Pari The Journey (Part I)

 

Akhirnya perjalanan lanjutan kami ke Pulau Pari terlaksana. Tanggal 18 dan 19 Juni 2011, waktu itu hari Sabtu dan Minggu, kami bertiga—Saya, Chandra, Aqil—ditambah 3 orang lainnya—Adi, Yuni, Putri—berangkat ke Pulau Pari. Seperti biasa, Chandra datang ke rumah saya terlebih dulu, bersama dengan Putri yang sebelumnya menunggu Adi di sebuah tempat bernama Nagrak, bukan Nagrek. Sekitar pukul setengah 10 pagi waktu Indonesia bagian Cadas—Cadas ini nama tempat juga, tepatnya nama kampung. Bukan cadas yang artinya keras—mereka bertiga datang ke rumah. Saya dan Yuni yang sedari tadi entah kapan tahu sudah menunggu mereka, langsung bergeggas keluar dan bilang “hayuk berangkat!”. Berangkat ke mana? Bukan ke Pulau Pari, tapi ke rumah Aqil, tepatnya rumah orang tua Aqil untuk menjemputnya dan minggat bersama kami ke Pulau Pari. Pukul 10 pagi waktu Indonesia bagian Sepatan kami tiba di rumah Aqil dan langsung cabs—kali-kali jadi anak gawol gitu, makanya ngeganti kata cabut dengan cabs.

Asal kalian tahu—entah kalian ini siapa, perjalanan ini memang sudah direncanakan pada Jumat malam di kediaman Putri ber-klan Mooduto, di Kutabumi. Malam yang mencekam itu kami adakan rapat rahasia yang juga diikuti perwakilan dari Gang Angsana II, Akhtar anaknya Mas Dodi. Siapa Akhtar dan Mas Dodi? Mereka adalah keponakan dan kakak iparnya Putri. Ya, kami merencanakan dengan matang perjalanan ke Pulau Pari, karena ternyata ada dilema ketika itu. Putri, sang penunggu rumah labil apakah akan berangkat ke Pari atau ke kuliah. Setelah pikiriannya matang dan mendapat izin dari kakaknya, ia pun memutuskan akan berangkat sendiri ke Pulau Pari. Tapi berhubung kami semua—Aqil, Chandra, Saya, dan Yuni—adalah teman yang baik, kami pun putuskan menemaninya kuliah. Maksudnya ke Pulau Pari. Akhtar gakikut, karena masih kecil, karena belum bisa berenang di laut.

Setengah sebelas pagi hampir siang kami tiba di Rawa Saban, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji,* Kabupaten Tangerang hampir jadi utara, Propinsi Banten sebelum jadi Propinsi Tangerang. Seperti biasa, kami menitipkan motor yang kami bawa ke sana di rumah salah seorang warga yang juga buka warung makan dan jajanan. Apakah kami minum es teh lagi? Ternyata tidak. Kami langsung menuju pos Dishub Laut dan menemui rekan kami yang menjadi rekan sejak perjalanan kami ke Tidung, Pak Hasyim. Ia sangat menyambut hangat kami, karena suasana di kantornya itu memang panas. Akhirnya ritual perbincangan pun dilakukan, kali ini melibatkan Yuni, Adi dan Putri.

Pukul setengah satu siang, awak kapal yang akan kami naiki sudah menyerahkan surat izin berlayar. Itu tandanya kapal akan segera berangkat. Pak Hasyim yang mengangap kami “kalau dibilang kawan ya kawan” menitipkan kami kepada si awak kapal yang ternyata juga salah seroang Ketua RT di Pulau Pari, Pak Mamat alias Rahmat alias Rarah namanya. Pak Hasyim meminta kepadanya agar menjaga-i kami di Pulau Pari. Karena kami adalah manusia-manusia langka yang dilindungi UNESCO. Berbarengan dengan kabar rencana keberangkatan jamaah Pulau Pari,  tiba-tiba kami dapat kabar dari seorang teman yang berada di Kota Tangerang bahwa ia mau ikut menyeberang dengan kami. Jebir namanya. Akhirnya kami meminta kepada sang awak kapal untuk sebentar saja menunggu kedatangan Jebir. Kapal pun setuju, awak kapal yang setuju, bukan kapalnya, untuk menunggu Jebir agar bisa ikut dalam misi-misian di Pari. Namun cerita punya cerita, Jebir terjebak di perempatan Cadas yang terkenal kadang-kadang macet. Waktu itu sudah menunjukkan pukul satu dan kapal pun mulai tak sabar untuk angkat lambung dari Rawa saban. Akhirnya dengan terpaksa dan sedih hati, kami berangkat meninggalkan pos dishub, sekaligus meninggalkan Jebir yang sedang berjalan bersama motor menuju rumahnya.

Naiklah kami ke kapal tersebut, kapal Dewan Daru namanya. Tetapi tak dinyana, kapal kesulian angkat lambung. Entah karena berat badannya atau karena airnya yang dangkat. Karena nyatanya memang air di Rawa Saban sedang surutabiis. Tidak bisa semena-mena menjauh dari dermaga. Butuh kerja keras dan tenaga ekstra ditambah dengan doa untuk bisa lepas landas. Sambil menunggu kapal berangkat, Putri mencoba kembali menghubungi Jebir. Tapi usaha itu tak berhasil, karena entah karena apa. Jebir tetap tak bisa melanjutkan mimpinya di Pulau Pari. Setengah dua siang, kapal lepas landas dengan suara mesin diesel yang menderu dari lambung kapal. Dimulailah perjalanan kami mengarungi lautan yang akan ditempuh selama satu hari dengan berenang, tapi cukup 1,5 jam dengan kapal yang disebut ferry. Alangkah bahagianya mereka yang lagi-lagi baru ketemu laut ketika itu. Di kapal kami tidak sendirian, karena memang sudah ber-enam. Tapi maksud saya di kapal kami bertemu dengan seorang bapak tua yang ternyata peneliti dari LIPI, kata Aqil namanya Pak Wawan. Mungkin benar, karena saya lupa. Oya, LIPI itu bukan Marcello Lippi, tapi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang dengar punya telinga punya markas penelitian di Pulau Pari. Sedikitlah kami bercerita dengannya. Ia berasal dari Universitas Padjajaran dan spesialisasi penelitian makhluk yang bernama rumput laut.Flashback-nya tentang Bandung di masa lalu mengingatkan kami bahwa memang saat ini dunia sudah renta. Masyarakat modern yang terlalu renta untuk bisa merawat alamnya, karena disibukkan dengan kerja, mobil, motor dan segala kebutuhan yang hampir utama di peradaban modern. “Emang begitu, Pak. Jangan kan di Bandung, di Jogja aja yang katanya berhati nyaman sekarang jalanannya mulai gak nyaman lagi! Udah kebanyakan orang Jakarta yang hijrah ke sana dan terjadilah Jakartanisasi”.

Melihat posisi duduk kami yang serba sempit bersaing dengan duren, pisang, dus air mineral dan barang-barang lainnya. Si bapak peneliti mengalah untuk pindah ke sisi lain dari kapal. Bukan sisi gelap kapal, tapi sisi kanan kapal, di mana ada sedikit ruang kosong untuknya meluruskan badannya. Lega lah kami, sedikit-sedikit kaki selonjoran, sedikit-sedikit kaki diangkat-angkat.

Seperti turis, di tengah perjalanan kami berusaha menangkap momen-momen selama di kapal. Maksud dari kalimat itu adalah kami foto-foto. Hanya sebentar, karena tak mau baterai foto habis begitu sampai tempat tujuan. Beberapa dari kami pun beristirahat. Sementara saya mengikuti pembicaraan Aqil dengan sang awak kapal yang juga Ketua RT di Pulau Pari, Pak Mamat. Berusaha menghilangkan kesenjangan antara kami dengan dirinya. Tapi maksudnya sih agar kami bisa sedikit mendapat pertolongan pertama untuk orang-orang kere jalan-jalan. Ombak cukup besar ketika itu, Aqil bahkan sampai terdiam dibuatnya, dibuat si ombak. Dia khawatir jika-jika kapal yang kami tumpangi ngambek dan guling-gulingan di tengah laut. Bahaya itu! Tapi menurut Pak Mamat, ombak saat itu terbilang normal, karena beberapa hari yang lalu—dihitung sejak obrolan kami dengan si bapak dimulai—ada ombak yang lebih besar. Kami yang tidak terbiasa dengan ombak, dan tidak bisa membedakan mana yang besar dan benar-benar besar. Karena bagi saya, ombak saat itu memang cukup besar untuk bisa menggulingkan sebuah truk bermuatan pasir—atuh neeng…truk mah emang gak bisa ngambang. Berdoa selamat sampai tujuan, doa Aqil selama perjalanan dikabulkan. Kami tiba di “Selamat Datang di Pulai Pari”.

 

Image

 

Begitu mendarat, kami langsung diajak oleh Pak Mamat menuju rumahnya. Ia mau menepati janjinya ke Pak Hasyim bahwa ia akan menjaga kami, turis-turis kere yang tak bisa menyewa rumah tinggal  atau rumah ketinggalan atau rumah yang ditukar atau bahasa kerennya homestay. Begitu melihat pemukiman yang rapi dan tentram, saya merasa terkutuk menjadi orang yang tinggal di kota dengan hiruk pikuk peradaban modernnya. Sungguh tidak menyenangkan. Karena ada kehidupan yang lebih baik di tanah Pari, kepulauan Seribu. Dalam hati saya berdoa, moga-moga masyarakat Pari tidak jadi masyarakat yang komersil. Biarkan mereka tentram dengan kehidupannya sekarang, tanpa gangguan wisatawan-wisatawan yang cuma ingin memenuhi hasrat hiburannya yang terkadang, bahkan hampir selalu mengabaikan kehidupan warga setempat. Dipikirnya dengan uang mereka bisa memberikan kebahagiaan. Tidak sodara-sodara, Tidak!

Tibalah kami dirumahnya yang mungil namun megah *serius ini*. Beberapa ibu-ibu setempat yang sedang ngerumpiterperangah melihat kedatangan kami. Kami juga terperangah melihat ibu-ibu pada terperangah. Mungkin karena jarang ada tamu dari luar pulau yang datang ke rumahnya. Tapi kami disambut begitu hangat dan santai. Kami pun dipersilakan istirahat, sementara Pak Mamat masih mau mengurus penumpang yang ditelantarkan olehnya akibat mengantar kami ke rumahnya. Ketika itu pukul setengah empat sore waktu Indonesia bagian Pulau Pari. Beberapa teman memutuskan untuk menjalankan ibadah sholat Ashar. Saya, Aqil dan Adi menunggu di rumah Pak Mamat dengan sabarnya. Selesai semua beribadah, kami cukup segan menemui si bapak yang sudah kembali dari tempat kerjanya di dermaga. Karena kami terpaksa harus bilang bahwa kami akan merepotkannya malam itu hingga keesokan paginya. Berani gak berani harus berani. Saya dan Aqil pun bicara dengan Pak Mamat dan istrinya beserta anak-anaknya. Dan itulah keramahan orang-orang pulau, kami disambut baik oleh mereka. Bahkan kami dianggap anak olehnya. Ah salah, itu cerita lain, bukan di bagian ini. Maaf-maaf.

Sambil bercengkrama dengan Pak Mamat dan rekannya yang sepertinya petugas desa, kami banyak bercerita. Tepatnya bertukar cerita. Cerita tentang cerita yang ingin kami tahu di Pulau Pari. Gak disangka, kedua bapak itu cukup mahir melucu, jadilah kami tertawa sejadi-jadinya *ini lebay*. Dengan polosnya atau dengan pintarnya mereka mengeluhkan tentang warga yang “mau enaknya aja” saat ngurus-ngurus data administrasi keluarganya. Tak berlama-lama, kami pun segera pamit untuk menuju pantai yang disebut Pantai Pasir Perawan yang berada di timur laut Pulau Pari. Ya, memang salah satu misi perjalanan ini adalah bersenang-senang. Semula di bapak petugas desa mau mengantar kami menuju pantai, karena ia khawatir kami kesasar di pulau itu. Tapi kami menolaknya karena pasti bisa sangat membebani tugasnya karena harus keliling pulau untuk mengurus data-data kependudukan warga pulau. Akhirnya kami meyakinkan diri untuk pergi ber-enam. Tak takut kesasar, karena dipikir ‘masih di Pulau Pari juga kalau kesasar’. Berangkatlah kami.

Memang benar, walaupun sudah bertanya ke salah seorang warga yang kami temui di perjalanan sambil bertanya ke mana arah Pantai Perawan, kami masih juga kesasar. Emang dasar orang kota ga tau jalan. Akhirnya 3 orang anak kecil datang menghampiri. Tidak untuk memalak kami karena kami kira mereka preman Pulau Pari, tapi untuk mengantar kami yang tadi sok tau. Akhirnya, Alhamdulillah wasyukurillah, kami tiba di timur laut Pulau Pari dengan selamat, sehat walafiat, dengan diantar ketiga anak yang saya kira preman. Pantai Perawan. Gak tau kenapa disebut Pantai Perawan, mungkin karena belum pernah ada yang memerkosa pantai itu. Apa mungkin karena pantai itu belum kawin, atau belum dapet jodohnya. Entahlah apapun maumu. Tapi harus diakui, pantainya memang indah dengan air laut yang tenang, tanpa ombak, hanya ada ketentraman J. Di sana kami bertemu dengan salah seorang nelayan pencari karang laut yang namanya Pak Halil bersama sampannya atau rumah mengapung atau apalah namanya, karena saya juga bingung ‘itu’ apa—kata ‘itu’ merujuk pada sebuah alat yang digunakan oleh si bapak nelayan untuk mencari karang, bentuknya seperti perahu, tapi gitulah, saya juga bingung. Karang-karang itu nantinya akan dijual. Saya sendiri tak terlalu detail tahu tentang sedang apa Pak Halil sebenarnya. Karena Aqil dan beberapa teman lain yang banyak ngobrol dengan si bapak. Dengan baiknya si bapak meminjamkan perahunya untuk dijadikan arena bermain teman-teman. Arena bermain untuk memuaskan nafsu birahinya. Salah, nafsu hiburannya, nafsu penasarannya, dan nafsu-nafsu yang lainnya. “Dasar orang kota, gak pernah ketemu perahu ya di aspal?”.

Mentari mulai terbenam, kami pun memutuskan untuk menyudahi memerkosa Pantai Perawan Pulau Pari. Kami menyusul pulang ketiga anak yang semula mengantar kami, karena mereka telah mendahului kami *hati-hati di jalan ya, dek!*. Si nelayan pencari karang pun sudah kembali ke rumahnya yang juga di Pulau Pari. Bukan di Pulau Lancang. Karena yang tinggal di Pulau Lancang adalah anaknya, Si Eko, bukan si Bolang. Kata siapa? Kata Aqil menurut si bapak. Perjalanan hari itu tanggal 18 Juni 2011 kami akhiri dengan menyusuri jalan setapak menuju rumah Pak Mamat, sang Ketua RT 01, lupa RW berapa. *istirahat ngetik dulu*

 

*) Koreksi dari Aqil di catatan Pulau Tidung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s