Naik Gunung Itu Eksistensi

Ah, mungkin sudah terlalu banyak orang yang membahas soal ini juga. Soal naik gunung yang kini jadi hobi manusia sejagat, paling tidak di Indonesia. Oh, paling tidak sebagian pemuda Indonesia. Jika diamati, beberapa tahun belakangan—kalau tidak salah tebak pasca-film 5 cm—cerita tentang naik gunung itu jadi makin sering terdengar. Di mana-mana orang bercerita tentang pengalamannya naik gunung ini, gunung itu. Atau unggah-ungguh foto-foto waktu mendaki gunung dengan berbagai pose. Mungkin mereka mau menunjukkan bahwa “gue udah ke gunung ini, nih!”. Kalimat lanjutannya mungkin, “lo udah pernah belom?”. Mungkin, lho ya.

Entah kenapa, lama-lama saya jadi muak mendengar soal ‘naik gunung’. Dulu saya cukup antuisias jika ada teman yang mengajak melakukan perbuatan itu. Tapi makin ke sini, setiap ada ajakan, saya hampir selalu menolak dengan berbagai alasan. Entah tidak ada waktu, atau sekadar malas. Tapi alasan sebenarnya adalah karena naik gunung sudah menjadi mainstream.

Bukan, bukan berarti saya anti-mainstream atau ingin disebut hipster. Saya cuma malas. Ya, malas melihat gunung yang begitu ramai seperti mal. Belum lagi mendengar cerita-cerita konyol pasca-film 5 cm. Tidak, saya tidak sentimen sama film yang bahkan sampai hari ini saya belum pernah menontonnya. Saya cuma bisa membayangkan dari novelnya yang pernah saya baca. Tapi memang, setelah film itu menjadi popular, saya banyak mendapat cerita-cerita lucu nun absurd tentang mereka yang ‘mendadak mendaki’. Ada dua tipe pendaki yang muncul pasca film itu jadi overrated. Pertama, tentang orang-orang yang salah kaprah soal naik gunung. Tipe ini memang menyebalkan. Cerita konyol yang mereka buat adalah, misalnya, ketika mendaki gunung hanya dengan pakaian dan peralatan seadanya. Yang lebih ekstrim, mereka mendaki gunung dengan dandanan layaknya mau ke mal. Ada juga yang gila; berani-beraninya mereka melakukan perbuatan macam itu dengan tidak membawa bekal makanan sama sekali. Iya, sama sekali. Tapi, ya sudahlah. Mungkin mereka hanya orang-orang korban film yang akan dengan segera tersadar bahwa naik gunung tidak seperti naik kuda-kudaan.

Tipe kedua, berbanding terbalik dengan yang pertama. Mereka tidak sekonyol itu. Paling tidak, dari persoalan perlengkapan mendaki hingga perbekalan, sudah mereka penuhi. Tapi, mereka tidak kalah menyebalkannya. Oh ya, sebelum berlanjut, saya perlu menginformasikan bahwa saya bukan anggota pecinta alam, bukan juga pendaki profesional, apalagi anggota SAR. Jadi tidak ada unsur superioritas dalam tulisan ini.

Kembali ke persoalan. Pernah membayangkan, ada tiga ribu orang di puncak gunung yang mendakinya butuh perjuangan ekstra? Saya belum pernah, sampai saya membaca berita tentang itu di media massa. Biasanya muncul bertepatan dengan momen long weekend, atau hari libur dengan seremonial khusus. Saya tidak pernah tahu, apa nikmatnya mendaki gunung dengan begitu banyak manusia di atasnya. Sama halnya ketika mempertanyakan, liburan apa yang hendak dicari orang Jakarta di Puncak kala akhir pekan, sementara mereka hanya memindahkan kemacetan ibu kota ke daerah yang sedikit sejuk dengan pemandangan cukup indah. Atau mungkin saya salah, karena memang sebenarnya itulah yang mereka cari: merasakan macet dengan suasana sejuk pegunungan dan view indah kebun teh. Karena paling tidak—menurut mereka, lebih baik daripada macet harian dengan pemandangan gedung bertingkat, serta bajaj dengan kepulan asapnya.

Di sebuah warung jus, pernah saya mendengar percakapan tiga orang yang sedang membahas soal naik gunung. Saya tidak begitu paham apa yang sedang mereka bahas, sampai akhirnya mereka saling bertanya, “kamu sudah naik gunung apa aja?”. Tidak ada yang aneh dengan pertanyaan ini. Cuma menjadi sedikit aneh ketika gestur dan intonasi percakapan mereka sama seperti sosialita yang sedang merumpi soal butik mana saja yang sudah mereka sambangi. “Eh jeng, kamu sudah ke butik Klambinan di Singapur belum? Oke-oke loh. Aku dapat diskon 90% waktu belanja di sana.”

Dalam kasus tipe kedua ini, naik gunung itu bukan lagi kebutuhan sekunder atau tersier, tapi menjadi kebutuhan primer. Saking primernya, mereka bisa melakukan aktivitas ini sekali dalam seminggu, empat kali dalam sebulan, dan puluhan kali dalam setahun. Naik gunung menjadi hiburan yang rutin dilakukan. Seperti sekolah atau bekerja, lama-kelamaan kegiatan ini menjadi terdengar sangat membosankan. Saya tidak pernah tidak suka naik gunung, karena itu sungguh aktivitas yang menyenangkan. Tapi saya jemu ketika naik gunung menjadi tren, yang bahkan hipster pun belum jadi hipster kalau dia belum pernah mendaki.

Saya merindukan masa di mana naik gunung menjadi sebuah aktivitas politis. Seperti Gie pernah bilang, “…Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Paling tidak, mereka yang ‘politis’ enggan meninggalkan sampahnya di gunung.[]

2 thoughts on “Naik Gunung Itu Eksistensi

  1. Selamat sore,
    Saya tertarik untuk terhadap apa yang anda tuliskan. Saya berencana untuk melakukan pembelajaran lebih lanjut mengenai hal tersebut. Kalau tidak keberatan, saya ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai ‘fenomena’ yang anda tuliskan di atas. Jika anda bersedia, mohon email saya di mariyanti.atik@gmail.com
    terimakasih.
    salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s