Save Baduy

Dua tahun lalu. Di sebuah wilayah yang ditinggali masyarakat bersahaja, saya menemukan apa yang ada dipikiran saya selama ini: sebuah masyarakat ideal, meski tak se-ideal yang saya harapkan. Tapi apalah arti ideal atau kesempurnaan ketika konon kesempurnaan hanya milik Tuhan semata.

*

Sabtu pagi (29/9), sedikit kaget ketika membuka laman situs di sebuah jejaring sosial. Seorang teman mengunggah sebuah berita perihal rencana ekploitasi minyak di tanah yang ditinggali sebuah komunitas adat di Lebak, Banten: Komunitas Adat Baduy. Beberapa perusahaan minyak dan gas dari beberapa negara telah melakukan aktivitas seismik atau pengecekan kandungan minyak bumi di wilayah Desa Adat Suku Baduy.

“Dalam situs resmi Lundin Petroleum, perizinan Blok Rangkas meliputi lahan seluas 3.977 km2 yang terbentang dari perbatasan Sukabumi di sebelah timur hingga kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di sebelah barat. Adapun sistem rencana kerja pengeboran minyak dengan metode onshore yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh tiga perusahaan asing; Lundin Petroleum (Swedia) 51%, Tap Energi (Australia) 24%, Carnarvon Petroleum (Australia) 25%.”1

Tanggapan masyarakat Baduy pun tidak frontal. Salah satu dari mereka hanya mengatakan:

“Kami warga Baduy kurang paham dengan kedatangan orang-orang dari Kota yang berkeliling Leuwidamar di sekitar lahan Baduy untuk mengambil contoh tanah dan pengambilan data,” 2

Mereka tidak tahu apa yang Orang Kota lakukan, bahkan ketika orang-orang itu punya rencana jahat dan mengancam eksistensi mereka, Suku Baduy hanya mengamati tanpa banyak mencampuri. Respek mereka terhadap yang lain sangat tinggi.

*

Apa yang saya bayangkan ketika pertama kali mendengar bahwa tanah Masyarakat Komunitas Adat Baduy di Lebak, Banten terancam dieksploitasi  karena diduga mengandung cadangan minyak bumi? Pertama sekali, saya marah. Marah karena mengapa orang-orang begitu rakus dan jahat, bahkan terhadap mereka yang bersahaja. Masyarakat Baduy adalah masyarakat bersahaja. Mereka berprinsip untuk tidak menggangu orang lain, bahkan dalam komunitasnya sendiri. Mereka hidup rukun dengan kearifan yang mereka jaga sejak ratusan tahun lalu. Mereka apolitis, tapi mereka tidak pernah menolak untuk bersilaturahmi dengan pejabat-pejabat pemerintah di wilayah Banten.

Saya sedih. Bahkan saya tak mampu membayangkan apabila mereka akan berhadap-hadapan dengan kekuatan modal yang disokong negara dengan polisi dan militernya. Tak bisa membayangkan masyarakat Baduy yang bersahaja, yang tidak memiliki kultur kekerasan, akan berhadapan dengan selongsong senapan yang siap mengambil tanah dan nyawa mereka.

Teringat kunjungan pertama saya ke Desa Adat Baduy (karena rumah mereka bukan desa wisata!). Sambutan hangat, keramahan dan kepolosan Masyarakat Baduy membuat saya yakin bahwa ada masyarakat yang hidup bersahaja dengan kearifan yang mereka miliki, di tengah kegilaan kehidupan modern. Kehidupan yang lebih beradab daripada yang dibayangkan sosiolog-sosiolog peradaban modern. Masyarakat ideal yang dibayangkan aktivis-aktivis kemanusiaan ada di sana. Mengetahui prinsip-prinsip yang mereka pegang membuat saya sebagai mutan modernisme kecele dengan ilmu-ilmu peradaban yang saya dapat dari sekolah maupun masyarakat.

Melihat kultur non-kekerasan mereka. Sangat sulit membayangkan Komunitas Baduy akan melawan apabila invasi modal benar-benar terjadi melalui represi militeristik. Tapi bukan tidak mungkin juga akan tumbuh kultur baru bagi masyarakat Baduy: perlawanan. Karena bagi siapapun, terlebih bagi masyarakat adat, tanah adalah ruang hidup yang harus dipertahankan, apapun taruhannya. Bagi mereka lebih penting mempertahankan ruang hidup yang leluhur mereka wariskan daripada nyawa mereka sendiri. Mereka lebih takut terkena karma apabila melepas tanah mereka untuk dirusak begitu saja. Sungguh saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Tapi berharap, mereka akan melawan siapapun yang ingin merusak ruang hidup mereka. []

#saveBADUY

2. Ibid,

Baciro, 29 September 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s