Penghuni Negeri Dongeng

Pagi itu, sepulang kerja, aku melintas di seruas jalan di Kota Jogjakarta. Tidak terlalu pagi. Tapi kendaraan masih terlihat sepi. Ah, Jogja memang tidak sepadat Jakarta. Jalan itu adalah jalan yang cukup sering aku lewati, karena memang tempatku bekerja tidak berada jauh dari sana.

Seperti biasa, pemandangan pagi lazimnya terlihat orang-orang mulai beraktivitas. Ada seorang penjual buah nanas yang berjongkok di sebelah dagangannya, sembari menikmati sebatang rokok dan membaca koran. Jadi, siapa bilang informasi hanya dikonsumsi pekerja kelas menengah ke atas? Hmm. Si pedagang itu asik di bawah pepohonan rimbun yang masih meneduhkan sepanjang ruas jalan tersebut. Nanas yang dijualnya pun menggiurkan. Sebagai penggemar buah, beberapa kali aku membeli nanas di tempatnya. Cukup murah, dua ribu lima ratus rupiah per buah, dengan ukuran yang cukup untuk memenuhi asupan seratku dalam sehari. Namun, hari itu nanas tersebut dijual seharga empat ribu rupiah. Maklum, nanas itu berukuran besar, dua kali lipat dari ukuran yang biasanya ia jual. Ya, aku tahu harga itu dari tulisan yang terpampang di depan dagangannya.

Masih di ruas yang sama, melintar beberapa meter ada seorang nenek penjual sapu lidi. Ia memang sering berjualan di tepi jalan itu. Ia sudah renta. Entah berapa umurnya. Tapi terlihat dari gerak yang ia lakukan, usianya sudah tak cukup cekatan untuk membuat lidi-lidi itu selesai tersusun-ikat dalam waktu singkat. Setiap melintas, selalu ingin berhenti sekadar untuk membeli dagangannya. Tapi aku belum membutuhkan itu. Kadang berpikir, apa salahnya membeli seikat lidi dari si nenek? Toh, nanti pasti terpakai juga.

Aku melanjutkan perjalanan pulang, pagi itu. Tiba di ujung jalan tersebut, di sebuah perempatan, aku berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Aktivitas pagi itu memang mulai bergeliat. Terlihat dari banyaknya kendaraan di depan, samping dan belakang ku. Menunggu momen yang sama. Tapi, ada satu pemandangan yang menarik perhatianku kembali. Seorang pria paruh baya menjajakan koran kepada para pengendara. Lazim memang. Tapi yang membuatnya tidak lazim adalah, pria itu terlihat memiliki kelainan mental. Geraknya tidak biasa. Mulutnya kadang menganga seperti ingin mengajak orang bicara. Tapi ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya, ia memang memiliki ketidakselarasan-mental. Tapi mengapa ia masih dibiarkan berjualan? Beberapa orang mungkin akan mengapresiasi apa yang ia lakukan. ‘Meski memiliki kekurangan, ia tetap mau berusaha, dan tidak mau merepotkan orang lain’. Apa benar demikian?

*

Mereka, dua orang terakhir yang aku ceritakan, si nenek dan pria paruh baya itu, seharusnya memang tidak berada di jalan itu. Sepantasnya mereka dijadikan sebagai orang yang berhak mendapat perlakukan khusus. Tapi mengapa masih dibiarkan berkerja cukup keras. Si nenek, sudah sepatutnya menghabiskan waktu di rumah, menghabiskan waktu bersama keluarganya, atau melakukan aktivitas yang membuatnya tidak bosan. Ya, aku sadar bahwa, dengan berbagai alasan, bisa jadi menjadi penjaja sapu lidi memang pilihannya. Mungkin saja ia sudah tak punya sanak keluarga, sehingga ia harus memenuhi kebutuhannya sendiri. Atau sekadar untuk membantu keluarganya. Si pria paruh baya itu pun demikian. Ia seharusnya mendapat perawatan yang layak dari keluarganya. Tapi mungkin, dengan alasan yang sama dengan si nenek, pria itu terpaksa memenuhi kebutuhannya sendiri karena berbagai alasan. Ya, banyak hal yang tidak bisa ku jangkau. Apalagi untuk masuk ke dunia mereka. Hanya saja, rasa iba saya kerap muncul setiap melihat mereka. Seandainya mereka berada di negeri dongeng seperti di cerita-cerita fairytales, pastilah mereka akan menjadi orang-orang bersahaja di sebuah desa dengan rumah yang asri, pepohonan rimbun, hewan peliharaan yang menjadi teman di kala senggang, atau bercengkerama dengan sanak kerabat di sebuah teras dengan tanaman hias yang terlihat indah. Sayangnya, ini adalah negeri dongeng yang mengerikan.[]

delapan oktober dua ribu dua belas

One thought on “Penghuni Negeri Dongeng

  1. 😦
    tapi ada juga, seperti untuk kasus nenek itu, mereka yang sudah melewati “usia kerja” tetap tidak mau berhenti, memilih untuk bergerak. uang tidak menjadi masalah, tapi lebih karena tidak ingin berdiam di rumah. mereka banyak juga dari kalangan tidak berpunya, tetapi memiliki anak dan cucu yang sebenarnya melarang sang nenek/kakek bekerja dan sebisanya memenuhi kebutuhannya sang orang tua di hari tua. tapi ada yang tidak bisa mereka penuhi: eksistensi, tubuh yang “terbiasa” bergerak. dan bekerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s