Pejuang Anti-Republik: Kesan terhadap Buku Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta

Malam ini saya baru selesai membaca buku karangan Robert Cribb yang berjudul Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2010). Ini adalah buku terjemahan dari judul asli, Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949, yang terbit pada tahun 1991. Saya bukan ingin meresensi buku tersebut, tapi saya hanya ingin mengungkapkan pengalaman saya membaca dan sedikit berkomentar tentang fakta-fakta yang diungkap dalam buku tersebut.

Pertama, saya sedikit tercengang dengan fakta-fakta bahwa banyak negara-negara kecil yang terbentuk selama masa revolusi fisik. Tangerang, misalnya. Ternyata daerah kecil di barat Jakarta itu pernah menjadi negara otonom di bawah pimpinan pemberontak, Haji Akhmad Khaerun. Sebelum mendeklarasikan diri sebagai negara otonom pada 21 Oktober 1945, orang yang menyebut dirinya sebagai bapak rakyat ini menggerakkan suatu pemberontakan rakyat, dengan pengikut bersenjatanya yang bernama Laskar Ubel-Ubel. Pada masa itu memang tengah terjadi kekacauan kekuasaan. Kebencian terhadap tuan tanah dan orang asing yang membuat kaum-kaum revolusioner lokal melakukan inisiatif untuk melakukan sebuah pemberontakan. Tuan tanah, pegawai pemerintahan yang menjadi sekutu pemerintah kolonial, dan orang asing yang menguasai sumber daya di daerah tersebut dibunuh. Dan mengapa Tangerang bisa menjadi negara otonom adalah sebuah ketidaksengajaan, menurut saya. Karena jalur komunikasi ke Jakarta, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan, diputus secara paksa oleh laskar Tangerang. Selain itu, ada juga Pemerintahan Republik Jawa Barat (PRJB) yang dibentuk pada 17 Agustus 1948. Latar pembentukan PRJB pada saat itu bukan karena tidak adanya kekuasaan yang menaungi daerah tersebut. Melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap RI dan Belanda pada saat itu yang menyepakati Perjanjian Renville. Perjanjian itu menyatakan bahwa Jawa Barat menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kolonial Belanda. Dengan alasan merasa ‘dibuang’ oleh RI yang dinilai lemah terhadap Belanda, mereka memutuskan untuk mendirikan pemerintahan sendiri namun tetap setia pada proklamasi 1945, bukan kepada pemerintahan Indonesia pada saat itu.

Image

Stop. Kenapa malah jadi membahas isi buku secara detail? Akan saya hentikan catatan bertele-tele ini, karena saya hanya ingin menulis pendek mengenai kesan atas buku tersebut.

Fakta sejarah yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah atau diumbar di ruang publik, ternyata tidak merepresentasikan perjuangan grassroot sesungguhnya. Yang muncul di permukaan sejarah Indonesia selama ini hanya sejarah elitisme Republik yang terlalu mengglorifikasi tokoh-tokoh seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Amir Syarifuddin, dan lain sebagainya, yang disebut dalam buku itu sebagai ‘pengkhianat’ Republik, atau pemimpin yang lemah. Cukup menarik memang. Tokoh-tokoh yang selama ini dikenal keras, tegas, dan anti kompromi terhadap kolonialisme, ternyata adalah pemimpin yang lemah dan ‘culun’ dari perspektif kaum revolusioner marjinal. Dipaparkan dalam buku tersebut bagaimana pemerintah Republik pada saat itu lebih mementingkan entitas negara daripada rakyat sebagai subjek perjuangan. Terlebih ketika RI terlihat mengabaikan peran kaum revolusioner marjinal yang berperan cukup besar dalam revolusi fisik dengan Belanda. Perjanjian seperti Linggarjati, Renville dan Roem-Royen, meski dianggap sebagai strategi untuk menghadapi upaya diplomasi pemerintah kolonial untuk menguasai kembali Indonesia, nyatanya merugikan rakyat dan laskar-laskar lokal yang sudah berjuang penuh agar bisa menegakkan Republik. Ironis, saat laskar-laskar itu berjuang dengan keikhlasan demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tanah jajahan tersebut, pemerintah malah menggadaikan usaha mereka. Dengan alasan strategi dan profesionalime sebuah negara merdeka. Naif, bukan?

Lebih parahnya lagi, bukan saja mengabaikan kaum revolusioner marjinal dalam perjuangan, RI dan TNI-nya pada saat itu malah mencoba untuk memberangus mereka. Kelompok ini memang tumbuh dan berasal dari kriminal-kriminal atau bandit-bandit sosial pada masa pemerintahan kolonial, tapi tidak berarti kemudian pantas diratakan dengan tanah—istilah Homicide nih–bukan? Ini sih pendapat saya, entah bagaimana pendapat kalian yang patriotis, nasionalis dan penjunjung kedaulatan negara—bukan rakyat. Kesediaan mereka untuk bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) karena ketulusan mereka untuk mau berjuang bersama menuju rakyat berdaulat. Tapi kemudian disingkirkan karena dianggap sebagai penyebab instabilitas keamanan ‘nasional’. Karena itulah, sebagian besar kaum revolusioner merjinal membenci Republik yang baru berdiri tersebut. Konstelasinya adalah, Tentara Kolonial vs TNI vs Laskar Rakyat. Mereka semua berseteru satu sama lain. Namun menjadi sangat berat bagi Laskar Rakyat karena mereka tidak disokong persenjataan dan modal mobilisasi yang besar. Perjuangan mereka hanya mengandalkan niat yang kuat dan dukungan masyarakat sekitar yang tidak lain adalah akar di mana laskar-laskar itu muncul dan tumbuh.

Tidak semua anggota laskar mempunyai ketulusan berjuang, ada juga dari mereka yang oportunis dan mengalihkan dukungan ke tentara kolonial. Tujuannya mereka hanya satu, yakni menghancurkan Republik. Tidak aneh, dan saya sendiri menganggap wajar perilaku tersebut. Tindakan itu mungkin semacam balasan terhadap pemerintah Republik dan TNI. ‘Habis manis, sepah dibuang’ sepertinya masih cocok untuk mendeskripsikan perilaku Republik terhadap kaum revolusioner ‘pinggiran’. Jadi, sikap oportunis anggota laskar yang membelot bukan tanpa alasan. Mereka merasa lelah dengan perjuangan Republik menghadapi Belanda, ditambah dengan negosiasi-negosiasi pemerintah Republik yang merugikan mereka.

*

Secara garis besar, itu yang tersurat dalam buku tersebut. Di awal pemaparan, diceritakan bagaimana para bandit sosial berjuang untuk mempertahankan hidup dirinya dan komunitasnya. Sabotase yang dianggap perbuatan kriminal menjadi pilihan mereka ketika tak ada sumber daya yang bisa mereka manfaatkan. Tuan tanah, orang asing dan pegawai pemerintah menjadi sasaran aksi kriminal mereka. Para penjahat ini memang lebih pantas disebut sebagai bandit sosial—terminologi yang diperkenalkan oleh Eric Hobsbawn—karena apa yang mereka lakukan tidak semata-mata atas insting jahat, tapi lebih dipicu oleh insting bertahan hidup mereka. Sampai pada masa transisi pasca kekalahan Jepang dari Sekutu, mereka diajak berkoalisi oleh tokoh-tokoh nasional untuk berjuang mempertahankan proklamasi 1945. Mereka yang direkrut biasanya adalah orang-orang yang mempunyai basis massa yang besar. Haji Darip (Muhammad Arif) asal Klender, Jakarta Timur, misalnya. Dia adalah pentolan gerombolan Klender yang terlibat dalam pemogokan jalur kereta api di Jakarta pada tahun 1945. Pada rapat di Lapangan Ikada, ia mengutus sekitar 200 ribu pengikutnya dari Bekasi. Dan sangat mungkin, banyak utusan-utusan gerombolan ‘penjahat’ lain yang diutus untuk hadir di rapat akbar tersebut. Sebagai unjuk kekuatan rakyat yang berdaulat. Namun sayang, pidato Sukarno di Lapangan Ikada yang selama ini diglorifikasi sebagai pidato yang berani, nyatanya mengecewakan kaum revolusioner marjinal yang siap mati karena rapat itu dikawal tentara Jepang bersenjata lengkap. Di pidato singkat itu Sukarno mengimbau peserta rapat untuk tertib. Pada saat itu terlihat bahwa Sukarno tidak ingin membangkitkan massa untuk revolusi kekerasan. Inilah yang pada akhir buku disebut sebagai pemimpin yang lemah karena tidak percaya pada kekuatan rakyatnya sendiri oleh Tentara Rakyat.

*

Sepertinya sampai di sini dulu cerita kesan saya dengan buku tersebut. Lain kesempatan akan saya lanjutkan. Sebenarnya masih terlalu banyak yang ingin saya sampaikan, tapi apa daya, waktu masih membatasi gerak saya. (*)

Ruang Temaram, 16 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s