Begal

Seorang teman dibegal beberapa minggu yang lalu. Ya, bukan begal yang lain-lain. Ini begal yang beberapa bulan terakhir sangat marak: begal kendaraan bermotor.

Si Teman dibegal saat pulang kerja sekitar jam setengah sebelas malam. Katanya, dia terpaksa menyerahkan motornya karena ditodong dengan pistol. Entah pistol sungguhan atau mainan, yang pasti Si Teman sudah kadung jiper.

Dia dibegal saat perjalanan menuju rumahnya tinggal lima menit lagi, dari sekitar setengah jam total perjalanan. Lokasi kejadian memang terkenal rawan begal, tapi itu dulu. Saya tahu pasti alasan Si Teman memilih lewat jalan itu: karena dia sudah sangat kenal jalan itu. Kami pun, biasa nongkrong hingga larut dan hampir selalu melewati jalan itu sesudahnya, dan tidak pernah terjadi apa pun. Tapi, sial tak terduga, di jalan yang dia akrabi, dia dibegal. Untungnya dia tak senahas korban begal yang sering kita dengar di berita: dibacok, dipukuli, dan tak sedikit yang sampai meregang nyawa. Kebanyakan begal memang tak pandang korban. Mati atau tidak si korban, yang penting mereka mendapatkan apa yang diincarnya.

Fenomena begal ini, seperti yang saya bilang tadi, memang sangat marak belakangan. Entah bagaimana awal muawalnya, tetiba begal ada di mana-mana. Kalau dulu begal hanya ada di titik-titik yang sudah dikenal sebagai daerah merah, kini mereka mengintai kita di mana pun. Seperti hantu—buat yang percaya kalau hantu itu ada.

Lalu, sampai kapan begal ini akan terus meneror? Tidak ada yang tahu. Polisi, yang katanya melindungi, tidak memberikan solusi. Hanya sesekali bikin statemen di media tentang antisipasi begal; tips menghindari begal, mengetahui ciri daerah rawan begal, dsb., yang pada intinya: jaga diri kalian sendiri. Atau melakukan razia siang-malam, tetapi justru tidak pernah menjaring para pelaku, alias nihil (eh, ada yang berhasil yang saya ketahui dari media, waktu itu tentang penggerebekan gembong begal di Bogor. Tapi, ya hanya itu). Setiap razia yang ada hanya warga biasa yang terjaring karena kebetulan tak bawa SIM, STNK, atau tidak memakai helm sebab dipikirnya perjalanannya tidak jauh, cuma-ke-situ.

Ah, sejak dulu saya tidak pernah percaya polisi.

Begal memang bukan baru kali ini muncul, dia sudah ada sejak dulu. Entah, saya tidak pernah tau kapan sejarah begal dimulai. Tapi yang pasti, begal hadir karena kemiskinan. Tujuan para pembegal melakukan aksinya tentu karena uang. Buka karena hobi memompa adrenalin dengan resiko dibakar massa kalau tertangkap. Mereka bukan Vin Diesel, si Bintang Hollywood yang hobi menantang maut dalam film xXx.

Begal hari ini juga bukan begal jaman Si Pitung yang dalam film-filmnya diceritakan hanya merampas harta orang kaya. Bukan sesamanya, kaum miskin. Yang jadi korban begal hari ini lebih banyak kelas menengah-bawah, yang harus bekerja hingga larut malam untuk bisa bertahan di tengah persaingan pasar tenaga kerja.

Si Teman salah satunya.

Dia bekerja untuk sebuah gerai kopi ternama dengan gaji tak selisih jauh dari upah minimum kota. Motornya yang dirampas adalah hasil keringatnya selama beberapa tahun. Dan hasil kerja kerasnya selama beberapa tahun itu, hilang hanya dalam hitungan menit. Ironinya, diambil oleh mereka yang ‘sekelas’ dengan Si Teman: kelas pekerja, atau mungkin lumpen proletar.

Apa akar masalah dari fenomena begal ini? Kalau boleh saya menjawab: kapitalisme. Mungkin kalian akan menuduh saya sok kritis, sok radikal, dan sok-sok lainnya, atau apa pun tudingannya. Tapi apa pun persepsi kalian, saya akan menjelaskan alasan mengapa saya bilang begitu.

Yang jelas dari kapitalisme adalah soal ketimpangan kepemilikan, soal kesejahteraan. Di dalamnya, sekelompok orang akan sangat kaya sekali dibuatnya, sementara sekelompok (bagian besar) lainnya, sangat miskin dibuatnya. Kapitalisme memaksa orang untuk saling menghabisi. Ada yang bekerja dan mendapatkan upah, dan ada yang tidak mendapatkan kerja meski sudah berkali-kali mencoba, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi penjahat. Menjadi pembegal salah satunya. Yang berpikiran seperti ini bukan hanya saya. Ketika menulis ini, dalam perjalanan di sebuah angkot, tetiba salah seorang penumpang yang baru pulang dari pasar, membahas soal begal. Dia berceletuk, “gimana ga mau ada begal, pengangguran makin banyak.” Persis seperti yang saya pikirkan. Poinnya ialah, tak perlu paham kapitalisme untuk bisa membaca kenapa fenomena begal muncul. Tapi kenapa saya bicara kapitalisme? Saya cuma sedang sok.

Kembali ke soalan kapitalisme. Dalam posisi terjepit, manusia, dengan insting binatangnya akan mencari jalan untuk bisa bertahan hidup. Meski untuk bertahan hidup, dia mempertaruhkan hidupnya pula. Kapitalisme adalah hukum rimba, siapa kuat dia yang bertahan.

Kelas pekerja menjual tenaganya untuk bisa menghasilkan upah, dan mereka melakukannya tanpa mengenal waktu. Maaf, bukan mereka yang tak kenal waktu, tetapi majikannyalah yang memaksa mereka bekerja tak kenal waktu. Pagi, siang, malam, dini hari, kapan pun diminta, mereka harus lakoni. Jika tidak, mereka akan tersisih. Terlebih di Indonesia, negara dunia ketiga yang jumlah tenaga kerja cadangannya sangat melimpah. Sekali menolak tawaran bos, antrian panjang calon penggantinya sudah sedia di atas meja personalia. Posisi tawar kelas pekerja sangat lemah. Walhasil, kerja di waktu istirahat pun mereka jabani. Pulang larut malam, bahkan dini hari, menjadi konsekuensi. Maka konsekuensi lanjutannya adalah mereka jadi sasaran para pembegal—yang beroperasi di waktu-waktu sepi—yang tidak lain adalah korban dari kapitalisme juga, dengan derajat yang berbeda.

Di tengah kondisi seperti itu, warga negara berharap banyak pada aparatus negara, polisi misalnya, untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut. Tapi nyatanya, seperti yang saya paparkan di awal: hampir nihil. Maka masyarakat pun mencari jalan keluarnya sendiri: penghakiman massa. Kejadian di Pondok Aren, Tangerang Selatan, contohnya, di mana seorang pembegal tertangkap dan dibakar hidup-hidup oleh warga. Masyarakat dipaksa membuat pertahanannya sendiri, atas kondisi yang sama sekali tidak mereka ciptakan.

Meski isu kelas (dominasi sumber daya oleh segelintir orang) sangat kentara dalam fenomena begal, pertentangan antara majikan (kapitalis) dengan kelas pekerja menjadi bias. Ketimbang vertikal, Konflik horisontal lebih menonjol.

Belum cukup sampai di situ, saya coba tambahkan lagi betapa kapitalisme menjadi biang keladi konflik sosial horisontal.

Saking serakahnya para bos, mereka meminta pekerjanya bekerja pada jam tidak wajar, tetapi tidak mau memfasilitasi pekerja kecuali di tempat bekerja. Untuk transportasi, para pekerja harus mencarinya sendiri. Maka, kendaraan pribadi seperti motor, menjadi pilihan paling logis karena mereka (dibiarkan) tidak mampu membeli kendaraan yang lebih aman. Pemerintah pun tidak menyediakan transportasi massal yang mamadai.

Sungguh ini menjadi kolaborasi yang ciamik antara perusahaan tempat buruh bekerja, produsen kendaraan pribadi dan pemerintah. Di sinilah watak serakah kapitalisme tampil secara vulgar.

Bayangkan: Perusahaanmu tidak mau memfasilitasi angkutan dinas, karena memberatkan ongkos produksi; mending buat nambah koleksi mobil. Pemerintahmu tidak mau menyediakan angkutan massal dua puluh empat jam, karena tidak menguntungkan; mending buat nambah tunjangan birokrat. Akhirnya kamu terpaksa membeli kendaraan sendiri—membeli dari perusahaan otomotif, dengan upah hasil kerjamu. Dan ketika kamu dibegal, mereka—perusahaan dan pemerintah—tidak mau tau, karena itu urusanmu.

Tragis, bukan?

Apa mungkin kita harus mulai mencoba inisiatif transportasi baru, berkuda, misalnya. Dengan begitu, pembegal pengincar motor akan enggan. Jika nanti para pembegal beralih mengincar kuda, kita bisa kembali memakai motor dengan rasa aman. Dan pakai kuda lagi. Dan pakai motor lagi. Begitu seterusnya. Bukan solusi? Memang.

Persoalan begal ini memang seakan tidak ada solusinya ketika masyarakat kita masih terpenjara dalam logika negara (hukum), di mana segala persoalan diserahkan kepada otoritas berwenang: aparatus negara (pemerintah, polisi, tentara, penjara, pengadilan, dsb.). Aksi penghakiman massa sebetulnya modus efektif, karena selain bisa melawan aksi pembegalan, aksi itu juga bisa menimbulkan efek psikologis yang lebih kuat bagi para pembegal, ketimbang penjara atau hukum positivistik a la negara. Pun aksi semacam itu bisa menguatkan solidaritas antarsesama, yang sangat potensial menjadi kekuatan besar. Bahkan, negara pun tumbang oleh kekuatan massa, bukan?

Tapi konon, konon, kemunculan begal secara mendadak di mana-mana adalah bagian dari operasi klandestin untuk menciptakan keresahan di masyarakat. Tujuannya, untuk meyakinkan masyarakat bahwa negara dengan segala aparatusnya masih dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk kemudian, masyarakat diharuskan menerima segala langkah yang ditempuh negara demi menjaga keamanan dan stabilitas sosial. Dengan pemberlakuan jam malam, misalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s