukan cuma individu — untuk bergerak? Dan yang paling penting, apakah perubahan pada skala individu atau kelompok kecil dapat berpengaruh terhadap situasi yang lebih makro?

Tanpa ekosistem, sebuah elemen radikal – lirik lagu, misalnya – tidak akan berarti apa-apa. Sebuah laku budaya bisa dianggap memiliki daya ubah hanya apabila ia bekerja secara sistemik sehingga memengaruhi situasi yang lebih luas. Lebih jauh lagi, ia mampu menandingi ekosistem arus utama.

Ucok pernah bertutur dengan sinis: “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.” Memang, musik tidak akan meruntuhkan tirani. Musik cuma bakal menarik tirani untuk menonton, mendengar, dan ikut bernyanyi. (*)

Tahun Baru, Tak Ada yang Baru

Baiklah, 2017 baru saja usai. Apa yang akan kita lakukan sekarang? Resolusi? Merencanakan kehidupan yang lebih matang di tahun 2018?

Entahlah. Sebetulnya ini hanya satu hari dari hari-hari lainnya. Tahun baru tidak akan menyelesaikan permasalahan semua manusia di dunia dengan bermodal, “tahun baru, semangat baru”. Seorang kawan bilang, tahun baru hanya ilusi. Sebentuk eskapisme dari hidup yang kian rumit.

1 Januari hanya konvensi Gregorian. Sama seperti 1 Muharram dalam dalam tradisi Islam. Tapi karena Gregorian diadopsi hampir seluruh negara di dunia dan perayaan tahun baru menjadi budaya populer, oleh karenanya 1 Januari dianggap menjadi begitu penting untuk dirayakan. Kadang aku heran dengan kita manusia, mengapa rencana mengubah sesuatu harus menunggu tahun baru? Tidak bisakah resolusi dimulai sejak, 29 Februari misalnya? Atau 17 Juni? Tentu saja bisa. Hanya saja manusia selalu butuh pengakuan dari manusia lainnya, bahwa ia juga merayakan yang mereka rayakan. Semacam mob mentality. Padahal, tidak ada yang berubah kecuali buntut tahun berubah menjadi 18.

Sekarang tanggal 2 Januari, apa permasalahanmu yang tersisa di akhir tahun lalu sudah rampung?

Percakapan dengan Mantan Calon Jihadis

Namanya Toni. Aku baru mengenalnya beberapa jam. Malam itu, kami–aku, Toni dan beberapa teman–sengaja menghabiskan malam dengan bersantai, ngobrol apa pun yang menurut kami menarik untuk diceritakan. Siang sebelum malam itu, kami memang terlalu serius, walaupun aku tidak bermaksud demikian. Mungkin karena berkaitan dengan pekerjaan, kesan serius akan tetap ada, sesantai apapun suasananya.

Toni memulai ceritanya. Seperti tak ingin ketinggalan isu ‘nasional’–atau sekadar ingin mencari cerita yang aku pun bisa nyambung–dia bercerita sempat hampir berangkat ke Jakarta, ikut dalam karnaval angka cantik pada akhir tahun lalu. Aku sempat mengira dia becanda. Tapi mimik wajahnya terlalu serius untuk becanda.

“Terus?” aku menyilakannya untuk melanjutkan cerita.

“Tapi nggak jadi berangkat karena nggak ada biaya. Padahal mau banget,” sesalnya.

Menurutnya membela agama adalah kewajiban bagi pemeluknya. Andai ada kesempatan lagi, ingin dia bisa turut serta. Seperti pembela agama lainnya, dia yakin bahwa islam sedang dihancurkan. Dimulai dari Timur Tengah, Asia Tenggara–dia menyebut Burma–, dan akan berlanjut ke Malaysia dan Indonesia pada 2019 nanti. Begitu katanya. Entah dari mana sumber ramalan itu, tapi ceritanya seragam dengan yang pernah ku dengar di Jawa. Nampaknya hampir bisa dipastikan, dia menemukan itu–seperti hoax-hoax lainnya–di beranda-beranda media sosialnya.

Aku melihat wajahnya begitu tulus. Tepatnya lugu. Sama sekali tak tersirat kesan politis di balik ceritanya. Berbeda sama sekali dengan wajah orang-orang yang kerap muncul di tivi, yang diyakini sebagian orang sebagai ulama: picik, politis–aku lebih suka menyebut mereka bajingan. Tapi tidak dengan Toni.

“Pernah juga mau ikut ke Suriah. Dulu ada perekrutan calon jihadis di sini, saya sempat ikut. Latihannya militer gitu.”

“Di mana latihannya?” aku penasaran.

“Ada lah. Tempatnya dirahasiakan. Tapi di hutan-hutan gitu. Tapi waktu itu saya nggak kuat. Akhirnya nyerah.”

“Dilatih dulu di sini. Nanti dikirim bareng sama bantuan kemanusiaan. Nah sampai di sana nanti diserahin ke orangnya lagi, mau pulang atau ikut perang di sana.”

Dia nampak seperti seorang fanatik agama. Tapi tak ada kebencian pada raut mukanya. Mungkin jika aku mengenalnya lewat media sosial lebih dulu, aku akan antipati dengannya. Tapi dengan mendengarnya langsung, aku jadi lebih memiliki empati padanya. Ia tidak benci siapapun. Dia cuma korban provokasi media, pikirku.

Memang tidak mengira dia punya pikiran demikian. Setahuku, dia salah seorang pegiat media komunitas di tempat itu. Siangnya, saat aku baru saja tiba di kampung di pelosok pulau kecil itu, aku menemuinya saat sedang melukis. Melukis wajah presiden.

“Kenapa milih gambar Jokowi?” tanya temanku.

“Ini rencananya mau diiklanin di youtube,” jawabnya.

Aku tak begitu paham iklan seperti apa yang dia maksud.

“Jadi milih muka tokoh yang dikenal,” lanjut Toni sambil tetap menatap hasil kerjanya.

Di komunitasnya dia dikenal sebagai orang yang pintar melukis. Sebelum bergabung dengan komunitas di sana, dia sempat merantau dan menjadi tukang cat mobil dan motor.

“Sudah ratusan mobil dan motor saya cat, tapi banyak yang menyayangkan karena saya tidak mendokumentasikan karya saya itu.” Sebagai protofolionya.

Kini di kampungnya, dia membuka bengkel pengecatan sendiri.

Ceritanya menekuni hobi melukis juga menarik.

“Keluarga saya tidak mendukung. Mereka lebih ingin saya menekuni agama. Bapak saya orang yang relijius,” kenangnya. “Waktu SMK, saya pernah diam-diam ikut lomba melukis yang diadakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, karena kalau bilang pasti nggak dikasih sama orangtua.”

“Saat ikut lomba, saya sendirian. Peserta lain banyak ditemani oleh teman-temannya. Mereka dibawain makanan sama teman-temannya. Saya sendirian, nggak ada teman.”

“Awalnya saya mengira paling cuma juara dua atau tiga. Tapi pas diumumkan pas upacara di sekolah, ternyata saya juara satu,” ceritanya bangga.

“Kok bisa sampai sekolah?” tanyaku penasaran.

“Jadi pas selesai, di belakang gambarnya harus mencantumkan nama organisasi atau asal. Nah, saya bingung karena saya daftar sendiri tidak mewakili organisasi mana pun. Tapi akhirnya saya nulis nama sekolah saya. Dari situlah panitia tahu,” ceritanya. “Waktu pengumuman saya grogi. Soalnya diumumkan setelah upacara. Pas nama saya dipanggil, saya bingung cari sepatu. Akhirnya pinjam sepatu teman. Soalnya saya jarang pakai sepatu kalau sekolah, jadi pas upacara saya selalu baris di belakang, biar nggak ketahuan.”

Aku menyimak saat dia cerita dengan semangat dan bangga. Aku tidak melihat kesombongan saat dia berkisah, karena itu aku bertahan mendengarkannya hingga akhir. Mungkin akan berbeda jika aku mendengar cerita serupa di Jakarta–ah, maaf, aku terlalu sentimen dengan Jakarta.

Dia punya banyak bakat. Tidak cuma melukis, dia juga mahir bermusik, beberapa kali ikut festival selevel kabupaten dan mendapat apresiasi–setidaknya menjadi finalis. Sebuah capaian yang sangat penting baginya. “Tapi gara-gara mainin lagu ‘Keparat Bangsat’ di festival valentine, kami gagal menang,” tawanya.

Setelah keberhasilan-keberhasilan itu, dia baru mendapatkan izin dari orangtuanya untuk menekuni hal-hal yang dianggap jauh dari agama.

“Jadi setelah menang lomba, pialanya nggak boleh dibawa pulang. Sekolah mau memajangnya. Saya minta sama sekolah, sehari saja saya bawa pulang buat nunjukin sama orangtua. Akhirnya dibolehin. Tapi setelah itu saya harus kembalikan. Padahal waktu ikut lomba saya nggak mewakili sekolah. Hahaha.”

Bagiku, Toni adalah karakter yang menarik. Dia tidak mudah dikategorikan: seorang yang terdengar fanatik, tapi menggemari musik dan lukis; hal yang dilarang orang-orang relijius di garis keras. Pengalaman hidupnya lebih berwarna daripada hitam-putih fatwa mui atau moderat ibukota.

 

 

 

Kereta Berangkat Tepat Waktu

Malam itu tidurku tidak tenang. Mungkin sudah jadi kebiasaan, setiap kali hendak bepergian, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak—dan ku dengar banyak orang sering mengalami gejala serupa. Terlebih jika harus berangkat sebelum matahari muncul. Jam sepuluh malam aku masih terjaga. Selain karena sulit memejamkan mata, aku harus menunggu kawan yang akan kembali ke hotel malam itu—padahal sebelumnya ia bilang akan menginap di rumah kerabatnya, tapi belakangan memutuskan kembali. Pukul sepuluh lewat aku mulai gelisah dan terus memaksa tidur—dan akhirnya berhasil. Tapi seperti ku bilang, tidurku tak nyenyak karena aku harus bersiap sejak pukul tiga tigapuluh pagi, menunggu mobil yang katanya akan menjemputku pukul empat.

Aku terjaga beberapa kali dan sedikit kesulitan tidur lagi setelahnya. Dihitung-hitung, praktis malam itu istirahatku tak lebih dari tiga jam. Ku pikir tak apalah, aku bisa tidur selama perjalanan ke Surabaya, kemudian di pesawat menuju Lombok.

Jam empat aku sudah siap. Aku turun ke lobi dan menunggu si supir menelepon. Ada beberapa petugas jaga malam dan seorang tamu yang hendak check out. Hingga menjelang lima, ia tak kunjung menghubungi. Aku sempat terlelap beberapa saat di sofa. Lagu dangdut—sepertinya koplo—yang aku yakin tidak akan disetel pada jam reguler, terdengar pelan dari pengeras suara. Nampaknya, itu kumpulan lagu dangdut favorit para penjaga malam.

Tepat pukul lima, dalam keadaan setengah sadar aku mendengar deru mesin diesel mendekat. Aku tebak suara itu datang menjemputku. Ada dua alasan yang meyakinkanku, pertama, cuma aku satu-satunya orang di lobi yang sedang menunggu jemputan, kedua, mobil bermesin diesel biasanya jadi andalan perusahaan-perusahaan transportasi jarak jauh karena konsumsi bahan bakarnya irit. Aku berdiri dengan masih menahan kantuk, menuju pintu masuk dan langsung menyapa nama si supir yang ku ketahui dari pesan singkat agen perjalanan yang mempekerjakannya. Instingku jitu, ia juga menyapaku. Aku langsung naik ke dalam mobil semibus yang hanya berisi empat orang—sebelum aku dan selain supir. Mobil segera melaju dan nyaris tanpa hambatan di jalan. Dalam dua jam, persis seperti prediksi si operator, kami sudah tiba di Juanda.

Begitu turun dari mobil dan membuka ponsel, ada tiga pesan—dua dari orang kantorku, dan satu dari maskapai—yang berisi pesan bahwa penerbangan ke Lombok hari itu dibatalkan akibat erupsi Gunung Agung. Sial, celaka betul! Padahal kemarin sore, Ngurah Rai diberitakan sudah dibuka kembali dan melayani penerbangan. Aku tidak bisa komplain, karena pembatalan sudah tentu mempertimbangkan faktor keselamatan. Daripada kenapa-kenapa di atas, lebih baik dibatalkan.

Kawan seperjalananku yang berangkat dari Yogyakarta, juga baru tiba. Kami bimbang untuk beberapa saat. Apakah kami akan melanjutkan perjalanan dan menunggu kemungkinan penerbangan dibuka keesokan harinya, atau kembali ke Yogyakarta. Akhirnya kami memilih opsi terakhir: kembali ke Yogyakarta.

Aku berpisah dengan kawanku. Ia ke Gubeng dan aku kembali ke Malang karena masih memiliki tiket balik ke Yogyakarta, tiket yang awalnya ingin dibiarkan hangus karena kadung dibelikan oleh mitra kerja kantorku.

“Mungkin akan menunggu 30-45 menit, karena menunggu kedatangan pesawat lain,” kata operator.

Ku jawab, tak apa.

Pukul sepuluh tepat aku dijemput. Aku berangkat ke Malang dengan menggunakan jasa agen perjalanan yang sama. Asumsinya, aku akan tiba dalam dua jam, atau paling lama tiga jam—karena jalanan akan lebih padat dibanding dini hari tadi. Artinya pukul duabelas atau satu siang aku sudah tiba di stasiun Malang, sebelum keberangkatan pukul satu tigapuluh. Tapi ternyata perjalanan begitu lambat. Selain karena jalanan yang betul-betul padat, si supir juga sering menerima telepon entah dari siapa yang membuatnya menjalankan mobil lebih pelan. Aku baru menyadari ini ketika setengah jam sebelum kereta berangkat, tanda-tanda stasiun belum juga nampak.

“Stasiun masih jauh, Pak?”

“Woo ya masih jauh, mas,”

Aku mulai kuatir. Ku tegaskan lagi bahwa aku sedang mengejar kereta pukul satu tigapuluh. Ia agak kaget, begitupun dengan tiga penumpang lainnya. Seorang penumpang terdengar menyalahkanku karena tidak bilang sejak awal. Dipikir-pikir aku memang salah. Tepatnya salah menduga. Pikirku, karena ia sudah tahu tujuanku adalah stasiun, maka serta merta ia akan tahu bahwa aku sedang mengejar keberangkatan. Jelas asumsiku keliru.

Orang tadi menyarankan aku berganti kendaraan agar bisa mengejar waktu keberangkatan kereta. Ia mengusulkan ojek. Aku sedikit terbawa panik, karena kalau sampai tertinggal, aku kecele dua kali di hari yang sama. Aku sempat bilang pada si supir untuk menurunkanku di titik strategis agar mudah mendapatkan ojek online.Tapi ia tidak merespons, ku lihat ia masih cukup tenang menyetir.

Meski ketika ditanya seberapa jauh atau berapa lama ia selalu menjawab dengan pesimis, aku justru mendapati sebaliknya dari raut wajah dan gesturnya. Ia nampak yakin bisa mengantarku sampai tujuan tepat waktu—mungkin nyaris tepat dengan waktu masinis melepaskan tuas rem dan menjalankan lokomotifnya. Ia juga tidak terlihat panik, meski kadang ugal-ugalan ketika dihambat macet. Ia malah beberapa kali melontarkan candaan yang sepertinya ingin meredam kepanikanku.

Sebetulnya aku tidak panik. Aku mencoba tenang dan berpikir apa yang bisa kulakukan andai aku betul-betul ketinggalan kereta. Kepanikanku mungkin cuma terlihat ketika aku menjawab telepon kawan-kawanku yang mencari tahu di mana posisiku.

Di sebuah persimpangan, aku sedikit pupus asa.

“Tinggal saja,” pesanku kepada kawan yang menunggu di stasiun.

Dalam hitungan detik aku mengirim pesan lain yang isinya meminta kawanku untuk menitipkan tiketku kepada petugas. Itu pilihan terbaik yang aku punya. Kawanku berkali-kali mengingatkan kereta berangkat dalam hitungan menit.

“Lima belas menit lagi,” pesan pertama.

“Enam menit lagi,” pesan kedua.

“Pesanmu tidak membuat situasi lebih baik,” gumamku. Sial, lampu merah betul-betul menghambat perjalananku.

Tak lama kemudian si supir bilang, itu stasiun di depan sana. Aku lihat jam tangan, pukul satu lebih duapuluh menit. Bajingan, dalam hatiku. Aku tidak tahu apakah jamku akurat dengan jam milik petugas kereta api. Begitu mobil berhenti, aku bayar dan segera berlari dengan dua tas ransel menggantung di dada dan punggungku.

Aku menuju pintu masuk dan menanyakan petugas tiket. Dia tidak tahu menahu. Sialan, pikirku. Sedetik kemudian dia menyarankanku untuk ke pintu masuk sebelah, dan tanpa pikir panjang aku berlari ke pintu lainnya. Betul saja, di sanalah tiketku dititipkan. Ku lihat dari luar, kereta sepertinya belum berangkat.

“Ada tiket yang dititipkan?”

“Ini?”

Ku jawab ya. Segera ku serahkan identitasku dan sedetik kemudian aku berlari menuju gerbong. Aku selamat. Aku tidak jadi terlantar di kota itu. Saat menaiki kereta, kawan yang sudah ada di kereta kembali menelponku untuk memastikan keberadaanku.

“Aku sudah di kereta.”