Kisah Kasih(an) di Pulau Tidung

Tanggal 4 Juni 2011. Waktu itu hari Sabtu. Gue, Chandra dan Aqil. Keduanya Laskar Wedha😀, ada rencana pergi ke Kepulauan Seribu, tepatnya Pulau Tidung—selanjutnya Pulo, biar ga ribet…haha . Sabtu pagi gue bangun jam 7.15. Itu pas alarm gue bunyi :p, saking semangatnya, padahal masih kepagian. Tapi gak apa-apa, emang belum nyiapin apa-apa buat ke pulo. Padalah emang ga perlu bawa barang banyak-banyak. Cuma bawa satu kaos, satu celana pendek, satu sarung (ini buat tidur, malah ga ke pake), satu celana panjang, satu kaos—dua terakhir itu yang dipake di badan waktu berangkat :p. Jam 9 Chandra datang ke rumah, dia manggil “Ferdhii…maen yuk!”—maen yuknya karangan gw sendiri. Ya, Chandra udah datang menjemput, dan saatnya kita pergi ke rumah Aqil, juga buat ngajak maen. 2 orang, 2 motor, pergi ke rumah Aqil di Sepatan. Sampe di Rumah Aqil, dia juga udah siap. Jam 10.30 pagi, hari Sabtu tanggal 4, kami bertiga berangkat menuju Rawa Saban, salah satu dermaga yang menyediakan jasa antar ke pulo-pulo di Kepulauan Seribu. Setibanya di Rawa Saban, kita titip motor di salah satu tempat penitipan motor di sana—yaiya masa penitipan anak. Sambil nunggu kapal ke Pulo Tidung yang katanya berankat jam 12.00 waktu Indonesia bagian Rawa Saban, kami bertiga minum-minum  dulu. Bukan minum minuman keras, tapi hanya sekedar teh dan minuman energi—kata iklan—guna melepas dahaga, setelah perjalanan yang cukup jauh dari rumah sodara saya, Aqil. Kira-kira jarak yang ditempuh adalah 5 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Untungnya kami naik motor, jadi Cuma 15 menit untuk tiba di Rawa Saban. Oiya, Rawa Saban ini terletak di utara Paku Haji. Masih belum tau juga? Itu ada di sonoannya dikit Sepatan. Masih bingung? Okelah, Rawa Saban itu berada di Kecamatan Keramat Panjang, Kabupaten Tangerang, Provisi Banten, Negara Indonesia, Planet Bumi, Galaksi Bimasakti.

Selepas bersantai yang gak begitu lama, kami bertiga memutuskan untuk langsung pergi ke dermaga. Karena katanya kapal bisa langsung berangkat kalau muatannya sudah penuh. Ya, setelah kapal dipenuhi galon air, tabung gas, motor, semen, kelapa, jerigen solar, pintu wc, tangki air, kardus makanan ringan dan air mineral kemasan, dan tentu saja orang—semua yang disebutkan benar adanya, kalau gak percaya, sana pergi ke Rawa Saban. Malah ketika kami kembali dari Pulo Tidung, kami lihat ada 2 buah sofa yang juga akan diangkut ke seberang pulo. Memang kapal-kapal di sana itu kerjanya mengangkut semua barang yang akan dibawa ke pulo-pulo di Kepulauan Seribu. Jadi jangan aneh kalo barang-barang bawaannya semacam itu. Kalau berangkat dari Marina Ancol, baru gak akan ada :p. Okeh, lanjut! Ternyata, pas jam 10 kami ke sana, kapal ke Pulo Tidung belum merapat ke dermaga. Kapal Tidung masih menunggu kapal tujuan Pulau Panggang yang juga lagi memuat barang-barang kebutuhan hidup di pulo. Untuk diketahui, dermaga di Rawa Saban, cuma cukup untuk 1 kapal. Jadi harus antri untuk bisa merapat ke dermaga.

Akhirnya, kami berkeliling dulu di sekitar dermaga. Ke tempat yang katanya mau dijadikan TPI. TPI ini bukan stasiun tivi,tapi Tempat Pelelangan Ikan. Kalo dilihat, bangunan TPI sudah jadi. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa gak ditempati? Malah beberapa atap di bangunan itu sudah rusak dihantam angin. (mengapa tulisnya dihantam, bukan terhantam? Karena si angin sengaja menghembuskan anginnya ke atap-atap bangunan itu, jadi bukan karena si angin ga sengaja bertiup. Sudah cukup! Ga penting!). Ya, kami cuma bisa bertanya dalam hati, kenapa bangunan yang pastinya menghabiskan dana besar itu dibiarkan terbengkalai begitu saja. Mungkin proyek TPI Rawa Saban itu cuma proyek penghabisan anggaran beberapa tahun yang lalu. Lalu kami kembali ke dermaga, ternyata kapal Tidung masih juga belum merapat ke dermaga, apalagi memuat barang dan logistik. Kami pun mampir ke kantor—kalau masih layak disebut kantor—milik Dinas Perhubungan Laut. Daripada gak ada kerjaan ngeliatin lalu lintas dermaga, kami ngobrol-ngobrol dengan petugas Dishub Laut. Dari beberapa topik pembicaraan, ada satu yang menarik perhatian gue. Konon katanya, sepanjang pantai utara di Kabupaten Tangerang akan dijadikan pelabuhan internasional untuk menggantikan fungsi pelabuhan Tanjung Priok. Terus Tanjung Priok mau jadi apa? Kataya lagi, berhubung sudah tidak memenuhi standar lingkungan, pelabuhan itu mau dijadiil lokasi wisata. Loh? Etahlah :p.

Jam 12 pas waktu Indonesia bagian Rawa Saban, kami naik ke kapal. Tunggu! Kapal belum mau jalan, karena masih memuat banyak barang. Kami naik ke kapal cuma mau cari tempat duduk yang sedaritadi sudah diduduki oleh penumpang lainnya. Mereka curang karena ambil start, sehingga kami tidak memperoleh posisi dukuk yang kami inginkan. Untungnya, kami dapat tempat duduk yang enak. Jam 12.30, kapal menjauh dari dermaga. Tapi gak langsung jalan, kapal beberapa kali harus berhenti karena baling-balingnya tersangkut, sehingga tak bisa berputar. Beberapa awak kapal menceburkan diri ke air yang gue perkirakan isinya lumpur dan sampah semua. Sempat berpikir, tarif 20 ribu per kepala, mungkin kurang sebanding dengan pekerjaan awak kapal yang lumayan tidak mengenakkan itu. Tepat jam 13.30—kalo gak salah—kapal berangkat. Benar-benar berangkat.

Perjalanan cukup menyenangkan karena di dalam kapal ada bapak-bapak yang sudah berumur, banyak ngebanyol dengan gaya khas Tangerang-nya. Hahaha. Atau mungkin khas Betawi? Entalah. Karena semua yang “khas-khas” di Jakarta atau Tangerang sudah gak terlihat lagi batas-batasnya.

Perjalanan untuk sampai ke Pulo Tidung diperkirakan 2 jam. Kalo 13.30 ditambah 2 jam, jadi 15.30. Setengah empat sore, kami semua yang ada di dalam kapal akan  berada di pulo yang dipisahkan oleh sebagian Selat Jawa, yang berada di gugusan Kepulauan Seribu yang termasuk Provinsi Jakarta. Perjalanan sedikit banyak dihabiskan untuk tidur dan sesekali berdiri, karena kalo duduk suka berasa mual. Setengah perjalanan, Aqil dan gue tidur. Ada yang tanya Chandra ngapain? Chandra tetep bangun dan gue ga tau apa yang dia lakukan selama gue tidur. Ya, karena gue tidur :p. Tapi, setelah bangun gue baru bisa lihat Chandra ngapain. Dia banyak bengong sambil liatin laut. Mugkin dalam benaknya terbesit “kapan gue bisa bangun rumah di tengah laut? Kapan bisa bawa motor di atas aer?”. Itu cuma kemungkinan. Mau tau pastinya? Tanya Chandra! 15.25 kami semua sampai di Pulo Tidung. Gak ada stu orang pun yang ketinggalan, karena gak ada yang dibuang ke laut.

Sampai di pulo, kami merasakan ada sesuatu yang aneh. Kami bertiga merasakannya. Setelah sebelumnya mampir ke mushola di bagian barat Pulao Tidung, kami makin merasakan kejanggalan. Ternyata, kami bertiga lapar! Akhirnya, kami pilih tempat makan di dekat dermaga. Kami makan soto ayam, karena gak soto landak di sana. Di warung makan, kami sempat sedikit ngobrol dengan seorang bapak yang katanya dari jauh.  Pembicaraan dimulai ketika si bapak yang mengaku bernama Madari—tau benar, tau salah, karena bagian wawancara dipegang Aqil—bertanya kepada kami. “Dari mana, dik?” Tanya si bapak. Kami mejawab, tapi tidak serempak, “Deket, pak. Dari Sepatan!”. “Oh, deket. Saya mah dari jauh!”. Wuih…karena penasaran gue lanjut bertanya. “Emang bapak dari mana?”. “Dari Tegal, dik. Tau?”. Dengan muka terperangah (alah lebay), gue makin penasaran. Apa gerangan yang membawanya ke sini—Pulo Tidung? Sebelum kami bertanya lebih banyak, si bapak melanjutkan “Saya dari Tegal Kunir!”. Tiba-tiba kami pun tidak terperangah lagi dibuatnya. Sekedar kalian tau, Tegal Kunir itu berada di daerah Mauk. Gak begitu jauh dari Rawa Saban. Kira-kira setengah jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Kalo si bapak ke Rawa Saban-nya jalan kaki sih wajar bilang jauh. Soalnya, bisa sampe setengah hari jalan kaki :p. Si bapak datang ke Pulo Tidung karena ada pekerjaan. Dia harus mengobati seorag anak kecil yang tulang pahanya lepas dari pangkalnya. Iya, benar! Pekerjaan si bapak adalah tukang reparasi tulang! Dia datang setelah dihubungi keluarga si anak kecil, karena si anak kecil gak bisa meghubungi si bapak, karena gak kenal. Tidak lama kemudian, si bapak yang bernama Madari itu dijemput oleh seorang lelaki yang kami duga bukan lawa tanding catur-nya, tapi keluarga si anak kecil yang mau direparasi tulangnya. Si bapak pun pergi meninggalkan kami dengan beberapa mangkuk soto yang masih di meja penjualnya, karena belum selesai dibuat. Jam sudah menunjukkan pukul 16.35, kami pun bergegas menghabiskan soto ayam, nasi dan es teh manis, untuk kemudian dilanjutkan mengelilingi pulo. Selesai makan, kami berjala menyusuri perkampungan yang mau tidak mau harus kami lewati karena itu jalan untuk menuju ke sorga. Salah, maksudnya sorga dunia. Salah juga, maksudnya ke lokasi wisata pantai di Pulo Tidung. Di mana ada tempat yang bernama Jembatan Cinta, yang ramai orang membicarakannya. Jembatan Cinta adalah jembatan penghubung antara Pulo Tidung besar dengan Pulo Tidung kecil. Gue beberapa kali berhenti di Jembatan cinta untuk sesekali mengambil gambar yang sekiranya bagus. Chandra dan Aqil berjalan terus menuju Tidung kecil, tapi kemudian mereka berhenti di tengah jalan Jembatan Cinta untuk menunggu gue. Begitu gue sampai di hadapan mereka, kami langsung melajutkan perjalanan. Tapi sebelumnya foto-foto dulu. Mumpung masih cerah. Gak lama berjalan, gue tertarik untuk menceburkan diri ke air laut Pulo Tidung yang jerih, biru, bersih. Pokoknya gak sabar untuk berendam, kata Aqil. Kalo gue mau berenang, soalnya Aqil bilang dia ga bisa berenang, makanya berendam saja. Kami berdua berenang bersama, seperti pasangan gay yang terbius magis Jembatan Cinta. Kami berendam, sementara Chandra membawakan barang-barang bawaan kami dengan sukarela setelah kami mintai tolong.

Menjelang maghrib, orang lain yang juga mengunjungi Pulo Tidung kecil beranjak pulang ke Tidung besar, di mana mereka meninggalkan barang-barang mreka di homestay. Tapi kami tidak. Kami melanjutkan berendam hingga magrib. Kami melajutkan sholat maghrib di sebuah, mungkin tadinya mau dijadikan dermaga, dan sejenak menikmati langit senja di Tidung yang indah. Ah, mantep coy pokoknya! Pukul 19.00 waktu Indonesia bagian Pulo Tidung kecil, kami memutuskan untuk kembali ke Pulo Tidung besar, dan mencari makanan, karena kami lapar! Tapi kami tidak langsung cari makan. Kami bersantai dulu di dermaga dekat Tidung besar, yang biasa dipakai bersandar kapal-kapal kecil pengantar tamu untuk snorkling atau sekedar berkeliling pulo. Di situ ada yang mancing, ada yang pacaran, ada juga yang tidur-tiduran gak jelas denga lantunan musik dari mp3 ponsel. Mereka yang tidur-tiduran gak jelas adalah kami! Sampe jam 20.30 akhirya kami beranjak mencari tempat makan karena lapar sudah tidak tertahan, dan gue harus ngopi! Ditambah angin malam di pantai yang lumayan dingin. Di dekat pantai, kami memesan mie ayam, yang di gerobaknya bertuliskan “Kota Udang”. Dimanakah Kota Udang? Ya, benar, Kota Udang adalah Cirebon. Kami hanya memesan mie ayam, dan minum air putih panas. Air panas itu tidak akan kami minum dalam keadaa putih. Tapi dalam keadaan kecolkatan. Karena nyatanya, air panas itu kami gunakan untuk menyeduh kopi yang gue bawa dari daratan. Mungkin kami tamu paling kere saat itu di Tidung. Tak apa, karena kami coba bertahan di segala kondisi. Kata Aqil itu sloganya backpacker.

Selesai makan kami tidak langsung pergi. Si bapak penjual mie yang bernama Tibut, asal Cirebon menghampiri kami. Kami bertiga, ditambah pak Tibut jadi berempat ngobrol-ngobrol banyak. Awalnya dia menawarkan tempat tinggal. Tapi tanpa berlama-lama basa basi, kami bilang bahwa kami turis kere. Haha. Pak Tibut banyak bercerita tentang sejarah hidupnya di Pulo Tidung. Ia tinggal di Tidung sejak masih bujangan, sekitar tahun 1973. Sejak Tidung belum berlistrik dan dikenal sebagai lokasi wisata. Satu hal yang menarik bagi gue dari cerita pak Tibut adalah, bahwa dia mengaku hidupnya lebih tentram sebelum tamu-tamu dari Jakarta dan sekitarnya menyesaki Pulo Tidung. Meskipun sekarang perekonomian warga di Tidung menggeliat, baginya itu gak berarti banyak. Ia malah mengaku pendapatannya ketika berjualan mie ayam keliling lebih baik, meskipun secara nominal jauh lebih kecil dibanding saat ini. Satu lagi bukti dan pelajaran yang gue petik. Siapapun gak mau kampungnya “diganggu”. Atas nama pertumbuhan ekonomi, pemerintah banyak mengorbankan masyarakat asli setempat di berbagai daerah. Pulo Tidung yang potensi wisatanya baik, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memerhatikan aspek sosial masyarakat dan lingkungan. Sebelum Tidung resmi dijadikan daerah wisata, Masyarakat di Pulo Tidung terpecah. Mereka yang pro dan kontra banyak berdebat soal pembangunan wisata di Tidung. Pak Tibut bilang kalo sekarang orang-orang di Tidung sudah terhasut iblis yang bernama uang. Sebelum dijadikan lokasi wisata mereka guyub, akur, tentram, tanpa koflik. Tapi sekarang? Uang telah membuat masyarakat di Pulo Tidung terpecah-belah. Buat orang “kota”, mungkin wisata di Tidung menyenangkan. Tapi orang kota melupakan mereka, warga asli Pulo Tidung, yang sedikit banyak telah terganggu kebudayaannya oleh mereka. Gue pun memprediksi, beberapa tahun yang akan datang, hubungan sosial masyarakat di Pulo Tidung akan berubah drastis. Individualis dan mungkin uang menjadi segalanya. Ya, seperti orang kota. Ironi!

Oya, Aqil yang katanya punya sanak saudara di Pulo Tidung. Dia nanya kepada pak Tibut, “Pak, kenal Haji Nimah?” (bener gak, Qil? Hehe). Si bapak pun ternyata tau. Saudara Aqil yang ada di Pulo Tidung ternyata “penguasa” Pulo Tidung. Haha. Setelah ditelisik ternyata tempat kami makan soto, sore tadi, tepat di belakang dan samping rumah saudara-saudara Aqil. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam waktu Indonesia bagian Pulo Tidung besar. Sudah ganti hari ternyata. Sekarang tanggal 5 Juni 2011. Kami pun memutuskan untuk ke mushola yang berada tak jauh tempat kami ngobrol-gobrol dengan pak Tibut. Setelah sholat Isya, kami tidur di mushola itu, karena keesokan paginya kami harus segera merapat ke dermaga agar tidak ketinggalan kapal menuju Rawa Saban yang berangkat jam setengah delapan pagi. Sebelum pulang ke darat, kami berencana mengunjungi rumah saudara Aqil yang ada di sana, besok pagi.

Gue bangun pas ngedenger si Aqil dan Chandra lagi jamaahan sholat Subuh. Akhirya gue ikutan bangun, karena abis itu, kami semua mau langsung ke dermaga. Tapi ternyata sunrise menggoda kami untuk sekedar melihat keindahan pagi hari di Pulo Tidung. Gak lama, karena ternyata sunrise tertutup awan. Kami memutuskan untuk segera ke dermaga. Sesampainya di dermaga, kami bertanya dengan orang disekitar dermaga, jam berapa kapal menuju Rawa Saban berangkat. “setengah delapan”. Masih lama, karena jam baru menunjukkan pukul 06.30. Aqil pun bertanya, pada orang yang sebelumnya juga kami tanyakan soal keberangkatan kapal, “rumah ibu Nimah di mana, ya?”. Si bapak-bapak—karena ada beberapa lelaki dewasa—menjawab, “ini rumah ibu Nimah, mah”. Hahaha. Kami geli sendiri, ternyata tepat di sebelah dermaga itu adalah salah satu rumah sanak saudara Aqil di Pulo Tidung. Yang bikin kami geli lagi adalah, kapal yang kami naiki adalah milik keluarga jauh Aqil. Nahkodanya? Masih sepupu-an sama Aqil. Hahaha. Cerita punya cerita, ternyata sodara-sodara Aqil menyebar hampir di seluruh pulo di Kepulauan Seribu. Ada yang di Pulo Pari, Panggang, Lancang, Pramuka, Untung Jawa. itu yang gue inget. Mungkin sebenernya masih banyak di pulo-pulo lainnya. Alangkah senangnya hati kami, terutama Chandra dan gue, karena berhasil mempertemukan sodara Aqil antargenerasi. Tali kasih di pagi hari yang cerah. Jam 08.30, kapal siap berangkat. Kami pun berpamitan.

Kami pun naik kapal. Karena penasaran, gue sama Chandra naik di atap kapal. Aqil? Dia di dalam, soalnya takut kecebur ke laut pas lagi dihantam ombak. Indahnya pemandangan dari atap kapal sepanjang perjalanan menuju Rawa Saban. Tapi berhubung gue masih ngantuk, gue pun melajutkan tidur di atap kapal. Chandra ngapain? Jawabannya sama kaya di awal cerita. Setau gue setelah bangun, dia jepret-jepret pemandangan pake kamera, bukan pake karet! Pas gue tidur? Kita tanya Chandra! Tapi dari barang bukti yang ditemukan, Chandra diduga moto-moto gue sama beberapa penumpang lain yang juga tertidur. Jadi, curiga gue sama si Chandra. Haha

Pukul 09.20 waktu Indonesia bagian Rawa Saban (lagi) kami tiba. Turun kapal, kami kembali menghampiri petugas Dishub Laut yang sehari sebelumnya kami jumpai. Kamsi sedikit cerita tentang kami di Pulo Tidung. Lagi-lagi, setiap pembicaraan memang penuh dengan informasi. Kata petugas Dishub laut yang bernama pak Hasyim, konon Pulo Pari sudah dimiliki sebuah perusahaan yang bernama PT Bumi Raya. Wow! Pulo dijual ke perusahaan? Saat ini Pulo Pari sedang dibangun pariwisatanya. Sama kayak Pulo Tidung. Di Pulo Pari ada penduduk yang menempatinya sejak lama. Menurut pak Hasyim, sebelum ditempati penduduk, Pulo Pari sudah dimiliki oleh PT Bumi Raya. Jadi kemungkinan besar saat wisata sudah berjalan, penduduk Pulo Pari bisa terusir dari sana. Bau-baunya bakal ada sengketa tanah lagi. Siapa yang akan dirugikan? Masyarakat kecil! Rencana penggusuran besar-besaran di pantai utara Tangerang, dan penduduk Pulo Pari. Kejahatan negara dan korporasi ada di mana-mana!

Sudah cukup! Kami bergegas pulang menuju tempat penitipan motor. Tapi sebelum pulang, gue sama Aqil mau beli ikan dulu di pelelangan buat di bawa pulang ke rumah. Perjalanan yang kurang dari 24 jam, tapi kami merasa puas. Banyak info, ilmu dan kepuasan hati yang kita dapet, meski dengan modal pas-pasan. Oke, next destination: Pulo Pari! Kapan ya? Tunggu kami di sana🙂 (*)

One thought on “Kisah Kasih(an) di Pulau Tidung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s