Sepenggal Catatan di Hari Ulang Tahun Yogyakarta

Pagi ini saya bangun lebih pagi dari biasanya. Ada beberapa pekerjaan rumah yg memang harus saya kerjakan sebelum berangkat bekerja; mencuci pakaian kotor yang menumpuk di kamar. Maklum, sebagai bujang-rantau, saya harus bisa meng-cover semua pekerjaan rumah sendiri. Walaupun bisa saja saya membawa pakaian itu ke jasa binatu.

Karena bangun lebih pagi, saya pun jadi tahu lebih awal bahwa hari ini Yogyakarta (Jogja) sedang berulang tahun. Beberapa teman memberikan ucapan selamat kepada subjek tak hidup yang tidak diketahui siapa pangampunya ini, lewat media sosial. Tapi, saya tahu bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Jogja dari seorang teman yang mengeluh malas berkantor karena belum memiliki jarik (sejenis pakaian tradisional). Apa hubungannya? Teman saya itu seorang pegawai kecamatan, dan ternyata hari itu seluruh pegawai diwajibkan untuk memakai jarik dalam rangka memperingati HUT Jogja.

Jam sembilan saya berangkat menuju tempat bekerja. Sepanjang jalan, ramai anak-anak usia sekolah dasar yang didandani dengan pakaian tradisional. Sepertinya mereka akan ikut parade untuk merayakan hari yang bernilai historis itu. Di beberapa ruas jalan, terlihat serpihan-serpihan kembang tujuh rupa berserakan yang mungkin ditabur pagi itu atau malam sebelumnya. Tapi, suasana meriah selebrasi warga sedikit ternoda dengan papan-papan iklan ucapan selamat dari berbagai instansi pemerintah dan swasta. Seperti spanduk-spanduk kampanye partai politik, iklan-iklan itu membuat jalan-jalan di Jogja kian ruwet dipandang.

Tiba di satu titik persimpangan, saya menoleh ke sisi kiri-atas. Ada sebuah mural yang menarik perhatian di sana. Sebuah frasa singkat dengan nada protes: ‘Jogja Ora Didol!‘ (Jogja Tidak Dijual!). Sepertinya itu ejawantah protes dari seorang/sekelompok seniman jalanan lokal yang kian gelisah dengan Jogja yang tak henti dijual. Bagi mereka yang tinggal di Jogja pasti memahami maksud dari frasa itu. Sejak setahun terakhir, wilayah Yogyakarta memang mengalami pembangunan yang begitu masif. Laiknya di kota-kota besar padat penduduk lainnya, pembangunan itu berimplikasi pada penggusuran-penggusuran di titik-titik yang dianggap strategis. Hotel-hotel dan mal-mal dibangun hampir di segala penjuru kota. Masyarakat yang tinggal di sana pun tergusur. Atas nama pembangunan, mereka dipaksa untuk pindah ke lokasi yang jauh entah di mana dengan uang pengganti yang juga tak sepadan.

Protes dari bawah mulai bermunculan. Mulai dari mereka yang tergusur, hingga mereka yang jengah dengan Jogja yang kian semrawut. Berbagai protes juga dilakukan. Mulai dari aksi mural dan menempel poster, hingga aksi kreatif bombardir surat protes kepada pemangku kebijakan. Tapi hingga kini belum terlihat hasilnya. Mungkin pemerintah Jogja tak se-istimewa jargon daerahnya. Mereka terlanjur bebal untuk bisa mendengar keresahan warga.

Bicara soal protes, tujuh oktober dua tahun lalu, juga terjadi aksi protes yang lebih keras dari sekadar mural di tembok kota. Sebuah anjungan tunai mandiri milik sebuah bank dibakar oleh sekelompok orang. Di sekitar lokasi kejadian, tersebar pamflet yang bernada menentang rencana Pemerintah Provinsi Yogyakarta bersama sebuah perusahaan tambang untuk menggusur lahan pertanian di pesisisir selatan Kulonprogo. Sebagian warga mengecam aksi tersebut. Alasannya, karena aksi tersebut telah membuat Jogja tidak aman dan nyaman. Bahkan, pemerintah mencap para pelaku sebagai teroris. Tapi, mungkin hari ini—jika masih ingat peristiwa tersebut—mereka yang mengecam akan sedikit memaklumi mengapa aksi itu sampai dilakukan.

Mungkin bagi sebagian orang, mencintai Jogja kini menjadi sebuah dilema. Yang harus dipertegas adalah mencintai tanah kelahiran, tidak serta merta mendukung kebijakan pemerintah yang kerap mengorbankan kepentingan masyarakat kelas bawah. Apa yang istimewa jika rumah-rumah warga digusur untuk pembangunan hotel dan mal? Apa yang istimewa jika petani yang menghidupi banyak orang dirampas lahannya untuk kepentingan tambang pasir besi? Apa yang istimewa jika mereka yang sudah berkarya dipaksa menjadi pengangguran?

Selamat merayakan hari ini untuk seluruh warga Yogyakarta. Dan, Yogyakarta akan lebih istimewa tanpa penggusuran. Karena, Jogja ora didol, dab!

bantul, tujuh oktober dua ribu tiga belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s