Sepenggal Baduy

Selasa itu tanggal 5 Juli 2011, kami (Saya dan Ojud) berencana berangkat ke daerah yang dikenal masyarakat banyak sebagai desa wisata Baduy. Entahlah, tapi saya agak kurang setuju dengan istilah itu. Apa gunanya? Nanti aja kita bahasnya. Pagi itu, pukul 10.00 waktu Indonesia bagian Serang, saya menunggu rekan sesama perantau Jogja. Tapi sampai pukul 12.00 Ojud tak kunjung datang. Ada apa gerangan? Saya mulai khawatir dengan keberadaannya (lebay dikit tak apa!). Selidik punya selidik, Ojud terjebak macet di jalanan Jakarta dan di tol Jakarta-Merak. Saya pun memaklumi, “maaf ya, Jud? Itulah Jakarta dan sekitarnya” (seolah-olah saya pemilik Jakarta). Akhirnya sekitar pukul 13.00 waktu Indonesia bagian terminal Pakupatan, Serang saya bertemu Ojud. Ya, Ojud yang sedari tadi menunggu di sebuah mushola yang bersebelahan dengan warung kopi—coba tebak, Ojud abis sholat apa ngopi?—yang pastinya setelah ia turun dari bis jurusan Kalideres-Labuan. Dimana mereka? Kalideres ada di Jakarta Barat, Labuan ada di Banten bagian barat. Semua serba kebarat-baratan, tapi gak bule.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, sedikit oleh-oleh cerita Ojud selama stay di Jakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Pandeglang. Di sana kami akan bertemu dengan 2 orang teman yang sudah menanti. Tapi berhubung kami akan pergi kemana, terpaksa kami janjian di alun-alun Pandeglang. Ya itu, alun-alun yang ada patung badak bercula satunya di depan, ada monumen adipuranya, dan yang pasti ada lapangannya. Ya! Itulah alun-alun Pandeglang. Sambil menunggu, lapar pun datang. Karena saya memang belum makan dari pagi, dan Ojud pun menawarkan untuk makan bersama karena ada Abang Somay di sana. Bukan makan Abang Somay-nya, tapi makan dagangannya, “Somay”. Makan selesai, teman yang ditunggu pun datang. Fajar namanya. Ia datang sendirian dengan sebuah motor bebek bermerk “apapun”. Tak menunggu lama, kami melanjutkan perjalanan ke rumah salah seorang teman yang akan ikut ke desa Baduy, Dadin namanya.

Tibalah kami bertiga di sana. Di rumah Dadin. Sejenak berisitirahat setelah perjalanan panjang dari alun-alun Pandeglang menuju rumah Dadin yang kira-kira berjarak 1 kilometer. Kami, Saya dan Ojud pun banyak bertanya kepada mereka, Fajar dan Dadin, yang sudah berkali-kali ke Baduy soal persiapan ke desa yang terletak di Kabupaten Lebak, Banten itu. Apa yang bisa di bawa ke sana. Karena sebelumnya kami berdua juga sudah mencari tahu via banyak sumber, yang kebanyakan dari mesin pencari digital, Google. Setelah cukup fit untuk melanjutkan perjalanan sekitar pukul 14.30 kami berempat—karena sudah bertambah 2 orang—berangkat menuju tujuan kami.

Dalam perjalanan menuju Baduy, kami mampir sebentar di kota Rangkasbitung, Ibu kota Kabupaten Lebak, untuk menemui seorang rekan. Tepatnya rekannya Fajar dan Dadin, karena Saya dan Ojud baru bertemu dengan si Aa “lupa namanya” ketika itu. Berhentilah lagi sejenak untuk mempersiapkan kebutuhan yang akan kita gunakan selama beberapa hari ke depan di desa Baduy. Tiba-tiba gerimis mengundang, maksudnya gerimis mulai datang. Tapi kami tak pantang menyerah, pikir hati—jangan tanyakan sejak kapan hati bisa mikir—baru air, belum sapi. Kami pun melanjutkan perjalanan. Tapi apa daya, karena kami gak bawa jas hujan, alias pakaian anti air, kamipun menyerah dan memutuskan berhenti di sebuah warung isi pulsa. Kami tidak makan pulsa di situ, kami berteduh. Dari sini lah pelajaran di mulai.

Kami mulai saling bercerita satu sama lain soal apa yang kami tahu dan kami sok tahu. Mulai dari cerita Ojud tentang maksud kedatangan ke Baduy, hingga cerita Fajar dan Dadin—secara bergantian—tentang legenda Kerajaan Salaka Negara. Menurut mereka berdua yang juga di dengar mereka dari sumber lain, bahwa ada cerita tersembunyi tentang keberadaan Kerajaan Salakanagara di daerah Banten. Konon Kerajaan ini adalah kerajaan tertua di Indonesia atau Nusantara atau apalah namanya karena punya maksud masing-masing. Kerajaan ini telah ada sebelum Kerajaan Kutaikertanegara di Kalimantan berdiri. Salakanagara diperkirakan ada sekitar tahun 300 masehi, sementara Kutai Kertanegara dipercayai ada pada 400 masehi. Fajar atau Dadin pun bercerita pernah melihat peninggalan yang diduga sisa Kerajaan Salakanagara di Gunung Pulosari—kalo gak salah, berarti bener. Tapi kebenaran bahwa itu peninggalan sisa Kerajaan Salakanagara memang belum ada yang mengujinya. Jadi kesimpulan dari cerita tentang Salaknagara adalah masih dalam ranah mitos. Kalau pun ada yang mau menguji validitasnya, saya dukung! Dukung doa saja mungkin cukup.

Lama hujan mengairi aspal nan permai, kami mulai tak sabar menunggu. Jangan bilang kalau kalian berpikir kami akan melanjutkan perjalanan. Tidak! Meskipun kami sudah tak sabar, kami masih bertahan di warung isi pulsa yang ternyata yang punya adalah orang yang masih keturunan Baduy. Mungkin Baduy luar. Soalnya sangat kecil kemungkinan orang Baduy dalam hijrah ke kota dan berjualan pulsa. Entahlah. Tapi si Aa itu, ia yang menyapa kami saat berteduh sedikit bercerita tentang ia dan kerabatnya di Baduy. Berhubung lupa apa yang diceritain, jadi ceritanya disingkat aja ya? Singkat cerita, hujan pun mulai reda. Kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan dengan iringan gemercik rintik hujan bla bla bla. Apa kalian tahu berapa lama perjalanan yang akan kami tempuh dari Kota Rangkasbitung menuju Desa Ciboleger yang ada di pedalaman Lebak, sekitar 3 tahun berjalan kaki sambil ngesot. Tapi cukup 3 jam dengan kendaraan bermotor yang cuma cukup untuk 2 orang.

Sekitar pukul 19.00 waktu Ciboleger kami tiba. Langsung saja kami menitipkan motor di salah satu rumah warga yang terletak di sana, bukan di Pandeglang. Lapar kembali diundang. Kamipun memutuskan makan di sebuah warung yang berada di sebelah rumah warga tempat kami menitipkan motor. Makanlah kami dengan lahap, nasi putih, tahu, dan telor. Saya ditambah sama timun. Semua lupa harganya berapa, Ojud yang traktir. Selesai makan, perjalanan panjang sudah menanti di depan. Kami akan ke menuju Kampung Cicalaka, salah satu perkampungan di Baduy luar. Di sana Dadin dan Fajar sudah punya orang yang kenal mereka, atau Pak Pulung yang sudah mengenal mereka. Ya, nama orang yang akan kami datangi dan repoti adalah Pak Pulung. Lupa berapa lama kami berjalan menuju rumah Pak Pulung. Tapi yang saya ingat adalah, masyarakat Baduy tidak menggunakan listrik. Sehingga jadilah perjalanan kami gelap gulita seperti perjalanan menuju ke neraka—salah! Neraka banyak api, jadi terang. Kami hanya bisa mengandalkan senter yang kami bawa dari rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan yang kami tempuh selama 150 menit kalau gak salah, hanya sedikit orang yang kami papasi—jadi bukan jok motor aja yang bisa di’papas’. Sunyi, gelap, sepi tapi tidak horor menyelimuti susasana malam di Baduy. Tentram tanpa deru mesin atau alat elektronik yang bising. Namun di beberapa rumah kami masih menemukan ada bau dan suara yang berasal dari peradaban modern, radio! Mungkin kalau saja telinga kami lebih peka, akan ada suara orang main Playstation yang berada jauh bukan di Desa Baduy.

Tibalah kami di rumah Pak Pulung. Malam itu sudah gelap, karena sejak dulu malam memang gelap. Tak ada bunyi kehidupan di rumah Pak Pulung. Dadin pun mencoba memanggil penghuni rumah. Tak lama, salah seorang penghuni keluar. Dan tak lama setelah salah satu peghuni rumah itu keluar, Pak Pulung muncul dari sebelah rumah. Wah, ajaib! Darimana Pak Pulung bisa muncul. Ternyata tanya punya tanya, ia habis ngelawat ke rumah salah seorang tetangga yang baru saja meninggal karena dipatok oray alias ular dalam Bahasa Indonesianya. Orang itu wafat setelah 3 hari mengalami sakaratul maut karena gigitan ular yang katanya berjenis tanah. Maksudnya ular tanah.

Kembali ke Pak Pulung. Kenapa ia bernama Pulung? Itu karena ia telah mengadopsi atau mengangkat anak. Yang dalam Bahasa Sunda disebut pulung. Si anak yang diangkat pun bernama Pulung. Jadi, apabila ada orang yang memanggil si anak, bukan dengan nama seperti Robert, Silfia, Nurjanah, atau Udin. Tapi si anak akan dipanggil Pulung, karena ia tidak punya nama. Karena anaknya bernama Pulung, si bapak pun disebut Pak Pulung. Mengerti? Kalau kamu mengerti berarti cerdas, karena saya sudah bingung. Ada cerita unik, menurut Dadin, si istri Pak Pulung yang entah dipanggil Ibu Pulung atau tidak, pun tidak tahu siapa nama asli Pak Pulung. Ia mengenal Pak Pulung ya sebagai Pak Pulung, bukan Umar apalagi Icha. Dan cerita Pak Pulung ini ada di setiap perkampungan di Baduy, baik Dalam maupun Luar. Pulung seperti menjadi fenomena yang khas dari masyarakat Baduy.

Hari semakin larut, kami pun mulai terasa lelah. Setelah sedikit menyeruput kopi dan air putih, kami dipersilakan masuk untuk kemudian tidur. Karena tadi kami ngobrol di teras rumah. Karena keesokan paginya kami akan melanjutkan perjalanan ke perkampungan Baduy dalam yang waktu tempuhnya kurang lebih 3 jam kecepatan cahaya. Tidur!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s