‘Jangan Naikkan Gaji Kami!’

Hanya ingin menumpahkan sedikit racauan yang tadi malam sempat menjadi bahan obrolan dengan kawan-kawan di sebuah warung kopi. Ceritanya begini: Masih terkait soal aksi buruh dan tuntutan kenaikan upah di beberapa wilayah, terutama Bekasi dan Tangerang. Aksi akbar buruh yang menuntut perbaikan gaji, pasti tidak melulu mulus. Atau dengan kata lain tidak selalu mendapatkan dukungan dari masyarakat. Bahkan kemarin, saat ribuan buruh Bekasi memblokir tol Cikampek, masyarakat pengguna jalan tol tersebut meluapkan amarahnya dengan membakar salah satu motor milik buruh. Aksi tidak simpatik masyarakat ini bisa ditengarai sebagai sebuah bentuk kekecewaan. Bukan kecewa karena buruh digaji kecil oleh korporasi-korporasi itu, tapi kecewa karena aktivitas mereka terganggu akibat aksi buruh yang tidak santun. Tetapi, suara-suara sumbang itu tidak hanya datang dari elemen masyarakat non-buruh–sedikit aneh untuk menggunakan istilah non-buruh, karena sebenarnya semua pekerja yang menopang perputaran roda kapitalisme adalah buruh, tidak peduli dia operator mesin, atau manajer sekalipun. Yang bukan buruh hanya si pemilik modal. Tapi saya persempit pengertian buruh sesuai dengan pandangan awam, bahwa buruh adalah para pekerja kasar–karena faktanya masih banyak dari kalangan buruh sendiri yang menolak aksi-aksi tersebut. “Udahlah gak usah demo-demo. Udah untung kita bisa kerja!” atau “Ngapain ikut demo? Mau dipecat/ gak dapet bonus?”.

Kira-kira itulah realitanya. Saya sedikit berpikir, atau jangan-jangan sebagian buruh pun sudah terkontaminasi ‘kewarasan’ kelas menengah? Karena mereka mencaci orang yang sebenarnya juga memperjuangkan hak mereka. Ibaratnya (hanya perumpamaan), orang Indonesia menghujat pahlawan-pahlawan nasional yang mencoba ‘memerdekakan’ mereka dari penjajah (sebenarnya ini bukan contoh yang tepat, karena masih menjadi ironi bagi saya. Tapi lupakanlah). Hegemoni mental individualis; abai dengan yang lain namun masih mencari celah-celah untuk meraup untung (oportunis ?), yang ditumbuhkan kapitalisme, memang sudah menggerus komunalitas dalam masyarakat. Sehingga, sangat lazim jika ada ada kekhawatiran dari mereka yang menolak berjuang, bahwa mereka akan sendirian. Lagi-lagi, gotong royong atau solidaritas cuma jargon masa lalu, yang diromantisasi di ruang-ruang kelas sekolah, hingga ke ruang publik yang sebenarnya tidak memiliki esensi nilai itu sendiri. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”,  yang sebenarnya menjadi jargon universal, direduksi (hanya) ke dalam semangat nasionalisme yang anti terhadap penjajahan bangsa asing. Tetapi tidak terhadap penjajahan kelas pemodal terhadap kelas tertindas. Ketidakpercayaan terhadap sesama itulah yang sengaja ditumbuhkan kapitalisme untuk mencegah solidaritas perjuangan buruh dan elemen marjinal lainnya.

Buruh sebagai kelompok kepentingan (interest group), nyatanya tidak cukup untuk membuat kebijakan menjadi adil bagi mereka–di samping korporasi dan pemerintah, dalam perspektif good governance. Akhirnya, muncul serikat-serikat buruh  sebagai kelompok penekan (pressure group) yang menuntut hak atas upah yang layak. Tanpa aksi-aksi yang mengganggu perputaran modal, korporasi dan pemerintah tidak akan dengan berbaik hati memberikan kenaikan upah. Tanpa memblokir jalan tol, buruh di Bekasi belum tentu mendapat upah layak. Tanpa ancaman untuk menduduki Bandara Soekarno-Hatta, Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Tangerang dan Pemprov Banten tidak akan menyepakati kenaikkan UMK/ UMS untuk wilayah Tangerang Raya. Di dunia industri yang semakin predatoris, buruh memang harus semakin berani menuntut hak-haknya. Karena sesungguhnya, ancaman pemecatan oleh perusahaan dan sebagainya, tidak lebih mengerikan dibanding ancaman buruh untuk menghentikan akumulasi kapital, walaupun hanya sehari.

Keberhasilan-keberhasilan tersebut adalah tuah dari usaha keras yang dilakukan buruh sebagai pressure group. Karena tanpa aksi-aksi radikal tersebut, pengusaha dan pemerintah akan menganggap bahwa buruh akan baik-baik saja dengan gaji yang seadanya. Dan bagi saya, setiap elemen buruh harus konsisten dengan apa yang diperjuangkannya. Bagi mereka yang berjuang dengan total, turun ke jalan, dipukuli aparat dan melampaui setiap momen yang tidak mudah untuk dilakukan, terimalah kenaikkan upah yang diperjuangkan. Sementara, bagi mereka yang bersuara sumbang dengan aksi-aksi tidak santun rekan-rekan buruh mereka, seharusnya (jika mereka sadar) mereka menolak saat upah mereka dinaikkan. Karena mereka sudah legowo, bahkan mungkin saat mereka tidak digaji: “ikhlas lah, sudah untung kita bisa kerja!”. Jika mereka yang menerima kenaikkan gaji, sementara mereka tidak melakukan apapun untuk mengusahakan hak mereka, apa istilah yang tepat selain oportunis? Tapi saya pikir, rekan-rekan buruh yang sudah berjuang tidak akan tega melihat rekannya yang lain (yang tidak berjuang) untuk tidak menikmati kenaikkan upah yang mereka perjuangkan. Mungkin itu yang disebut dengan berjiwa pahlawan (?).

Mengutip sebuah jargon dari kelompok libertarian-kiri: ‘kalian tidak butuh bos, tapi bos yang butuh kalian!’. Itu mengingatkan bahwa posisi tawar buruh selalu lebih tinggi dibanding pemilik modal.[]

Ruang Berantak, Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s