Menggugat Kampus

19 Maret 2015. Besok kumpul di pujale jam delapan pagi, pesan dari Seorang Kawan.

Kamis malam, seorang teman mengingatkan, bahwa besok warga Kendeng dan mahasiswa akan berangkat dari titik kumpul pusat jajanan lembah, atau biasa disebut pujale, pukul delapan pagi. Salah satu titik keramaian di salah satu sudut dari luasnya kampus Universitas Gadjah Mada di Sleman, Yogyakarta.

20 Maret 2015. Kau di mana? tanyaku.

Aku di rumah, balas Seorang Kawan Lainnya.

Kumpul di mana?

Ketemu di sana aja.

Hari Jumat, sekitar pukul sembilan, saya beranjak dari rumah kontrakan, bergegas menuju kampus UGM, janjian dengan teman yang lain. Hari itu kami turut bersama warga sekitar Pegunungan Kendeng, Pati dan Rembang, yang hendak mendatangi UGM. Katanya, mereka ingin menggugat kampus tersebut, karena dua orang dosennya telah memilih posisi berseberangan dengan mereka terkait polemik pendirian pabrik semen di Gunem, Rembang.

Sebenarnya bukan hanya persoalan berseberangan, kedua akademia dari Fakultas Geografi UGM itu dianggap telah memberikan kesaksian palsu dalam sidang gugatan terhadap PT Semen Indonesia (SI) di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang (19/03). Mereka, Eko Haryono dan Heru Hendrayana, bersaksi bahwa bentang alam karst di Rembang tidak mengandung mata air, ponor, dan bukan termasuk kawasan karst yang dilindungi, dengan demikian, penambangan karst aman untuk dilakukan.

Warga Desa Tegaldowo, Timbrangan, dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, dan Kecamatan Sukolilo, Pati, marah. Tahu kedua saksi tersebut berasal dari UGM, warga bertekad untuk mendatangi kampus mereka di Yogyakarta.

Kamis malam, sekitar tujuh puluhan warga bertolak ke Yogyakarta dengan menggunakan tiga bus tanggung. Tak peduli lelah. Sehari sebelum sidang mereka baru pulang dari Jakarta, mengurus hal serupa. Lima hari di Jakarta, warga berkunjung beberapa instansi seperti, KPK, KontraS dan Walhi, untuk mengadukan persoalan mereka. Menurut Prianto, warga Tegaldowo, ia dan warga yang sebagian besar ibu-ibu, belum pulang ke kampung sejak dua puluh lima hari yang lalu.

Tiba di Yogyakarta, warga Rembang yang seluruhnya merupakan petani, langsung menuju kampus di bilangan Bulaksumur. Di pujale, warga langsung disambut oleh ratusan mahasiswa yang sedaritadi menunggu. Mereka langsung membaur dan berjalan kaki ke dalam kampus. Bentangan spanduk, poster dan bendera organisasi mahasiswa meramaikan kerumunan tersebut. Tak lupa lagu-lagu wajib perjuangan dikumandangkan. Darah Juang karya John Tobing, salah satunya.

Sasaran pertama Fakultas Kehutanan.

Dengan spanduk dan poster berisi kecaman dan protes, massa berdiam di depan pintu masuk gedung fakultas. Gunretno, salah satu tokoh anti-pabrik semen dari Pati, Jawa Tengah, mengambil posisi di depan kerumunan massa.

“Yang bertanggung jawab di sini ‘kan (Dinas) Kehutanan. Yang punya kewenangan melepaskan lahan untuk pabrik semen, konservasi, untuk yang dilindungi, itu Kehutanan. Maka di sini yang punya kewenangan harusnya angkat bicara,” papar Gunretno.

Dinas Kehutanan memang menjadi salah satu penyebab utama berdirinya pabrik semen di Rembang. Pada 2013, Kesatuan Pemangku Hutan (PKH) Mantingan Rembang, melakukan tukar guling area hutan dengan PT SI seluas 200 hektare di Kecamatan Gunem. Sekitar dua puluh-an persen dari total 900 hektare area operasional yang dibutuhkan.

Tuntutan terhadap Fakultas Kehutanan bukan karena mereka yang mengeksekusi pembebasan lahan untuk penambangan, tetapi karena Fakultas Kehutanan UGM sebagai otoritas keilmuan sepatutnya angkat bicara atas persoalan tersebut. “Jika hutan hilang—karena tambang semen, maka fungsi ekologisnya sebagai penampung air pun ikut hilang,” ujar Gunretno.

Massa tidak lama berdemo di depan gedung fakultas.

Sebelum meninggalkan gedung, karena tak ada tanggapan dari fakultas, Gunretno mengatakan, “Jika tak ada yang mau menanggapi tidak apa-apa. Jangan dipaksa, karena memaksa itu tidak baik. Karena itu, memaksa membangun pabrik semen juga tidak baik.” Ucapannya disambut riuh massa. Saya yang ikut mendengarnya tercenung. Tidak vulgar, tetapi menohok. Logika sederhana yang mengena.

Gunretno adalah salah satu tokoh kunci Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK). Sejak 2008, ia dan Sedulur Sikep, masyarakat pewaris ajaran Samin Surosentiko, berjuang menolak pendirian pabrik semen PT Semen Gresik (SG) di Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Pada 2010, perjuangan mereka membuahkan hasil: SG membatalkan proyek di Sukolilo karena divonis kalah oleh PTUN Semarang. Sejak itu, SG yang kemudian berganti nama menjadi SI, mulai menjajaki lokasi penambangan di Rembang.

*

Masih dengan semangat yang bergelora, massa bergerak ke gedung Rektorat UGM. Di sepanjang jalan yang tidak lebih dari 300 meter itu, beberapa peserta aksi melontarkan hujatan dan cacian terhadap kampus.

“Copot saja banner-nya,” teriak salah seorang dari kerumunan, menunjuk baliho selebar 2 x 4 meter yang berdiri di samping gedung fakultas. “Kampus tidak berguna,” “penindas rakyat,” dan sumpah serapah lainnya, turut terlontar.

Di depan gedung rektorat, Gunretno kembali mengambil megafon. Ia berorasi, serta memberikan tawaran serupa: adakah pihak kampus yang mau menanggapi. Tetapi kali itu tak hanya Gunretno yang berorasi. Seorang petani asal Kulonprogo, Yogyakarta, Widodo, turut menyumbang suara.

“Ini membuktikan bahwa kampus ini sebetulnya tidak ada fungsinya bagi masyarakat,” ucapnya emosional.

Kehadiran Widodo dalam aksi tersebut diakuinya sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama rakyat tertindas. Ia pun sebenarnya masih menyimpan kemarahan terhadap UGM. Pada 2007, Widodo dan rekan-rekan petaninya yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo, pernah mendatangi UGM. Sekitar tiga puluhan kendaraan yang terdiri dari truk dan bus ukuran tanggung, mengepung kampus. Saat itu mereka juga menuntut pihak kampus untuk menghentikan kerjasama penelitian dan reklamasi kawasan lahan pasir dengan PT Jogja Magasa Mining (JMM) di pesisir selatan Kulonprogo.

“Kami memang bukan warga Rembang. Kami adalah warga pesisir Kulonprogo yang dulu pernah ke sini meminta pertanggungjawaban UGM yang dulu juga pernah bekerja sama dengan investor JMM untuk menambang (pasir besi) di tempat kami. Dan ini bentuk dukungan kami terhadap sedulur-sedulur Rembang, bahwa perusakan lingkungan harus dilawan,” ucap Widodo berapi-api.

Pihak kampus akhirnya membuka pintu. Perwakilan Rektorat mempersilakan warga untuk berdialog. Sebanyak lima belas orang warga dipilih.

Selama dialog berlangsung, warga dan mahasiswa silih berganti berorasi. Sebenarnya, tidak ada yang baru dalam orasinya. Itu dilakukan hanya untuk menjaga semangat massa.

Saya berkeliling, sambil sesekali memotret. Di antara kerumunan, saya menyempatkan ngobrol dengan beberapa kawan yang lama tak jumpa. Matahari yang semakin meninggi membuat udara kian panas. Untungnya, di sekitar area gedung masih banyak pohon-pohon yang membuat sejuk.

Orang-orang yang turut dalam aksi tersebut tak hanya mahasiswa. Beberapa orang yang saya lihat di kerumunan adalah akademisi yang memang selama ini konsern dengan isu-isu agraria maupun isu yang terkait dengan gerakan sosial. Di antara mereka berkumpul dalam lingkaran kecil, berdiskusi soal hal ihwal yang tak jauh dari isu agraria.

Akademia memang tidak mutlak menjadi oposan bagi rakyat. Di dalam kampus pun terjadi fragmentasi antara mereka yang mendukung koporasi, dan sebaliknya, mendukung gerakan rakyat. “Di kampus pun tidak bisa kita generalisasi. Ilmu pengetahuan tidak pernah netral. Tinggal kita menentukan, untuk apa pengetahuan itu hendak digunakan,” jelas Linda, salah satu dosen ilmu politik di UGM.

Saya jadi teringat ketika masa kuliah dulu. Dosen mata kuliah Logika Dasar di kampus saya pernah mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berpihak, alias netral. Tetapi, semakin saya belajar, semakin banyak ilmu serap, semakin saya sadar bahwa tidak pernah ada ilmu yang netral. Persis seperti yang dikatakan Linda. Dengan asumsi, pijakan dasar, hipotesa awal, ilmu dengan sendirinya sudah mengambil posisi. Kanan, atau kiri. Atas, atau bawah.

Langit tetiba mendung, rerintik hujan pun turun. Hawa panas sekejap hilang, terganti sejuk aroma hujan.

*

Selepas dialog, massa kembali merapat. Gunretno memberitahu apa yang mereka bicarakan di dalam. Menurutnya, pihak kampus akan mengkaji penjelasan yang disampaikan warga. “Temuan-temuan yang disampaikan wakil sedulur akan dikaji oleh mereka. UGM akan membentuk tim untuk mencari tahu apakah temuan-temuan tersebut benar atau tidak,” ucap Gunretno dalam Bahasa Jawa.

Namun, pihak kampus belum bisa menentukan, kapan hasil dari kajian temuan tersebut akan disampaikan.

“Tapi sebenarnya kalau persoalan semen itu bukan keputusan akademisi, melainkan masyarakat. Pemerintah itu ‘kan yang memilih masyarakat, kalau masyarakatnya bilang tidak, ya tidak,” tutur Gunretno, “yang gampang kok dibikin susah.”

Tak lama, massa membubarkan diri. Jam hampir menunjuk angka dua belas.

*

Karpet sajadah dihamparkan. Setiap Jumat siang, gedung rektorat memang selalu menjadi masjid dadakan untuk menampung pegawai maupun mahasiswa yang hendak menunaikan ibadah Jumat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s