Anonymous dan Persoalan Sadap Menyadap

Belum lama ini, berita soal penyadapan (intelijen) Australia terhadap alat komunikasi (pejabat) Indonesia sempat menjadi trending topic di media-media di Indonesia. Mulai dari televisi, portal berita online, hingga obrolan ‘warung kopi’ a la media sosial, tersita perhatiannya oleh kasus ini. Pasca-pembocoran informasi tersebut oleh Edward Snowden, beberapa peretas (cracker) Indonesia—saya tidak yakin kalau mereka mengatasnamakan diri Anonymous Indonesia (AnonIndo)—menyerang beberapa situs milik Australia. Konon, aksi ini dilakukan sebagai bentuk sikap nasionalisme. Mereka—para peretas—seperti gelisah dengan aksi spying Australia. Aksi tersebut pun mendapat sambutan dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya Anonymous Australia (AnonAu). Melalui video yang diunggah di YouTube, AnonAu mengoreksi—jika tidak mau disebut memperingatkan—bahwa AnonIndo telah salah sasaran. Sebab, situs-situs yang diserang adalah situs milik publik, bukan milik pemerintah Australia, yang bertanggungjawab atas aksi mata-mata tersebut. Para peretas Indonesia disarankan untuk menyerang langsung ke sasaran yang menjadi tersangka utama. Mereka menyebut beberapa situs yang merupakan milik dinas intelijen Australia:  ASIO, DSD, dan ASIS.

Setelah video pertama diunggah, aksi cracking masih terus terjadi. Hal itu pun memaksa AnonAu mengeluarkan ultimatum kedua—yang mereka sebut sebagai final warning—agar para peretas itu segera menghentikan aksinya, karena sekali lagi, mereka salah sasaran. Bahkan di video itu, AnonAu melontarkan pertanyaan yang bernada menantang—atau memperingatkan—yang ditujukan kepada penyerang dari Indonesia: “We do not want a cyber war, do you? Setahu saya, tak ada tanggapan apapun dari kelompok peretas Indonesia. Tetapi memang, setelah video final warning tersebut, aksi serangan cyber ke situs-situs publik Australia berhenti.(*)

Drama sudah selesai? Belum. Tidak lama setelah itu, beberapa situs Indonesia di-crack. Banyak pihak menduga bahwa itu adalah serangan balasan AnonAu terhadap aksi AnonIndo terhadap situs publik Australia. Tapi, itu segera dibantah. AnonAu menyangkal telah melakukan serangan ke beberapa situs Indonesia. Mereka menduga ada pihak-pihak yang berusaha mengadu domba, dan berharap ada ‘perang’ yang lebih besar antara kedua Anonymous tersebut.

Perseteruan terakhir yang mencuat adalah soal ejekan seorang politisi Partai Liberal Australia, Mark Textor, yang menyebut Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, berwajah seperti bintang film porno era 70-an. Sebagian publik Indonesia menjadi kian marah—saya sendiri tergelitik dengan cemo’ohan itu. Mereka menganggap Australia telah menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia (?). Bahkan, beberapa ormas berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Dalam protes itu, selain berorasi, massa juga melakukan aksi lain: membuat coretan ‘Merah Putih’ dan lemparan telur di tembok luar bangunan kedubes. Selain yang saya paparkan, masih banyak lagi bunga-bunga cerita yang mewarnai perseteruan yang membuatnya semakin meluas.(**)

Provokasi Media Massa

Semua yang saya ceritakan di awal, saya dapati dari media massa selama beberapa waktu. Dan saya menyimpulkan bahwa kasus ini menjadi semakin meluas, tidak lain karena provokasi oleh media massa. Tentu saja pertikaian ini tidak akan tumbuh jika media massa tidak bermain. Coba simak bagaimana media di Indonesia memainkan isu; media arus utama memiliki kecenderungan untuk memperuncing gesekan di level masyarakat. Misalnya, salah satu media massa bonafide di Indonesia, beberapa kali menggelontorkan isu negatif tentang Australia. Mulai dari kicauan politisi Australia atas Menlu Indonesia—yang disebut di atas, pengamanan ekstra-ketat kedubes Australia di Jakarta, hingga aksi Anonymous Australia yang ditengarai membobol situs-situs pemerintah Indonesia. Saya sendiri tidak peduli dengan pertikaian di level elit, seperti soal Menlu berparas porno atau pengamanan kedubes yang dianggap lebay. Tapi, coba lihat bagaimana media coba memprovokasi publik Indonesia dengan mengekspos serangan AnonAu ke jejaring maya pemerintah Indonesia—yang AnonAu sendiri membantahnya. Dengan frame tersebut, media mengarahkan seolah bahwa: jika AnonAu telah menyerang situs pemerintah Indonesia, maka mereka telah menyerang publik di Indonesia, oleh karena itu publik juga harus marah. Terutama bagi AnonIndo, karena serangan tersebut seolah menjadi tantangan yang harus dibalas. Mungkin ini yang disebut oleh AnonAu bahwa ada pihak yang ingin mengadu domba mereka dengan AnonIndo:

“…the Indonesian media and hackers have been trying to start a civil war between the two spectrums.

Today, as Anonymous Australia, we are here today to deny any claim that says Australia has attacked Indonesia.
We do not want to war. We only wish to join together and expose our governments, not harm each other.
There has been a lot of propoganda and misleading lies that has been said by the Indonesian community.

The news site ‘merdeka’ has been spreading lies towards the Anonymous community…” [Operation Aus]

Seperti kasus serupa yang sudah-sudah, media di Indonesia kerap memanfaatkan sentimen nasionalisme yang memang selalu manjur untuk membuat masyarakat naik pitam. Sesempit: Kami Indonesia, Anda Asing. Tanpa melihat adanya oposisi di internal kelompok yang dianggap menjadi musuh. Di kasus ini misalnya, media mengesankan bahwa Pemerintah Australia dan AnonAu berada di posisi yang sama, yakni kontra Indonesia. Padahal, dengan gamblang AnonAu menyatakan berseberangan secara politis dengan Pemerintah Australia dan menjelaskan bahwa AnonAu dan Indo berada di pihak yang sama. Di tengah perkembangan oposisi yang semakin kompleks, media masih saja menggunakan wacana usang nasionalisme agar masyarakat mau angkat suara dan berteriak ‘Kami Indonesia!‘ Mereka membuat kabur persoalan yang sesungguhnya: penguasa tiran selalu menjadi musuh masyarakat bawah, meskipun mereka berasal dari tanah air dan bendera yang sama. Hari ini bukan lagi era anti-kolonialisme abad 20, di mana setiap Indonesia hampir wajib memerangi Belanda.

Anonymous Salah Kaprah

Kemudian soal Anonymous. Sejak awal saya tidak yakin bahwa yang menyerang situs-situs publik Australia adalah Anonymous. Karena yang saya tahu, Anonymous adalah kelompok aktivis cyber (hacktivist) yang kerap melakukan serangan-serangan virtual kepada situs-situs pemerintah atau kekuasaan yang korup, dan berjejaring secara global. Meski di setiap teritori mereka menggunakan indentifikasi asal negara (misal: Anonymous Australia, Anonymous Indonesia), mereka tidak pernah menggunakan sentimen nasionalisme dalam aksinya. Jadi akan terdengar sangat konyol, jika benar AnonIndo berperang dengan AnonAu hanya karena konflik sadap-menyadap pejabat tinggi kedua negara terkait. Anonymous tidak pernah bekerja atas nama nasionalisme. Mungkin jika sempat mendengar dan ingat, Anonymous International pernah mempertahankan jaringan internet di Palestina dari blokade Israel, beberapa waktu lalu. Bahkan, mereka menyerang beberapa situs strategis milik pemerintah Israel sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat sipil Palestina. Ya, rakyat sipil Palestina, bukan negara Palestina.

Kembali ke persoalan Anonymous Indonesia. Jika pun benar bahwa mereka yang menyerang situs publik Australia sudah mengklaim diri sebagai Anonymous, kalau boleh menyebut, Anonymous yang masuk, atau ada di Indonesia, adalah salah kaprah. Untuk apa buang-buang tenaga membela pemerintah yang korup, yang setiap harinya wajah mereka dijadikan meme dengan kalimat-kalimat konyol? Dan, persoalan yang terjadi saat ini bukan pertama kalinya. Awal bulan lalu—5 November 2013, Anonymous International melakukan protes global yang mereka sebut sebagai Million Mask March. Aksi ini dilakukan di berbagai kota besar di dunia, tak ketinggalan di Indonesia (Jakarta). Namun, lagi-lagi, ada hal yang membuat saya mengernyitkan dahi perihal keberadaan AnonIndo. Dalam pemberitaan sebuah media massa online, disebutkan beberapa kampanye yang diangkat AnonIndo pada aksi Million Mask March, salah satunya adalah: Menunjukkan bahwa Anonymous bukan komunitas kriminal/pelaku kegiatan ilegal.

Seketika saya bergumam, “WTF! Anonymous macam apa yang ada di Indonesia?” Mereka tidak mau disebut ilegal/ kriminal? Padahal—sadar atau tidak—dalam perspektif negara, aksi-aksi yang sering dilakukan para cracker adalah pelanggaran hukum. Dan, segala sesuatu yang melanggar hukum adalah ilegal. Lalu, mengapa harus bersusah payah untuk mendapat pengakuan dari pemerintah? Karena jika memang tidak ingin dianggap ilegal, cukup berhenti melakukan aksi-aksi yang berpotensi melanggar hukum. Sesederhana itu. Dan satu lagi, menanggalkan label Anonymous, karena lagi-lagi setahu saya, Anonymous tidak pernah meminta pengakuan dari otoritas (negara) mana pun di dunia ini. Mereka adalah individu-individu ilegal, dan mereka bangga dengan itu.

Nasionalisme Banal

Satu kata yang mungkin bisa mendeskripsikan itu semua, adalah: nasionalisme. Ambil contoh, soal aksi serampangan kelompok peretas Indonesia. Sebagian orang mendukung aksi para peretas ini, karena—meminjam perspektif mereka—Australia dianggap telah melanggar kedaulatan Indonesia sebagai sebuah entitas negara. Dan, mengapa saya menyebutnya ‘serampangan’, karena bersepakat dengan pernyataan AnonAu, bahwa AnonIndo telah salah sasaran. Pemicu konflik itu sendiri cenderung elitis. Maksudnya, perseteruan itu hanya terjadi di level pejabat negara, dan tidak melibatkan publik di level bawah yang lebih luas. Lalu mengapa kita harus ikut marah? Atau mengapa malah situs publik Australia yang diserang? AnonAu sudah ‘berbaik hati’ dengan tidak menyerang balik saat itu juga, tetapi memilih untuk ‘menyapa’ via video. Meskipun ada kabar soal ancaman dari AnonAu bahwa mereka akan menyerang situs resmi Pemerintah Indonesia, Polri dan KPK.

Terlihat ada perbedaan? Bagi saya ada. Melihat cara kedua Anon menyikapi provokasi tersebut, ada perbedaan tingkat kedewasaan (baca: kecerdasan), antara keduanya. Bagaimana AnonAu memilih untuk menyerang situs strategis pemerintah, ketimbang situs publik, berkebalikan dengan apa yang dilakukan AnonIndo. Saya hampir yakin, jika perseteruan ini terjadi antara Indonesia dan Malaysia, publik maya kedua negara tersebut akan saling serang. Padahal, masalah yang terjadi tidak ada kaitan langsung dengan mereka. Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya: mengapa para peretas Indonesia memilih membela pejabat, yang pada kesehariannya pun mereka gugat.

Mengapa begitu naif, di zaman dengan perkembangan teknologi yang masif seperti saat ini, aksi penyadapan adalah hal biasa. Jika pun aksi itu benar, Australia hanya salah satu dari sekian banyak negara yang berkepentingan untuk mengintai tindak-tanduk Indonesia. Kasus ini hanya secuil informasi ‘bawah tanah’ yang sengaja dirahasiakan dari publik. Bisa jadi, hampir seluruh negara yang punya hubungan diplomatik dengan Indonesia, sudah mengirimkan agen-agennya, baik manusia atau teknologi, di seantero Indonesia. Itu hanya lagu lama ‘perang dingin’ antarnegara yang bisa kita bayangkan, seperti dalam film-film spying a la James Bond. Jadi apa yang dikhawatirkan dari perkara itu, ketika kita sadar bahwa seluruh pemerintah adalah korup dan tidak sama sekali merepresentasikan posisi politik masyarakatnya? Seperti AnonAu, yang siap ‘membantu’ untuk menyerang pemerintahnya sendiri, karena (mungkin) mereka sudah lebih jernih melihat di mana mereka harus berposisi, dan tidak terpengaruh wacana nasionalisme yang banal.

Lagipula, kalaupun harus gelisah, yang sepatutnya kita khawatirkan adalah penyadapan negara terhadap kita: warga negara. Apa sudah sangat yakin, privasi kamu terjaga dengan baik? Apa kamu yakin, akun Facebook, Twitter, Path, e-mail dan ruang-ruang virtual kamu sudah aman dari intaian negara? Seberapa banyak CCTV yang mengawasi kita—meskipun kita tidak melakukan aksi yang disebut kriminal/ilegal? Seberapa sering mereka membuntuti, kala GPS (Global Positioning System) di ponsel kita aktifkan? Atau yakinkah kamu kalau obrolan mesra—dan mungkin cabul—dengan pacarmu tidak diketahui orang lain? Tidak ada di antara kita yang benar-benar bebas dari penyadapan, dari intaian penguasa yang selalu ingin memastikan bahwa kekuasaannya tidak ada yang mengancam. Bagi saya, penyadapan negara terhadap kita lebih patut dikhawatirkan, daripada hal yang sedang diributkan antara Indonesia dan Australia.

*

Sadap-menyadap adalah hal biasa ketika dunia menjadi kian eksklusif yang termanifestasi dalam bentuk negara-negara. Padahal, persoalan semacam itu tidak cukup penting bagi kita sebagai warga biasa. Lagi-lagi, penyadapan yang dilakukan Australia atau Indonesia bukan untuk kepentingan masyarakat bawah. Alasannya: serupa seperti yang negara ini lakukan kepada kita.

Kadang kita terlalu naif untuk memercayakan perdamaian dunia pada pada penguasa. Dunia ini memang semakin tidak baik-baik saja ketika teknologi panoptikum dan persenjataan terus dikembangkan. Jargon perdamaian yang didengungkan hampir semua negara menjadi klise, karena sebenarnya mereka menaruh kecurigaan terhadap yang lainnya. Siapa yang bisa menjamin bahwa tidak akan ada perang, sementara teknologi tempur terus berkembang hingga ke level yang sulit dibayangkan oleh awam. Sepanjang sejarah, hampir tidak ada perang yang benar-benar mewakili kepentingan hakiki manusia sebagai manusia, kecuali perang terhadap penguasa yang zalim.

==============

(*) Setelah ‘final warning‘, serangan terhadap situs-situs publik Australia berhenti. Dan tak lama kemudian, situs intelijen Australia asis[dot]gov[dot]au, situs Polisi Federal Australia (AFP), dan situs Bank Sentral Australia (ARB), diretas oleh kelompok yang diduga berasal dari Indonesia.

(**) Berita seputar penyadapan ini terus berkembang, mulai dari penarikan Dubes RI di Australia, penghentian latihan militer bersama, hingga yang paling konyol adalah tuntutan sejumlah massa di NTB, yang meminta agar warga Australia yang ada di Indonesia di-sweeping.

One thought on “Anonymous dan Persoalan Sadap Menyadap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s