Bahagia

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, beberapa malam lalu, saya tetiba tertawa tanpa sadar. Bahkan tawa itu tidak saya hilangkan meski terpergok orang yang berpapasan saat itu. Biasanya, saya buru-buru menyudahi tawa jika dipergoki orang.

Tidak. Tidak ada yang terlalu menyenangkan malam itu. Apalagi jalanan. Jika kamu sedang ditunggu oleh seseorang di suatu tempat, maka kamu akan mengeluarkan sumpah serapah selama perjalanan. Jogja malam itu, di malam Minggu, mungkin adalah salah satu yang paling tidak menyenangkan di antara yang tidak menyenangkan. Macet di mana-mana.

Sebenarnya tidak mengherankan. Jika jalanan Jakarta akan menjadi neraka pada hari-hari kerja, maka Jogja akan menjadi neraka di akhir pekan. Kota ini banyak dipilih menjadi destinasi liburan kilat. Tak perlu waktu lama untuk bisa menikmati kota ini, pikir mereka. Bagi orang Jakarta, transportasi dan akomodasi di Jogja sangat terjangkau. Saya pernah tahu bahwa Jogja adalah destinasi favorit selain Bali, dari sebuah koran beberapa tahun lalu. Yang berdomisli di kota ini tentu akan mengiyakan, sebab mereka merasakan dampak langsung dari kunjungan tersebut: macet.

Tapi macetnya Jogja bukan sepenuhnya kesalahan orang luar kota. Baru kemarin saya membaca status seorang kawan di facebook bahwa ia baru saja merasakan semacet-macetnya Jogja. Ia membutuhkan satu jam untuk jarak tempuh 300 meter. Ya, tiga ratus meter. Kejadian seperti ini mungkin sangat biasa di Jakarta. Tapi di kota yang katanya berhati nyaman ini, hal itu adalah sebuah keluarbiasaan. Mungkin, itu macet terparah yang pernah saya dengar selama satu dekade bermukim di kota ini.

Apa itu karena wisatawan? Saya kira tidak. Itu terjadi di hari kerja dan di ruas jalan yang bukan area wisata. Itu hanya jalan biasa yang kerap dilalui pekerja atau mahasiswa yang hendak berangkat ke kampus atau sekadar cari makan. Bahkan, sampai sekarang saya menganggap bahwa jalan itu adalah ruas “alternatif”, hingga kemudian saya sadar istilah “alternatif” sudah tidak lagi relevan mengingat ada bejibun hotel dan restoran mewah berdiri di sepanjang ruas tersebut.

Ah, saya malah jadi melantur soal macet. Tapi, memang begitu keadaannya.

Lalu kenapa saya tertawa? Mungkin hampir setiap orang pernah mengalaminya. Saat sedang berjalan mereka senyam-senyum sendiri karena pikirannya tidak ada di tempat itu. Ia abai terhadap yang terjadi di sekitarnya pada saat itu. Namun, tetiba ia sadar dan nyeletuk, “kenapa gue ketawa-ketawa sendiri, ya?” Lalu mengingat hal yang baru saja ia pikirkan dan tertawa-tanpa-sebab-nya mendadak menjadi masuk akal.

Itu yang saya sadari ketika di tengah jalan saya melihat segerombolan bocah berlarian di atas trotoar sambil sebelah tangannya memberi tanda—tidak ingat tanda apa yang mereka buat—dan sebelah lainnya memegang ponsel berkamera. Mereka berlari menuju antrian bis yang sedang terjebak macet. Acungan jari dan kamera mereka kemudian memicu bunyi klakson bis dengan kombinasi nadanya. Ternyata, anak-anak itu pemburu “telolet”. Itu yang membuat saya tertawa cukup lama di atas sepeda motor.

Sebenarnya tidak ada yang lucu dari adegan itu. Hanya saja, entah kenapa, saya merasakan kebahagiaan anak-anak itu ketika berhasil merekam bunyi telolet. Jujur saja, sudah lama saya tidak merasakan kebahagiaan semacam itu.

Karena itulah, tetiba macet tidak menjadi soal sama sekali.

Beberapa teman pernah mengatakan bahwa Jakarta, meski macet, sumpek, dan berbagai kekacauan lainnya, tetap menjadi kota favoritnya. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Sedari kecil saya tinggal di pinggiran Jakarta, namun hampir tidak pernah merindukan kekacauan di kota itu. Sekalipun itu kota kelahiran saya, tidak ada keinginan untuk kembali tinggal di sana, kecuali ada alasan untuk bertemu kawan-kawan lama. Tidak lebih dari sekadar nostalgia, sebenarnya.

Saya hanya berpikir, mungkin karena memang teman saya lebih nyaman dengan suasana kota metropolitan, sementara saya lebih suka dengan suasana yang menentramkan–lebih tepatnya tenang. Saya selalu suka melihat lanskap Swiss atau Selandia Baru, meski belum pernah menjejakkan kaki sama sekali di sana. Ya, ini hanya perkara selera.

Tapi mungkin juga, ketertarikan mereka dengan kota yang menurut saya tidak sehat itu dipicu oleh hal kecil yang baru saja saya alami. Mereka mudah dibuat senang oleh ibukota dengan segala keunikannya atau kekonyolannya. Ada yang bilang, daripada meratapi hidup, lebih baik ditertawakan saja, maka kita akan lupa dengan segala karut marut hidup yang hampir teringat setiap menit. Boleh jadi.

Abstrak? Saya pikir bahagia memang abstrak. Yang saya tahu, selama itu bisa membuat kita tertawa, apapun itu, maka kita bisa menyebutnya sebagai kebahagiaan. Meski kadang kita juga menertawai kepedihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s