Ideologi Pertemanan

Sukarno menangis ketika Kartosuwiryo dieksekusi lantaran  melakukan upaya makar. Apa pasal? Kenapa Sukarno menangisi kematian pemberontak? Sebab Kartosuwiryo adalah sahabatnya di masa muda, di masa mereka menjadi ‘partner in crime‘, saat sama-sama menjadi anak didik HOS Tjokroaminoto. Karena mereka berteman.

*

Beberapa bulan lalu, aku berada di lingkaran pertemanan yang diterpa persoalan serius: pelecehan seksual. Kami terpecah menjadi dua kubu. Satu berpihak pada pelaku, satu yang lain berpihak pada korban. Aku berada di pihak korban. Kami punya rasionalitas masing-masing atas kasus tersebut. Namun terlepas dari alasan-alasan yang dimasuk-akalkan, ada satu alasan kenapa kami teguh terhadap sikap masing-masing: karena kami solider terhadap teman.

*

Belum lama ini, terjadi peristiwa yang lumayan pelik di kalangan seniman-aktivis di Jogja–hingga akhirnya meluas ke kota-kota lain. Efeknya tidak main-main. Peristiwa itu memecah kubu yang awalnya berada dalam satu gerbong dalam isu-isu ketidakadilan sosial. Pemicunya sederhana: sebuah media bekerja sama dengan sebuah bank yang mengucurkan dana untuk proyek pertambangan semen. Pendukung penolak pabrik semen geram. Meski kerap menjadi corong kampanye penolakan pabrik semen, media tersebut dianggap telah berkhianat terhadap perjuangan warga. Satu kerumunan dalam satu gerbong terbelah. Gugatan, cacian, hingga cibiran mewarnai perseteruan kedua kubu. Masing-masing menawarkan rasionalitasnya. Kedua kubu kukuh.

Sementara itu, mereka yang berada di tengah, yang bersinggungan dengan keduanya, gamang. Mereka bingung mau berpihak pada siapa. Mungkin kalau boleh memilih, mereka memilih diam. Tapi keadaan memaksa mereka bersuara. Berpihak. Di sini perang argumen makin menjadi. Yang terlihat kemudian kritisisme beralih menjadi keengganan dan pembenaran. Satu hal yang membuat soalan ini menjadi demikian kompleks: mereka semua terhubung dalam relasi pertemanan. Mereka yang gamang tak ingin teman-temannya berseteru. Sebagian menyayangkan sampai-sampai mengeluarkan ekspresi depersif: “Taek semua!”, “Kita berhasil diadu domba, sementara musuh tertawa kian lantang.”

*

Tiga peristiwa itu membuat saya semakin yakin, bahwa tak ada ideologi yang membuai subyeknya begitu akut selain Pertemanan. Lupakan kapitalisme, komunisme, fasisme, sosialisme, dan isme-isme lainnya. Semua itu semu. Seteguh apapun kamu memegang prinsip-prinsip itu, kelak akan luluh ketika dihadapkan dengan Teman. Pertemanan adalah ideologi paling abadi. Benar salah menjadi relatif selama itu menyangkut orang-orang di sekitarmu.

Lalu, untuk apa ngotot bahwa hanya ada satu isme yang akan menyelamatkan umat manusia, sementara kita tahu bahwa yang akan menyelamatkanmu hanyalah temanmu?

4 thoughts on “Ideologi Pertemanan

  1. Sayangnya, hal yang bener-bener saya sayangin, adalah bahwa isu yang awalnya hadir di antara teman, tidak diklarifikasikan terlebih dulu tapi langsung dilempar gitu aja ke publik, nyebar di media sosial dulu–yang kita tau seringkali ngebuat semuanya malah kabur karena terlalu banyak yang gak tau konteks bisa ikutan nimbrung dan bikin ricuh. Kenapa sih gak bikin dialog dulu dan kalau udah gak bisa selesai baru dilempar ke publik (itupun kalo mau). Saya bukan temen dari penyelenggara acara seni itu, walau cukup kenal dan bisa ngobrol dengan enak. Segak setujunya saya dengan keputusan dia, tapi saya dapet penjelasan dari dia langsung, dan saya mikir, kalau saya ada di posisi dia, mungkin saya akan ngambil jalan yang sama.

    1. Masalahnya, pemantik isunya justru dari lingkaran luar penyelenggara. Saya sih menduga, karena si pemantik merasa nggak punya akses untuk dialog, dilemparlah isu itu ke publik, dengan maksud ‘menyadarkan’ penyelenggara dan seniman yang terlibat. Mungkin tuntutan publik dianggap lebih efektif. Pada posisi ini, saya bisa memaklumi keputusan untuk membuat isu ini menjadi publik, sebab kadang lingkaran dalam justru memilih diam ketika temannya terindikasi melakukan kekeliruan. Dan kenyataannya memang demikian.

      Lepas dari itu, tuntutan (atau ekspektasi?) publik juga menurut saya agak berlebihan sih. Sebagai perseroan, nggak ada salahnya mereka bekerja sama dengan siapapun, toh sejak awal juga mereka tidak pernah berkomitmen untuk membela kemanusiaan, misalnya. Kalopun mau menuntut, menurut saya, mestinya seniman-seniman yang terlibat dan selama ini jualan isu-isu terkait yang dituntut. Tapi ya, sampe penyelenggara bikin pernyataan pun, nyatanya nggak ada tindakan apa-apa.

      1. Gak kok, yang saya tau itu ada di lingkar dalam temen penyelenggara pemantiknya. Dan jelas ia punya akses untuk berdialog. Variabelnya banyak dalam konteks ini, seperti pertanyaan: kenapa mesti butuh duit sebesar itu untuk nyelenggarain event seni, sehingga mesti butuh dana segitu besar? Dari satu variabel aja, ada perbedaan standar, ada perbedaan persepsi tentang seni itu sendiri, siapa yang menikmati, siapa yang diharapkan datang, dsb. Lalu keputusan untuk melibatkan publik itu biasanya hanya dilakuin oleh dua jenis manusia: (1) yang punya kepentingan, sehingga tau bahwa publik itu mayoritas adalah manusia yang selalu terlepas dari konteks tetapi mudah dipancing, digerakkan dan diarahkan; (2) yang lugu, naif dan berpikir bahwa suara mayoritas adalah suara kebenaran. Saya sih gak bela panitia, karena gak ada kepentingan di sana, gak dapet jatah kueh juga kalo ngebelain, tapi dari isu boikot yang dilancarkan, isunya juga naif. Seperti: “kita harus bekerja sama dengan perusahaan yang tidak punya dosa”. Ini kan naif banget. Kalau gitu kita gak seharusnya ada di dunia maya karena ponsel, laptop, komputer yang kita pake juga mengandung darah anak-anak yang jadi korban tambang di Kongo. Saya sih ngeliat jadinya bahwa ini semua cuman dagelan. Bisa dipahamin sih surat dari Kendeng, tapi bisa dipahamin juga pernyataan panitia. Yang justru susah dipahamin adalah para pemantik pertama itu. Mau dapat jatah kueh? Mau diundang untuk pameran juga? Atau?

  2. Saya koreksi, mungkin tepatnya saya tidak betul-betul tau siapa yang memulai. Maaf soal itu. Tapi saya memang ngeliatnya dari lingkaran pertemanan yang paling dekat sih. Awalnya cuma gosip, terus rame deh di media sosial. Sejak viral di medsos itu tepatnya saya tidak tahu siapa yang memulai. Apakah benar yang kamu bilang, ah ini mah cuma orang yang ga kebagian kue aja. Atau mereka yang lugu dan naif seolah-olah semua orang harus menjadi ‘manusiawi’. Tapi saya kenal dengan tipe manusia ketiga (kamu tidak sebut), mereka lugu dan naif tapi tidak ingin mendapat kue dan tidak menganggap mayoritas adalah kebenaran juga. Dari kerumunan ini saya memulai diskusinya. Memang sih, saya juga ngeliatnya begitu (kayak dagelan). Lama-lama kok jadi ga menarik gini, meleber kemana-mana. Tapi yasudahlah. Respons saya yang terlalu lama bikin diskusinya jadi ga seru yah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s