Selamat untuk Fahmi-Lilis!

Itu hari pernikahan sobat kami, Fahmi Utomo Widodo.

Bangun pagi terasa berat, karena malam-malam sebelumnya kurang tidur. Tapi, aku harus bangun karena ada acara penting pagi itu: akad nikah sobat kami, Fahmi dengan kekasihnya Lilis.

Alarmku berbunyi pukul enam lebih dua puluh menit waktu ponselku. Ternyata sudah terlewat 20 menit tanpa aku mendengar sedikitpun dua alarm sebelumnya. Tapi, masih terasa kantuk. Akhirnya melanjutkan tidur sampai pukul tujuh pagi. Lagi, tidak terasa sudah pukul tujuh pagi. Harus bangun, bergegas mandi dan berangkat ke rumah Tri.

Aku dan Aqil tiba di rumah Tri sekitar pukul setengah delapan waktu Pondok Arum. Kenapa tiba-tiba ada Aqil? Iya, sebelumnya ia menjemput ke rumah, dan kami langsung bergegas. Kenapa dilewatkan cerita kedatangannya? Karena biar aroma terburu-burunya terasa di cerita ini. Apa terasa? Pasti tidak ya? Ya sudah.

Tidak lama kemudian kloter Kutabumi, Chandra dan Yayu tiba. Tanpa basabasi, kami langsung meluncur ke lokasi akad Fahmi-Lilis dilangsungkan, yang konon berada di Tangerang subdistrik Legok. Biar keren pake istilah subdistrik, daripada kecamatan. Perjalanan diiringi rintikan air hujan, di mana gerimis mendadak membesar saat kami melintas daerah Perumnas. Akhirnya, kami memutuskan berhenti sejenak untuk membeli minuman—bukan minuman keras, apalagi air aki—di sebuah mini market. Sekalian, Yayu butuh tisu basah—harap dibaca dengan mindset yang bersih. Karena Yayu butuh itu untuk membersihkan sesuatu di kakinya. Maksudnya, membersihkan cipratan air hujan yang sudah berwarna kecoklatan karena bercampur tanah. Perjalanan itu masih jauh, masih sekitar satu jam perjalanan. Karena subdistrik Legok merupakan wilayah Tangerang yang hampir mendekati wilayah Jawa Barat—biar terkesan jauh: Parung. Waktu di ponsel kami masing-masih sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Padahal, akad akan dilangsungkan pukul sembilan. WTF? Dan kami masih bersantai menikmati kopi, air hujan, air putih dan tisu basah?

Kami pun bergegas, mengeluarkan jas hujan dari tiap motor. Sayang, hanya si pembonceng yang mendapatkan keamanan dari air hujan. Sementara, yang dibonceng diminta bersabar. Karena kami yang di depan sudah merelakan diri sebagai human shields. Sebenarnya hujan tidak terlalu lebat. Hanya saja air itu terasa keras menghantam bumi karena angin yang kencang.

Setelah melintasi beberapa rintangan jalan menuju Legok, akhirnya kami menemukan sebuah tempat bernama JOTUN, seperti yang ada dalam peta. Itu bukan lokasi harta karun. Juga bukan lokasi akad Fahmi-Lilis dilangsungkan. Itu adalah nama sebuah pabrik. Kenapa disebutkan? Karena itu tersebut dalam peta. Sekitar lima ratus meter, kami menemukan sebuah mini market *tiiiittt*–ceritanya sensor. Tapi kami tidak masuk mini market tersebut, apalagi membeli sesuatu. Karena kami langsung banting stang ke sebuah perumahan yang ada di seberang mini market tersebut: Perumahan Legok Permai.

Kami masih belum sampai, karena kami masih harus mencari alamat akad dan resespsi mereka. Mencari janur kuning di musim kawin itu memang gampang, tapi mencari nama Fahmi-Lilis yang tersemat pada janur itu sama susahnya seperti punuk merindukan bulan—kalo bingung, jangan sok-sokan nyambungin Fahmi-Lilis dengan ‘punuk merindukan bulan’. Karena memang ga ada hubungannya. Kami sempat salah menghampiri sebuah tenda, karena ternyata itu bukan tenda Fahmi-Lilis. Melainkan Tenda Biru milik Desi Ratnasari. Juga bukan. Tapi, aku lupa namanya.

Putar balik pun kami lakukan. Melaju satu gang, kami menemukan dua janur yang salah satunya milik mereka. Kami pun masuk. Dan baru kali itu aku menemukan nama jalan diganti dengan nama pasangan pengantin: lurus Lilis-Fahmi, belok kiri si Anu-si Ani—nama terakhir disamarkan, agar si pemilik nama tidak malu namanya dicatut dalam tulisan ini. Kami mengambil arah lurus, karena kalo belok kiri kami tidak kenal dengan pengantinnya.

Begitu sampai sana, Fahmi-Lilis sudah tidak ada. Astaga! Apa kita melewatkan resepsinya? Masa pagi-pagi makanan sudah habis? Beruntung, spekulasi itu salah dan berlebihan. Karena mereka berada di mushola setempat di mana akad nikah dilangsungkan. Beruntung, akad belum berlangsung dan kami, Tri, Nana, Aqil, Yayu, Chandra dan aku bisa menjadi saksi pernikahan mereka—terharu. Ga usah lebay.

Jangan lupa, sebagian dari kami basah karena terkena hujan. Sementara, sebagian dari kami kering karena terlindung oleh jas hujan. Meski begitu, kami yang berjas hujan tak luput dari ganasnya air hujan. Misalnya, Chandra. Sepatunya penuh dengan air, sementara kaus kaki ku basah karena tetesan air dari jas hujan.

Hari itu adalah hari yang menyenangkan bagi kami semua.

Selamat berbahagia, Fahmi-Lilis. Semoga bahtera rumah tangga kalian berlangsung sukses dan meriah. Jadilah keluarga yang membahagiakan untuk semesta.

Sejak pagi hingga malam, berdatangan teman kami yang lain: Rendy, Ella, Aziz, Putri. Silih berganti untuk kondangan; mengucapkan selamat dan menghabiskan makanan yang disediakan.

Sekian.

Aktor dan Aktris utama: Ferdhi, Aqil, Chandra, Yayu, Tri, Nana, Fahmi, Lilis.

Pemeran pembantu: Rendy, Ella, Aziz, Putri—karena datangnya belakangan, sehingga tidak merasakan manis getir hujan menjelang pernikahan.

yogyakarta, delapan januari dua ribu tiga belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s