Mendaki Pulosari

Perjalanan hari itu di mulai dari rumah Zani. Oh salah, rumah Saya. Tepatnya rumah orang tua Saya. Hari itu adalah hari-H, rencana kami menuju Gunung Pulosari, di Pandeglang, Banten. Sabtu sore (3/9), pukul 3, setelah packing semua peralatan yang siap Saya bawa, Saya langsung menuju rumah Zani. Tempat yang disepakati untuk berkumpul. Setibanya di rumah Zani, tak ada seorang pun. Hanya ada Bapak  dan Ibunya Zani, sementara Zani sendiri belum selesai packing. Saya menunggu. Kesepakatan waktu kumpul jam 4 sore pun, molor. Hingga pukul 5, si Aa dan Ifan belum juga datang. Bahkan Saya sempat khawatir kalau perjalanan ini batal. (Ah gila, masa udah pamit sama orang rumah, terus balik lagi dan bilang “ga jadi naek gunungnya”. Mau ditaro mana muka gue?). tik tok..tik tok.. hingga menjelang magrib, mereka belum juga muncul, kabar pun tak ada. Sampai akhirnya, 2 menit sebelum adzan waktu Tangerang. Si Aa member kabar via pesan singkat. “ketemu di Nagrak ya”, Itu isi pesan dari si Aa. Alhamdulillah, akhirnya datang juga kalimat itu. Kami (Saya dan Zani) pun bersiap. Kami siap ke Nagrak*, ketemu si Aa dan Ifan. Tapi sholat magrib dulu, coy! Kelar sholat, kita angkat tas, dan pamit kepada orang yang ada di rumah Zani saat itu, Ibu dan Bapaknya Zani. Wassalamu’alaikum.

Tiba di Nagrak, sekitar pukul 6.15 sore, ternyata mereka masih sholat maghrib, di masjid persimpangan Nagrak. Akhirnya tiba saatnya kami beranjak menuju Pandeglang, tepatnya ke Menes, ke rumah seorang kerabat.  Di sanalah kami akan bermalam, dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya, hari Minggu. Perjalanan cukup lancar malam itu. Lewat jalan alternatif, via Mauk-Kronjo-Tirtayasa-Pontang-Serang, suasana mudik masih terasa. Jalan yang biasanya sepi menjadi ramai, dengan keberadaan penjaja semangka di sepanjang jalan tersebut. Ya, dari Mauk hingga Kronjo, banyak sekali tukang semangka yang baru saja memanen dagangannya dari ladang sepanjang jalan Mauk-Kronjo. Jam 9 malam, kami beristirahat di sebuah SPBU di Pandeglang. Pantat panas, ditambah lapar dan haus. Akhirnya, pukul 10 malam, kami tiba di rumah kerabat, di Desa Kadu Bungbulang, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Indonesia. Di rumah itu, kami disambut oleh Yuni dan Fajar, kakak beradik penghuni rumah itu. Selain niat kami untuk bermalam, kami juga meniatkan dari rumah untuk meminjam perkakas outdoor yang dimiliki Fajar, yang kebetulan juga pegiat pecinta alam di sebuah universitas. Awalnya hanya ingin meminjam matras, tak dinyana, Fajar juga meminjamkan carrier yang kebetulan lagi, di antara kami tidak ada yang punya/ bawa. Sambil berbincang di ruang tengah, Yuni pun menawarkan kami makan malam. Ternyata memang sudah disiapkan. Dan memang kami lapar. Obrolan dilanjut sambil makan, minum, dan ngopi. Selesai makan, kami melanjutkan ngobrol di ruang tengah (lagi). *demen banget ngobrol*😀. Jam sudah menunjukkan pukul 00.30, selesai sudah sesi obrolan malam itu. Kami semua tidur.

Krik. Krik. Krik

 

 

Jam 6 pagi Saya terbangun. Melihat sekeliling. Masih pada tidur. Saya tidur lagi. Jam 8, Zani membangunkan kami semua. Siap2, belanja logistik, juga packing ulang. Sedapnya pagi hari di sana, alam yang masih asri, kopi panas di pagi hari, dan lalu lalang aktivitas manusia (yang bukan manusia dilarang disebut). Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam kami lalui dengan packing, sambil ngobrol, sambil makan. Tidak semuanya dilakukan pada saat yang bersamaan, satu-satu lah. Jelang waktu keberangkatan, kami masih menunggu. Iya, kami berempat menunggu hingga tiba si mules-mules. Kami mau cuci perut, dulu sebelum naik gunung. Takut berabe di atas. Jam 12 kami jalan. Maksudnya naik motor, menuju basecamp pendakian Gunung Pulosari. Jaraknya, kira-kira 15 menit dari rumah kerabat kami. Tiba di kaki gunung, kami beli telor (gak penting!). Kami kembali makesure (bahasa lu, malih!), apa yang harus di bawa ke atas? Gak mungkin kami bawa motor kami ke atas gunung. Oke! Semua siap. Pukul 13.30 kami berangkat.  #NowPlaying: Naik-Naik ke Puncak Gunung.

Saya bingung merinci detail perjalanan, naik. Yang pasti, butuh waktu kurang lebih 4 jam untuk bisa mencapai puncak. Ada dua spot yang bisa menjadi tempat istirahat dan bersantai: Curug Putri dan Kawah Pulosari. Berangkat dari basecamp, kami berjalan sejauh 700 meter, dan beristirahat di sebuah shelter, yang memang disediakan pengelola. Dari tempat ini, masih harus menempuh jarak 500 meter lagi untuk tiba di Curug Putri. Dan masih 1200 meter lagi untuk tiba di Kawah Pulosari.  Dari shelter kami beristirahat, butuh waktu tempuh kurang lebih 30 menit, untuk ke Curug Putri. Setibanya di sana, cukup kecewa, curug-nya tak sebagus yang diceritakan orang. Ya, menurut pengelola dan beberapa teman yang belum lama naik ke sana, memang air Curug Putri sedang surut karena kemarau panjang. Jadilah, kami cuma sebentar mampir, untuk registrasi pendaki dan mengisi botol-botol air, untuk bekal masak. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya: Kawah Pulosari (ya, pasti harus lewat sana). Butuh waktu 1 jam, dari curug menuju kawah, dengan tingkat kesulitan trek medium (ea, belagu juga gw :D). Trek menuju kawah tidak terlalu menyiksa. Akhirnya, tibalah kami di Kawah Pulosari. Sebuah warung bertenda, kepulan asap belerang, gemuruh perut bumi dan nyanyian kemping-ers menyambut kami. Itulah waktunya merebus telor! Makanya kami sempatkan membeli telor di kaki gunung tadi. Tujuannya: merasakan masak telor di uap belerang (norak banget ye? Ha ha).

Sesi makan telor berakhir. Kami pun mengucapkan salam perpisahan dengan ibu penjual makanan ringan di kawah tersebut (dadaaah ibuu…). Perjalanan di lanjutkan. Langit menghitam, rintik air mulai turun. Kayaknya buukan hujan, cuma air dari kabut yang dibawa angin. Target kami, sebelum sunset harus sampai di puncak. Tapi rasa-rasanya gak akan kesampaian. Butuh waktu 2 jam untuk sampai di puncak, sedangkan kami berangkat dari kawah sekitar pukul 16.15 WIB. Dari kawah, ada 2 pilihan jalur yang bisa dilalui: jalur vertikal dan horisontal. Sesuai kesepakatan, kami memilih jalur horisontal (padahal si Aa, pengen lewat yang vertikal). Tak disangka, ternyata di jalur horisontal, dibeberapa titik memiliki kemiringan mencapai 80 derajat. *mikir, gimana yang vertikal*. Harus diakui, trek dari kawah menuju puncak, meskipun jalur (katanya) horisontal, cukup sulit dan menantang. Di perjalanan menuju puncak, beberapa kali bertemu persimpangan. Cukup hati-hati kami memilih jalan, karena ada yang menyerupai jalur air, semak belukar, dan jurang.  Tak lupa juga kami beri penanda, biar gak salah jalan saat turun nanti.

Hari sudah menggelap, kami belum tiba di puncak. Beberapa kali menemui puncak bayangan, tapi ketemu jalur lagi -___-*. Sekitar pukul 6 sore, akhirnya bertemu dengan puncak betulan. Betulan puncak. Cirinya: ada semen bekas tiang pemancar radio yg sudah tak terpakai. Langsung kami cari lahan untuk membangun rumah. Bukan, maksud Saya tenda. Setelah ditimbang-timbang, dan di banding-bandingkan, kami memilih tanah kosong dan datar yang agak ke barat dari puncak. Tenda dibangun. Perkakas dikeluarkan. Logistik disusun. Kompor dan nesting dipesiapkan. Kami mau masak! Ya, cuma itu yang kami harapkan: masak air untuk mie dan kopi. Sepanjang jalan kami terus membayangkan kopi dan mie. Bahkan untuk menyemangatinya kami bernyanyi “pucuk…pucuk…” *meniru sebuah iklan minuman teh kemasan. Namun, tetiba ada hal yang tak diduga terjadi: kompornya rusak! Dan kami gak bisa masak! Berkali-kali mencoba mengakali kompor dengan peralatan seadanya yang kami bawa, tapi tak kunjung bisa. Kami pasrah. Membayangkan malam itu cuma dinikmati dengan susu dingin, dam mie kremes. Tapi beruntung, kami membawa minyak tanah yang semula untuk lentera. Jadilah, minyak itu untuk membakar kayu-kayu yang tak juga kering. Jadilah, kami minum kopi dengan air, dan mie rebus setengah matang, karena api yang nyala-hidup nyala-hidup.** Tetapi tak apa, semua menjadi nikmat di gunung *tetep nyesel, kenapa ga ngejajal kompornya pas di bawah L*. Pesta malam itu usai, kami memutuskan untuk bobo. Ya, bobo bareng di tenda. Dingin mulai menusuk. Tapi untuk tak ada yang lain, yang menusuk.

Jam 2 malam, si Aa membangunkan kami untuk sahur. Tapi kan ini sudah bukan ramadhan lagi? Ternyata si Aa, membangunkan kami karena kedinginan dan bengis (kebelet ngising a.k.a kebelet boker). Saya yang kedinginan mmasih meringkuk di pojokan tenda, sementara Zani membuatkan lubang kakus dadakan di sebelah tenda. Untuk apa? Ya, untuk si Aa yang tak tahan lagi. Ternyata dia punya alergi sama salah satu merk kopi instan. Ha ha. Setelah bengis si Aa terlegakan, kami melanjutkan istirahat, biar bisa bangun pagi-pagi dan menantikan sunrise di puncak gunung. Jam 6 kurang 15, sebuah suara terdengar, Ifan berteriak “mau lihat sunrise gak?”. Saya dan Zani tersentak, “jam berapa sekarang? waduh, udah terang!”. Buru-buru kami keluar tenda, mencari spot dimana kami bisa melihat sunrise dan, puncak di pagi hari. Kamera dikeluarkan. Tapi lagi-lagi kami kecewa: Sunrise-nya ketutupan pohon dan semak! Akhirnya cuma bisa melihat kawah dari puncak. Sambil menunggu matahari meninggi, kami mempersiapkan api lagi, untuk masak air, yang airnya diperuntukkan untuk kopi, mie dan susu. Pagi hari itu sungguh nikmat, kopi di pagi hari, di puncak gunung. Mie telor setengah matang, kurang air dan keasinan. Nikmat!

Pukul 9 pagi waktu Indonesia barat, kami bongkar tenda, packing, dan bersiap turun gunung (untuk mencari sayembara, mencabut pedang dan menikahi seorang putri raja). Bukan! Salah cerita! Kami turun untuk pulang kembali ke habitat kami yang sesungguhnya! Sambil packing ternyata ada beberapa kelompok yang telat memencet bel finish. Salah lagi! Mereka ke puncak untuk menikmati suasana pagi. Selesai packing, kami turun. Beruntung tak ada hambatan sepanjang perjalanan pulang. Lancar jaya! Berhenti di kawah untuk masak mi dan telor, dan berisitirahat sebentar. Kemudian turun lagi ke Curug Putri. Makan es kebo yang dijajakan seorang bokamsi (bocah kampung sini). Laporan ke penjaga, dan memberitahu bahwa kami sudah turun. Selesai sudah misi kami. Tak sampai 4 jam, perjalanan pulang, dengan beberapa kali istirahat yang cukup lama. Mungkin, jika turun tanpa henti, bisa ditempuh dengan waktu 2-3 jam saja. Kelaparan yang melanda akibat kompor rusak, ditambah bayangan tukang es selendang mayang yang kemarin ditemui sebelum naik, membuat kami bersemangat untuk turun. Setelah berhenti di curug, kami tak berhenti lagi. Perjalanan terus ditembus tanpa istirahat, sambil membayangkan es selendang mayang. Tapi untuk ketiga kalinya kami kecewa: tukang es selendang mayang-nya gak ada! Cuma ada, tukang es campur L. Tapi tak apa, yang penting es!

Kami pun pulang. Mampir sejenak di rumah kerabat tadi, untuk sekedar bebersih, dan mengembalikan perkakas pinjaman. Pukul 5 sore, perjalanan pulang menuju Tangerang di mulai. Sambil mencari nanas madu di sepanjang jalan Pandeglang, titipan Ibunya Zani. Tapi gak dapet! Pukul 21.30 WIB. Welcome home!

 

*) Nagrak, nama sebuah tempat dipersimpangan antara Mauk dan Kutabumi, Tangerang

**) nyala-hidup nyala-hidup; maksudnya mati-nyala mati-nyala😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s