Surat Terbuka untuk Official Rock In Solo 2012

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan terkait penyelenggaraan Rock In Solo (RIS) 2012 yang diadakan pada 13 Oktober lalu. Langsung to the point saja:

Pertama, saya mempertanyakan alasan larangan keluar venue. Apa alasan utamanya? Saya berpikir positif bahwa larangan tersebut adalah agar daerah sekitar Alun-Alun Lor, Solo tetap kondusif bagi warga yang (mungkin) akan merasa terganggu dengan kehadiran ‘pasukan hitam-hitam’ di mana-mana. Terlebih lagi, daerah tersebut juga berdekatan dengan pemukiman warga. Tapi pikiran negatif saya pun tak kalah menyembul, bahwa ini adalah trik monopoli dagang penyelenggara. Dengan tidak boleh keluar venue, maka penonton yang hadir, mau tidak mau memenuhi kebutuhan lapar dan hausnya di dalam (membeli makanan dan minuman di dalam). Ini nanti akan disambung pada poin-poin berikutnya. Dan sebenarnya cukup aneh, kalau memang tidak diperbolehkan keluar, kenapa saat memasuki venue, kita diberi cap. Karena setahu saya, berangkat dari pengalaman RIS sebelumnya, cap itu berfungsi sebagai identitas penonton untuk keluar-masuk venue. Lalu apa fungsinya cap tersebut di gelaran kali ini? Mungkin masalah cap ini kurang esensial, sorotan utamanya memang kenapa tidak boleh keluar, padahal semua fasilitas yang disediakan penyelenggara tidak cukup memadai.

Kedua, makanan dan minuman yang tak terkira mahalnya. Ini hal esensial yang saya (dan beberapa teman yang juga hadir) sangat keluhkan. Bisa dibayangkan harga air mineral kemasan yang yang di luar harganya paling mahal dua ribu rupiah, sementara di RIS 2012, air mineral ukuran 600ml dijual seharga TUJUH RIBU RUPIAH. Wtf?Bahkan dua kali lipat lebih mahal dari harga tertinggi yang dipatok pedagang air mineral di kereta api lintas provinsi. Akhirnya saya memilih membeli air ber-rasa, yang harganya tidak berselisih jauh dengan harga diluaran, tujuh ribu rupiah (juga). Harganya masuk akal. Cuma, memasuki malam hari, tiba-tiba harga air ber-rasa melonjak menjadi SEPULUH RIBU RUPIAH. Edan, ini sih pemerasan! Di album berikutnya mungkin Metalic Ass perlu membuat lagu dengan judul “Asu! Wedange Sepuluh Ribu!”. Menyambung dari poin pertama, ini adalah sisi negatif pikiran saya terkait dilarangnya penonton untuk keluar masuk venue. Bisa diibaratkan, saya berada di sebuah “penjara yang menyenangkan”. Kesenangan yang saya nikmati karena bisa melihat band-band yang saya gemari, tampil. Tapi, merasa menjadi penjara saat saya dipaksa untuk mengeluarkan kocek lebih besar untuk sekadar menuntaskan lapar dan haus karena larangan keluar-masuk tersebut. Sepulang dari sana ada sedikit cerita dari seorang teman. Di tengah-tengah penampilan Cannibal Corpse, si teman dimintai air minum oleh orang lain yang tak dikenalnya. Ada dua kemungkinan. Pertama, dia malas meninggalkan moshpit karena CC sedang tampil. Kedua, dia tidak punya uang untuk membeli air minum yang harganya ‘jancuk, tai, asukalo kata Devadata. Kami yang hadir di acara tersebut tidak semuanya orang kaya (atau anak orang kaya). ‘Kalo bukan orang kaya/mampu, kenapa bisa beli tiket pre-sale yang harganya seratus ribu?‘, mungkin muncul pertanyaan seperti ini. Buat saya, harga itu masih sangat masuk akal untuk bisa menonton Cannibal Corpse. Saya (dan mungkin banyak orang lainnya) rela memangkas uang makan untuk bisa melihat CC tampil. Sayangnya ‘semangat rasional’ harga tiket tidak dibarengi harga makanan-minuman di lokasi festival. Berlebihan? Bisa saja, tapi lebih sangat berlebihan jika harga air mineral hingga tiga kali lipat dari harga yang dijual di luar pada sebuah gelaran acara komunitas. Ya, paling tidak saya masih menganggapnya demikian.

C’mon, saya yakin semangat penyelenggaraan acara ini adalah semangat komunitas, tapi kenapa malah dimanfaatkan sebagai pasar untuk mencari untung sebesar-besarnya? Saya (dan mungkin kami) datang ke acara tersebut bukan dengan semangat konsumen, tapi dengan semangat bagian dari komunitas.

Ketiga, perihal fasilitas lainnya: ketersediaan air di tempat ibadah dan ruang re-charge ponsel. Di waktu-waktu ibadah, alangkah baiknya ada official yang berjaga di sana untuk mengantisipasi kehabisan air untuk wudlu. Karena saat saya (dan banyak rekan lainnya) hendak melakukan ritual tersebut, kami para pe-ibadah bahu-membahu memiringkan tong penampung air untuk mengais air yang terisa di dasar tong. Ketidaksiapan terlihat di sini. Seharusnya, sebelum habis, air segera diisi ulang untuk memenuhi kebutuhan para pe-ibadah tadi. Nah, ini masih berkaitan dengan larangan keluar-masuk venue. Mungkin, seandainya tidak ada larangan tersebut, orang-orang yang mau beribadah tidak susah-susah memiringkan tong-tong tersebut untuk mengais air yang tinggal sedikit itu. Hanya tinggal keluar, cari tempat ibadah yang lebih nyaman dengan banyak air, selesai. Kemudian hal lainnya, penyediaan colokan untuk re-charge ponsel yang kurang memadai. Terlalu sedikit untuk orang yang begitu banyak. Bukan berarti harus disediakan sesuai jumlah pemegang gadget juga, sih. Tapi paling tidak, lebih banyak jumlahnya dari yang kemarin disediakan, karena itu terlalu sedikit.

Dan masih ada beberapa hal lagi yang membuat saya kurang puas dan merasa persiapan RIS 2012 kalah bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya. Seperti, rundown yang sedikit berantakan (mungkin official lebih tahu masalah ini, dan ada pertimbangan mengapa terjadi switch penampil). Dan khusus untuk saya, mungkin merasa lebih enak jika band diberi waktu bergantian saat bermain (tidak tampil pada jam yang sama). Apabila pertimbangannya penampil dikategorikan berdasar genre masing-masing band, mungkin bisa saja. Tapi penerapan itu saya kira tidak bisa universal. Karena saya sendiri mengakui, ada beberapa band (yang berbeda genre) yang ingin saya lihat di RIS 2012, namun tidak bisa karena jadwal tampil yang bersamaan. Mungkin ini juga dirasakan oleh rekan-rekan yang datang di acara tersebut.

***

Saya berharap surat terbuka ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang ofensif, melainkan menjadi masukan bagi teman-teman penyelenggara untuk Rock In Solo selanjutnya yang lebih besar, dan lebih keren tentunya.[]

Salam,

Ferdhi

 

9 thoughts on “Surat Terbuka untuk Official Rock In Solo 2012

  1. Pengalaman menonton di acara yg serupa di jakarta, makan & minum harganya lebih dari jancuk tai asu bro,
    Minimal 25rb ( hotdog, nasi. Goreng, sate padang) yang rasanya ancur ga karu2an, lebih mending yg di ris, lebih bervariasi makanannya kl kmrn gw liat paling mahal 15rb.
    Pernah beli freshtea seharga 20rb belum? Cobalah wkwkwk gw terpaksa beli daripada mati dehidrasi.
    Ritual metal tahunan seperti ini kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, kata kuncinya adalah nabung dan giat menabung, biar saat divenue ga terjadi yang namanya shock mendadak. Ini bukan masalah kaya tidaknya seseorang… Ingat nabung dan nabung… Thats the point.
    Masalah fasilitas memang gw akuin parah utk toiletnya, waktu ujan… Bau pesing tercium diarah toilet sebelah barat. Tapi masih lebih parah festive serupa di jkt bln april kmrn.
    Untuk masalah rundown gw juga bingung, ini menikmatinya gimana? 3 band maen bareng WTF!!!
    Semoga thn depan cukup 2 stage saja, biar ga menimbulkan kegaduhan akut.
    Bagus juga sih ide & kepeduliannya, mengangkat band2 lokal yg blm punya nama bermain di salah 1 festival seperti ini? Festival lain mana ada? Hanya BB & RiS yg mengakomodir seperti ini.
    Ini bisnis metal man, suka ga suka seperti ini, jika headlinenya nampilin dedengkot metal.
    So saran gw, sebelum nonton ritual metal, persiapksn diri kalian baik2, fisik dan finansial yg terpenting. Jangan lupa…. Giat menabung \m/

    1. Terima kasih bro Romo Metal atas responnya. Ya, kita merasakan hal yang sama, hanya saja ada perbedaan perspektif soal beberapa hal. Tapi, terima kasih masukannya, semoga saya menjadi orang makmur di masa depan. haha. Kita sama-sama berharap semoga ke depan event metal di Indonesia bisa ‘sangat keren’ (sekarang sudah ‘cukup keren’).

      Regards,🙂

  2. Hallo, Ferdhi.

    Terima kasih banyak untuk surat terbukanya. Disini saya mewakili panitia RIS 2012 akan mencoba menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi.

    1. Penonton memang tidak boleh keluar masuk venue. Peraturan ini bahkan sudah berlaku sejak RIS 2010, tapi tetap saja ada yg tidak mengindahkan. Tahun ini memang kami sengaja lebih mempertegas aturan ini. Alasan utamanya adalah agar penonton terjaga keamanan dan kenyamanannya. Kalau penonton diperbolehkan keluar-masuk, kami khawatir akan ada beberapa oknum nakal yg memanfaatkan kesempatan itu. Katakanlah misalnya untuk menyeludupkan minuman keras atau bahkan benda tajam melalui celah kecil di dalam area yg sudah di-observasinya terlebih dahulu. Sebaik-baiknya kami menyiapkan keamanan, pasti masih ada celah untuk disusupi karena faktor kelengahan. Ini yg terus kami pelajari dan dicari solusinya tiap tahun.

    Pernah nonton festival musik baik metal maupun non metal lainnya Fer? Saya yakin ada banyak festival yg memberlakukan peraturan yg sama. Intinya sih tiap festival pasti memiliki peraturan sendiri yg disesuaikan dengan kondisi geografisnya masing-masing.

    Cap (dan gelang seperti tahun lalu) sendiri lebih berlaku sebagai identitas penonton dan crowd control di dalam area, bukan sebagai identitas untuk keluar-masuk venue. Untuk masalah ketersediaan fasilitas penunjang di festival memang kami mengakui bahwa masih sangat banyak kekurangannya. Kami mohon maaf yg sebesar-besarnya untuk itu.

    2. Untuk harga makanan dan minuman, kami sudah coba menyesuaikan agar tidak terlalu jauh berbeda dengan harga normal di luar area festival. Kami bahkan menolak beberapa vendor makanan yg ingin menjual dengan harga yg tidak sesuai dengan standar kami. Untuk harga minuman kami sendiri memang menganggap harganya di atas batas dan sudah masuk agenda evaluasi. Percayalah, suaramu kami dengarkan.

    Pasar untuk mencari untung sebesar-besarnya? Hahaha, itu ‘tuduhan’ yg sangat lucu. Kamu akan berfikir ulang mengenai definisi “untung sebesar-besarnya” kalau kamu tahu seberapa besar “untung” yg kami dapat.

    3. Untuk masalah kekurangan fasilitas penunjang sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Sedangkan untuk masalah switch penampil dan rundown yg sedikit berantakan itu murni insidental. Kalau jadwal tampil yg bersamaan, itu kembali ke penonton. Bagaimana mereka bisa mengatur jadwal agar bisa menonton semua band favoritnya. Ini festival, bukan konser tunggal. Jadwal tampil bersamaan itu sudah sangat lumrah. Get used to it🙂

    Sekali lagi, terima kasih atas saran dan kritiknya. Kami masih menjalani proses untuk mengadakan metal fest yg dapat dinikmati dengan aman dan nyaman. Saran dan kritik dari kamu banyak membantu kami.

    Terlepas dari tidak ada yang sempurna, we can’t please everyone.

    Cheers.

    1. Halo, mas Firman. Terima kasih atas penjelasannya. Saya coba mejawab beberapa hal yg juga perlu dijelaskan.

      1. Saya menghargai upaya panitia untuk menjaga acara tetap kondusif, maka itu saya pun tidak menafikan pikiran positif saya tentang alasan tidak boleh keluar-masuk venue. Tapi kemudian, hal ini membuat saya (atau mungkin kami) tidak ada pilihan untuk makan, minum dan ibadah, seperti yang tertulis pada poin 1,2 dan 3 tulisan saya.

      Sebelum RIS 2012, saya juga datang ke RIS 2009 dan 2010 (juga Bandung Berisik 2011 dan Hammersonic 2012–ada perbedaan soal aturan keluar masuk di ketiga event berbeda tsb), dan jika saya komparasikan, kedua RIS sebelumnya seperti lebih siap. Dan saya sepakat setiap festival punya aturan sendiri, menyesuaikan kondisi di sekitarnya.

      2. Mungkin soal minuman itu yang paling menjadi sorotan bagi saya. Karena saya tidak sempat menyicip makanan yg tersedia krn terlajur berpikiran negatif soal harga yag akan ditawarkan. Saya berharap selanjutnya, harga minuman bisa lebih ramah dgn kantong.

      Sebelumnya saya minta maaf, karena frase ‘mencari untung sebesar-besarnya’ lebih ditujukan utk makan-minum tadi, bukan keseluruhan event. Saya percaya, RIS tidak banyak mengambil untuk dgn harga tiket yg hanya 100-200rb utk bisa menghadirkan Cannibal Corpse (melihat di daerah lain yg jauh lebih mahal).

      3. Untuk switch penampil saya memang yakin panitia punya alasan kuat untuk itu, makanya saya tidak terlalu mempermasalahkan. Tetapi untuk jadwal bersamaan, saya kira lebih asik bila jadwalnya bergantian (saya ambil contoh Hammersonic), krn akan lebih ‘ramah’ untuk penonton. Memang RIS sudah memberlakukan itu sejak Dying Fetus (kalau tidak salah). Krn tidak hanya ingin melihat band favorit, tapi kadang ingin juga melihat musik-musik baru yg belum pernah didengar.

      Kiranya begitu respon dari saya. Sekali lagi terima kasih atas penjelasannya. Krn surat terbuka ini tidak bermaksud menyudutkan panitia RIS 2012, tapi karena ingin memberi kritik yg (semoga) konstruktif demi RIS ke depan agar menjadi “The Real Metal Kingdom Fest” di Indonesia.🙂

      Regards,

  3. luar biasa🙂 semoga kritik diatas bisa membuat RIS kedepannya menjadi lebih baik .
    RIS adalah salah satu event yang selalu dinantikan metalhead di Indonesia !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s