Dagelan Mogok Nasional

Kemarin (3/10), buruh se-Indonesia melakukan mogok massal untuk menuntut penghapusan sistem outsourcing, upah murah dan meminta agar kesejahteraan buruh ditingkatkan. Konon, mogok massal berskala nasional itu diikuti dua hingga tiga juta buruh di seluruh Indonesia. Euforia itu sangat terasa saat saya membuka situs-situs jejaring sosial yang mereportasekan secara langsung apa yang terjadi di lapangan. Mulai dari yang mengunggah foto-foto aksi, hingga celetukan jargonistik seperti “buruh seluruh Indonesia bersatulah!”. Bahkan cibiran antisipatif terhadap kelas menengah ngehe banyak bermunculan. Maklum saja, beberapa bulan sebelumnya, aksi buruh di Bekasi yang memblokir jalan tol mendapat kecaman dari kelas menengah yang merasa terganggu dengan aksi tersebut. Ada rasa haru, bangga, dan semangat yang menggebu ketika menyaksikan para buruh berjuang untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Ada rasa optimisme yang tinggi ketika buruh sudah mulai menyadari pentingnya aksi bersama untuk memberi tekanan kepada kelas penguasa, terutama pemodal, yang selama ini menjadi kelas dominan. Wilayah-wilayah yang menjadi kantung-kantung buruh menurunkan semua ‘personel’ untuk bergerak menuju titik-titik strategis di kotanya masing-masing. Bahkan, kepolisian pun menurunkan beberapa senjata berat seperti panser untuk mengantisipasi perlawanan buruh. Kita semua tahu, polisi itu diturunkan bukan untuk menjaga keamanan masyarkat, melainkan untuk menjaga aset-aset kapital yang beresiko diserang oleh para buruh.

Aksi hari itu pun usai. Secara keseluruhan aksi mogok nasional itu berjalan tertib, tidak ada kekacauan berarti. Hanya saja di beberapa tempat ada sedikit terjadi adu mulut antara pihak keamanan pabrik dan buruh yang melakukan sweeping. Ada pula polisi yang terlihat represif, namun tak ada perlawanan berarti dari pihak buruh.

Hari berikutnya (4/10), seorang teman mem-posting sebuah tautan berita berisi rangkuman reportase aksi mogok di beberapa daerah di Indonesia. Awalnya saya tidak banyak memerhatikan karena itu hanya rangkuman yang dinukil dari beberapa media nasional. Dari awal saya menerka, isinya tidak berbeda dengan apa yang tertulis di media massa, kalau pun berbeda hanya ada tambahan kalimat-kalimat provokatif. Tapi saya sedikit tercengang—apakah ini berlebihan? ketika membaca sebuah kutipan dari seorang petinggi serikat buruh. Kira-kira begini isinya:

“…presiden salah satu serikat buruh itu menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan anggotanya akan berhenti mulai hari ini. “Saya sampaikan bahwa aksi mogok nasional di seluruh Indonesia selesai pada jam 16.00 WIB dan tidak ada aksi untuk besok dan hari selanjutnya”…”

Saat pertama membaca itu, terbesit di kepala saya, lelucon macam apalagi ini? Jadi, aksi kemarin hanya bagian dari tawar menawar elit-elit serikat buruh dengan pemilik perusahaan? Tapi kemudian saya langsung membuang prasangka itu. Bukan dibuang tepatnya, tapi saya tepikan lebih dulu. Alasan saya adalah, saya percaya bahwa sebagian besar buruh yang turun ke jalan kemarin adalah orang-orang yang dengan tulus berjuang untuk memperbaiki kehidupannya dan sesamanya. Jadi kalau pun ada lobi-lobi antara elit serikat buruh dengan pengusaha, saya pikir, sebagian besar buruh tidak mengetahui hal tersebut.  Baiklah, mungkin saya belum mengetahui secara pasti apa motif dibalik statemen itu. Tapi secara redaksional, saya bisa memperkirakan apa yang ia maksud. Saya pikir, anda juga akan dengan mudah mengerti apa yang ia maksud dari kata-katanya tersebut.

Miris, marah, sedih, semua bercampur aduk. Hampir berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan di hari sebelumnya. Saya akan mulai analisa kacangan saya terhadap fakta-fakta yang terjadi pada aksi mogok nasional buruh tersebut.

Pertama, aksi ini sangat tidak efektif. Kenapa? Walaupun aksi berhasil menghentikan perputaran modal selama sehari, namun ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap perubahan yang dituntut. Dalam hal ini posisi tawar perusahaan masih lebih tinggi daripada buruh. Awalnya saya menduga aksi ini akan berjalan selama beberapa hari, hingga ada dampak serius terhadap roda perekonomian, hingga akhirnya tuntutan buruh terpenuhi. Atau kalau pun tidak demikian, para buruh bisa ‘memberi pelajaran’ kepada pengusaha-pengusaha tersebut dengan sebuah kekacauan seperti pengrusakan aset-aset perusahaan sehingga pengusaha (dan negara sebagai pembuat kebijakan) tidak punya pilihan lain selain memenuhi tuntutan buruh. Karena dengan aksi yang hanya berjalan sehari dan tanpa tekanan berarti, buruh-buruh yang terlibat aksi bisa dengan mudah didata dan sangat mungkin terjadi pemecatan. Siapa yang kalah? Buruh. Siapa yang menang? Pengusaha. Dan siapa yang untung? Elit serikat buruh, karena   mereka sudah berhasil mengamankan posisinya dari lobi-lobi yang ditengarai menjadi agenda terselubung aksi mogok nasional tersebut. Karena dari aksi dan pernyataan itu terlihat, meskipun tuntutan belum gol, elit serikat buruh sudah menyatakan bahwa aksi akan berhenti hari itu dan tidak akan ada lagi aksi serupa di hari-hari selanjutnya. Watta fuck? Lalu apa gunanya melontarkan tuntutan jika memang tidak ada target mengawal hingga outsoucing dihapus, upah dinaikkan, kesejahteraan ditingkatkan?

Kedua, buruh harus mengambil alih aksi itu. Mungkin ini sudah menjadi refleksi basi, karena selama ini sudah berkali-kali terlontar dari mulut banyak orang bahwa buruh harus mengambilalih gerakannya sendiri. Tapi sepertinya refleksi ini memang harus diulang berkali-kali. Jangan pernah mempercayakan nasib kita kepada pemimpin. Ini bukan sekadar jargon dan tanpa alasan. Terbukti dari beberapa kasus, terutama untuk kasus serikat buruh, banyak elit-elit serikat buruh yang ingin mengambil keuntungan sendiri. Memang tidak pernah terekspos, tapi dari beberapa pengalaman dan cerita, nyatanya elit serikat buruh itu memanfaatkan gerakan buruh untuk meraup keuntungan dia dan kelompok kecilnya. Dan tentu saja, buruh-buruh yang tidak mempunyai jabatan di serikat akan kena imbas negatifnya. Ah, saya pikir anda semua sudah memahami ini. Jadi, saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan.

*

Terlepas dari itu semua, sakali lagi saya ulang, saya sangat menaruh hormat kepada para buruh yang dengan sadar dan tulus untuk memperjuangkan nasib kaum sesama buruh. Saya percaya ada hati yang ikhlas untuk melawan yang didasari atas kekecewaan terhadap sistem yang menindas mereka, dan kita semua secara umum. Tidak ada maksud menggeneralisasi faksi-faksi dalam aksi buruh tersebut. Karena saya juga percaya ada banyak buruh-buruh independen yang berpartisipasi dalam aksi. Apa yang saya lontarkan di atas adalah kritik terhadap serikat buruh yang masih mengadopsi elitisme usang yang seharusnya sudah tidak ada dalam serikat buruh. Karena kesetaraan dalam gerakan menjadi satu-satunya kontrol untuk menjaga perjuangan tetap pada jalurnya. No Masters, No Boss! (sangat jargonistik, bukan?)

Dan semoga dagelan mogok nasional tidak akan terjadi lagi di kesempatan-kesempatan berikutnya. Memang seharusnya bukan hanya harapan, tapi saya sadari bahwa semua itu bergantung sepenuhnya pada kesadaran buruh untuk menjaga gerakannya tetap steril dari broker-broker politik serikat buruh. []

Kota Jogyakarta, 4 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s