Perjalanan Ini Singkat

Akhirnya, sedikit terlunasi sudah kerinduan ber-travelling. Walaupun cuma daerah sekitar di mana saya tinggal. Minggu (16/9) kemarin, saya sempatkan waktu libur untuk berjalan-jalan, sambil mengantar seorang teman dari kampung—atau kota—halaman. Destinasi yang disepakati adalah dua lokasi di daerah Gunung Kidul, Jogya; Gunung Api Purba dan pantai di selatan Wonosari.

Minggu pagi, menjelang siang, kami berangkat menuju lokasi tersebut. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam dari rumah kontrakan kami yang ada di bilangan Sleman. Gunung Api Purba menjadi destinasi pertama. Sempat beberapa kali keliru memilih jalan, kami akhirnya tiba di Desa Nglanggeran, tempat gunung itu berada. Entah kenapa dinamai Gunung Api Purba, tapi konon gunung itu adalah gunung berapi yang aktif jutaan tahun lampau. Namun, kini gunung tersebut hanya menyisakan batu-batu besar menjulang yang cukup indah, telebih saat kita berada di atasnya. Perjalanan menuju puncak gunung memakan waktu sekitar satu jam, dengan intensitas berjalan yang ‘cukup santai’. Bisa ditempuh setengah jam dengan berjalan cepat. Sampai di atas, landscape yang luas membuat saya sedikit berguman ‘akhirnya, jalan juga’. Ada dua puncak yang bisa kita singgahi. Di sela antara kedua puncak itu, ada titik yang bisa kita jadikan tempat beristirahat. Berada di apitan kedua puncak, dengan pohon rimbun dan angin yang cukup sejuk, membuat saya betah berlama-lama di sana. Sayang, kami datang diwaktu yang tidak tepat; jam dua belas siang. Saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepala. Karena itu juga, perdakian jadi sangat melelahkan. Panas dan medan yang berdebu, memaksa saya mengeluarkan tenaga ekstra. Cukup lama di atas, berfoto, bertemu gerombolan lain yang juga sedang bersantai, ngobrol, dan beberapa aktivitas lain yang bisa kami lakukan di atas. Setelah merasa cukup, kami pun turun. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di basecamp pendakian. Untuk masuk ke kawasan ini dikenakan retribusi per orang dan kendaraan yang kita bawa. Tidak mahal, dan yang terpenting, uang itu masuk kas desa. Bukan ke pemerintah kebupaten.

*

Dari Gunung Api Purba kami melanjutkan perjalanan ke kawasan pantai di selatan Wonosari. Sempat ada alternatif lain, yakni air terjun Sri Gethuk. Namun setelah dipertimbangkan, akhirnya kami putuskan untuk ke pantai. Di musim kemarau, debit air di air terjun pasti berkurang drastis. Terlebih di Gunung Kidul yang terkenal dengan daerahnya yang gersang. Daripada hanya menikmati ‘kucuran’ air, lebih baik ke pantai yang airnya sudah pasti banyak, meski pun lagi surut.

Sekitar satu jam perjalan dari lokasi gunung api, kami akhirnya tiba di Pantai Poktunggal. Salah satu pantai di kawasan tersebut yang mulai dikelola warga setempat. Untuk menuju Poktunggal, kami memilih jalur timur. Dari jalur ini kami tidak melewati pos retribusi, karena posisinya berada sebelum pos sebelah timur kawasan pantai. Beruntunglah. Karena privatisasi ruang publik itu menyebalkan. Terlebih oleh pemerintah. Saya lebih ikhlas jika harus membayar kepada warga setempat yang mengelola lokasi wisata. Kontribusi mereka di kawasan wisata sudah jelas; menjaga kendaraan, menyediakan logistik, membersihkan kawasan wisata, menyediakan fasilitas umum lainnya, yang mereka bangun dengan biaya swadaya. Sedangkan pemerintah, hanya menyediakan pos retribusi di depan lokasi wisata. Mereka menerima uang retribusi hanya karena daerah itu berada di wilayah pemerintahan—atau kekuasaan—mereka. Menyebalkan, bukan?

Pantai. Akhirnya melihat ombak, pasir putih, dan hiruk pikuk aktivitas manusia menikmati alam. Saya merasa sedikit terlepas dari rutinitas kota (hampir) metropolitan yang menjenuhkan. Bersantai di sore hari dengan sedikit camilan dan kopi. Nikmatnya hari itu. Lelah memang. Tapi tubuh ini lebih rela dipekerjakan agar hati dan otak tidak kram.

Berjalan di pesisir pantai yang sedang surut. Sambil melihat beberapa anak-anak daerah setempat mencari ikan yang terjebak di karang-karang pinggir pantai. Mereka yang bermain air, atau sekadar berfoto. Dan mentari pun terbenam. Sunset hari itu indah. Matahari yang berwarna oranye tenggelam di ufuk barat, ke bawah permukaan laut yang terlihat gelap. Duduk di pasir putih yang lembut dan menikmati matahari terbenam: what a great short trip?



Pukul enam sore kami pulang, menyudahi perjalanan singkat itu. Lelah? Tidak terasa hingga kami sampai di rumah. Seraya hati berharap perjalanan yang lebih jauh dan lebih menggemaskan. []

Ruang Kerja, 17 September 2012

#np The SIGIT – Nowhere End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s