Membaca: Aib Orang Indonesia

“Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
Karena setiap aksara, membuka jendela dunia”

Efek Rumah Kaca, Jangan Bakar Buku

Sepertinya membaca adalah aib di negeri ini. Betapa tidak, segala sesuatu yang berkaitan dengan (mem)baca hampir selalu mencatatkan rekor buruk—kalau bukan sangat buruk.

Tadi siang, di sebuah laman media sosial seorang kawan, saya menemukan meme yang berisi fakta kebiasaan membaca di Indonesia yang bikin miris. Indonesia berada di peringkat terbawah di antara 52 negara Asia untuk urusan budaya membaca. Fakta itu merujuk pada data OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). Tahun lalu, CCSU (Central Connecticut State University) juga merilis hasil survey tingkat literasi sejumlah negara di dunia. Di situ disebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60, unggul satu tingkat atas Bostwana. Dengan variabel, indikator dan metode yang tentu berbeda, Indonesia ternyata mampu menorehkan hasil yang tidak jauh berbeda.

Masih dari meme yang tadi, katanya dari 1.000 anak di Indonesia, hanya satu anak yang bisa menamatkan satu buku dalam setahun. Jika dibandingkan dengan Eropa, capaian ini—kalau bisa dibilang capaian—sangat jauh. Sangat-sangat-sangat jauh. Menurut UNESCO pada 2012 kemampuan membaca rata-rata anak-anak di Eropa mencapai 25 buku per tahun per anak. Ya, per anak. Gap yang luar biasa, bukan?

Mungkin ini sesuatu yang bisa dibanggakan, karena ternyata Indonesia bisa mempertahankan sebuah ‘prestasi’ dengan amat baik.

Entah sejak kapan kemalasan membaca di negeri ini mulai terjadi. Tapi saya hampir yakin itu terjadi pada masa orde bau. Bukan apa-apa, sebab sebelum suharto berkuasa, tokoh-tokoh bangsa ini adalah kutu buku yang tekun. Mereka membaca dan menulis dengan baik. Hasil curahan pemikiran mereka bahkan masih bisa kita nikmati hingga hari ini. Memang sih, orang-orang itu hanya persentase minor dari jumlah total penduduk masa itu.

Tapi paling tidak, membaca bukan sebuah kemewahan. Baru pada zaman suharto membaca dilarang, buku dibakar dan dibredel, dan itu mewaris hingga kini.

Baru beberapa hari yang lalu, sekelompok ormas yang dipastikan tidak pernah membaca, berusaha membatalkan diskusi buku di sebuah toko buku kecil di Jogja hanya karena buku yang hendak dibedah menyinggung soal Aidit, pemimpin PKI itu. Lalu kemarin, tentara membubarkan lapak Perpustakaan Jalanan di Bandung tanpa alasan yang jelas. Oh tidak, alasannya sangat jelas: bahwa perpustakaan jalanan adalah modus baru geng motor untuk membikin onar! Wtf?

Itu cuma contoh kecil. Sebelum itu, mungkin sudah ratusan kali, atau bahkan ribuan kali, kasus-kasus pelarangan diskusi dan pembredelan yang berkaitan dengan buku. Di zaman suharto lebih mengerikan. Buku-buku yang dianggap subversif akan dibunuh, bahkan sebelum ia lahir. Kalau Anda sempat membaca buku-buku terlarang, dan aparat tahu, niscaya bui akan menjadi takdir Anda.

Tapi saya tak perlu melihat jauh keluar. Menjadi makhluk aneh karena buku-atau membaca-pun saya alami di lingkungan terdekat. Saya kadang merasa terasing ketika sedang berkumpul dengan keluarga besar dan memegang buku lantaran tak ada obrolan menarik dengan yang lain. Keluarga, khususnya ibu saya, kadang sinis dengan kebiasaan saya dan adik yang suka lupa waktu saat sedang membaca. Mereka menganggap membaca itu membuang waktu.

Anggapan bahwa membaca adalah sesuatu yang buruk bisa dengan mudah kita temukan di manapun, sebenarnya. Dari negara hingga keluarga. Jika negara menganggap membaca buku adalah berbahaya, maka keluarga menganggap membaca buku adalah tidak berguna. Yang satu beroperasi secara struktural, yang satu lagi beroperasi secara kultural. Lengkap sudah.

Sekira dua bulan yang lalu seorang kawan lain di facebook membuat status soal beberapa rangkaian acara zine fest yang akan dihelat dalam waktu dekat di beberapa kota. Dengan zine fest sebagai indikator, ia berkesimpulan bahwa rendahnya tingkat literasi di Indonesia hanya mitos belaka. Saya memaklumi karena mungkin saja itu bentuk uforia dan ekspresinya untuk menyambut rangkaian event tersebut. Atau bisa juga itu luapan keputusasaannya untuk menutupi betapa sialnya ia dilahirkan di Indonesia yang tidak pernah membuatnya bangga sama sekali, apalagi untuk urusan baca-membaca. Mungkin saja.

Serupa dengan kebanyakan orang Jakarta yang dengan semena-mena mengambil kesimpulan bahwa kebiasaan membaca warga Indonesia sudah lebih baik dengan menyodorkan bukti tingginya jumlah kunjungan manusia ke pameran-pameran buku di area Jakarta dan sekitarnya. Saya rasa, kesimpulan itu hanya berlaku untuk Indonesia bagian Jakarta dan sekitarnya saja (dan belakangan saya tahu bahwa selfie dengan latar tumpukan buku adalah tren terbaru kala itu seiring dengan pelaksanaan pesta buku yang konon terbesar se-Asia, beberapa bulan yang lalu). Untuk mengambil kesimpulan, saya kira mereka perlu mendatangi kota-kota kecil di pulau selain Jawa, dimana buku boleh jadi merupakan barang langka yang tidak cukup tinggi juga harganya.

Mungkin saya terkesan menyalahkan orang-orang yang tidak suka membaca. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Saya tidak bisa memungkiri bahwa oral adalah tradisi yang mendominasi di sini. Literasi mungkin baru menjadi tradisi ketika tanah ini sudah berstatus sebagai negara-bangsa modern. Itu fakta sejarah dan tidak mungkin saya mengutuknya. Yang saya kutuk adalah opresi struktural dan kultural yang terus terjadi dan membonsai kebiasaan membaca masyarakat yang sudah mulai tumbuh.

Sungguh malang nasib masyarakat yang mengaku relijius ini. Nyatanya mereka tidak cukup mampu memahami perintah pertama Tuhan yang sangat sederhana, yang seharusnya ditunaikan sebelum melaksanakan perintah-perintah lainnya: iqra!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s