Pari The Journey (Part II)

Baiklah, berdasar permintaan salah satu peserta trip asal-asalan ke Pulau Pari, Saya akan sedikit menarik mundur ke belakang dari cerita “Pari Long Journey (1)”. Kira-kira belakang ceritanya kayak gini “Mentari mulai terbenam, kami pun memutuskan untuk menyudahi memerkosa Pantai Perawan Pulau Pari. Kami menyusul pulang ketiga anak yang semula mengantar kami, karena mereka telah mendahului kami *hati-hati di jalan ya, dek!*. Si nelayan pencari karang pun sudah kembali ke rumahnya yang juga di Pulau Pari. Bla bla bla bla.“

Oke kita mulai cerita tentang apa yang sudah terjadi di Pantai Perawan. Apakah ada pemerkosaan terhadap Pantai Perawan, atau ada perceraian sehingga merubah namanya menjadi Pantai Janda? Kebanyakan prolog. Langsung inti sajalah!

Yap, benar sekali! Pantai itu memang indah. Garis pantai berpasir putih yang panjang menjulur dari sisi timur ke sisi barat Pulau Pari. Penuh keceriaan ketika itu karena bersama teman-teman kami asal pulau tersebut, mereka si anak-anak Seribu Pulau. Cengkrama, makan bersama dan mengabadikan momen—lagi-lagi maksudnya poto-poto—mewarnai kegembiraan kami. Tak tahu mengapa, jiwa eksploratif saya mulai muncul—lebay. Saya mencoba menyusuri daratan yang agak terpisah dengan daratan pulau. Di sana tak apa pun kecuali tanaman tembakau dan karang-karang yang sudah mati. Susur punya susur, Saya, Adi dan Aqil turun ke air yang tidak dalam, alias dangkal itu. Menurut cerita Pak Halil, sang pencari karang hias, terkadang jika air surut, wilayah pasir pantai akan menjadi maha luas—lebay lagi. Bahkan Adi berpikir, “wah, bisa di pake maen bola nih kalo surut”. Mungkin benar, tapi mungkin juga gak, soalnya pasirnya sangat bergelombang alias bumpy kalo dalam istilah balap—alah apasih.

Pulau Pari sendiri bersebelahan dengan tetangga-tetangga pulau-pulau lainnya. Sebut saja Pulau tikus, Pulau Tengah dan beberapa pulau lain yang saya lupa namanya. Jika ingin menyeberang ke pulau-pulau tersebut, kita cukup menggunakan sampan, tidak perlu pakai kapal Roro apalagi kapal selam. Dipersilakan juga untuk berenang jika nafas anda mampu menunjang kehidupan anda hingga sampai ke pulau-pulau tersebut. Karena jika tidak, cukup berucap Innalillahi. Oya, di sebelah utara ada sebuah pulau yang katanya menjadi surga diving/ snorkelling bagi orang yang berkunjung. Pulau itu dinamai sesuai dengan nama pemilik pulau—lagi-lagi Saya lupa namanya. Konon, dulu pulau tersebut menjadi favorit wisatawan yang mencari hiburan alam karena alam bawah sadarnya, maksudnya alam bawah lautnya yang bagus bin indah. Namun, karena satu dan lain hal, pariwisata di pulau tersebut koleps, bahasa inggerisnya collaps, yang kemudian ditinggalkan pengelolanya. Tapi eksplorasi bawah tanah, maksudnya bawah laut tak berhenti. Warga Pulau Pari memanfaatkan wilayah pulau tersebut untuk dijadikan nilai tawar wisata bagi turis-turis yang berkunjung ke Pulau Pari.

 

Image

Oke, flashback-nya cukup. Sekarang kita beranjak ke cerita baru dari salah satu pulau yang eksotis di Kepulauan Seribu ini.Cerita di “PLJ (1)” berakhir ketika kami menyusuri jalan setapak menuju rumah Pak Mamat, yang menjadi orang tua sementara—gak sampai 24 jam—kami di Pulau Pari. Setibanya di sana, kami sudah disuguhkan makanan khas tepi laut. Ikan bakar! Benar-benar menggoda iman untuk segera meninggalkan tempat sandaran kami: tiang rumah dan tembok teras rumah. Tapi kami ini orang-orang yang sabar. Kami memutuskan untuk membilas badan, mandi dengan air tawar di kamar mandi milik Pak Mamat. Kami mandi sendiri-sendiri, tidak beramai-ramai seperti di Pantai Perawan, karena kamar mandinya tidak seluas pantai yang tadi kami perkosa. Saya menjadi tumbal pertama untuk mandi, tapi kata Aqil: “Jangan mandi, entar bau aer lautnya ilang!”. Dan dalam hati saya menjawab: “Maaf sobatku, aku bukan orang kota yang tidak pernah bertemu air laut!”—sambil tunjuk orang kota. Sudah sudah, nanti ada yang marah. Lanjut, saya pun mandi dengan semangat karena sudah terlalu lapar. Cukup janggal memang, kenapa saya yang lapar malah mandi, dan bukan makan? Entahlah. Selepas mandi, selepas handuk dan pakai baju saya segera bergabung dengan teman-teman yang sudah ada di depan dan ngobrolngobrol dengan Pak Mamat dan anaknya. Anaknya gak ikut ngobrol. Cuma bertingkah manja dengan ayahnya. Harmoni keluarga. Keluarga Cemara. Keluarga Pari. Bukan Putri Yang Ditukar atau Cinta Fitri.

Terlalu banyak cerita dan momen yang sulit Saya utarakan di tulisan ini. Terlalu berharga dan berkesan, atau mungkin Saya lupa. Ya, mungkin pasnya lupa. Satu persatu, butir-butir pasir pantai dan sisa-sisa garam yang menempel ditubuh teman-teman yang lain yang juga mandi, berguguran. Tak lama kemudian, piring dan centong nasi menyongsong. Ya, benar. Ini waktunya makan malam. Dengan ikan bakar. Ikan tongkol atau ikan ‘apa’. Ikan tongkol atau ikan ‘apa’ yang dibakar oleh ibu kami sementara, istri dari Pak Mamat, Ibu Mamat. Jahat ya? Ikan hidup dibakar. Kan kasian, pasti anak istri si ikan nyariin bapaknya yang hilang saat mencari nafkah di tengah laut lepas. Singkat, jadilah kami makan, semua makanan yang disuguhkan malam itu. Hilang semua lapar kami. Makanan itu telah merebut salah satu nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kami: Lapar! Karena tanpa lapar, apakah kami bisa merasakan makanan senikmat itu? Tanpa lapar, apakah kami bisa memiliki nafsu untuk makan. Tidak! Tidak penting bagian ini.

Setelah makan dengan lahap si ikan bakar dan sayur ‘apa itu namanya’ tadi. Kami langsung kenyang. Ya, apalagi? Apa ada fase sebelum kenyang? Lapar, makan lalu kenyang, bukan? Tidak penting lagi. Kemudian beberapa teman sudah terlihat lelah. Adi misalnya, ia tertidur di lantai, di ruang tamu rumah itu. Aqil si panglima, juga terlihat lelah. Rencana kami yang semula ingin mengunjungi markas besar LIPI di sisi barat pulau itu pun tak terealisasi. Tetapi Saya dan beberapa teman lain, sepertinya masih enggan untuk menutup malam itu. Melihat bulan yang sedang membulat, Saya pun mengajak Chandra, Yuni dan Putri untuk menghabiskan sisa waktu sebelum jam 12 malam, di dermaga, tempat kami tadi siang bersandar berasama kapal Dewan Daru. Sepanjang jalan setapak kami tak menemui seorang pun manusia, tapi kami juga tak melihat sekelebat pun bayangan setan. Di dermaga, Saya masih dengan kamera ditangan, coba-coba mengambil suasana malam itu. Perahu, lampu penerang dermaga, kerumunan orang yang sedang bakar-bakaran, barisan galon yang siap diangkut pada esok pagi dan tentunya suara deburan ombak yang menghantam tepian bayangan bulan di permukaan air—emang kedengeran, ya?. Masih terlalu singkat kunjungan kerja kami ke dermaga itu, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan menjauh meninggalkan pulau, menuju ujung dermaga. Di sana banyak orang sedang menikmati malam, pancingan dan sepeda. Kami? Cuma jalan, lalu segera kembali. Karena gak enak jikalau terlalu malam kembali ke rumah.

Pukul 11 malam kira-kira, kami berempat kembali ke rumah Pak Mamat. Di sana sudah ada Adi yang tertidur lelap di ruang tamu yang beralaskan kasur gulung. Sementara Aqil belum tertidur. Dia sudah berbohong pada kami, karena saat kami pergi ia memejamkan matanya. Pura-pura tidur dia! Setelah kami pulang ternyata dia sedang menyaksikan liputan berita olahraga di televisi bersama Pak Mamat dan anaknya. Di mana Ibu Mamat? Ia sudah tertidur di kamar bersama anak mereka yang paling kecil. Indahnya malam itu J. Kantuk mulai menyerang masing-masing dari kami. Hebat Si Kantuk itu, dia gak main keroyokan. Tapi melemahkan kami dari dalam. Dia menyelinap dalam partikel-partikel otak kami. Tak kuat dengan siksaannya, kami pun memilih untuk berbaring di kasur bersama Adi. Itu agar kami tidak terluka atau kesakitan jika tiba-tiba Si Kantuk mencapai klimaksnya. Kami sudah berbaring. Aqil dan Chandra di sofa, Saya dan Adi di kasur gulung yang menghampar di tengah ruangan. Tidurlah kami.

Keesokan paginya, tanggal 19 Juni 2011, pukul 05.30 waktu Indonesia bagian rumah Pak Mamat kami terbangun satu persatu. Mata masih berat untuk ikhlas membuka, tapi godaan sholat subuh sangat kuat. Kami semua terbangun, mengingat jam setengah enam pagi kami juga harus siap berada di dermaga untuk kembali ke Rawa Saban. Pukul enam pagi, Saya hanya ingin menikmati pagi di desa itu. Sementara Adi dan Putri yang masih penasaran apakan Pantai Perawan sudah menjadi Janda, memutuskan untuk mengunjunginya lagi. Katanya sih, mau liat sunrise. Apa itu sunrise? Apakah sejenis ikan atau nelayan? Tetapi salah. Itu adalah matahari terbit. Mereka berdua pun gagal memberikan surprise is kejutan kepada Fajar ketika itu, karena Sang Fajar masih sembunyi dibalik si langit sampai waktunya Adi dan Putri kembali ke rumah untuk kemudian ke dermaga.

Sebelum ke dermaga kami diberi suguhan penutup di pulau itu: nasi kuning dan teh hangat manis atau teh manis hangat. Menikmati pagi dengan sajian itu bersama teman-teman. Dan tiba saatnya Pak dan Ibu Mamat memecat kami sebagai anaknya, karena memang sementara, karena kami harus kembali ke rumah kami yang sebenarnya, bersama orang tua kami yang sebenarnya juga. Terima kasih Ibu Mamat yang sudah mau merepotkan diri demi kami. Kami berjalan gontai menuju dermaga, entah karena sedih harus buru-buru pulang atau karena masih mengantuk. Tanya pada masing-masing dari mereka—Aqil, Chandra, Adi, Yuni, Putri. Di dermaga aktifitas pagi itu hiruk pikuk, mereka orang pulau bergegas menuju kapal untuk bersama kami pergi ke Rawa Saban. Apa mereka kenal dengan kami? Tidak. Tetapi kami satu kapal lain ibu, apalagi bapak. Kami berada di atap kapal ketika pulau itu menjauhi kami—gerak semu ini kalo di fisika, ya? Selamat ulang tahun Pari. Selamat tinggal, hati-hati di jalan. Jangan lupa berkirim surat. Kalo susah cari perangko dan kartu pos, SMS aja, nanti Saya kirim perangko dan kartu posnya.

Suara mesin diesel meraung-meraung seperti keberatan ditumpangi kami. Mungkin karena kami banyak dosa, atau banyak orang. Apa saja. Sepanjang perjalanan di air ke Rawa Saban, seperti tak mau menyisakan sedikit pun momen, mereka orang-orang yang akan kembali menjadi orang kota berpoto ria dengan si pulau, matahari, air, dan perahu tentunya. Tapi tak lama sisa kantuk masih menyelimuti mata saya. Dan Saya pun tertidur, juga Chandra dan Aqil. Tiga yang lain? Entahlah. Mungkin mereka asik membicarakan kami yang sedang tertidur di atap kapal. Namun, tiba-tiba Saya terbangun! Ternyata kami hampir mendarat di terminal Rawa Saban. Kapal kembali sulit merapat karena surutnya air laut. Atau bahasa daerah Cadas, Sepatan dan sekitarnya, air sedang sa’at. Dengan santai kami melihat kesibukan dermaga pagi itu. Di saat bersamaan kerumunan orang memegang tambang dan menarik kapal yang kami tumpangi untuk merapat—Itu kapal kan, bukan kambing? Tiba-tiba lagi, saat sedang asik melihat kerumunan laki-laki yang menarik tambang, salah satu penarik berteriak: “Woi, turun atuh…dikira enteng kali. Nge-jedog aja di situ”—nge-jedog is diam saja. Saya baru sadar, kalau itu peringatan lisan pertama untuk kami yang berada di dalam kapal untuk segera turun sebelum mendapat SP alias surat pelemparan ke laut. Turunlah kami!

Niat hati ingin menemui Pak Hasyim sang kawan kami, apa daya tak tersampaikan. Pak Hasyim sepertinya tak masuk kerja pada hari itu. Padahal kami hanya ingin berterimakasih atas klaim kawan terhadap kami di depan Pak Mamat, kemarin siang. Sambil menungggu hingga jam 9 pagi, menunggu Pak Hasyim, kami berminum-minum ria di warung tempat kami menitipkan motor. Pak Hasyim tak kunjung dating, kami malah berpamitan dan berucap terima kasih kepada Pak Mamat sang salah satu Ketua RT di Pulau Pari sekaligus awak kapal Dewan Daru. Juga sambil bertukar nomor hape, karena sewaktu-waktu mungkin kami mau mengangkatnya lagi sebagai bapak angkat di Pulau Pari. Terima kasih Pak Mamat, terima kasih Pak Hasyim, terima kasih untuk semua tokoh yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam tulisan ini, karena kita tidak berkenalan. Akibatnya Saya dan teman-teman tidak tahu siapa nama kalian semua.

Motor diambil. Bilang dulu ke ibu penjaga warung. Mesin motor dinyalakan. Kami pulang. Sampai nanti Desa Surya Bahari!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s