Kesalahkaprahan terhadap Anarkisme yang Belum Tuntas

Jika tai saya bau dan membuat hidung saya tidak nyaman, maka jawabannya bukanlah menahan napas dan berhenti mencium tai, namun buatlah tai yang lebih wangi. Jika jalan di atas beling itu menyakitkan, kesimpulannya bukanlah tidak berjalan di atas beling, melainkan kita perlu mencari beling yang empuk dan enak diinjak. Jika saya tidak puas dengan bos saya, maka saya perlu mencari bos yang lebih baik. Begitulah cara memilih partai dan kepemimpinan — (bukan) Alan Woods, 2016.

Begitulah analogi. Selama subyek yang dijadikan contoh masuk akal untuk konteks tertentu, tidak akan menjadi masalah meski subyek realnya sama sekali berbeda dari banyak segi.

*

Kira-kira sebulan yang lalu—atau lebih? Ah, saya lupa—di newsfeed media sosial saya beredar sebuah artikel. Begitu juga di layanan pesan instan saya. Sebagian teman berseru, “eh, coba baca ini deh!”. Tidak ada komentar apapun selain itu. Dari gestur yang saya tangkap, mereka hendak memberi tahu bahwa ada artikel menarik, yang mungkin layak untuk disimak.

Saya tidak sempat membaca artikel tersebut hingga akhirnya saya dan teman-teman nongkrong di sebuah warung kopi. Di sana mereka kembali menunjukkan artikel tersebut. Bukan sesuatu yang penting sih, tapi setidaknya artikel itu telah menambah bahan pergosipan di lingkaran petongkrongan kami. Artikel itu bercerita tentang Anarkisme. Dalam tendensi yang negatif.

Ah, bukannya anarkisme memang sudah negatif sejak lahir? Siapa sih yang menganggap anarkisme itu ideologi yang baik, adil, didorong oleh cita-cita mulia untuk menghapus penindasan? Media? Pemerintah? Warga awam? Tidak ada. Artikel itupun mewakili pendapat-pendapat tersebut: “Kebingungan Anarkisme yang Belum Tuntas”. Setidaknya dari judul tersebut, tersirat pesan bahwa si penulis punya pendapat lebih baik dari sekadar anarkisme sebagai ‘kekerasan’ dan ‘kerusuhan’.

Artikel itu sebetulnya respons atas artikel lainnya, sebut saja artikel kedua, yang dimuat di situs web yang sama. Judulnya, “Anarkisme: Sejarah dan Perbedaannya dengan Marxisme”. Jadi jelas titik pijaknya adalah argumen-argumen yang ada di artikel tersebut, bukan berangkat dari fenomena anarkisme yang bertebaran liar di luar sana.

Ada beberapa poin yang menjadi fokus kritik dari artikel pertama. Pertama, kemusykilan perjuangan anarkisme menumbangkan kekuasaan sementara gerakannya samasekali tidak terorganisir. Kedua, anarkisme tidak punya modus gerakan selain ‘menolak’. Ketiga, nggak ada itu yang namanya kebebasan alamiah. Dan anarkisme, menurut penulis artikel kedua yang meminjam Rosseau, memiliki landasan filosofis yang demikian. Keempat, soal pengalaman keberhasilan gerakan anarkis di Spanyol, yang pada akhirnya luluh lantak juga. Apa sebab? Karena para anarkis tidak percaya pada partai dan pimpinan sehingga menyebabkan disorientasi arah juang.

Saya mau membahas satu per satu inti kritik tersebut.

Soal perjuangan anarkisme yang tidak terorganisir. Sekilas membaca, ketika seorang teman menunjukkan via smartphone-nya, saya sepakat. Memang tidak akan ada upaya pembebasan yang berhasil jika gerakannya tidak terorganisir. Utopis. Ya, di sini saya cukup sepakat. Tapi apa benar bahwa anarkisme seliar itu? Tidak adakah anarkisme yang terorganisir? (Lho?! Anarkis kok terorganisir—mungkin begitu cibiran anarkis-individualis yang kecenderungannya hari ini lebih hedon ketimbang hedonis-hedonis ibukota pada umumnya).

Seperti yang saya bilang di depan, penulis sepertinya hanya berpijak pada artikel kedua, jadi saya mengasumsikan bahwa ia mengabaikan fakta bahwa ada varian anarkis yang terorganisir. Mereka kerap menyebut diri sebagai anarkis-platformis, varian anarkis yang menggunakan organisasi secara meyakinkan untuk merajut kerja-kerja revolusioner yang sudah disepakati oleh setiap anggotanya. Varian ini tentu berbeda dengan varian anarkis lainnya yang tidak terorganisir dan mengandalkan spontanitas. Mengutip Nestor Makhno, salah seroang anarkis yang memelopori tradisi ini,

“[…] tak diragukan lagi bahwa keadaan disorganisasi ini diturunkan dari teori yang kurang baik: terutama dari penerjemahan yang keliru atas prinsip-prinsip individualitas dalam anarkisme. Teori ini telah seringkali disalahtafsirkan dengan ketiadaan segala tanggungjawab. Kaum yang suka menekankan soal “ke-diri-an”, melulu dengan pandangan terhadap kesenangan pribadi.” – dalam Platform Organisasional Perserikatan Umum Anarkis, 1926.

Begitulah kira-kira perdebatan yang terjadi di kalangan anarkis sendiri. Tetapi, poin ini mengingatkan kita bahwa anarkisme tidaklah tunggal. Ada begitu banyak varian: anarkis-pasifis, anarkis-komunis, anarkis-sindikalis, anarkis-feminis, anarkis-environmentalis, anarkis-primitifis, anarkis-[silakan isi sendiri dengan ideologi yang Anda gemari]. Bahkan libertarian kanan yang notabene oposan pun menggunakan istilah ‘anarkis’: anarkis-kapitalis (anarchist-capitalist [ancap]). Apakah ini artinya gerakan anarkis semakin membingungkan? Bukan anarkisme yang membingungkan. Kitalah yang membingungkan.

Ya, seperti juga Marxisme dengan berbagai varian dan perdebatannya, anarkisme juga mengalami proses tersebut. Hanya saja, mungkin, pergumulan ide anarkisme di Indonesia tidak semasif dan semudah diakses layaknya perdebatan kaum marxis, sehingga kesalahkaprahan terhadap anarkisme menjadi dua kali lipat.

Ini juga menyambung pandangan soal anarkisme yang hanya bisa melakukan gerakan ‘menolak’, gerakan monoton yang sudah berlangsung berjuta-juta tahun lamanya. Bahkan, seperti yang penulis bilang, balita lebih lihai kalau bicara soal tolak-menolak. Tapi sepertinya kita perlu menegaskan makna menolak di sini. ‘Menolak dijajah’ tentu akan berbeda maknanya dengan ‘menolak dibantu’. Mengapa para petani di Kulonprogo menolak proyek tambang pasir besi dan bandara? Mereka menolak karena merasa sudah memiliki sistem nilai ideal yang membuat mereka sejahtera. Ada nilai yang dipertahankan.

Di abad ke-20, kita bisa lihat bagaimana EZLN, dikenal juga dengan Zapatista, menjadi gerakan anti-otoritarian yang cukup berhasil. Mereka menolak Negara Meksiko dan kapitalisme yang hendak masuk ke wilayah mereka dan berpotensi besar merusak tatanan sosial yang sudah ajeg. Zapatista menolak untuk mempertahankan masyarakatnya dari kejahatan negara dan kapitalisme.

Dewasa ini kita juga bisa menyaksikan fenomena resistensi di Timur Tengah sana, bagaimana komunitas Kurdi yang tergabung dalam YPG/YPJ di perbatasan Suriah, Irak dan Turki, membangun masyarakat dengan prinsip konfederasi demokratis. Mereka mungkin bisa menjadi contoh gerakan anti-otoritarian/anarkis yang sangat terorganisir. Suku Kurdi, yang kemudian didukung oleh suku-suku lainnya seperti Yazidi, Arab, dsb., berjibaku memerangi ISIS. Mereka melawan dan menolak menjadi korban kebengisan kelompok fundamentalis agama.

Mungkin di luar sana, di dunia ini, ada banyak lagi gerakan-gerakan dari berbagai sektor seperti, buruh, tani, masyarakat adat, dsb.—yang pernah ada maupun yang masih ada—dan bercorak demikian. Saya memercayainya seperti memercayai keberadaan alien di semesta yang luasnya masyaallah ini.

Ah, itu kan cuma klaim? Emangnya mereka menyebut diri anarkis?

Betul juga. Mereka nggak ngaku anarkis sih. EZLN menolak pengklasifikasian corak politik mereka. Tapi sejauh yang saya tahu, belum ada yang membantah bahwa mereka gerakan dengan tendensi anarkis/anti-otoritarian. Perlu dicatat juga, mereka hidup tidak berburu-meramu, lho. Mereka sudah beragrikultur. Mereka bercocoktanam. Menjadi anarkis tidak berarti juga menjadi primitifis, yang berharap dunia ini ditarik mundur ke zaman ketika dinosaurus dan brontosaurus masih hidup.

Dunia sudah kadung kompleks, memang tidak mungkin juga mengembalikannya ke zaman-zaman sebelum hujan meteor mampir ke bumi. Jika hendak mengembalikan bumi seperti ratusan ribu tahun yang lalu, artinya harus ada jutaan hektar kamar gas dan memaksa masuk setidaknya 98% populasi bumi ke dalamnya, dan membiarkan sisanya hidup. Kalau begitu kejadiannya, sudah bukan anarkis lagi namanya.

Kemudian soal kebebasan alamiah. Di sini saya sedikit sepakat dengan penulis bahwa ‘kebebasan alamiah’ itu ahistoris. Kebebasan alamiah mustahil karena ada banyak faktor-faktor yang memengaruhi pola hidup manusia secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyebutnya sebagai evolusi sejarah. Di fase sebelum kehidupan dimulai, setiap manusia konon sudah meneken perjanjian dengan Tuhan untuk menghamba kepada-Nya. Benar, setiap individu memiliki beban sejarah, bahkan sebelum ia dilahirkan. Sampai di titik itu saya sepakat.

Tapi mungkin, ini mungkin lho ya, yang dimaksud oleh penulis kedua bukan kebebasan mutlak, kebebasan suka-suka gue, sebagaimana yang dimaksud penulis pertama. “[…] Kenikmatan terhadap kebebasan natural ini ditata dalam satu bentuk aturan yang disebut civic freedom dan moral freedom, dimana setiap individu berhak berpartisipasi dalam pembuatan hukum (law making).” Yang saya tangkap dari argumen ini justru menyiratkan bahwa kebebasan alamiah, bersamaan dengan evolusi masyarakat, telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga kompatibel dengan kehidupan sosial yang sudah berevolusi sejak kerumunan manusia pertama membangun relasi sosial.

Bahkan Max Stirner—anarkis paling egois—sekalipun mengatakan anarkisme adalah, “asosiasi bebas individu-individu unik yang bekerja sama dengan setara untuk memaksimalkan kebebasan mereka dan memuaskan keinginan mereka.” Secara tersurat kalimat Stirner sangat individualis, cenderung egois malah. Namun secara tersirat, ada pesan bahwa manusia sebagai makhluk sosial, seindividualis apapun dirinya, tetap membutuhkan orang lain untuk hidup—ia mendorong dibentuknya ‘serikat kaum egois’ untuk melawan kapitalisme. Frasa ‘individu-individu unik yang bekerja sama’ sudah menjelaskan kebebasan sejati hanya bisa digapai ketika individu lain terbebas dari penindasan. Itu artinya ada kompromi kebebasan di sini. Ada konsensus antarindividu demi mencapai cita-cita bersama, kendati cita-cita yang disebut Stirner terkesan sangat ‘suka-suka gue‘.

Apa di Zapatista ada kebebasan? Apa Kurdi-kurdi yang tergabung dalam YPG/YPJ punya kebebasan? Tentu saja mereka punya. Kebebasan yang ditentukan—dengan metode konsensus—hingga derajat tertentu. Seperti yang dimaksud oleh penulis kedua, “dimana setiap individu berhak berpartisipasi dalam pembuatan hukum.” Kehidupan anarkistik akan selalu berdasar pada konsensus, bukan diatur oleh Negara atau segelintir elit pemimpin, apalagi oleh individu yang merasa paling bebas (baca: berkuasa).

Bagaimana di Indonesia? Setahu saya belum ada gerakan anarkis yang masif seperti di luar sana. Harap dimaklum, anarkisme sebagai ide baru dikenal khalayak gerakan sosial di sini pasca-orba rubuh. Meski Sukarno dan Tan Malaka sempat menyinggung anarkisme dalam tulisannya, anarkisme saat itu belum mewujud menjadi sebuah gerakan. Entah, boleh jadi saya yang tidak tahu—boleh lho saya dikasih tahu kalau ada catatan sejarah yang menjelaskan keberadaan kaum anarkis di masa revolusi kemerdekaan.

Lalu, soal gerakan anarkis Spanyol 1930-an yang pada akhirnya ‘kalah’ juga. Luluh lantak oleh gerakan yang berpartai dan lebih terorganisir. Perang sipil Spanyol memang menjadi milestone gerakan anarkis global. Sama halnya ketika kita bicara revolusi komunis, maka Oktober 1917 selalu menjadi titik acunya.

CNT-FAI menjadi organisasi anarkis yang cukup fenomenal. Seperti yang sudah disinggung, mereka bersama kelompok kiri lainnya (tergabung dalam front popular) sukses menjegal diktator Franco. Namun sayang, sistem anarkistik yang mereka bangun tak bertahan lama. Mereka diberangus oleh kelompok komunis-stalinis. Dan ini memang yang paling menyedihkan: para pimpinan organisasi ini bergabung dengan rezim. Persis seperti yang dibilang penulis.

Begitulah pemimpin. Mungkin kesalahan terburuk CNT-FAI adalah gagal mengendus anasir otoritarian dalam organisasinya. Memercayakan segelintir elit untuk mewakili organisasi masuk ke dalam rezim yang jelas-jelas otoriter adalah bodoh! (sudah jargonis belum?!)

Oke. Kembali ke persoalan utamanya. Penulis mengatakan kegagalan organisasi anarkis di Spanyol adalah karena rasa anti terhadap partai dan kepemimpinan. Di satu sisi benar adanya. Saya pun memaklumi banyak anarkis yang begitu naif melihat realitas politik kekuasaan. Tapi di sisi lain, saya bisa merasakan itu (I feel you, bro…) bahwa partai dan kepemimpinan tidak pernah menjadi solusi atas penindasan, jadi untuk apa memercayakannya kepada mereka?

Dua subyek dalam peristiwa di Spanyol—elit CNT-FAI dan partai komunis—menunjukkan betapa partai dan kepemimpinan itu bisa menjadi bumerang bagi gerakan pembebasan.

Gerakan anarkis global pada saat itu pun geger ketika sebagian CNT-FAI memilih bergabung mendukung pemerintahan komunis-yang-percaya-negara. Para pimpinan CNT saat itu berdalih bahwa kolaborasi tersebut bersifat sementara, hingga pada akhirnya Franco tumbang, mereka akan kembali ke jalan yang sejati. Jalan libertarian. Ini memperlihatkan bagaimana ‘kepemimpinan’ dan ‘perwakilan’ telah merusak pondasi gerakan.

Yang menjadi pertanyaan kemudian: kenapa bukan komunis-komunis itu yang disalahkan atas kegagalan gerakan anarkis di Spanyol? Sebab komunislah yang kemudian melucuti gerakan anarkis demi hasrat menguasai sumberdaya-sumberdaya yang sudah dikelola secara kolektif oleh kaum pekerja dan petani.

Saya mau coba beranalogi lagi. Perang sipil antara anarkis versus komunis di Spanyol kalau boleh saya analogikan seperti kasus pelecehan seksual. Ibaratkan anarkis sebagai perempuan dan komunis sebagai laki-laki (dalam nalar hetero tentunya). Dalam pembelaannya, si lelaki bilang: “salah sendiri mbaknya pake baju seksi, kan saya jadi berahi!” Bayangkan juga komunis-komunis itu berkata: “salah sendiri ga berpartai (dan ga punya pemimpin), kalo diberangus ya wajar.” Blame victim. “Anarkis disalahkan karena pakai baju seksi”. Kenapa laki-laki itu tidak bisa menahan berahinya?; kenapa komunis-komunis itu tidak menahan hasrat berkuasanya atas kelompok lain?

Sebenarnya para anarkis tidak pernah kebingungan. Justru yang membuat bingung adalah, mengapa anarkisme selalu dihancurkan oleh kelompok yang secara ideologis cukup dekat? Di Spanyol, anarkis dilucuti dan dikhianati. Di Rusia anarkis dikhianati dan dikirim ke Gulag. Padahal, tujuan satu-satunya anarkisme adalah menggulingkan tirani. Apapun bentuknya. Atau jangan-jangan karena itulah rezim komunis tidak pernah memberi ruang bagi anarkis untuk hidup: karena rezim (negara) komunis adalah tiran itu sendiri. Terus apanya yang komunis?

Sampai di sini ada cukup banyak kesalahkaprahan terhadap anarkisme, bahkan bagi mereka yang sudah paham spektrum ideologi sekalipun. Jangan membayangkan anarkis hari ini akan membangun komune di tengah hutan dan hidup terisolasi—padahal hutannya sendiri sudah menjadi konsesi tambang atau perkebunan. Jangan membayangkan aksi langsung hari ini seperti yang dilakukan Angry Brigade atau anarkis Eropa di abad ke-18: lempar bom, raja mati, selesai. Meski tak bisa dimungkiri masih banyak anarkis yang meyakini metode-metode itu.

David Graeber, dalam sebuah wawancara, pernah mengutarakan pendapatnya soal apa itu aksi langsung: “Ada sebuah kota dimana air dimonopoli oleh korporasi dan walikota menikmati kompensasinya. Jika kamu berdemo di depan rumah walikota, itu namanya protes, dan jika kamu memblokade rumah walikota, itu namanya pembangkangan sipil, tetapi tetap tidak bisa disebut aksi langsung. Aksi langsung adalah ketika kamu beranjak menggali sumurmu sendiri, karena itulah yang dilakukan orang ketika mereka tidak punya air.”

Mengapa aksi langsung begitu digemari oleh para anarkis? Sebab aksi langsung menolak mengakui legitimasi struktur kekuasaan. Begitu kata Graeber. Dan saya sih ‘yes!’.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s