Sebuah Testimoni: Hits From The 80s & 90s

“Ada yang inget ini?”, “Hayoo..siapa yang inget dengan grup musik ini, apa lagu favorit kalian?”, “Yang waktu kecil pernah main ini, masa kecilnya bahagia”, dan berbagai pernyataan dan pertanyaan lainnya yang memaksa kita menggali memori masa kecil. Orang-orang begitu partisipatif. Setiap orang mengunggah foto-foto dari masa lalu, entah dari Google, atau dokumentasi pribadi. Bahkan ada yang masih menyimpan kenangan itu, yang kemudian difoto dengan ponsel pintarnya. Yang pasti, semua orang ceria. Semua orang ditarik ke masa lalunya. Mereka yang sudah bangkotan kembali menjadi anak-anak. Semua karena Hits From The 80s & 90s.

Itu bukan judul film, bukan juga judul lagu. Itu hanya sebuah grup di facebook yang berisi orang-orang yang lahir di era 70an dan 80an. Mereka yang kemudian besar di tahun-tahun 80an dan 90an, saling berbagi tentang kebahagiaan masa kecilnya.

Bagi saya, ada satu hal yang ingin mereka tunjukkan, bahwa generasi hari ini tidak seberuntung mereka yang lahir di era ketika Suharto masih berkuasa. Saya mengamini itu.

Bukan, bukan mengamini kekuasaan Suharto dengan segala jejak hitam—dan putih, tergantung persepsi masing-masing orang. Tapi, mengamini bahwa masa itu adalah era keemasan bagi kami sebelum ‘kemajuan’ dan teknologi mengubah semuanya.

Masa kecil kami (lebih) bahagia! Kira-kira itu manifesto kelompok ini.

Ada semacam kritik terhadap kehidupan anak-anak masa kini. Hari ini, anak-anak tidak bisa merasakan kenikmatan, kebahagiaan, dan kegetiran yang kami alami di masa lalu. Tidak banyak lagi anak-anak yang mahir memanjat pohon. Hanya sedikit yang cukup jago untuk membuat ketapel dari batang pohon jambu klutuk. Juga, tidak ada lagi yang sangat berbahagia ketika bermain bola di lapangan yang penuh lumpur—dengan segala kejorokan dan penyakitnya. Anak-anak hari ini terlalu berhati-hati, terlalu bersih.

Mungkin, bagi anak-anak hari ini, kebahagiaan adalah ketika mereka bisa memiliki konsol game terbaru, punya ponsel pintar atau tablet terkini, dan bermain di lapangan futsal yang lux dengan biaya yang tak murah. Semua kebahagiaan tersedia dengan instan, cukup dibeli. Kebahagiaan tidak lagi serupa ketika kita bergerombol mencuri mangga dari pohon tetangga. Tak juga saat kita membuat mobil-mobilan dari kayu, layangan atau pistol-pistolan dari batang pohon pisang.

Kebahagiaan hari ini adalah apa yang bisa dibeli!

Tapi, tidak bisa juga kita—atau saya—menyalahkan anak-anak itu. Setiap generasi merupakan anak zaman. Mereka tumbuh besar di lingkungan dan keadaan yang akhirnya membuat mereka seperti hari ini. Bukan salah mereka ketika mereka tak bisa bermain bola di lapangan hijau, yang berlumpur ketika hujan. Lapangan mereka dipindahpaksakan ke lapangan sintetis berbayar, karena setiap lahan kosong tergusur oleh perumahan dan pabrik. Di jalan pun sudah tak memungkinkan, sebab sudah terlalu banyak kendaraan yang berlalulalang. Mereka dipaksa mengalah oleh keadaan.

Belum lagi, faktor orang tua. Tidak, saya juga tidak mau menyalahkan para orang tua—yang kini tergabung di Hits From The 80s & 90s. Mereka juga dipaksa bersikap untuk melindungi anak-anaknya. Siapa orang tua yang tega membiarkan anaknya berkeliaran di jalan, sementara motor dan mobil melaju cepat seolah sedang berlomba. Siapa juga orang tua yang tak kasihan melihat anaknya kesepian di rumah, sehingga harus memberikan mereka teman berupa konsol game terbaru dan tablet pintar. Walaupun tetap ada pilihan untuk tidak terjebak dalam ‘kemajuan’.

Zamanlah yang memaksa anak-anak hari hidup dalam kerangkeng tembok-tembok bangunan yang menawarkan kebahagiaan lain.

Belum lama, saya melihat sebuah unggahan foto dari akun Arham Kendari. Foto yang memperlihatkan ia bermain dengan sebuah ban bekas yang di-gelinding-kan, di saat umurnya sudah tak lagi anak-anak. Foto itu baru diambil (mungkin) persis beberapa saat sebelum diunggah. Dalam foto ia menambahkan kalimat, “Teruntuk anak-anakku di rumah.. Maafkan Papa, Nak.. Gara-gara grup ini Papa jadi gila..”

Ya, gila. Kami semua menjadi gila karena tak lagi sebahagia dulu. Kami menjadi gila karena tak lagi bisa menjadi anak-anak.

Unggahan itu berhasil membuat banyak member tertawa terbahak, tak sedikit yang juga menjadi ‘gila’. Begitupun dengan saya. Tetapi unggahan itu juga membuat saya terharu. Dalam hati berguman, “Ya, saya kehilangan permainan menyenangkan seperti ini. Saya kehilangan tontonan yang menyenangkan. Saya kehilangan lapangan, pohon, dan partner in crime. Apa anak-anak sekarang pun berbahagia?” Unggahan itu berhasil membuat saya tertawa.. sekaligus miris.

Grup ini memperingatkan saya. Memperingatkan untuk tidak menjadi orang tua yang menyebalkan untuk anak-anak saya kelak. Untuk mau membiarkan mereka bermain-main dengan fantasinya, dengan semacam kebahagiaan yang tersisa dari masa kecil saya.

Tapi sekali lagi, grup ini menjadi saksi ketika orang-orang yang beranjak tua kembali menjadi anak-anak.

Kami menunjukkan kenangan, sekaligus ironi.

Kami bernostalgia. Kami menolak tua.

Semper, 11 September 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s