Tentang Buruh dan Kritik Akademisi

“Memang senjata utama buruh itu adalah demonstrasi. Namun jangan libatkan masyarakat,”

Ini statement yang keluar dari mulut seorang (yang katanya) sosiolog, yang saya copy paste dari sebuah portal berita online. Kalimat ini terucap saat menanggapi soal aksi pemblokiran jalan tol Cikampek oleh kurang lebih 17.000 buruh di Bekasi, 27 Januari lalu.

Aksi buruh tersebut bukan tanpa alasan. Mereka menuntut perusahaan untuk memenuhi SK Gubernur Jabar No.561/ Kep.1540-Bansos/ 2011, UMK Bekasi sebesar Rp 1.491.866,-,upah kelompok II Rp 1.715.645,- dan kelompok I Rp 1.849.913. Tapi, SK ini kemudian digugat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bekasi dan dikabulkan oleh PTUN Bandung. Hal ini yang akhirnya memicu aksi akbar buruh di Bekasi.

Oke, mungkin kita gak akan bahas tentang perdebatan antara pemerintah, buruh, dan Apindo-nya, tapi coba bahas tentang komentar dari sang sosiolog dari salah satu universitas bonafit di Indonesia tersebut.

Aneh, ketika mendengar statement itu keluar dari seorang akademisi yang seharusnya bisa melihat masalah ini secara komprehensif. Memang, apa yang menjadi masalah? Pertama, selain pernyataan tersebut, ia juga menambahkan bahwa, masalah buruh hanya terjadi antara pihak buruh dan perusahaannya. Sehingga buruh tidak perlu sampai memblokir jalan tol, cukup dengan aksi mogok kerja, masalah akan bisa selesai. Begitu kira-kira analisisnya. Lalu yang menjadi pertanyaan saya adalah, apa yang bisa dilakukan kelas-kelas tertindas untuk berjuang di tengah masyarakat yang sakti seperti di Indonesia ini, Jabobetabek khususnya? Sejauh yang saya tangkap, mereka memang harus melakukan aksi pelumpuhan total akses-akses perputaran modal. Sekadar mogok kerja? Cuma mimpi di siang bolong.

Apa yang dilakukan buruh-buruh Bekasi, bagi saya adalah sebuah pilihan jitu. Mereka sadar, agar tuntutan mereka bisa dipenuhi adalah dengan menghentikan semua aktivitas kerja dan lalu lintas perdagangan (via jalan tol). Dengan begitu, semua orang akan merasakan dampak yang sama, dan ekspektasinya, apakah masyarakat akan terganggu atau malah bersimpati, mereka masih bertaruh. Dan menurut media massa, masyarakat tidak bersimpati dengan aksi buruh tersebut karena menggangu aktivitas mereka, dan bahkan sempat diberitakan bahwa sebuah motor milik buruh dibakar oleh pengguna jalan tol yang mulai marah. Masih diragukan validitasnya, tapi anggaplah bahwa itu benar. Ini sangat kontradiktif bagi saya, mereka (pengguna jalan tol) merasa terganggu dengan aksi pemblokiran tersebut.

Apa mereka tidak berpikir, bahwa apa yang buruh lakukan adalah ekspresi ketergangguan mereka atas kebijakan yang dilakukan pengusaha? Mereka yang marah dan membakar motor buruh, juga mengalami hal yang sama, bukan? Apa yang mereka lakukan jika terganggu? Melawan, mengekspresikannya dengan berbagai bentuk protes. Jadi, apa yang dilakukan buruh sebenarnya (mungkin) sebagai pemantik kepekaan sosial masyarakat. Mempertanyakan bentuk solidaritas dan gotong royong yang selama ini dibanggakan oleh orang-orang Indonesia.

Namun, ternyata itu tidak berhasil. Masyarakat marah dan dikatakan bahwa mereka tidak bersimpati. Jika benar demikian, tidak aneh bagi saya. Masyarakat Jabodetabek adalah contoh masyarakat yang ‘sakit’. Mereka masih bisa tetap berebut antrian Blackberry murah (hingga berhari-hari), sementara ada seorang yang membakar diri demi memancing amarah sosial, karena gusar melihat situasi sosial yang tak kunjung membaik. Pascatragedi pembakaran diri pun, tidak ada aksi solidaritas sosial. Masyarakat masih asik berkumpul di Starbucks, atau sibuk berdiskusi menganalisis penyebab Sondang membakar diri. Kematian Sondang cukup selesai di meja diskusi. Ironis, bukan?

Atau tentang konflik agraria yang terjadi di berbagai daerah. Tak ada reaksi dari masyarakat, baik umum, atau spesialis-spesialis seperti akademisi, pelaku politik, dan lain-lain. Mereka hanya sibuk bergenit di depan kamera, berbicara seolah paling paham tentang solusi konflik. Sangat jauh membandingkan antara akdemisi Indonesia dengan akademisi-akademisi barat. David Graebber, Naomi Klein, Noam Chomsky, para akademisi kaliber internasional, bahkan rela turun ke jalan selama Occupy Wall Street akhir tahun lalu. Berharap masyarakat bersolidaritas, sama saja seperti menunggu bidadari turun dari kayangan. Bisa dikatakan, semua pemicu ledakan sosial sudah ada, tapi kenapa tidak terjadi di masyarakat Indonesia. Karena tidak sadar, ternyata bensin telah berubah menjadi air.

Selanjutnya, tentang pernyataan bahwa masyarakat menjadi tidak simpati karena aksi tersebut. Seolah mengatakan bahwa buruh harus melakukan aksi dengan santun sehingga masyarakat bisa bersimpati. Lagi-lagi seperti mimpi di siang bolong. Buruh tidak butuh simpati dari masyarakat yang demikian. Mereka hanya perlu melakukan aksinya dengan total. Dengan cara santun atau dengan keras, masyarakat toh tidak akan merespon pemantik-pemantik yang dilemparkan. Indonesia bukan lagi masyarakat komunal. Gotong royong atau solidaritas cuma romantisme nenek moyang. “Ada ketidakadilan? Oh, biarkan saja, yang penting tidak mengganggu hidupku. Dan jangan sampai protes itu mengganggu aktivitasku.”

Karena memang, dalam beberapa dekade terakhir, kelas menengah di Indonesia tumbuh dengan pesat. Semua berlomba menjadi kelas berkuasa, dan melupakan hakikatnya sebagai kelas tertawan. Buruh hanya akan bisa bersolidaritas dengan sesama buruh atau petani, dan kelompok marjinal lainnya (bahkan solidaritas dalam tubuh buruh dan petani sendiri masih banyak dipertanyakan).

Jangan lupa, buruhlah yang membuat semua kebutuhan hidup modern kalian. Mulai dari hal yang remeh seperti jarum, pulpen, celana dalam, kaos kaki, hingga mobil yang digunakan sehari-hari, pesawat terbang dan lain sebagainya. Tanpa buruh, apa bisa semua kebutuhan kalian terpenuhi. Sementara mereka berjuang untuk bisa tetap bekerja untuk kelangsungan hidup masyarakat, dan kalian malah berbalik mencaci mereka, hanya karena mereka mengganggu aktivitas kalian.

Kembali ke soal analisis sang sosiolog. Nah, mungkin sosiolog tersebut adalah salah satu dari banyak elemen masyarakat yang sakit hari ini. Sebagai akademisi ia bisa menjadi tolok ukur kecerdasan masyarakat. Jika analisis tentang aksi buruh hanya sebatas itu, berdoalah agar masyarakat ini terberkahi dan jadikanlah kami masyarakat total sakit, agar tidak ada suara-suara protes yang menyebalkan bagi orang-orang sakit. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s