Lima Hari untuk Tiga Kota (Bag. II)

Malam itu aku menginap di rumah kawan yang sering disapa Cobra. Nama aslinya, Khoirul, tapi kenapa jadi Cobra? Hanya Shakespeare yang tau.

Aku tiba di rumah Cobra larut malam, berbarengan saat ia baru pulang dari nongkrong dengan segerombolan anak muda yang kami sebut SOB. Malam itu lelah, tapi menyenangkan. Setelah menjadi musafir kota bersama Tamam, Bunga, dan Tjan, malam hari terlibat diskusi singkat dengan Cobra. Banyak hal yang kami bicarakan (Mau tau? Joget dulu…. Haha). Singkat cerita, aku pun terlelap setelah tak kuat menahan kantuk.

Tetiba hari sudah pagi (atau mungkin siang?), jam 10.00 waktu Indonesia bagian rumah Cobra. Aku terbangun begitu mendengar, ibunya memanggil meminta diantar ke sebuah acara. Sementara aku bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Pasar Senen di Jakarta Pusat, untuk mencari selembar tiket kereta agar bisa kembali ke Jogja dengan tanpa mengendarai motor. Tubuhku sudah lelah ketika itu dan merasa tak kuat lagi jika harus menempuh jarak yang kurang lebih 600 km itu.

Menunggu siang, karena aku akan pergi dengan Tamam dan Tjan. Pergi ke stasiun kereta Senen dan ‘stasiun’ buku Senen. Namun, sebelum ke Senen, kami harus menjemput kawan kami yang satu lagi, si Bunga, yang hari itu kebetulan ada kuliah pagi.

Oya, hari itu hari Sabtu. Selesai sholat dzuhur, aku berangkat menuju rumah Tjan, rumah yang kami sepakati sebagai tempat pertemuan antara kubu Kutabumi dan Sepatan. Ketika sampai di rumah Tjan, Tamam belum tiba. Usut punya usut, Tamam lupa jalan masuk ke rumah Tjan. Maklum, perumahan Kutabumi memang memiliki pola atau tata letak seragam kurang lebih sepanjang dua kilometer. Sehingga hanya orang-orang yang sudah fasih dengan Kutabumi-lah yang tau dan bisa membedakan, mana gang A mana gang B.

Setelah beberapa saat menunggu di rumah Tjan, Tamam tak kunjung datang, dan rintik hujan mulai menerjang bumi, kami putuskan untuk menyusulnya ke depan gang dan meminta Tamam untuk menunggu di depan gang. Syukurlah, kami bertemu dan Tamam tak jadi menghilang di Kutabumi yang seperti labirin tak berujung baginya. Berangkat kami menuju sebuah kampus di bilangan Meruya, Jakarta Barat, tempat di mana Bunga menimba ilmu dan menimba air, sekaligus bersih-bersih gedung.

Perjalanan cukup santai. Aku dibonceng Tamam, karena lelahku belum hilang setelah dua hari berkendara. Tjan mengendarai motor yang ku kendarai sedari Jogja-Bandung-Tangerang. Jam di tangan sudah menunjukkan angka 14.00, kami tiba di kampus dan sejenak menunggu Bunga keluar kampus. Akhirnya keluar juga, dan kami langsung menuju Stasiun Senen.

Setiba di Senen, aku kaget bukan kepalang (oke, ini berlebihan). Banyak orang mengantri di loket tiket reservasi. Ternyata aku baru sadar, bahwa pada minggu itu ada hari raya keagamaan yang dimanfaatkan sebagian besar orang untuk pulang ke kampung halamannya. Ya, mereka membeli tiket untuk mudik. Dan benar saja, tiket kereta api (ekonomi) menuju Jogja sudah ludes terjual untuk seminggu ke depan.

Aku pun pasrah. Jadi mari kita ke ‘stasiun’ buku Senen sajalah. Menghibur mata dengan gelimangan buku, meskipun dengan kantong yang tidak memungkinkan untuk membeli buku.

Di sana, kami berjumpa banyak pedagang buku, dari yang muda hingga yang tua, dari yang lelaki hingga perempuan (kecuali Bunga, dia transgender. Dan dia bukan penjual buku. Haha). Berputar-putar, melihat-lihat, menimbang-nimbang, akhirnya beli. Itu yang dilakukan Tjan dan Tamam. Tapi apakah kalian tau? Si Bunga lah yang paling banyak beli buku! (buat kuliah, maklum maba. Haha). Dan dia bilang bahwa ‘stasiun’ buku Senen adalah surga.

Selesai dengan tumpukan buku, kami kembali menuju Monas. Tempat di mana kemarin kami nongkrong. Hari itu kami habiskan dengan berfoto ria di depan tugu kebanggaan Jakarta itu. Sambil menanti larut, karena esok hari aku harus kembali ke Jogja. Kami senang, dan kami pulang. Ke rumah masing-masing, dan aku tetap ke rumah Cobra.

Menunggu pagi, ku habiskan waktu ngobrol dengan Cobra tentang banyak hal, hingga kami tertidur.

*

Kembali sudah siang. Aku terbangun dan berpikir: “pulang naik apa?”. Naik motor, badan masih terlalu lelah. Naik kendaraan umum, yang tersisa hanya bis, tentu dengan biaya yang lebih besar. Tapi aku tetap mencoba mencari armada bis yang sesuai dengan kebutuhanku: biaya murah. Tapi tak ada. Aku akhirnya tetap menggunakan motorku untuk kembali ke Jogja.

Hari itu, Senin, aku berangkat menuju Bandung, untuk kembali mampir di tempat Kancut. Kurang lebih pukul 13.00 aku berangkat dari Tangerang, dengan target sampai di Bandung pukul 18.00 waktu Indonesia bagian kost Kancut. Perjalanan baru sampai di Serpong, Tangerang Selatan, hujan deras mengguyur. Akhirnya aku berhenti untuk menggunakan jas hujan dan mengamankan tasku yang berisi barang-barang tak tahan air. Sepanjang jalan hingga Bogor, hujan silih berganti dengan matahari.

Tak salah memang Bogor dijuluki sebagai Kota Hujan, karena di sana lah aku menikmati hujan deras sederas-derasnya. Sampai akhirnya tiba di Ciawi, langit sudah cerah kembali. Berhenti di dekat pintu tol Ciawi, Bogor, untuk melepas jas hujan. Aku berhenti dan lupa menurunkan standar hingga motorku tersungkur ke bahu jalan. Dan petakanya, kaca spion kiri motorku pecah terbentur pembatas jalan.

Nahas, sudah rantai putus saat berangkat, kini harus kehilangan sebelah spion. Lupakan! Perjalanan tetap aku lanjutkan. Sedari Puncak, Bogor hingga Bandung, beruntung cuaca bersahabat. Cerah mengiringi, jalan kering memperlancar kecepatanku berkendara. Akhirnya aku tiba di Bandung pukul 18.00 lewat dikit.

Janjian dengan Kancut di depan kampusnya untuk mengambil kunci kost, karena ia harus berada di kampus hingga malam untuk mengerjakan tugas (Ciyyee…tugas, Cut? Haha). Ku ambil kuncinya, lalu meluncur sendirian ke daerah Dago atas, di mana kost Kancut berada. Sesampainya di sana, kost terasa sepi. Padahal dulu aku kenal baik dengan beberapa kawan Kancut: Otong, Pepeng, dan Ryan. Tapi mereka sudah pindah, sudah menemukan jodoh hidupnya masing-masing.

Sendirian di kost, aku mengistirahatkan badan, dan menunggu waktu yang tepat untuk mandi. Sambil membenahi perkakasku yang berserakan tak beraturan. Begitu selesai mandi, Kancut pulang. Dan hingga tengah malam, kami ngobrol asik. Sampai aku harus tidur karena esok hari aku harus bangun lebih pagi; pukul 05.00 agar bisa tepat waktu kembali ke Jogja.

*

Sudah hari Selasa, pukul 05.00, ambil handuk dan mandi sedini itu di Bandung. You know-lah air di Bandung dinginnya seperti apa. Tapi selesai mandi, sambil menghangatkan badan dengan kopi panas, juga dengan obrolan hangat pagi hari menjelang ke Jogja. Akhirnya aku harus mengucapkan terima kasih kepada Kancut dan sampai bertemu lagi. Karena jam sudah menunjukkan pukul 07.00, dan aku harus bergegas kembali ke Jogja, sementara Kancut bergegas ke kampus. Kami berpisah di Jalan, dan Jogja: here I come!

Hari yang cerah itu aku nikmati dengan memacu kendaraan dengan kecepatan maksimum, juga dengan alunan musik-musik keras dari mp3 player di saku.

Semangat pagi!

Eh, tetiba sudah sore.

Kenapa? Terlalu banyak bagian yang dilewatkan? Iya, itu hanya bisa dinikmati, tapi tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Haha. Aku sampai di pinggiran Jogja, tepatnya di Gamping. Saat itu hujan deras, dan aku kehujanan, atu memilih hujan-hujanan? Sambil menunggu hujan sedikit reda, aku singgah di sebuah dealer motor, dan memesan mie ayam. Kenapa mie ayam? Kok bukan mesan motor? Karena aku lapar dan ada penjual mie ayam di depan dealer motor itu.

Selesai makan, hujan kian reda, perjalanan aku lanjutkan menuju rumah di bilangan Soropadan, Gejayan. Pukul 16.30, rumah biru itu menyambutku. Oh kamar, aku rindu padamu! Lima hari untuk tiga kota.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s