Ijen

Waktu itu tak ada niatan untuk mampir ke Gunung Ijen. Ide itu muncul begitu saja di tengah perjalanan Banyuwangi menuju Jember, setelah keluar dari pelabuhan Ketapang. Jam tangan saya menunjukkan pukul delapan malam, kami pun langsung menuju arah yang diyakini sebagai jalan menuju Ijen. Saya dan Aqil—teman seperjalanan—tidak benar-benar tahu jalan ke sana, tapi kami diselamatkan oleh plang-plang penunjuk jalan. Sekitar hampir setengah jam kami melintasi pemukiman penduduk, belum ada tanda-tanda tujuan kami sudah dekat. Karena tak yakin, kami coba bertanya kepada penduduk yang masih duduk-duduk di pinggir jalan.

Masih satu jam lagi, mas, kata seorang bapak.

Saya sangsi, karena dari titik berangkat kami, jarak menuju kawasan Ijen sekitar empat puluhan kilometer, dan kami sudah setengah lebih perjalanan. Apa benar segitu masih jauh? Kami pun memutuskan untuk terus berjalan. Tak lama kemudian kami memasuki kawasan perkebunan. Sepi. Sunyi. Hanya ada suara dan lampu dari sepeda motor kami berdua.

Saya sempat benar-benar ragu untuk meneruskan perjalanan, karena khawatir tak ada orang di basecamp. Tapi, rasa penasaran saya yang lebih besar menuntun saya untuk terus melaju. Di tengah perjalanan, kami melihat sebuah mobil yang bersusah payah menanjak. Sepertinya menuju tempat yang sama juga. Tak jauh setelah melewati mobil itu, kami berpapasan dengan serombongan pemuda-pemudi bersepedamotor. Mungkin belasan orang.

Masih empat belas kilo lagi, jalan menanjak terus. Kata teman saya setelah bertanya kepada mereka.

Indikator bahan bakar tersisa satu garis. Saya tidak yakin mampu mencapai lokasi. Tapi selang beberapa menit kemudian setelah melalui jalan menanjak dan berliku, dan sangat gelap, kami tiba di basecamp Gunung Ijen.

Dan, di sana ramai. Sangat ramai.

Saya benar tak menyangka akan ada sebanyak itu manusia yang punya tujuan persis dengan kami. Karena sekira dua puluh kilometer perjalanan saya sama sekali tak melihat tanda-tanda kehidupan. Tak ada tiang dan kabel listrik. Hanya hamparan kebun yang tidak bisa ditebak luasnya. Semua gelap.

Masih terdiam karena tak menyangka akan menemui keramaian seperti itu. Tapi beruntung, kami tak harus bermalam di kebun lantaran kehabisan bensin. Kami memarkir sepeda motor bersama ratusan yang lainnya. Di lahan-lahan lapang, berdiri tenda-tenda pengunjung yang akan mendaki. Tak ketinggalan warung-warung kopi yang tak hanya menyediakan kopi dan susu atau teh, tapi juga beragam makanan seperti nasi goreng, soto, pecel, dsb. Paling tidak, dari penampakan warung-warung tersebut, kami bisa memastikan bahwa kami tidak akan kelaparan. Bukan apa-apa, kami tidak membawa bekal sama sekali.

Kami berkenalan dengan sepasang kekasih, atau mungkin suami istri. Saya tidak coba memastikan.

Lukman, daku si lelaki. Siti, nama si perempuan. Lantas kami berbincang sembari menahan dingin yang menusuk.

Lukman dan Siti ternyata ikut dalam rombongan yang kami temui di jalan tadi. Tapi mereka bukan bagian dari rombongan itu. Sama seperti kami: bertemu di jalan dan nunut. Kedua orang ini yang akhirnya jadi rekan seperjalanan kami mendaki.

Keduanya tinggal di Banyuwangi. Mereka sangat cukup paham wilayah di sekitar dan bercerita banyak kepada kami soal tempat-tempat yang mungkin bisa kami sambangi. Cobalah ke Taman Nasional Baluran, Alas Purwo, Meru Betiri, Green Bay, Red Island, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau B29. Kata Lukman. Hanya sebagian yang namanya saya kenal.

Dari cerita mereka, tempat-tempat itu memang sangat menarik. Tapi karena keterbatasan waktu, kami terpaksa memilih tempat yang paling mungkin kami jangkau. Sejak awal kami sudah merencanakan singgah di Gunung Bromo, kami pun lebih banyak menggali informasi tentang itu. Lukman menyarankan kami ke B29, karena dari sana kami akan bisa melihat hampir seluruh kawasan TN BTS. Menurutnya tempat itu lebih asik untuk menikmati Bromo. Dengan tidak menolak sarannya, kami juga bertanya alternatif lain jalan menuju tempat itu. Ternyata, untuk menuju Gunung Bromo, ada banyak jalan yang bisa dilalui. BTS sendiri berada di perbatasan tiga kota: Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Di sana sudah tersedia jalur-jalur yang memang disiapkan untuk pariwisata. Belum lagi jalur-jalur desa yang mungkin sangat banyak jumlahnya.

Obrolan itu kami habiskan sembari menikmati kopi dan makan malam di salah satu warung. Sambil menunggu jam buka pendakian, sekitar jam satu malam.

*

Berempat kami mendaki. Tanpa membawa secuil pun peralatan outdoor seperti pendakian ke gunung-gunung tinggi. Kami hanya membawa air minum dan sedikit makanan untuk memastikan tidak dehidrasi dan kelaparan saat berada di kawah.

Tak butuh waktu lama, sekira dua jam—sudah dengan istirahat ketika lelah—kami sampai di kawasan kawah. Di sana sudah banyak orang. Sekitar jam tiga pagi, selain para pelancong, para penambang belerang juga sudah memulai aktivitasnya, bahkan sejak jam dua belas malam. Banyak orang membicarakan bluefire, oleh karena itu mereka mendaki sejak pukul satu. Tapi saya, tidak benar-benar berhasrat untuk melihatnya dari dekat. Sejak awal sudah mematri: jika bisa menyaksikan fenomena alam itu, syukur. Hanya bonus, tak perlu memaksakan.

Dari tubir, masih perlu turun ke inti kawah yang cukup dalam. Akhirnya, saya dan tiga kawan lain memutuskan mencari tempat untuk duduk sembari menunggu fajar menyingsing. Saya baru tersadar, sejak kemarin siang, sejak kami berangkat dari Denpasar, kami belum tidur sama sekali. Rasa lelah sudah mulai menyergap, badan pun tak cukup kuat untuk mencari kehangatan.

Sebentar tertidur, kemudian terbangun dan menghilangkan rasa dingin dengan bercengkrama. Tak lama lagi cahaya akan muncul. Kami pun beranjak dari posisi semula di dekat jalan turun menuju kawah, ke samping sebuah batu besar menjulang, mendekat ke timur, sembari ruang-ruang hangat. Saat menahan dingin yang menusuk, seseorang berceletuk: dingin itu cuma mindset. Kemudian dia mengajak kami ngobrol. Namanya Hadi. Asalnya dari Solo (Surakarta), tepatnya di Palur, Sukoharjo.

Sama siapa, mas, tanya saya.

Sendiri, jawabnya.

Cerita kami pun ngalor ngidul. Mulai dari cerita bluefire, hingga rasa penasaran dia soal hutan di Banyuwangi. Tentu saja, Lukman memberi informasi yang cukup banyak. Saya hanya mendengarkan, dan sesekali berpendapat.

Tuh kan, lupa sama dinginnya, celetuk Hadi di tengah obrolan.

Ya, selain lupa karena obrolan asik, matahari juga mulai menghangatkan udara.

Seperti hampir kebanyakan pengunjung, kami juga berfoto ria. Bagi saya, sekadar membuat kenang-kenangan yang suatu saat nanti bisa jadi pengingat bahwa saya pernah ke kawah itu–mengembalikan fungsi foto ke era tustel?–, tidak lebih. Tanpa menunggu matahari lebih tinggi, kami memutuskan untuk turun. Tidak seperti naik, turun cuma butuh waktu satu jam.

Setiba di bawah, lapar dan lelah kembali muncul. Kami pun memutuskan ke warung yang kami singgahi—yang kami juga titipi tas—sebelum mendaki. Siti tertidur, Lukman, Hadi, Aqil, dan saya melanjutkan ngobrol.

Bu, soto, ya, dan kopi hitam, pinta saya kepada si penjaga warung.

Soto mungkin bisa menangkal lelah karena belum tidur, lapar dan dingin.

Hadi, yang kerap saya panggil “Mas” karena jauh lebih tua dari saya, bercerita banyak tentang pengalamannya. Sejak muda dia sudah menjadi pejalan kaki. Tak hanya antarkota, tetapi juga antarnegara. Pernah dia tinggal Uzbekistan, Turkmenistan, Afganistan dan beberapa negara lain di Asia Tengah. Hasrat bertualanglah yang mengantarkannya langkah demi langkah ke negara-negara itu. Di Indonesia, hampir semua gunung sudah pernah didakinya.

Pernah suatu ketika saya bertanya: kadang saya penasaran, mas, daerah mana yang belum pernah njenengan datangi?

Dia menjawab dengan enteng: Surabaya.

Oh, ada lagi. Satu tempat yang dia sebut setelah saya kembali ke Jogja. Bahwa di Bromo ada sabana tersembunyi yang syahdan indah. Menurutnya, daerah itu memang dirahasiakan oleh penduduk agar tidak rusak. Jika tempat itu benar ada, mungkin saya berpikir: ternyata masih ada juga tempat indah yang disembunyikan di tengah hebatnya komersialisasi.

Dia bercerita dengan tidak pernah sedikit pun menyombongkan diri. Itu kesan yang saya dapat dari gesturnya. Saya tidak pernah tau apa yang dia ceritakan nyata atau tidak, tapi setidaknya dia berhasil meyakinkan saya bahwa itu benar-benar pernah dia lakukan. Dia seorang adventure-freak.

Benar atau tidak, bukan urusan. Bagi saya, cerita menarik adalah cerita menarik. Seperti novel, true story atau fiksi, kalau menarik, akan tetap menarik.

Darinya saya belajar soal ketakutan. Ketakutan yang memenjara kita untuk tetap nyaman di kursi, di depan komputer dengan dunia mayanya dan melakukan penjelajahan semu. Darinya saya tahu bahwa banyak hal yang tidak saya ketahui tentang dunia, tentang kemampuan sejati diri sebagai seorang manusia. Ya, itu baru pelajaran moral yang bisa saya dapat. Saya belum benar-benar mewujudkan itu menjadi ada.

Obrolan kami juga tak luput dari cerita tentang apa yang terjadi di Kawah Ijen hari ini. Ijen, yang terkenal oleh penambang belerangnya, tidak seperti yang diceritakan khalayak. Ijen tak lagi sunyi. Selain penambang belerang, tempat itu sudah sangat ramai oleh turis—saya termasuk di dalamnya. Saat perjalanan naik, para penambang melangkah bersama dengan para pemburu bluefire. Menjadi teman ngobrol sepanjang perjalanan. Mereka tak lagi kesepian, banyak teman yang menyertai mereka mengais rejeki, meski tidak ikut mengangkat belerang beku seberat tujuh puluh kilogram, bahkan bisa lebih. Ya, hanya teman pengobat sepi. Begitu sampai di atas, mereka pun melakukan tujuannya masing-masing: yang satu menambang, yang lainnya…berfoto ria.

Tidak jarang para turis menghalangi langkah pengangkut belerang–beruntung saya enggan. Mereka berfoto di jalur para penambang. Saya hanya membayangkan, dulu, ya dulu, sebelum ramai oleh turis, mungkin mereka tak perlu berhenti sejenak menahan beban karena ada orang-orang yang berfoto di depannya. Mungkin dulu, mereka tak perlu bilang, permisi mbak/ mas, untuk melintasi jalur yang memang wayahnya. “si teman” ini, kadang waktu mengisi kesepian, tapi di waktu lain, sepertinya cukup menggangu pekerjaan.

Berhenti sebentar pak, pinta orang-orang yang memegang kamera.

Si bapak berhenti, dan seseorang mengajukan diri berfoto dengannya. Tentu si bapak tak berkeberatan. Orang akan melihat ini sebagai kearifan lokal. Ya, saya sendiri banyak belajar tentang menjadi makhluk sosial dari orang-orang yang tinggal jauh dari hiruk pikuk kota ini. Kebaikan mereka tulus. Tapi lanjutan adegan itu sedikit membuat saya terganggu. Si orang berkamera memberikan sedikit uang kepada si bapak. Sebagai tanda terima kasih, mungkin. Si bapak tentu saja tak keberatan diberi uang, bahkan mungkin dengan sumringah diterimanya.

Realistis saja, uang itu bisa membantunya mengebulkan dapur. Tak perlu bersusah payah mengangkat belerang yang per kilonya dihargai delapan ratus hingga seribu rupiah. Tetapi, kebiasasan orang kota yang selalu menghargai sesuatu dengan uang akan menjadi racun bagi mereka. Hingga pada akhirnya, tak ada yang tak dibanderol, termasuk ketulusan. Ketika kebaikan dijadikan komoditas dan ditransaksikan, niscaya kearifan lokal segera berganti menjadi ajang jual beli. Setelah itu menjadi habit, orang-orang kota ini akan mengeluh: orang-orang di kampung itu sekarang matre.

Saya pernah mendapat cerita, dalam sebuah diskusi tentang traveling, si pembicara yang menyebut dirinya backpacker, mengatakan dengan yakin bahwa kearifan lokal itu tidak ada. Alasannya sederhana, karena setiap kali di foto, mereka—warga—meminta imbalan—berupa uang. Seolah, itu “kejahatan” yang dimiliki orang kampung sejak lahir.

Itu semua pendapat yang saya paparkan kepada tiga orang lainnya. Dan, tentu saja mereka juga punya pendapat yang berbeda.

*

Obrolan kami berakhir saat matahari beranjak ke titik tertingginya. Kami harus melanjutkan perjalanan kami masing-masing, seperti yang sudah direncanakan. Lukman dan Siti kembali ke Banyuwangi, Hadi bergegas menuju Baluran, sementara saya dan Aqil masih akan menunggu esok pagi dan akan terus menyusuri jalan hingga kami lelah dan ada masjid untuk kami singgahi. Dan, akhirnya menuju Bromo.

sewon, tiga belas januari dua ribu lima belas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s