Gaza di Indonesia

Tadinya saya mau menuliskan panjang lebar soal peristiwa agresi militer Israel ke Jalur Gaza, yang sudah terjadi kurang lebih tujuh hari sejak 14 November 2012 hingga ditulisnya catatan ini (21/11/12). Tapi kemudian saya berpikir, pasti sudah banyak orang yang memaparkan secara lebih panjang lebar dan detail-mendalam soal peristiwa itu. Mungkin tidak apa jika saya menuliskan apa-apa yang saya amati di luar booming informasi soal agresi tersebut.

Belakangan saya mengamati fenomena menarik-paling tidak buat saya-di jejaring media sosial. Ada banyak doa, kecaman, kemarahan, kutukan, harapan dan berbagai macam ekspresi untuk menyikapi arus informasi agresi Israel ke Gaza. Mulai dari sekadar hastag #PrayForgaza, #SaveGaza dan lain sebagainya, cacian terhadap Israel atau dukungan moril, yang entah tersampaikan atau tidak, untuk warga Gaza. Selama tujuh hari agresi, ratusan warga sipil Gaza sudah menjadi korban. Puluhan di antaranya anak-anak yang didominasi balita. Ah anyway, terlepas dari data dan fakta yang terjadi di wilayah tersebut, saya tertarik dengan argumen-argumen orang Indonesia soal agresi ke Gaza.

Pertama, soal penyematan spirit relijius untuk mendukung warga Gaza. Banyak saya temukan di media-media jejaring sosial orang yang menganggap bahwa ini adalah konflik agama antara Islam dan Yahudi. Banyak orang bertakbir, tapi tidak mengesankan pemujaan akan kebesaran Tuhan sebagai bentuk kepasrahan terhadap kehendak-Nya, tetapi saya melihatnya seperti sebuah simbol superioritas satu agama terhadap agama lain, IMO. Bahwa masalah ini adalah urusan kaum Muslim semata, sehingga segenap kekuatan kelompok Muslim harus disatupadukan untuk melawan Israel. Tapi saya punya pendapat lain. Sedari awal saya tidak pernah menganggap ini sebagai persoalan agama, saya lebih menganggap ini sebagai masalah kemanusiaan, dan saya rasa banyak orang yang punya pendapat serupa. Agresi itu memang tidak hanya menjadi masalah kaum Muslim saja, karena di Gaza pun banyak hidup keluarga dengan latar belakang keluarga Nasrani, bahkan Yahudi. Yang menjadi sasaran negara Israel adalah penduduk di wilayah Gaza—atau dalih mereka, mengincar petinggi-petinggi Hamas, tidak peduli apa agama mereka. Buktinya, korban yang berjatuhan tidak hanya dari kalangan Muslim, tapi beberapa warga sipil non-Muslim, jurnalis-jurnalis non-Muslim dan pekerja-pekerja sosial yang ditempatkan di Gaza, ikut menjadi korban. Ada sebuah pernyataan menarik dari Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam sebuah peringatan Solidaritas Internasional untuk Palestina di Jakarta:

“Saya bingung dan heran dengan isu dan teriakan “Allahu Akbar” dari orang-orang terhadap apa yang terjadi antara Palestina dan Israel padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada peran sama sekali untuk membantu kami, nol besar.”

Dengan menitikberatkan pada kata takbir yang sering diucapkan orang Indonesia atas konflik Israel-Palestina, menurut saya, Fariz berusaha menekankan bahwa ini bukanlah persoalan agama. Dan sindiran dalam kalimat berikutnya menunjukkan bahwa orang Indonesia, baginya, hanya omong besar, bahkan orang Indonesia yang mengaku paling Islam sekalipun—kecuali, 28 relawan Mer-C yang masih bertahan di Gaza untuk membantu warga sipil. Sebenernya saya ikut tersindir karena hanya bisa sekardar share informasi via jejaring sosial. Tapi mungkin memang saya harus mengakuinya.

Selain itu, bukti lain bahwa masyarakat internasional tidak peduli dengan latar belakang agama warga Gaza, adalah solidaritas di banyak negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Sebut saja masyarakat Italia, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman bahkan AS yang pemerintahnya malah mendukung agresi Israel dengan alasan ‘Israel sedang mempertahankan diri’. Jika ia manusia, siapa yang tak iba melihat tubuh bayi hancur dihantam roket Israel. Atau darah-darah warga sipil Gaza yang bercucuran akibat serangan militer tersebut. Tanpa melihat agama, masyarakat internasional bersama-sama mengecam negara agresor Israel.

Saya pun kurang sepakat penggunaan istilah Yahudi untuk menyebut Israel, karena tidak semua Yahudi mendukung sikap Israel atas Palestina. Banyak kelompok-kelompok Yahudi-Arab Ortodox yang menolak aksi tersebut bahkan menolak eksistensi negara Israel yang menurut mereka bertentangan dengan ajaran Yudaisme. Jadi, mungkin lebih tepat menyematkan kata Zionis kepada tentara-tentara fasis Israel, that’s my opinion.

Kedua, adalah keberadaan orang-orang yang so called liberal di Indonesia, yang malah menjadikan peristiwa itu sebagai bahan ejekan untuk kelompok yang berseberangan dengan mereka. Jargon relijius yang digunakan kelompok-kelompok ‘fundamentalis’–sebenarnya saya merasa isitilah itu kurang tepat, tapi belum mendapat padanan yang pas–seperti yang sudah disebutkan di poin pertama, dijadikan bahan olok oleh mereka yang so called liberal. ‘Kirim FPI ke Palestina’ ‘Dukung si Anu berangkat ke Gaza’ dan banyak celotehan lainnya. Entahlah, tapi saya sedikit bingung dengan mereka yang menjadikan bencana kemanusiaan di Gaza sebagai bahan ejekan. Apa mungkin karena terlalu seringnya konflik agama di Indonesia, sehingga orang-orang yang mengaku liberal pun termakan dikotomi agama antara Muslim dan non-Muslim. Dan menjadikan momen ini sebagai waktu yang pas untuk memojokkan lawan debat mereka di dunia maya; ‘katanya peduli Palestina, jangan omong doang, cepet berangkat jihad‘, kira-kira seperti itulah. Tidak sedikit pun terlihat simpati mereka terhadap korban-korban di sana. Mungkin mereka bisa menjawab dengan ‘apa perlu kepedulian itu ditunjukkin di ruang publik?’. Apa salah orang-orang di Gaza sehingga dibawa-bawa dalam perdebatan yang kekanak-kanakan antara kelompok ‘fundies’ dan so called liberal. Mungkin benar apa kata Fariz Mehdawi, bahwa orang Indonesia itu nol besar. Baik yang ‘fundies’ maupun yang mengaku liberal, sama-sama tidak ada kontribusi apa-apa terhadap Gaza, kecuali merasa rasionalitasnya paling tercerahkan atau jiwanya terbebaskan. Kalau ada yang bertanya saya sudah berbuat apa, saya akan mengakui tidak banyak berbuat. Tapi paling tidak saya tidak terjebak dalam perdebatan kekanak-kanakan keduanya.

Yang ketiga, adalah membandingkan bencana kemanusiaan di Gaza dan di dalam negeri, Papua misalnya. Saya sering bertanya dalam hati, sejak kapan kemanusiaan tersekat teritori negara? Malah bagi saya, negara itulah yang menghilangkan sisi humanisme-universal manusia dan menganggap bahwa yang satu bendera jauh lebih lebih penting. Saya sendiri tidak berposisi kontra terhadap solidaritas bencana kemanusiaan dalam negeri. Hanya saja, di tengah masifnya arus informasi, sangat sulit bagi kita untuk mengelak dari isu yang sedang booming pada saat itu. Ada masa dan ada porsi. Namun, jangan pernah berharap untuk mendapatkan solidaritas dari orang lain jika kita sendiri tidak pernah bersolidaritas terhadap yang lain.

Terlepas dari itu semua, pasti kita semua berharap bencana kemanusiaan di Gaza segera usai, dan berharap ada kelompok yang mampu menekan Israel untuk menghentikan kebiadaban mereka terhadap warga sipil di Gaza.

 

#Pray4GazasCivilian

#SaveTheChildren

#FuckOffIsraelandHamas

Yogyakarta, duapuluhsatu november duaribuduabelas

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s