Tektok Merapi

Naik Merapi, yuk?!” tetiba kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku rindu ketinggian gunung.

Kerinduan dan perjalanan itu akhirnya terlaksana pada sepuluh desember duaribu duabelas. Tak ada rencana matang. Hanya ajakan kepada beberapa teman, dan mereka yang sepakat berangkat; Faqih dan Fuad. Kedua teman yang tinggal seatap denganku di Jogya.

Pagi itu, tuntas sudah rutinitasku sebagai pekerja. Tak banyak energi tersisa. Hanya kantuk yang masih terasa mengganjal. Maklum saja, tidurku malam itu tidak lebih dari tiga jam. Melepas lelah di sebuah kasur tipis demi sejumput tenaga pada sore hari, menjelang keberangkatan. Sudah kurencanakan untuk berangkat menuju Gunung Merapi pukul lima sore. Tapi apa daya, cuaca berkata lain. Hujan menghujam. Rencana itupun diundur karena tak mau energi yang sudah terkumpul habis lebih dulu sebelum puncak. Hujan itu menyerap banyak tenaga jika kita tidak menikmatinya.

Meratap teras, air masih merintik. Sudah saatnya bergegas untuk mempersiapkan semua yang akan di bawa. Dan tiba-tiba aku lupa apa yang harus ku bawa jika akan ke gunung. Bahkan berkali-kali bolakbalik bertanya pada Faqih, “eh, lo bawa apa aja?”. Dan, terus mengais memori perihal apa-apa yang akan menyesaki daypack.

Ini bukan camping di gunung, tapi cuma hiking. Faqih bilang perjalanan kami tektok—berangkat-tiba di basecamp-naik-sampai puncak-turun-pulang ke Jogya—tanpa mendirikan tenda. Sekitar pukul tujuh malam kami berangkat dari Jogya menuju basecamp Selo di wilayah Boyolali, Jawa Tengah. Sisa-sisa hujan mengiringi. Aspal basah menghampar sampai kami tiba di Selo.

Dengan percaya diri aku berjalan di depan Faqih dan Fuad yang berboncengan. Bukan apa-apa, tapi motorku memang lebih sehat dan bebannya lebih sedikit. Jadi secara masuk akal, motorku bisa melaju lebih cepat daripada motor temanku itu. Tanjakan terjal terus menghadang di setiap kilometer yang kami lewati. Dan akhirnya aku tiba di sebuah tempat yang samar terlihat tulisan “New Selo”. Apa ini semacam New York? Entahlah. Itu seperti tempat kita memulai perjalanan mendekat ke stratosfer.

Aku tiba pertama. Mereka masih di belakang. Aku pikir masih ada waktu untuk merapikan bawaanku sebelum mereka datang. Tapi tetiba ponselku berbunyi. “basecampnya kelewat, nyong!”, terdengar suara Fuad dari seberang sana. Kelewat gitu? Ternyata energi yang dikeluarkan aku dan motorku untuk mencapai New Selo sedikit terbuang sia-sia, karena aku harus mengulang perjalanan beberapa meter ke bawah. Fuad sudah menunggu di depan basecamp, tempat kami akan merebahkan badan sejenak dan menitipkan motor saat kami berada di tengah perjuangan menuju puncak. Ya, dia menungguku agar tidak khilaf lagi mencari titik perhentian.

Kami tiba sebelum pukul sebelas malam. Dan sesuai rencana, kami akan berangkat pukul setengah duabelas malam. Belum lama berisitirahat setelah perjalanan dengan motor selama kurang lebih dua jam, tiba-tiba ada suara salam terucap dari luar pintu. Ternyata itu adalah pendaki yang baru turun dari Merapi. Mereka berempat dan sudah dua hari yang lalu di atas Merapi. Tidak ada cerita seram. Ini hanya perjumpaan biasa dan sedikit cerita. Ternyata empat orang itu dari Jogya juga. Mereka mahasiswa dari salah satu universitas swasta di Jogya. Tak sempat bertukar nama, tapi kami sempat bertukar logistik. Kami memasakkan susu hangat untuk mereka, dan mereka memberikan kami tisu basah yang kami lupa bawa. Sebenarnya, mereka pun menawarkan sisa air bersih. Tapi kami kira persediaan air sudah mencukupi, malah takut memberatkan perjalanan kalau ditambah. Akhirnya, kami pun menolak tawaran itu. Bukan sombong, tapi itu hitungan-hitungan ketahanan tenaga kami hingga turun lagi.

Sudah setengah duabelas, kami bersiap berangkat. Tidak lupa sedikit doa, karena kami yakin gunung ini tidak berdiri sendiri. Masih ada beberapa ratus meter jalan menanjak beraspal yang harus kami tapaki sebelum sampai di pintu masuk New Selo, tempat yang tadi sudah aku pijak. Cuaca dingin sudah menghinggapi, terlebih sisa hujan masih terasa. Tapi nafas tetap tersengal. Berhenti beberapa kali untuk mengambil nafas dan memulihkan tenaga, kami pun tiba di New Selo, semacam New York tadi. Oya, tulisan “New Selo” ini terpampang besar di atas deretan warung yang buka pada siang hari. Bak logo Hollywood di Amerika Serikat. Sepertinya marka itu memang terinspirasi dari sana.

Rerintik hujan (atau embun?) mengawali perjalanan kami. Optimis bahwa tidak akan turun hujan hingga kami turun nanti, karena hujan akan menghabiskan energi jika tidak menikmatinya (lagi). Pendakian berjalan lancar hingga tiba di sebuah marka bertuliskan Welcome To Merapi Mountain. “Oh, ini baru pintu masuknya. Dikira pos satu.” Cukup panjang memang perjalanan itu, seperti pendakian-pendakian pada umumnya. Hasrat kami tiba di pos satu sangat besar. Bukan apa, tapi kami ingin bisa berhenti sedikit lama dan membuat kopi atau susu untuk sekadar menghangatkan tubuh. Aku tidak merokok. Tapi, tepat beberapa meter sebelum pos satu, ada seikat bunga di atas sebuah batu besar dan benda-benda lain di bawahnya. Akhirnya, niat istirahat pun kami urungkan. Kami adalah orang-orang yang masih bergidik saat menemukan benda-benda itu di tempat yang sangat asing. Perjalanan pun kami lanjutkan. Dan selamat tinggal pos satu. Menjauh beberapa ratus meter, kami pun mencari tempat yang enak untuk istirahat sejenak sambil menikmati kopi panas.

Taburan bintang di langit dan citylight di bawah gunung menghiasi malam itu. Baru tersadar, sudah lama aku tidak menikmati itu. Terakhir pada dua ribu sembilan aku menikmati hujan bintang di atas gunung, bersama Zani dan Dhani, temanku yang lain. Walaupun di Merapi tak ada hujan bintang, aku cukup bisa merasakan kesunyian, sedikit terbebas dari polusi bunyi, cahaya, dan udara.

Angin malam itu cukup kencang. Kami pun memilih tidak berlama-lama berhenti. Menunggu Fuad dan Faqih menghabiskan sebatang rokok, kami langsung melanjutkan pendakian.

Pos Dua.

Kami memasuki tanah berbatu yang menandakan pos tiga, atau yang dikenal dengan Pasar Bubrah, sudah dekat. Malam itu gelap, pekat. Tentu saja, itu dini hari. Tapi kabut mulai menutupi. Jarak pandang tidak memadai untuk melanjutkan perjalanan dengan bermodalkan senter-senter kecil minim penerangan. Akhirnya Faqih, yang sudah ketiga kalinya dalam dua bulan terakhir mendaki gunung ini, menunjukkan sebuah tempat untuk beristirahat. Bukan goa, tapi hanya sedikit celah di kaki bebatuan besar. Kami memutuskan untuk makan dan minum dan sejenak memjamkan mata di tempat itu. Tanpa tenda.

Angin kencang mengalir dari atas bebatuan. Aku berada di bagian terluar, tapi sedikit terhangatkan dengan sarung tangan, jaket dan sleeping bag. Dini hari itu menjadi sedikit hangat.

Berlatar Gunung Merbabu, lokasi foto tidak jauh dari goa mungil tempat kami singgah

Pukul setengah lima pagi kabut masih menyelimuti. Pukul enam pagi, sekelompok pendaki pun melewati tempat kami beristirahat. Mereka langsung menuju puncak. Tapi kabut masih cukup tebal, di satu sisi. Ketika aku membangunkan diri, pemandangan khas gunung sudah menghampar di hadapan mata. Tak sabar mengambil beberapa gambar, aku berkeliling di bebatuan sekitar tempat itu. Fuad menyusul bangun, sementara Faqih masih terlelap dengan jaket jeans-nya. Aku baru sadar pagi itu, ternyata jalan yang kami lewati semalam, dan berkabut itu, adalah punggung gunung. Kanan-kiri kami adalah jurang. Dan semalam, dengan dikelabui kabut aku berdiri di bibir jurang. Ternyata aku baru tahu kenapa Faqih memperingatkan aku jangan terlalu menepi, karena dia sudah hapal bahwa daerah itu tidak bagus untuk apapun, kecuali berfoto dengan latar Gunung Merbabu.

Kami berkemas agar bisa segera menuju puncak yang sudah tidak begitu jauh lagi (sepertinya). Medan berikutnya adalah bebatuan yang tidak solid sisa hasil erupsi pada tahun dua ribu sepuluh lalu. Beberapa kali aku harus menapak dengan susah payah karena batu-batu yang ku injak longsor. Ditambah sakit lutut kanan yang kambuh tiap mendaki, membuat sisa pendakian itu sedikit berat. Menjelang Pasar Bubrah, medan menurun. Itu hanya sedikit bonus pendakian menjelang trek yang lebih sulit: kerikil berpasir.

Percayalah! ini tidak semudah yang kalian lihat.

Sedikit tips, pintar-pintarlah memilih jalan. Karena sekali salah menapak, jalan yang akan kau lalui menjadi sangat sulit. Beberapa kali aku merasa akan berakhir di gunung itu. Baru di Merapi ini aku terbesit pikiran itu. Membayangkan terbawa longsor kerikil diiringi batuan cukup besar, dengan daya gravitasi yang membuatmu tidak bisa melawan, kecuali menikmati benturan-benturan batu di sekujur badanmu. Beberapa kali aku harus tiarap dan mencengkram erat batu yang tidak cukup solid. Hanya sekadar menopang diri agar tidak terperosok. Jalur itu ku lalui sendiri. Karena dengan sialnya, kesalahan jalanku disebabkan Faqih yang melongsorkan satu-satunya pijakan menuju batuan solid. Sementara Fuad bisa mengantisipasi dengan memilih jalur lain karena dia berada jauh di belakangku. Mereka berkhianat. Aku dipaksa berjuang sendirian di kerikil berpasir yang sepertinya sangat bagus digunakan sebagai material bangunan, rumah atau gedung. Pendakian itu memakan banyak energi. Dan akhirnya, kami tiba di Puncak Merapi. Kawah yang menjadi titik sembur bencana dua tahun lalu, yang menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi karena awan panas dan lahar dinginnya.

Setelah menikmati puncak, kami memutuskan untuk turun sebelum kabut dan gelap menyambut. Seperti biasa, perjalanan turun selalu lebih mudah. Bahkan di satu titik hampir puncak, jika jalan menurun, kita akan terbantu dengan medan berpasir. Coba bayangkan ketika kamu berada di atas gundukan pasir, kemudian berjalan turun? Jika itu terjadi di masa kanak-kanak, kamu akan teringat berlarian menurun dari gundukan pasir itu. Terdengar mudah dan menyenangkan, bukan? Kira-kira seperti itulah turunan berpasir menuju Pasar Bubrah dari puncak Merapi. Mudah dan menyenangkan, bahkan cenderung seru.

Pasar Bubrah, menuju puncak.

Akhirnya kami memutuskan untuk sekali lagi beristirahat untuk makan dan minum kopi. Di samping sebuah batu besar, beberapa puluh meter dari lokasi kami tidur dini hari tadi. Sepertinya sisi batu besar itu memang sering dijadikan tempat peristirahatan. Itu buktikan dengan banyaknya sampah di area tersebut. Ya, sampah.

Setelah makan, kami merebahkan badan sejenak. Tanpa direncanakan, kami pun tertidur. Aku terbangun karena wajahku terkena terik matahari, dan sadar sudah pukul sebelas siang karena melihat jam tangan. Bukan batu besar. Penurunan gunung dilanjut kembali. Tapi, aku terganggu dengan sakit lututku yang rutin kambuh saat mendaki-turun gunung, sehingga membuat perjalanan kami melambat. Sangat melambat. Faqih yang masih segar selalu berada di depan, aku dan Fuad menyusul. Bukan sekadar bersolidaritas denganku, Fuad berjalan lambat karena kebelet buang air. Sepertinya ada yang salah dengan mie instan dan kopi yang dia minum. Hahaha. Padahal, sebelum turun, dia sudah melempar ‘amunisinya’ di tanah berbatu Merapi. Kami berjalan terus. Fuad melambat, menahan sisa makanan di ujung pantatnya sembari kentut-kentut sepanjang perjalanan.

Faqih masih melaju di depan, dan tetiba dia berteriak, “woy, gue tunggu di pos dua ya? Kebelet boker, nih!” ternyata, Faqih mengalami nasib yang sama dengan Fuad. Beruntung tidak lebih kronis bengis*-nya. Kami semua merasakan penderitaan turun gunung. Terlebih aku, yang merasa betapa panjang perjalanan turun ini karena setiap tapak berarti memberi pedih di kaki, dan kepala. Akhirnya, sepanjang turun, aku sulit memikirkan apapun, apalagi menikmatinya. Sakit lutut itu tidak menyenangkan. Aku tertinggal jauh dari mereka sejak start dari gapura Selamat Datang di Gunung Merapi.

Tiba di New Selo, serasa tiba di oase tengah padang pasir. Meski masih harus menuruni jalan aspal hingga ke basecamp.

Sesampainya di basecamp, kami kembali tertidur untuk kemudian pukul setengah tiga kami berangkat pulang menuju Jogya. Perjalanan singkat yang menyenangkan, jika tidak ada sakit di lutut ini.

Tektok Merapi.

jalan cempaka dua puluh desember dua ribu dua belas

*) bengis: kebelet ngising (kebelet boker)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s