Lagi, Pari

Lagi, untuk ketiga kalinya, saya menuju Pulau Pari di Kepulauan Seribu. Tentunya bersama beberapa teman (tepat manusia)*. Prioritas kunjungan kali ini bukan untuk jalan-jalan. Ya, ada juga memang keinginan untuk sekedar melihat hamparan biru air laut, sejauh mata memandang. Tapi, saya sendiri lebih ingin bresilaturahmi dengan Pak Ilhamsyah dan Pak Mamat, yang sudah saya (atau kami) kenal saat kunjungan sebelumnya. Kebetulan momennya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

Dengan perencanaan mendadak, saya mengajak beberapa teman: Aqil, Candra, Adi (ini pasukan yg sebelumnya sudah pernah ke sana), Iklas dan Fahmi (ini newbie, gan. Haha). Seperti biasa, perjalanan di mulai dari rumah saya yg berada di bilangan Cadas. Mereka semua, kecuali Aqil, berkumpul untuk kemudian menyusul Aqil di rumahnya. Singkat cerita, kami sudah berada di Pakuhaji, mampir ke sebuah mini market untuk membeli bekal dan beberapa bingkisan untuk orang-orang yang akan kami kunjungi di sana. Selepas itu, kami menuju dermaga Surya Bahari, di mana kami bertemu dengan teman lama kami yang lain, Pak Hasyim, bersama komandannya Pak Nurdilam. Pak Hasyim adalah petugas pengatur lalu lintas pelayaran dari dermaga SB, yang kami kenal saat pertama kali menyeberang ke Pulau Tidung lewat dermaga yang sama. Ia juga yang menitipkan kami kepada Pak Mamat saat pertama kali melakukan perjalanan ke Pulau Pari. Dari sanalah kami kenal baik dengan Pak Mamat.

Setelah sedikit berbincang di kantor petugas Dishub dermaga, kami langsung menuju kapal yang siap berangkat menuju Pari. Penuh sesak. Di atap kapal pun penuh dengan, motor, kasur, tabung gas, galon, dan tentu saja manusia. Karena takut tertinggal kapal, kami naik dan memilih posisi di atap buritan kapal. Tapi, kemudian seseorang muncul dari ruang kemudi dan berteriak kepada penumpang bahwa kapal overload. “Lima orang turun, dah. Kalo ga ada yang turun, kapal ga jalan” teriak si bapak. Ya, akhirnya kami berinisiatif turun, karena diimingi kapal cadangan menuju Pari yang tengah berlayar. Jujur, kami juga takut untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal overload. Sempat terpikir untuk mencari kapal lain menuju pulau lain. Tapi akhirnya diurungkan karena memang tujuannya adalah bersilaturahmi dengan beberapa orang yang kami kenal di sana–ini bingkisan mau diapain juga kalo ga jadi.  Kami pun menunggu kapal berikutnya, kapal “Dewan Daru”. Itu nama kapal yang dioperasikan oleh Pak Mamat. Sambil menunggu kapal cadangan, kami habiskan waktu untuk makan dan minum di sekitar dermaga. Maklum, berangkat pagi, jadi belum sempat icip makanan.

Kapal datang. Kami diberitahu Pak Hasyim yang menyusul kami yang berada di sebuah mushola yang cukup berjarak dari dermaga. Kapal sudah penuh muatan. Kami memutuskan untuk naik, sebelum ditolak jadi penumpang lagi. Tapi ternyata masih cukup lowong, karena banyak barang bawaan yang dipepatkan dilambung kapal. Kami pun bisa selonjoran untuk tidur.

Akhirnya, mendarat di Pulau Pari. Sudah sore, jadi kami putuskan untuk langsung menuju salah satu sudut pulau di mana ada sebuah pantai yang disebut pantai Pasir Perawan. Berjalan menyusuri jalan setapak, pulau ini terlihat sedikit berbeda dari saat terakhir kali saya ke sana. Sudah banyak petunjuk menuju daerah kunjungan favorit (baca: Pantai Pasir Perawan). Ternyata bukan sedikit berbeda, tapi banyak berbeda. Beberapa meter sebelum bibir pantai, ada gapura dengan tulisan “Selamat Datang”, dan ada beberapa orang yang berjaga di sana. Mereka adalah penagih biaya “kebersihan”. Itu pungutan untuk perawatan pantai, bahasa resminya retribusi. Saya lihat sekeliling, memang sangat berbeda. Sudah banyak kios-kios berdiri di tepi pantai. Ada saung untuk parkir sepeda wisatawan. Ada toilet berbayar. Dan sudah sedikit hamparan ilalang di sekitar pantai, karena pembersihan. Di satu sisi senang, masyarakat sana sudah mulai bisa kembali mencari nafkah, setelah budi daya rumput laut dan nelayan kehilangan lautnya karena tercemar limbah dari Jakarta. Di sisi lain, saya mengeluhkan kultur masyarakat yang kian komersil karena gerusan industri pariwisata. Bagaimana tidak? Mereka menyewakan rumahnya untuk wisatawan yang datang, sementara mereka sendiri tidur di sepetak ruangan yang berada di bagian belakang rumah. Satu tikar bisa ditiduri satu keluarga yang berjumlah 3-5 kepala. Itu yang Pak Ilham bilang, “kalah juga kita sama uang”. Semua harus ditukar dengan uang. Pantai, sepeda, bahkan bermain voli, atau sekadar mendirikan tenda untuk bermalam pun dikenakan biaya. Dalam hati, “Ini masih lebih baik daripada uangnya masuk ke kas pemda. Mudah-mudahan benar-benar bermanfaat untuk masyarakat setempat”.

Situasi ini juga merupakan hasil dari konflik tanah antara masyarakat setempat dengan sebuah perusahaan. Saya pernah menuliskan detail konfliknya di tulisan tentang Pulau Pari sebelumnya. Beberapa bulan sebelum kunjungan kali ini, saya memang mendengar kabar dari seorang teman bahwa Pari sedang memanas. Tapi saat dikonfirmasi dengan warga setempat, seperti tak ada cerita baru. Entah karena memang tidak ada cerita baru terkait hal itu atau sengaja ditutupi dari warga non-lokal. Tapi setelah berbincang cukup cair dengan pak Ilham yang juga merupakan Ketua RW setempat, ada dinamika terkait persoalan tanah tersebut. Saya cuma mengambil kesimpulan, di Pari itu cuma butuh provokator buat menggerakkan warga untuk menuntut tanahnya. Sementara saat ini, belum ada warga yang berani ambil posisi itu karena berbagai pertimbangan. Mungkinkah ini akan menjadi bom waktu, atau warga akan melunak karena invasi uang ke pulau tersebut? Entahlah.

*

Malam itu kami habiskan untuk berbincang dengan Pak Ilham, makan malam, dan menikmati pantai di malam hari dengan seorang akamsi (anak kampung sini), bernama Apoy. Kami pun urungkan niat ke rumah Pak Mamat, karena dia masih juga sibuk hingga malam hari untuk mengantar tamunya berkeliling pulau. Setelah dari pantai, kami menuju ke sebuah rumah yang masih direnovasi. Rumah itu  milik seorang pengusaha yang dititipkan kepada pemuda setempat untuk menjaganya. Secara kebetulan, si penjaga itu adalah teman dari Aqil, jadilah kami mendapat penginapan gratis. Walaupun masih dalam tahap renovasi, cukuplah dengan satu bale dan sebuah kipas angin untuk menyamankan badan saat tidur. Tapi saya, Fahmi, Candra dan Iklas tidak tidur sampai jam tiga pagi. Kami habiskan malam itu dengan bermain kartu. Sementara Adi dan Aqil tidur lebih cepat.

Waktu tidur kami yang bermain kartu cuma sebentar. Karena jam lima kami harus bangun agar tidak ketinggalan kapal yang siap menuju Rawa Saban pada pukul enam pagi. Kami meninggalkan rumah dan berpamitan dengan yang empunya pulau, Pak Ilham. Ternyata sudah jam enam lebih lima belas menit, deru mesin kapal sudah terdengar dari kejauhan. Kami pun berlarian, sampai akhirnya asa kami dipupuskan oleh seorang warga, “ga usah lari-lari, santai aja, masih ada kapal yang berangkat”. Tiba di dermaga, kapal sudah menjauh dan masih banyak penumpang yang belum terangkut karena kapal overload lagi. Menunggu sebentar, kapal kedua mulai merapat usai keluar dari persemayamannya di sisi barat dermaga. Kapal berangkat, saya memilih tidur di atap kapal karena masih menyisakan kantuk tadi malam.

Satu setengah jam perjalanan laut, akhirnya kami tiba di dermaga Surya Bahari. Minum minuman dingin, ambil motor di penitipan, perjalanan kami lanjutkan di darat menuju rumah Aqil untuk makan Laksa.

Dua kapal cadangan, dua teman lama, dan Pulau Pari yang banyak berubah. Semoga saat kami kembali ke sana, keadaan menjadi lebih baik, untuk mereka dan untuk semua orang (kecuali pemda dan perusahaan yang memonopoli tanah pulau :p).[]


    *) Kalo kata Pak Nurdilam (Komandan Syahbandar Guard Cituis), teman itu tepat-manusia. Adalah manusia yang tepat untuk dijadikan partner. Bukan kawan, yang menurutnya, kapan pun bisa jadi lawan.

   Tengah Malam di Baciro, 29 Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s