Suara Tan Akan Tetap Lantang

Sama seperti orang waras lainnya di Indonesia, saya geram ketika mendengar kabar bahwa diskusi buku tentang Tan Malaka di C20 Library, Surabaya, dibatalkan. Penyebabnya, klise, FPI yang konon beragama itu, memaksa diskusi tersebut dibatalkan karena berbau komunis. Mereka tidak ingin komunisme kembali tumbuh di Indonesia. Aparat, yang seharusnya [ini memang selazimnya klise] menjamin keamanan setiap warga negara untuk berdiskusi dan berpendapat, malah ikut menuntut agar diskusi tersebut tidak digelar. Pihak kepolisian mengaku pada dasarnya akan memberikan izin setiap acara apapun selama tidak menggangu keamanan. Dan, polisi tidak memberi izin karena diskusi tersebut dianggap meresahkan dan menggangu keamanan.

Di mana keterancaman itu terjadi? Sejak awal rencana diskusi, yang sedianya menghadirkan sejarawan Harry A. Poeze itu, tidak ada pihak mana pun yang merasa terganggu dengan rencana diskusi tersebut. Hingga akhirnya segeremobol orang datang dan merasa terganggu dengan diskusi tersebut dan mengancam dengan kekerasan. Lalu siapa sebenarnya yang meresahkan? Siapa yang sebenarnya mengganggu keamanan?

Kegeraman saya, dan banyak orang di Indonesia, bukan kepalang. Di tengah ancaman kelompok fasis itu, polisi mendatangi pihak C20 dan mengatakan tidak bisa memberi jaminan keamanan apabila diskusi tetap dilanjutkan. Begitu pun dengan tentara. Suara mereka senada dengan ancaman FPI. Negara macam apa ini? Apa yang mereka takutkan dari Tan Malaka, yang sudah resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional sejak 1963?

Jika FPI tidak mengenal Tan, saya menganggap wajar. Mereka cuma habib oplosan yang coba membawa unta dan padang pasir ke negeri asri Nusantara. Tetapi yang tidak masuk akal bagi saya adalah ketika tentara yang konon pembela NKRI sampai mati, menggugat Tan Malaka yang tidak lain adalah penggagas awal Republik Indonesia. Dia yang mencetuskan Indonesia merdeka 100%! Bahkan para founding father bangsa ini pun banyak berguru pada Tan. Jadi bolehkah saya berkesimpulan bahwa jargon NKRI harga mati yang sering diteriakkan itu hanya klise?

Luar biasa konyol. Para tentara yang konon nasionalis, menggugat pemikiran Tan yang bahkan [saya berani jamin 100%] lebih nasionalis daripada mereka. Saya bukan nasionalis, tapi saya salah satu dari sekian ribu atau bahkan jutaan orang yang mengagumi pemikiran dan aksi Tan, yang sadar betul bahwa Tan tidak boleh dan tidak akan bisa dilenyapkan dari sejarah bangsa ini. Suatu waktu, Tan pernah berujar: Ingatlah, bahwa dari dalam kubur, suaraku akan lebih lantang daripada di atas bumi. Janji itu terbukti. Saya yakin, suara saya ini hanya sebagian (sangat) kecil dari sekian banyak yang mengukuhkan janji Tan.

Kita tidak bisa banyak berharap di era reformasi nan demokratis ini. Tan Malaka dan pemikiran para pendiri bangsa masih dikebiri. Lalu, apa bedanya zaman ini, yang konon menghargai kebebasan beripikir, dengan zaman Orba yang totaliter?

jogjakarta, delapan januari dua ribu empat belas

2 thoughts on “Suara Tan Akan Tetap Lantang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s