Tidak Perlu Ragu untuk Menyebut Rossi Juara

Anggaplah tulisan ini untuk menghibur diri. Betul, saya kecewa Valentino Rossi gagal juara dunia MotoGP 2015.

Bukan. Saya bukan kecewa karena Rossi gagal finis di belakang Jorge Lorenzo. Saya kecewa karena Rossi gagal mendapatkan titel yang selayaknya ia dapat. Tentu bukan hanya saya yang menyayangkan. Mungkin ada jutaan pendukungnya yang merasakan kekecewaan serupa. Bagi saya dan bagi sebagian besar mereka, Rossi adalah juara musim ini. People’s Champion.

Klise? Tentu. Nyatanya Lorenzo lah yang dinobatkan sebagai juara dunia. Tetapi sebagai pendukung VR46, saya tetap punya alasan mengapa Rossi tetap juara.

Dalam kompetisi, tentu ada yang menang dan kalah. Di episode ini, Rossi menjadi si kalah. Ia kalah dalam kompetisi. Tapi Rossi (me)menang(i) hati para penikmat MotoGP.

Perseteruan antara Rossi dan Marquez seperti ‘bumbu penyedap’ di kompetisi tahun ini.

Sejak insiden di Sepang, banyak orang mungkin mulai berpikir bahwa Rossi picik. Ia menjatuhkan Marquez untuk bisa memenangi balapan. Tapi kita tidak pernah tau apa yang terjadi antara mereka. Sama halnya seperti kita tidak pernah tau kenapa Zidane begitu ‘jahat’ menanduk Materazzi saat Prancis berhadapan dengan Italia di Euro 2008. Tapi pada akhirnya, semua terkuak. Kita akhirnya tau mengapa seorang Zidane bisa melakukan tindakan tak patut. Bisakah kita melakukannya pada Rossi?

Lihatlah Rossi di Valencia. Banyak kabar santer bahwa Rossi akan dibantu para pembalap Italia untuk bisa bertarung dengan Lorenzo. Isu bergeser dari Honda vs Yamaha, menjadi Italiano vs Spaniard. Ada juga yang berasumsi bahwa banyak rider yang bersimpati pada Rossi dan akan memberikan jalan saat balapan. Tapi yang saya lihat, cuma Danilo Petrucci yang ‘memberikan jalan’ pada Rossi. Sisanya? bersaing seperti biasanya. Bahkan salah seorang rider—saya lupa siapa, saking banyaknya yang dilewati Rossi—sempat melakukan overtake balasan. Posisi empat ia dapati usai melewati 22 rider—dikurang satu.

Di Valencia, tak ada yang lebih berdebar selain para pendukung Rossi. Tak ada yang lebih ditunggu selain aksi Rossi melakukan overtake demi overtake untuk bisa berada di barisan depan. Ia telah memperlihatkan kepada kita mental seorang petarung. Tak perlu belas kasih dari pembalap lain—atau mengemis dari rekan senegaranya. Ia bisa mengusahakan juaranya sendiri. Rossi mempertontonkan bagaimana seharusnya menjadi pembalap.

Coba amati. Sejak awal race, mata kamera tertuju pada Rossi. Tak ada yang lebih ditunggu selainnya. Dan di penghujung race, cuma Rossi yang bisa menarik orang-orang untuk membuat ‘lorong manusia’. Meski ia bukan juara.

Kisah heroik Rossi di Valencia mungkin akan sangat menyebalkan bagi haters. “Sudahlah, kalah ya kalah. Gak perlu banyak alasan.” Belum lagi, mereka juga punya bahan nyinyiran tambahan: pendukung Rossi yang kekanak-kanakan. Peduli apa! Tanpa atau adanya lovers dan haters, Rossi tetap legenda. Bayangkan, Rossi satu-satunya yang tersisa dari generasi 500cc, ketika pembalap-pembalap lain tak mampu beradaptasi dengan teknologi.

Soal Marquez, ada yang bilang bahwa ia adalah ‘reinkarnasi’ Rossi. Dari karakter personal hingga gaya balap, keduanya dianggap memiliki banyak kesamaan. Sedikit banyak saya sepakat. Tapi ada satu hal yang tidak dimiliki Marquez: kejujuran dalam balapan.

Lihat saja. Sejak insiden di Sepang, Marquez terlalu banyak alasan untuk membenarkan posisinya sebagai yang terdzolimi. Pernyataan-pernyataan Marquez lebih klise daripada mengganggap Rossi juara dunia.

Katanya, Rossi menendangnya. Tapi di rekaman video tidak terlihat demikian mutlak; Katanya Rossi menendang tuas remnya, sehingga ia terjatuh. Padahal setiap motor memiliki hand guard yang melindungi tuas rem dari gerakan lawan yang berbahaya; Di Sepang, katanya, dia bertarung untuk dirinya sendiri. Bukan untuk membantu Lorenzo. Tapi catatan waktu berkata lain. Sejak Lorenzo melewatinya, catatan waktunya turun drastis—lebih dari satu detik; Katanya, gayanya membalap memang begitu ‘liar’, namun wajar. Tetapi di Valencia, ia bahkan tak berani melakukan percobaan overtake terhadap Lorenzo. Alasannya, ia mengalami masalah dengan ban depannya—padahal sebelum race, Honda bilang persoalan itu sudah teratasi.

Tapi, ya sudahlah. Semua itu tak akan pernah diakui Marquez, alih-alih dianggap sebagai pembenaran para Rossi’s fanboy oleh para haters.

The Doctor sekali lagi telah menunjukan bahwa ia betul seorang ‘The Doctor’. Ia mengatasi segala polemik dengan jenius.

Soal Lorenzo? Ah, lupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s