Pandang Raya: Mereka Belum Kalah

Kemarin, 12 September 2014, kawan dari Makassar mengabarkan bahwa Pandang Raya sudah tak ada. Saya langsung tertegun. Tetiba pikiran saya lenyap. Kosong, tak mampu berkonsentrasi. Saya tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi di sana.

Seorang teman asal Makassar, yang kebetulan sedang di Jakarta mulai bercerita soal terkait. Ia baru saja menelepon temannya yang berada di lokasi eksekusi, namun tak banyak informasi yang bisa ia peroleh. Melalui telepon, temannya berujar, “Nanti saja, kami kelelahan dikejar polisi.” Obrolan pun terputus. Ia tak bisa memaksa temannya, karena keadaan di sana memang sangat genting.

Beberapa jam kemudian, info terkait mulai bermunculan. Catatan maupun foto yang diunggah melalui media sosial menunjukkan satu hal: Pandang Raya rata sudah dengan tanah.

Dua hari sebelumnya, 9 September 2014, warga di Pandang Raya mendapat kiriman surat yang tak diharapkan. Perihal rencana eksekusi keempat kalinya dari PN Makassar. Pada saat itu juga, warga dan kelompok solidaritas membuat konsolidasi untuk merespon surat tersebut. Keesokan harinya mereka menggelar aksi di depan gedung pengadilan dan kepolisian setempat untuk mengklarifikasi isi surat yang ternyata mengandung kejanggalan. Adalah soal lokasi eksekusi yang tercantum dalam surat yang salah alamat. Sehingga, tidak seharusnya pihak PN melakukan eksekusi.

Tak digubris, warga pun melakukan aksi lanjutan di hari berikutnya. Bukan menuntut pemerintah dan aparatnya yang memang bebal, tapi mengkondisikan situasi untuk menghadapi eksekusi.

Prakondisi. Bersiap untuk segala kemungkinan terburuk.

Setelah menyiapkan segalanya—fisik, mental, dan tentu saja alat perang—warga bersiaga. Sejak pagi, mereka sudah memblokade akses menuju perkampungan. Pagi itu situasi mencekam. Warga Pandang Raya bersiap perang. Namun tak disangka, jumlah polisi lebih banyak dari yang diduga, belum lagi dukungan dari preman bayaran yang jumlahnya mungkin mencapai ratusan orang. Alat berat pun tak ketinggalan, dua eskavator diturunkan. Sebuah barracuda, mobil watercannon, dan puluhan gas air mata dilesakkan ke kerumunan warga.

Pandang Raya digempur. Blokade runtuh seketika. Warga dan kelompok solidaritas dipukul mundur, diburu hingga keluar perkampungan. Sembilan orang ditangkap.

Kabar itu segera saya lanjutkan ke teman-teman lainnya. Lewat saluran chatting saya bilang, “Pandang Raya kalah.” Tak banyak komentar yang merespon. Tapi tak lama, seorang teman menulis, “Pesan warga: Pandang Raya belum kalah! Kami akan terus mencari celah untuk merebut kembali tanah kami.

Saya terdiam. Hal bodoh apa yang baru saja saya lakukan? Meremehkan semangat warga yang sedang bertempur? “Maaf,” hanya itu yang bisa saya ucapkan untuk menarik perkataan saya. Memang, tidak seharusnya saya berkata demikian. Pandang Raya memang belum kalah.

Mereka sudah kehilangan rumah, tempat bermain, ruang hidupnya. Kehilangan semuanya. Tapi ada satu yang masih belum hilang dari mereka: keteguhan bahwa perjuangan masih berlanjut.

Di posko yang menjadi rumah sementara mereka, terpampang dengan gagah sebuah papan bertuliskan: Posko Aliansi Masyarakat Pandang Raya, Perjuangan Harga Mati.

Pandang Raya belum kalah!

Mataram, 13 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s