Perang Kelas dalam Duel Diaz vs McGregor

Sejak mengalahkan Conor McGregor di UFC 196, Maret silam, pamor Nate Diaz naik drastis. Ia memang bukan petarung yang diunggulkan dalam duel itu. Semua mata, komentator maupun penonton—termasuk saya waktu itu—mengarah ke McGregor. Dan tentu saja, hampir semua berharap McGregor menang malam itu, kalau bisa dengan mudah, dan dalam hitungan detik.

Tapi ekspektasi itu melenceng jauh. Walaupun sudah beberapa kali kena pukulan telak di rahang, Diaz mampu bertahan. Di ronde kedua ia berhasil mengubah posisi dengan banyak menghujamkan pukulan ke wajah McGregor. Diaz mendapatkan momennya ketika ia berhasil menjatuhkan McGregor dan menghujani pukulan dari posisi mount. Lantaran tak kuat menghalau, McGregor membalik badannya, dan gotcha! Diaz berhasil mengunci McGregor dengan rear naked choke. Diaz menang. Dan hampir setiap orang tidak percaya.

Kekalahan McGregor dari Diaz mungkin seperti kekalahan Rounda Rousey dari Holy Holm: tidak disangka-sangka. Maklum saja, Diaz dan Holm adalah petarung yang tidak diunggulkan—bukan non-unggulan—sementara McGregor dan Rousey adalah petarung yang dicitrakan sebagai pemenang, bahkan dalam kesehariannya. Hari ini, mungkin kita mengenalnya dengan istilah media darling. Pamor mereka di media cukup tinggi, mungkin setara seleb hollywood. Namun saya menyadari betapa kualitas bertarung McGregor dan Rousey tidak luar biasa usai melihat duel mereka dengan Diaz dan Holm. Mereka biasa saja.

Kenapa waktu itu saya menjagokan McGregor dan Rousey, jujur saja, karena keduanya begitu populer di dunia MMA. Di banyak kesempatan saat mengulik-ulik tentang UFC, keduanya kerap muncul. Saya mengikuti kiprah harian mereka melalui media sosial. Saya sadar, di titik itu saya terjebak citra konstruksi media. Meski saya juga tak menafikan bahwa keduanya punya kualitas bertarungnya sendiri. Tapi menurut saya, kemampuan mereka sama dengan kemampuan rata-rata petarung MMA lainnya. Tak ada yang istimewa.

Terlepas dari itu, di luar oktagon, ada hal menarik, menurut saya, yang bisa dilihat. Yakni soal perbedaan kelas sosial para petarung yang terjun ke arena mix martial art. Jurnalis Mike Bohn, dalam sebuah artikel di Rolling Stone, dengan sangat baik mengontraskan keberadaan petarung ‘unggulan’ dan petarung ‘non-unggulan’. Saya memakai tanda kutip karena parameter keunggulannya memang bukan dari kualitas bertarungnya, melainkan karena faktor yang disebut tadi. Kemampuan Bohn mengulik hal-hal di balik ingar bingar panggung UFC, mampu menunjukkan kepada kita (sekali lagi) bahwa dunia hiburan tidak sebagus di layar kaca.

Diaz dan Holm hanya dua dari sekian banyak petarung di UFC yang tidak diharapkan menang bahkan oleh UFC sendiri.

Diaz-McGregor adalah salah satu duel dengan rating tertinggi sepanjang penyelenggaraan UFC. Itu artinya duel ini banyak diminati dan, tentu saja, menghasilkan banyak uang. Sangat banyak bahkan. Menurut Nevada Athletic Commision, pada UFC 196, McGregor memecahkan rekor pendapatan dalam sekali duel pada malam itu. Ia membawa pulang $ 1 juta, semetara Diaz yang keluar sebagai pemenang meraup $500 ribu. Itu belum termasuk bonus.

Ketika Diaz secara mengejutkan menumbangkan McGregor, UFC langsung merencanakan rematch. “Three days later [after UFC 196] they called me about a rematch with Conor,” kata Diaz. Ada dua alasan yang melatari keputusan UFC tersebut. Pertama, karena duel antara keduanya sangat menguntungkan. Kedua, karena mereka menginginkan McGregor, si anak emas, menang. Anak emas adalah istilah yang saya buat sendiri untuk mempelihatkan perbedaan keduanya. McGregor, selain jago bertarung, ia juga cukup mahir memainkan gimmick. Ia selebriti di jagat MMA. Ia pintar bicara, pintar bergaya, dan menghibur. Kemampuannya itu sangat kompatibel dengan visi UFC, dibandingkan Diaz yang tak biasa menjadi pusat perhatian.

Saat ditawarkan rematch, Diaz meresponsnya dengan terkejut, “I was like, ‘Wow, they want me back out there and they want me to lose real quick. ‘They wouldn’t let me sit back at all. They let him sit around all the time and they promote him up every single day. Right now Conor McGregor is everywhere. I just don’t think they want me to win. They want to throw me back in there and hope I lose real quick because they don’t want more of this.”

Meski tidak diunggulkan-bahkan diharapkan kalah-kemenangan atas McGregor telah menjadi kemenangan banyak kelompok yang direpresentasikan oleh Diaz: imigran, ras berwarna, dan kelas bawah. Diaz memang lahir dan besar di Amerika, tapi dengan darah Meksiko yang mengalir di tubuhnya, ia ‘otomatis’ menjadi non-pribumi di sana. Sama seperti nasib orang-orang Cina di Indonesia. Ia menjadi bagian dari masyarakat kelas sekian bersama orang-orang kulit hitam, asian, arab, dan ras-ras lain non-kulit putih. Dan status sosial tersebut tentu berdampak pada aksesnya terhadap sumber-sumber penghidupan. Dengan demikian ia menjadi orang pinggiran.

Kita bisa mengetahuinya dari pernyataan soal alasan mengapa ia terjun ke MMA: “I was like, ‘Hell yeah, I’m getting some money, I’m not supposed to even have a job, I’m not supposed to have nothing, I’m cool with this.’ I’m just like, ‘I want the flow.’ Then I realized I’m putting in way more than I’m getting back. Fuck this. Other people were not thinking about that. They were just happy to be famous. I’m not looking to be famous. I’m looking to fill my pockets and put food on the family plate.”

Kehidupan McGregor—kita bisa melihatnya di media sosial miliknya—cukup bisa menjelaskan apa yang dimaksud oleh Diaz. Sosok Diaz mengingatkan saya akan tokoh-tokoh dalam film-film yang mengisahkan kehidupan para kartel narkoba, atau gengster, yang acapkali dilakoni oleh orang-orang keturunan Meksiko. “I’m looking to fill my pockets..,” bisa membantu kita menerawangi kehidupannya jika ia tidak memutuskan terjun ke dunia tarung bebas. Mungkin ia akan menjadi bodyguard klab, tukang pukul bayaran, atau gengster. Mungkin saja.

Malam ini rematch antara Diaz dan McGregor akan dilangsungkan. Tetapi berbeda dari laga sebelumnya, kini lebih banyak orang yang menjagokan Diaz untuk menang. Bukan karena ia berhasil memenangkan duel yang lalu, tapi karena orang-orang mulai bosan dengan gimmick McGregor yang menyerupai aktor reality show, yang lebih menikmati selebritasnya ketimbang pertarungannya itu sendiri.

natediaz
Nate Diaz

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s