‘Kawin Culik’

Saat sedang berada di Lombok Tengah, dalam forum discussion group sebuah riset kecil tentang pusat layanan internet kecamatan, saya mendapati sebuah cerita yang menurut saya menarik. Ini tidak akan ada hubungannya dengan internet atau proyek pemerintah yang, kalau boleh saya klaim, 99% gagal itu. Tapi, ini tentang sebuah tradisi yang ada dan hidup sejak lama di Lombok: kawin culik.* Mungkin sebagian orang berpikir ini semacam kawin lari. Tapi, mungkin ada banyak perbedaan konsep antara keduanya. Saya agak lupa dari mana obrolan itu bermula. Saat saya sedang memotret proses diskusi, saya terlibat obrolan ringan dengan si tuan rumah.

Begini ceritanya. Jadi, sebelum masuk ke jenjang pernikahan, ada beberapa fase yang harus dilewati sepasang lelaki dan perempuan. Dalam prosesnya, si lelaki harus ‘menculik’ si perempuan agar bisa dinikahi. Kenapa saya beri tanda kutip, karena penculikan itu tidak benar-benar dimaknai secara harfiah, atau yang umum dipahami khalayak; berkonotasi negatif. Si lelaki harus membawa si perempuan ke rumahnya, yang sudah hampir tentu akan diperkenalkan ke orang tuanya. Si perempuan ini akan ‘dipingit’ selama beberapa hari, hingga akhirnya si keluarga perempuan akan diberitahu bahwa anaknya ada di rumah si lelaki. Kabar itu kemudian akan berlanjut ke obrolan yang saya bayangkan seperti lamaran pada umumnya, dan berujung pada kesepakatan di antara keduabelah pihak: pernikahan. Setelah kesepakatan tercapai antarkedua keluarga, menikahlah si penculik dengan orang yang diculiknya.

Tapi sebentar. Itu tadi bayangan penculikan yang ideal. Karena ternyata, apa yang dilakukan si lelaki mengandung resiko yang cukup besar. Dari cerita yang saya dapat, apabila si lelaki tertangkap basah ketika sedang menculik, dia bisa saja dipukuli warga sekampung. Selain gagal mendapatkan si perempuan, si lelaki bisa saja tewas di tempat. Tapi konon, itu yang terjadi dahulu kala. Sekarang, kemungkinan itu semakin kecil. Karena sebenarnya ‘penculikan’ itu, sejauh yang saya tangkap, terjadi karena ada konsensus antara keduanya. Ada kala, si perempuan berpura-pura keluar untuk shalat berjamaah di masjid. Di dalam mukena yang dia bawa, diselipkan beberapa setel baju untuk beberapa hari; selama dia ‘dipingit’ oleh si lelaki. Lagipula, di zaman ini, si penculik dengan yang diculik bisa janjian lewat SMS atau alat komunikasi lain yang sudah sedemikan canggih. Si lelaki tidak perlu mengendap-endap di depan rumah si perempuan, untuk kemudian dia bawa lari. Dengan begitu, resiko kepergok warga dan dipukuli semakin kecil.

Bahkan, konon, menculik lebih tinggi stratanya daripada melamar. Seorang lelaki bisa saja kehilangan perempuan yang sudah dilamarnya apabila si perempuan kemudian diculik oleh lelaki lain. Entah apa dasarnya, tapi dugaan saya, mungkin menculik dinilai lebih ‘berani’. Adalagi yang menarik dari fenomena ini. Dalam satu waktu, si perempuan bisa berelasi dengan beberapa lelaki. Jadi, apabila waktu kencan tiba dan mereka datang pada waktu yang hampir bersamaan, lelaki yang datang lebih dulu mendapat privilese. Lelaki kedua, ketiga, dst. tidak boleh marah dan harus mengalah: menunggu atau pulang.

Menarik atau tidak fenomena itu, kembali ke persepsi setiap orang. Namun bagi saya sendiri, laiknya tradisi pada umumnya, kawin culik memiliki sesuatu yang khas, yang tidak ada di tradisi lain. Tentu saja, cerita saya ini sangat tidak lengkap. Apa yang saya tuliskan hanya berbekal cerita yang saya dapat dari seseorang, yang mutlak mengandung subjektifitas. Memang baiknya saya mempertanyakan dan mengkroscek kebenaran itu kepada orang lain yang juga, atau bahkan lebih tahu. Tidak ada maksud untuk sok tahu. Jadi, anggaplah ini sebagai sebuah kesan pertama saya ketika mendengar kisah tentang kawin culik.

praya, dua puluh tujuh februari dua ribu empat belas

(*) Istilah ini saya reka sendiri dari cerita yang saya dapat. Si pencerita tidak pernah menyebut fenomena itu sebagai kawin culik, namun tidak juga menyebutkan istilah yang biasa dipakai oleh warga lokal.

One thought on “‘Kawin Culik’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s