Homo Ludens Senthir

Jalan malam itu basah, setelah senja diguyur hujan. Aku dan seorang temanku sedang dalam perjalanan menuju sebuah pasar yang kerap disasar para pemburu barang bekas di salah satu titik Kota Jogja. Pasar Senthir, namanya.

Malam itu tidak terlalu ramai. Temanku bilang, Pasar Senthir malam itu tergolong sepi. Walaupun menurutku pasar itu masih cukup ramai untuk bisa disebut sebagai “pasar”. Dari ujung ke ujung, aku melihat lapak-lapak pedagang digelar di aspal yang ketika siang hari menjadi lahan parkir untuk pasar yang lebih besar di sebelahnya; Pasar Beringharjo.

Kami mulai menyusuri pedagang yang berada di ujung, berdekatan dengan lokasi kami memarkir motor. Tujuan kami mencari kabel charger netbook bekas. Aku tak berharap banyak. Temanku, sebelumnya sudah mengingatkan kalau mencari barang di pasar itu ‘jodoh-jodohan’. Jika beruntung, aku akan dapat barang yang aku cari. Tapi jika kurang beruntung, aku akan berjodoh dengan barang lain, yang tidak diniatkan dicari. Beberapa lapak pedagang kami susuri, aku belum menemukan barang yang ku cari. Barang-barang yang dijajakan di pasar itu cukup unik—jika tidak bisa disebut aneh. Segala macam barang bekas ada di sana. Mulai dari PCB bekas controller game. Charger ponsel dari berbagai jenis dan merek—dari yang asli hingga yang palsu alias KW. Cetakan foto jadul entah milik siapa dan entah siapa yang berpose di dalamnya. Hingga kunci-kunci bekas yang sudah berkarat. Saat itu, aku belum bisa membayangkan siapa yang mencari—atau akan membeli—kunci berkarat itu, dan untuk apa.

Selain charger netbook, daya tarik yang membuat aku datang ke pasar itu adalah buku-buku bekas berharga murah. Tapi lagi-lagi, kalau aku beruntung. Jika berjodoh, aku bisa dapat buku langka yang diburu para kolektor dengan harga yang sangat terjangkau. Tapi sepertinya, malam itu aku kurang beruntung. Tidak ada lapak buku yang disebut-sebut temanku. Lapak yang khusus menjual buku-buku itu tutup—atau memang tidak berdagang pada malam itu. Temanku menduga, mungkin karena sore itu hujan, si penjual jadi enggan berdagang. Itu juga yang kemudian muncul dibenak, kenapa malam itu jumlah pedagangnya cukup sedikit. Tidak seperti malam-malam saat lagit cerah.

Charger tidak dapat. Buku tak mampu diraih. Aku pun mencari barang lain yang mungkin berjodoh denganku. Sepintas aku melihat sebuah sepatu yang menarik.

Apa itu Doc Mart?”, tanyaku di kepala.

Aku pun menghampiri lapak sepatu yang aku lihat. Ah, ternyata bukan. Itu hanya sepatu ‘yang mirip Doc Mart’. Itu Doc Mart abal-abal. Meski bukan asli, aku coba bertanya berapa harga sepatu itu.

Dia menyebut harga, “seratus tiga puluh ribu, mas”.

Oh, cukup mahal juga pikirku. Aku pun meninggalkan lapak itu dan menuju lapak-lapak lainnya. Sembari berjalan, aku bertanya kepada temanku yang sudah lebih akrab dengan pasar tersebut. Menurutnya harga itu standar. Tidak terlalu mahal tidak terlalu murah.

Aku pun berkelakar, “kalo lima puluh ribu gw ambil dah”.

Kalo lu nawar segitu, diketawain sama abangnya”, timpal temanku.

Lho, kok? Dan ternyata selidik punya cerita, ada (semacam) etika ketika melakukan tawar-menawar di Senthir. Tawar menawar di sini pakai hati dan logika.

Temanku berhenti di lapak barang campur yang juga menyediakan kaset-kaset bekas. Maklum, temanku ini kolektor kaset. Dia mendapatkan kaset Oasis dengan harga tiga ribu rupiah. Wah, murah sekali pikirku. Sebelumnya si penjual menawarkan harga lima ribu untuk satu kaset. Dan menjadi sepuluh ribu jika mengambil tiga kaset. Temanku tidak langsung mengambil tawaran pertama. Dia menawar, tiga ribu untuk satu kaset. Dan dia mendapatkannya.

Beranjak dari lapak, dia berceletuk, “beli di sini untung-untungan”.

Kaset itu memang tidak dijajal lebih dulu. Jadi semacam beli kucing dalam karung. Kalau mengeluarkan tiga ribu dan kaset itu rusak, atau kualitasnya kurang bagus, anggap saja amal. Tapi jika kaset itu masih bagus, itu berarti dia sedang beruntung. Satu lagi pelajaran yang aku dapat saat bermain ke Senthir.

Sambil berjalan tak tentu tujuan, aku terpikir untuk kembali ke lapak sepatu itu. Meski abal-abal, sepatu itu memang menarik perhatianku. Ah, lagi pula aku bukan orang yang tidak terlalu peduli dengan merek. Walaupun abal-abal, tapi aku nyaman dan suka memakainya kenapa tidak. Akhirnya, aku kembali ke lapak sepatu itu dan mulai menawar.

Pasnya berapa, mas?” tanyaku.

Si penjual yang masih cukup muda itu pun tertawa. “Aduh, masnya nawar berapa? Saya bingung kalo ditanya pasnya berapa.”

Saya menawar setengah dari angka yang dia tawarkan. Cukup alot proses tawar-menawar itu, sampai akhirnya aku membawa pulang sepatu itu dengan harga yang kami sepakati; sembilan puluh ribu rupiah. Cukup murah untuk sepatu ‘yang mirip Doc Mart’, yang harga aslinya berkisar antara satu hingga tiga juta rupiah. Atau mungkin lebih mahal dari itu. Ditambah kondisi sepatu itu yang masih mulus. Sangat mulus. Kecuali lubang-lubang tali yang sudah agak berwarna karat.

Perburuan kami malam itu belum selesai. Aku masih mencari-cari lapak yang menjual buku bekas, hingga terhenti di satu sudut; lapak dengan tumpukan kertas serupa buku. Memang benar, ada sedikit buku yang dijajakan di situ. Aku mengambil buku yang kira-kira dari judulnya bisa menarik minatku. Sebuah buku bekas dengan jilid yang sudah rusak dan halaman muka yang entah ke mana. Setelah dilihat-lihat, buku itu tidak terlalu menarik. Tetapi dari segi historis, buku itu cukup penting. Ditulis oleh mantan orang kepercayaan Bung Karno yang ditulis dan diterbitkan di era kejayaanya. Bercerita tentang revolusi Indonesia dari sudut pandangnya. Tanpa banyak pikir, aku tanya harga buku itu.

Lima ribu aja, mas” jawab si bapak.

Murah juga pikirku. Sebelum aku menawar “ga bisa kurang, pak?”, dia melanjutkan.

Aku di sini gak cari untung, mas. Aku di sini tuh cari teman”.

Sejenak aku terdiam. Kemudian memandang ke sekeliling pasar itu. Sepertinya benar, para pedagang di sana tidak sedang berdagang untuk cari untung. Mereka berdagang untuk cari teman. Mencari kesibukan yang bisa membunuh waktu mereka yang rata-rata sudah memasuki usai paruh baya menjelang lanjut usia. Tak banyak waktu, aku mengeluarkan sejumlah uang yang dia sebutkan. Lima ribu rupiah untuk sebuah buku lusuh tentang perjuangan anti-kolonial negeri ini yang diterbitkan pada medio 1960-an.

Kunjungan ke Pasar Senthir malam itu sudah selesai. Tak ada charger netbook yang kucari. Hanya dapat sebuah sepatu Doc Mart abal-abal dan sebuah buku lusuh lawas. Kami menuju tempat parkir motor dan pulang.

Di jalan, aku tak bisa melupakan kata-kata si bapak pedagang buku. Aku di sini gak cari untung, mas. Aku di sini tuh cari teman. Kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Bahkan hingga hari tulisan ini dibuat—kira-kira lebih dari sebulan setelahnya. Kemudian aku menduga-duga alasan si bapak melontarkan kalimat itu—selain karena malas tawar-menawar. Ada penegasan dalam kalimat itu. Ada semacam pengingat bahwa sebagian pedagang di sana tidak sedang berjualan mencari untung. Kalau dipikir-pikir memang benar adanya. Siapa yang mencari kunci bekas berkarat? Siapa yang mencari cetakan foto lawas yang entah siapa yang ada di foto itu? Siapa yang mencari lempengan PCB bekas barang elektronik yang sudah rusak? Siapa yang mencari benda remeh-temeh yang mungkin hanya dipungut oleh pemulung dan pemburu barang rongsok yang biasa berkeliling dari pemukiman ke pemukiman? Pikirku, mungkin hanya perupa—dengan imajinasi bentuk yang liar—yang akan membeli benda-benda hampir tak pasti kegunaannya itu. Aku pun ragu si pedagang bisa membawa banyak rupiah dalam semalam jika benda-benda yang dijualnya hanya seharga seribu, lima ribu, atau yang termahal lima puluh ribu rupiah.

Pasar ini seperti menjadi ruang bercengkrama orang-orang yang terbiasa dengan jalanan. Mereka yang sudah memasuki masa paruh baya, hampir lanjut usia. Yang sudah pensiun dari pekerjaan formalnya. Yang hanya tinggal menunggu kapan Izrail datang menghampiri dan menarik kontrak hidupnya di bumi. Atau bosan dengan kegiatan di rumah yang hanya memaksa mereka menonton sinetron prime-time, karena mungkin istrinya penggemar berat dari Dude Herlino dan Naysila Mirdad. Mereka masih menjadi manusia komunal dengan selalu hadir di ruang-ruang yang bisa membuat mereka tertawa senang, marah dan sedih. Berinteraksi dengan orang-orang dari kelas yang sama. Bertemu orang-orang baru yang mencari barang bekas, yang mungkin bisa menjadi teman baru di senja usianya. Dilihat dari barang dagangannya mereka memang bukan pedagang besar. Ditambah dengan penegasan bahwa dia tak mencari untung dari barang-barang yang dijajakan, semakin meyakinkan bahwa bejualan dari jam lima sore hingga sembilan malam, hanya aktivitas iseng.

Kecenderungan orang-orang berharap bisa hidup tenang di masa tua dengan kemapanan materi. Tapi tidak bapak-bapak di Pasar Senthir itu. Mencari tambahan rupiah hanya sampingan. Tujuan utama mereka adalah bermain. Bergaul dan berkumpul, dengan orang-orang yang sepaham bahwa tujuan mereka berada di sana bukanlah untuk uang. Walaupun, aktivitas yang mereka lakukan adalah berdagang di sebuah tempat yang disebut pasar, mereka tidak sedang mencoba meraup laba sebanyak-banyaknya. Menjual barang langka seharga barang bekas pakai. Tak peduli barang itu dicari banyak orang dan ada yang berani bayar mahal. Mereka tidak peduli dengan hukum ekonomi, tingginya permintaan terhadap barang yang langka akan membuat harga barang tersebut melambung tinggi.

Sadar atau pun tidak, di era kapitalistik kini, mereka telah mengembalikan hakikat utama manusia sebagai homo socius, dan sebagai homo economicus dalam maknanya yang lebih ramah. Tidak tersirat bahwa mereka adalah homo homini lupus. Cengkrama di Pasar Senthir seakan menegaskan hakikat mereka sebagai homo ludens.

Brian Sutton-Smith pernah menulis, “…play is a most fundamental human function and has permeated all cultures from the beginning“. []

sewon bantul, tiga belas juni dua ribu tiga belas

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s