Lima Hari untuk Tiga Kota (Bag. I)

Pagi itu aku terbangun, aku teringat akan janji untuk kembali ke Jakarta, menghadiri sebuah seremonial akademik seorang kawan. Ya, sebutlah itu namanya. Tapi, sepertinya ada yang salah dari pesan yang masuk pagi itu. Aku diminta seorang kawan untuk bisa menghadiri pertemuan cukup penting, pada malam harinya. Ini di luar perkiraan, mana yg harus aku pilih? Keduanya penting. Di satu sisi, aku ingin bisa merayakan seremonial kawanku dengan kawan-kawan yang lain, yang tentunya aku harus turut serta. Di sisi lain, aku punya tanggung jawab sosial terhadap sebuah persiapan pertemuan penting.

Hari itu Jum’at. Pagi hari, aku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta karena aku memilih tanggunganku yg lain. Tetapi, selama beberapa jam menjelang ibadah Jum’at, ada perasaan mengganjal kalau aku tidak kembali. Mendadak aku memutuskan untuk tetap kembali ke Jakarta, usai ibadah Jum’at. Aku pulang, kawan!

Rasanya memang itu yang harus aku pilih, mengingat usahaku menjelang hari Jumat. Dua hari sebelumnya mencari tiket kereta (ekonomi) menuju Jakarta, tapi ternyata kehabisan. Mau mengakali dengan mencari tiket jurusan Bandung, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta, juga sama: kehabisan. Bahkan terpikir untuk mencari tiket bis, dengan pertimbangan cost yang lebih besar, tapi tak jadi. Maklum, saat itu kondisi keuanganku sedang dalam keadaan kritis, tidak memungkinkan dan menjelang koleps. Akhirnya aku harus berpikir keras, bagaimana aku harus bisa kembali ke Jakarta, tapi dengan biaya seminimal mungkin. Hehe. Ku putuskan untuk mengendarai sepeda motorku menuju Jakarta, dengan resiko, lelah yang berlebihan.

Bingung dari mana aku berangkat? Aku berangkat dari Jogjakarta.

Selesai sholat Jum’at, dengan tekad bulat dan tidak kotak, aku berangkat menuju Jakarta dengan sepeda motorku. Dengan rencana berikut: berangkat dari Jogja pukul 13.00 waktu Indonesia bagian Jogja. Tiba di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat (Banjar Patoman) pukul 18.00 waktu Indonesia bagian Banjar Patoman, dan tiba di Bandung pukul 22.00 waktu Indonesia bagian Bandung. Di Bandung, aku akan menginap di tempat seorang kawan, sebut saja Kancut (bukan nama sebenarnya, di samarkan untuk kepentingan privasi korban). Sempat terpikir untuk terus melanjutkan perjalanan, tanpa harus singgah di Bandung. Namun apa daya, tubuh tak sampai. Tak kuat menahan beban hidup, akhirnya aku putus asa dan memutuskan untuk makan pecel ayam di Bale Endah, Kabupaten Bandung (maaf jika mulai meracau). Di sanalah aku menghubungi Kancut, dan kebetulan ia sedang berada di Bandung dan sedang di kampusnya, sebuah universitas yang berasaskan Islam di Bandung. Dia memperbolehkan ku untuk singgah di tempatnya, tepatnya di kampusnya. Karena dia dan saya tak bisa ke kost-annya yang berada di wilayah Dago atas. Kata Kancut, di sana sedang ada acara milad sebuah geng motor Bandung, sebut saja Rapat Kerja Bulan. Karena menurut kebiasaan dan kesaksian beberapa orang, jika sedang merayakan ulang tahunnya, mereka terkadang reseh.

Tiba di kampus pada pukul 23.00 waktu Indonesia bagian setempat. Kancut memperkenalkan teman-teman kampusnya kepadaku, dan aku diperkenalkan kepada teman-temannya Kancut (jika ada kesamaan nama, tempat, dan logika, memang di-gitu-kanlah adanya). Sejenak ngobrol dan menghabiskan sisa tenaga setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya aku beristirahat di sebuah ruangan yang menjadi tempat berkumpul teman-teman pers mahasiswa kampus tersebut. Sambil menunggu lelap, aku dan Kancut berbagi cerita, seperti menjadi kebiasaan kami jika bertemu. Tak mengira jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, aku merasa sangat lelah, dan akhirnya tertidur. Karena pukul 05.00 aku harus bangun dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Zzzzzzz….

Pagi sudah tiba, pukul 04.30 jam digital yang melingkar di tanganku mengingatkan. Ya, alarm berbunyi, tapi dari ponsel. Kantuk masih terasa, lelah belum hilang, tapi aku harus melanjutkan perjalanan segera, dan harus tiba di Tangerang sebelum pukul 10.00. Setelah sarapan sisa makanan semalam yang dibelikan oleh teman-temannya Kancut, aku berangkat menuju Tangerang pukul 05.30. Pagi itu terasa segar, terlebih di Bandung yang merupakan daerah dataran tinggi yang terkenal cukup dingin bagi orang tropis seperti aku. Perjalanan diperkirakan akan memakan waktu 4-5 jam.

Di Cianjur, aku dihadang dengan kabut pagi yang cukup tebal, yang cukup mengganggu penglihatan jika sedang mengendara. Tapi, sebenarnya aku ingin singgah sejenak, mengambil foto, saat melintas di atas sebuah jembatan. Tempat itu terlihat indah. Sebuah sungai mengalir di bawah jembatan tersebut, dengan kabut yang menutupinya. Serasa berada di atas awan. Tapi ku urungkan niat itu, karena aku harus bergegas sampai di Tangerang. Motor ku pacu hingga kecepatan 100km/ jam, karena hanya sampai di situ kecepatan maksimal motorku. Kalau bisa lebih, mungkin akan kupacu lebih cepat. Sesampainya di Bogor, motorku mendapat masalah. Rantainya terlepas. Oh, bukan, rantainya putus! Matilah aku! Apa bisa tiba tepat waktu, sebelum pukul 10. Akhirnya aku menelpon seorang kawan yang sudah menunggu di Tangerang, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya). Memang bukan nama sebenarnya, namanya Mulia, aku biasa memanggilnya Putu. Gak nyambung? Memang! Aku teringat William Shakespears “apalah arti sebuah nama”. Sudah ini gak penting. Aku mengabarkan kalau rantai motorku putus, dan perjalanan harus dihentikan sementara. Tapi ternyata Tuhan masih bersama musafir. Tak jauh dari tempat kejadian peristiwa, ada sebuah bengkel motor, dan motor saya selamat. Akhirnya tiba pukul 10.30 di rumah kawan saya yang namanya disamarkan menjadi Bunga tadi. Istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke Jakarta, ke sebuah gedung yang bernama Gedung BPPT, yang ada di seberang Gedung Sarinah, Thamrin.

Sang punya hajat, yang namanya Tamam, sudah menghubungi kami berkali, seolah mengingatkan kami untuk segera berangkat sebelum waktu bubar. Kami pun bergegas. Selama perjalanan beberapa kali Tamam menghubungi, dan selalu bertanya “udah di mana?”. Maaf , Tam, kami  terus berbohong sepanjang perjalanan agar kau tidak gelisah dan khawatir. *pasang muka ganteng* haha. Tibalah kami pukul 13.30, di mana acara memang sudah bubar, dan Aqil sudah menunggu di masjid Gedung BPPT. Baiklah, beri kami waktu untuk menjelaskan keterlambatan ini. Dari Tangerang, kami memang berangkat pukul 12.30, karena jam segitu baru selesai istirahat. Selama perjalanan kami terhadang rutinitas Jakarta, yakni macet. Di tambah kami harus berputar cukup jauh saat ingin menyebrang ke Gedung BPPT. Di mana kami seharusnya berputar di Bundaran HI, tapi karena ditutup, kami terpaksa berputar di bundaran dekat kampus Al-Azhar. Jadi begitu ceritanya. *penjelasan tersebut didikasikan untuk kawan Tamam*

Tak lama berada di gedung tersebut, kami hijrah ke Monas, alun-alunnya provinsi DKI Jakarta, sambil menunggu si kawan satu lagi, Tjanarie, begitu nama alamat emailnya. Hari sudah senja, Tjan tiba sambil kebingungan mencari kami yang padahal berada tepat di depannya. Jadilah kami bersantai sore, sambil ku iseng mencari yang bisa di foto. Sementara si Bunga beli layang-layang (Bunga itu cowok secara gender). Tjan dan Tamam duduk di bawah pohon, bersamaku. Bosan di tempat itu, kami beranjak ke tempat yang lebih dekat dengan monumen yang digagas oleh Presiden pertama RI, Soekarno, sebagai simbol kedigdayaan Indonesia pasca dijajah Belanda dan Jepang.

Tujuan kami ke Monas memang untuk mengabadikan toga milik Tamam. Foto bersama toga dan kawan-kawan. Hingga bosan bertoga, matahari senja tenggelam, kami kembali beranjak menuju kampus Al-Azhar Indonesia yang berada di wilayah Blok M, Jakarta Selatan, untuk sholat maghrib dan isya. Selesai itu, makanlah kami di belakang kampus, mencari sesuap nasi, dan semangkuk sup buah untuk mengisi perut yang sedari siang belum tersentuh makanan. Malam semakin larut, saatnya kami pulang, karena lelah juga mulai datang. Kami pulang ke rumah masing-masing, terkecuali aku, yang pulang ke rumah Khoirul Cobra. [bersambung]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s