Jangan Jadi Traveler

Kebaikan itu ada di mana-mana.

Itu yang selalu saya benamkan di kepala saya setiap kali melakukan perjalanan. Saya mau cerita sedikit soal hal terkait kalimat di atas. Belum lama ini, dalam sebuah acara semacam-festival di Jogja, saya dapat cerita yang membuat berkerut kening. Seorang kawan waktu itu berkisah, bahwa dalam sebuah diskusi yang menjadi rangkaian acara tersebut, dia mendapatkan ‘wejangan’ dari si pembicara. Kebetulan, saat itu tema diskusinya terkait dengan ‘traveler’ dan ‘backpacker’. Singkat cerita, dia, meniru omongan si pembicara, “saya sih ga percaya sama yang namanya kearifan lokal.”

Seriusan dia ngomong begitu, heran saya.

Si kawan melanjutkan ceritanya. “Kearifan lokal itu tidak ada. Buktinya, setiap kali saya minta foto, anak-anak kecil itu tetap minta uang.” Saya sempat bingung dengan pernyataan tersebut. Maksudnya, dia kecewa dengan orang-orang yang matre yang dia temui dalam setiap perjalanannya, sampai akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa kearifan lokal itu bullshit? Saya tidak habis pikir. Kok bisa kalimat itu keluar dari mulut seorang yang menyebut dirinya pejalan—atau mungkin memang banyak? Lagipula, bisa-bisanya mengartikan kearifan lokal hanya perkara minta-tidak meminta uang. Ah, mungkin yang dia maksud sekadar keramahtamahan atau kebijaksanaan.

Waktu itu saya menanggapinya cukup serius. Bisa dibilang marah.

Kasih tau ke dia, orang-orang lokal—di lokasi wisata—jadi matre juga karena adanya orang-orang kaya dia. Merasa dengan uang mereka bisa membeli segalanya. Dipikirnya, uang bisa jadi kompensasi yang layak sementara mereka turut merusak mental orang-orang yang awalnya tidak cukup peduli dengan uang. Ketus saya.

Tak ada serapah yang tertinggal. Semua ucap berharap orang-orang macam dia akan segera tobat dari profesinya sebagai traveler.

Cukup terpancing emosi, memang. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin ada maksud lain dari omongannya. Bisa jadi si kawan yang kurang cermat menangkap kata-kata dari si pembicara. Namun pikiran baik itu mendadak runtuh ketika saya benar-benar bertemu orangnya. Tidak, saya tidak membahas soal ucapannya di diskusi waktu itu. Saya hanya menangkap dari cara dia berkomunikasi dan bersikap. Tidak aneh jika dia pernah melontarkan, saya ga percaya sama kearifan lokal.

Mungkin bagi saya, dia adalah salah satu orang yang menyebut dirinya traveler yang paling menyedihkan. Ihwal cara berpikirnya, tentu saja. Tapi, kata ‘menyedihkan’ itu merujuk ke pengalamannya menjadi pelancong. Bagaimana bisa, di Indonesia yang luas, dengan ragam karakter orang, mulai dari yang baik banget sampai yang baik aja, tak satu pun pernah dia temui.

Saya bukan traveler, walaupun saya tidak tidak suka jalan-jalan. Di banyak kesempatan, saya bertemu dengan orang-orang baik itu. Mungkin terlalu banyak, sampai saya cukup sulit mengingat mana yang paling baik di antara yang baik-baik.

Belum lama, saya jalan ke daerah Tana Toraja via Palopo. Di satu kali perjalanan itu, saya beberapa kali bertemu dengan orang-orang baik. Tapi saya mau ceritakan salah satunya saja. Sebut namanya, Pak Manto. Dia orang suku Toraja yang tinggal di Battang Barat, Palopo. Sehari-harinya dia berdagang di sebuah lapak miliknya di perbatasan Palopo – Tana Toraja. Tak banyak barang yang dia jajakan. Hanya sekadar makanan dan minuman ringan.

Waktu itu kami mampir ke warungnya untuk sejenak beristirahat dalam perjalanan pulang dari Toraja menuju Palopo. Di sana kami melahap beberapa jenis makanan ringan, kopi dan beberapa teguk minuman tradisional setempat. Kami singgah di tempat itu, karena memang ada salah seorang kawan kami yang mengenalnya. Walaupun sebenarnya ga kenal-kenal banget. Begitu kami ingin beranjak pulang dan hendak membayar, Pak Manto dengan enteng bilang, “tidak usah.”

Jangan, Pak. Bapak kan dagang. Saya menyergahnya.

Dengan bahasa Indonesia yang terbata, dia bersikukuh menolaknya. Dia hanya mau menerima uang untuk membayar tiga bungkus rokok. Sisanya, mi instan dengan telur empat mangkok, telur rebus lima butir, kopi empat gelas, dan sebotol besar minuman tradisional, tidak dia terima bayarannya.

Betul-betul tidak enak hati saya—kami—dengan Pak Manto. Dengan perasaan sungkan yang masih tersisa, kami pun beranjak. Tak ada yang ditinggal kecuali ucapan terima kasih kami kepada Pak Manto dan keluarganya.

Merasakan kembali menjadi orang yang dijamu sedemikian istimewa, membuat saya teringat celoteh si orang-yang-menyebut-dirinya-traveler. Lagi-lagi, menyedihkan betul nasibnya jika memang benar sepanjang melancong dia tidak pernah mendapatkan pengalaman seperti itu.

Karena, saya masih yakin, dunia ini tidak akan pernah kehabisan orang baik.

palopo, sembilan belas november dua ribu empat belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s